
Di tengah suasana dingin menusuk tubuhnya hingga ke tulang, V mendengar samar-samar peringatan dari Melodi. Tapi perlahan suara Melodi berhasil dipadamkan oleh kalimat sarkasme dari dirinya sendiri. Dirinya yang saling berdebat mempertahankan argumen mereka masing-masing, saling menikam satu sama lain.
"Kau harus berhati-hati, karena Sandra juga menyukai Daffa. Laki-laki yang kau cium tadi pagi. Tidak hanya itu, tindakanmu mendapat murka ..." Belum sempat Melodi menyelesaikan kalimatnya, seorang wanita dan para dayangnya menyiram tubuh V dengan seember air. Apa yang ditakuti oleh Melodi menjadi kenyataan. Melodi tak berkutik saat mereka terus menyiram tubuh V hingga basah kuyup. Mereka juga mencaci maki V yang tak bergeming di atas meja. Karena memang V tidak lagi mendengar teriakan mereka, yang ada di telinganya hanya pertempuran argumen antara dirinya dengan sisi dirinya yang lain.
Seakan belum puas mengguyurnya, mereka menyiksa V lebih ganas agar V mau meladeni mereka. Namun sayangnya, V hanya diam membisu dalam tangis menyesakkannya. Matanya sudah lama terpejam tak ingin melihat bayangan-bayangan yang menghantuinya. Tubuh V masih bergetar akibat rasa takut akan kekhawatirannya menjadi nyata. Saat tubuh V tak lagi digenggam oleh mereka, V terkulai lemah tak bertenaga. Kedua kakinya tak mampu menahan beban tubuhnya sendiri. Sebelum tubuhnya jatuh ke lantai, seseorang menahan berat tubuhnya. Membuat tubuhnya bersandar pada dada bidangnya.
"Buka matamu! Buka matamu!" teriaknya menyuruh V membuka matanya. Namun V tak bergeming, matanya masih terpejam dengan butiran air mata yang terus berjatuhan. Bibirnya yang memutih tak bergerak sedikitpun. Tubuhnya yang bergetar terasa dingin dalam dekapannya.
"Lihat apa yang akan aku lakukan atas apa yang kalian lakukan kepada gadisku!" teriaknya yang bisa didengar sampai ke luar kelas. Siapapun yang mendengarnya terasa terintimidasi oleh teriakan lantangnya.
İa mengangkat tubuh V di atas tumpuan kedua tangannya. Mulutnya masih terus memerintahkan V untuk membuka mata dan mulutnya. Namun sia-sia, V masih tak bergeming sedikitpun. İa berlari membawa V ke UKS sekolah. Sebab ia tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi.
"Astaga! Apa yang terjadi?" tanya seorang wanita yang bertugas di UKS. İa tak menjawab pertanyaannya, hanya membaringkan tubuh V di atas matras.
Seorang laki-laki muda mengenakan snelli, -ia seorang Koas atau dokter magang yang sedang bertugas di sana- mendekati mereka. Koas itu bernama Andrew, seorang dokter magang yang sedang membuat gempar para siswi karen ketampanannya. Koas Andrew yang tadinya ingin menangani pasien yang baru saja tiba, terdiam menatap tubuh V yang terbaring di hadapannya. İa menelan ludahnya memandangi lekuk tubuh V yang kini semakin menerawang akibat seragamnya yang basah. Tubuh V benar-benar membuat hasrat nafsu birahinya memuncak.
"Sialan!" maki Daffa menghajar wajahnya. Membuat Koas Andrew terjatuh ke lantai. Tidak terima dirinya dihajar oleh seorang bocah, ia melayangkan pukulan ke arah Daffa. Serangan Koas Andrew bukan hal yang sulit bagi Daffa yang sudah terbiasa berkelahi, ia menghindar. Tangan Daffa masuk menghajar tangan Koas Andrew hingga terdengar bunyi pada tulangnya. Koas Andrew memekik kesakitan.
"Jika aku melihat kau menatap gadisku dengan mata mesum sialanmu itu. Tidak hanya tanganmu, tapi seluruh tulang di tubuhmu akan kupatahkan satu persatu. Enyah kau brengsek sialan!" erang Daffa sambil menutup tubuh V dengan selimut. Ia tak terima jika ada laki-laki lain yang menatap tubuh gadisnya.
Daffa mengeluarkan ponselnya, menghubungi salah seorang bawahannya. "Bawakan seragamku ke UKS sekarang!"
Dokter Eva menghela nafasnya panjang. Ia menyaksikan kejadian itu sejak awal. Ia tak bisa menyalahkan Daffa yang bertindak berlebihan, karena memang begitulah tabiat Daffa. Dokter Eva mengenal betul bagaimana sifat Daffa, karena hampir setiap hari Daffa mengunjunginya membawa teman-temannya yang babak belur dihajarnya. Dokter Eva memeriksa keadaan V tanpa bertanya dua kali. Daffa memperhatikan Dokter Eva yang sedang memeriksa keadaan V. Hingga seorang bawahannya datang membawakan seragamnya. Tanpa berbicara apapun Daffa memberikan sergamnya pada Dokter Eva, kemudian ia pergi sambil menutup tirai ruangan.
Lima belas menit kemudian ia kembali masuk ke ruang UKS, ia menunggu dokter yang masih melakukan penanganan, namun tetap tidak menunjukkan kemajuan sedikitpun. İa semakin cemas melihat V yang semakin memucat dengan air matanya. Belum sempat Dokter Eva berkata, Daffa sudah lebih dulu mengeluarkan suara lantangnya.
"Astaga buka matamu V!" teriaknya mengguncang-guncangkan tubuh V. İa sudah tak sabar harus menunggu lagi. "Buka matamu jika kau tidak ingin mati!" teriaknya lagi penuh dengan emosional yang menggebu-gebu. İa memeluk tubuh V seerat mungkin, "Hei buka matamu, ayo bangun V." nada suaranya kini terdengar melembut.
"Lihat, aku sudah di sini sayang. Kau tidak sendiri lagi." katanya sambil mengecup kening V lamat-lamat. "Bangun sayang, jika kau terus tertidur kau tidak bisa merasakan pelukanku bukan?" ia mulai frustasi karena V tidak juga sadar. "Bangun! Kau sudah berjanji padaku!" teriaknya sekuat tenaga. İa tak peduli walau banyak sepasang mata yang melihat kegilaannya. Persetan dengan apa yang akan mereka pikirkan, yang ia inginkan hanya V kembali ke alam sadarnya.
Teriakannya yang memekakkan telinga menembus alam bawah sadar V. Panggilannya membuat V kembali sadar. Perlahan mata V terbuka karena suara yang tak asing baginya. Belum sempurna V membuka kedua matanya, ia lebih dulu memeluk tubuh V dengan eratnya. "Jangan seperti ini lagi, kumohon. Kau membuatku takut." ujarnya lirih di telinga V. Mendapat dekapan hangat membuat tangan V terulur menyambut pelukannya. Tangis V yang sempat tertahan, kini pecah ruah dalam pelukannya.
"Daffa, saya akan berikan ruang untuk kalian berbicara." ujar Dokter Eva mengajak seorang siswi yang membantunya pergi meninggalkan mereka berdua.
Daffa tidak banyak bicara, ia hanya mengusap kepala V yang menangis histeris dalam pelukannya. İa juga tidak mempedulikan bel masuk yang berbunyi nyaring melalui speaker aktif sekolah.
"Namamu Daffa?" tanya V memecah keheningan berkepanjangan di antara mereka. İa sudah bisa mengendalikan seluruh emosionalnya.
"Bodoh! Apa mulutmu itu hanya kau gunakan untuk pajangan? Jangan hanya diam saat orang lain menindasmu! Pacarku tidak boleh menjadi orang bodoh, apalagi idiot seperti yang kau lakukan sekarang!"
"Eh?!"
"Ck! Kau itu pacarku, jadi jangan membuatku malu dengan kedunguanmu yang mendarah daging itu!"
'Sialan! Mulutnya ternyata setajam Paman Zac!'
V menatap tak senang laki-laki di hadapannya. "Kau pikir aku mau bertingkah seperti pengecut? Jika bukan menjaga citraku sebagai wanita baik-baik yang anggun, aku sudah pasti menghajar wajah mereka." bantah V tak terima dengan tuduhan Daffa.
"İdiot! Wanita baik-baik juga tidak akan diam saja jika harga dirinya diinjak-injak. Jangan membuat dalih tolol hanya untuk membenarkan premis bodohmu."
Kalimat Daffa benar-benar menyulut amarahnya. V melayangkan tinjunya kuat-kuat ke arah wajah Daffa, namun tangan besar Daffa menangkap tinjunya. "Bodoh! Kenapa kau malah menyerang pacarmu?"
"Sejak kapan kau menjadi pacarku? Aku tidak sudi menjadi kekasih manusia yang bisanya hanya menggonggong." ketus V jengkel dengan sosok laki-laki di hadapannya.
"Oh? Lalu kau yang pengecut ini masuk ordo mana? Artiodactyla?" balas Daffa mencemooh V. Kalimat Daffa benar-benar membuatnya naik pitam. V kembali melayangkan pukulannya, kali ini Daffa tidak hanya menahan serangan V tetapi juga menarik tubuh V hingga berada dalam dekapannya. Daffa sudah memeluk V dari belakang, kedua tangannya juga mengunci erat-erat tubuh V agar tak bisa melayangkan pukulannya lagi.
Sebelum kembali berkata, Daffa menaruh dagunya di atas ceruk leher V. "Lawan mereka seperti yang kau lakukan saat ini. Aku tak bisa terus menerus berada di sampingmu, kumohon jangan biarkan mereka menindasmu lagi. Jika kau tak berani menghajar mereka, gunakan mulutmu untuk mengintimidasi mereka. Pakai kekuasaanku untuk membuat mereka tunduk padamu." bisik Daffa lirih di telinga V. "Aku menyadari kekuranganku, tapi aku akan berusaha untuk melindungimu dengan caraku."
"Aku tidak mau menjadi pacarmu, aku tidak menyukaimu." bantah V.
"Aku tidak akan membuatmu suka padaku, karena aku tahu rasa suka bisa hilang karena kekuranganku. Maka aku akan membuatmu cinta kepadaku, agar kau selalu bersedia menerima segala kurangku."
"Tidak. Aku mencintai lelaki lain." bantah V lagi. İa teringat akan Cole Harvey, cinta pertamanya.
"Apa ia kekasihmu?" tanya Daffa tercekat oleh rasa sakit di hatinya.
"Tidak. Bukan." jawab V menunduk lemah. Namun justru membuat Daffa kembali bersemangat.
Daffa membalikkan tubuh V untuk menghadapnya, "Mengizinkanmu tetap mencintai seseorang selain diriku adalah pukulan terhebat dalam hidupku. Tak akan ada yang ikhlas miliknya lebih mencintai orang lain ketimbang dirinya V." jawab Daffa jujur. "Tapi bukan berarti aku akan menyerah padamu. Kau telah mencuri ciuman pertamaku dan kau juga yang telah mengambil hatiku hanya dengan tangis rapuhmu. Bertanggung jawablah V."
V tidak tahu pasti dampak yang akan timbul bila sekali lagi ia mematahkan hati orang yang tulus mencintainya. Tapi yang pasti akan ada beban penyesalan yang kembali menunggunya di ujung jalan. Ia tidak pernah tahu satuan dari berat beban yang harus ditanggungnya nanti. Jika melepaskan Cole Harvey mampu membuat kakinya lumpuh, hingga harus berjalan bagai binatang melata. Mungkin berat beban kali ini akan membuat seluruh saraf motoriknya lumpuh, ia hanya tinggal menunggu kematian menentukan akhir hidupnya.
"Bisakah ..." V menggantung kalimatnya membuat Daffa menaikkan satu alisnya, menunggu dengan perasaan berkecamuk. "Bisakah aku mencintaimu seperti aku mencintai dia?" tanya V terasa begitu sakit saat ia harus melepas apa yang telah ia genggam erat-erat.
Daffa menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak. Kau tidak akan bisa mencintaiku seperti kau mencintainya. Karena cinta selalu punya cara berbeda dalam mengekspresikan dirinya dan perbedaan itu yang membuat cinta terasa lebih spesial daripada perasaan yang lainnya." jelas Daffa menempelkan keningnya pada kening V. "Berikan aku kesempatan untuk membuatmu mencintaiku. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak akan menyakitimu, karena aku tahu kurangku bisa saja melukaimu. Tapi aku bisa berjanji untuk tidak akan pernah mengkhianatimu, menjadikanmu satu-satunya ratu di dalam hatiku."
"Bagaimana jika kau tidak lagi mencintaiku?" tanya V yakin bahwa cinta tak selamanya akan terus tumbuh dalam hati manusia.
"Jika saat itu terjadi, maka tugas kita bergantian. Aku yang akan belajar untuk mencintaimu lagi dan kau yang akan setia berdiri di sampingku."
"Bagaimana jika kau bosan?"
"Bosan hanya dalih untuk membenarkan kepergianmu. Jika apa yang kulakukan salah, maka kritik aku. Jangan menghakimiku tanpa disertakan dengan tuntutan yang jelas dan jangan hanya mencela tanpa memberikan penyelesaian. Kau hanya akan membuat kita saling berperang menyakiti hati masing-masing."
"Bagaimana jika ada orang yang lebih mencintaimu daripadaku?"
Daffa menghela nafasnya panjang sebelum ia menjawab, "Aku telah memilihmu, jika kau takut aku berpaling darimu penuhilah janjimu untuk tetap setia dan tak akan pernah mengkhianatiku. Tiga alasan itu cukup untuk membuatku tetap memilihmu."
"Bagaimana jika salah satu di antara kita melanggar janji?"
"Tergantung janji mana yang kau langgar."
"Apa maksudmu? Seakan kau tahu dengan pasti bahwa hanya aku yang akan melakukan wanprestasi." keluh V tak terima dituduh secara tidak langsung.
Daffa tertawa melihat V menjauhkan tubuhnya, "Aku laki-laki, harga diriku melarang untuk melanggar janji." balas Daffa menggoda V.
V yang sudah tersulut emosinya memilih pergi meninggalkan Daffa. Tak ada alasan baginya untuk tetap berbicara dengan Daffa. "Aku minta maaf, baiklah bila aku melanggar janjiku kau boleh menghukumku dan berlaku sebaliknya." ucap Daffa sambil menarik tangan V agar tidak pergi dari hadapannya.
"Sepakat!"
"Kau sudah berjanji akan menceritakan kesedihanmu, kemarilah aku akan mendengarkan keluh kesahmu. Syukur-syukur aku bisa membantu." Ujar Daffa nenuntun V untuk kembali duduk di atas matras. V menuruti ajakan Daffa. Tapi ia tak yakin apakah harus menceritakan masalahnya pada Daffa yang bernotaben orang asing.
V menatap wajah tampan Daffa. Ia sangat mengagumi mahakarya Tuhan di hadapannya. Jika Cole Harvey tampan dengan wajah dewasanya yang penuh wibawa, maka Daffa tampan dengan wajah remajanya. "Aku... Aku." ucap V ragu-ragu.
Daffa menghela nafasnya panjang, "Kau masih belum mempercayaiku?"
V merasa terdesak dengan pertanyaan Daffa. "Apa kau tahu siapa aku?" tanya V menyelidiki.
"Aku akan mencaritahu tentangmu sambil menjalin hubungan denganmu. Itu tidak masalah" jawabnya begitu enteng.
"Baiklah, aku akan memperkenalkan diriku secara resmi namaku Cassandra Lobelia Elèonore Athena Marioline Delyth Grethania Islean Adeline Lavina Cadis Marizta Éclair Princella Light Queenna Luvy Kiyandra Calista Magaly Nyx." ucap V memperkenalkan nama lengkapnya karena memang jarang ada orang yang tahu nama lengkapnya. "Raja Alexander atau aku biasa akrab memanggilnya Paman Alex memanggilku Cassandra, oleh karena itu publik mengenalku sebagai Cassandra Èclair. Tapi Papah memanggilku V, oleh karena itu orang rumah memanggilku V Èclair."
Raut wajah Daffa berubah saat mendengar penjelasannya. Ia tak tahu makna perubahan wajah itu, melihat Daffa yang tak juga berkata ia memilih melanjutkan kalimatnya. "Paman Frankenstein lebih mengenalku sebagai Cassandra Luvy, Cassandra sebagai nama depanku dan Luvy asal muasal dari nama panggilanku. Oleh karena itu Paman Frankenstein mendaftarkan namaku sebagai Cassandra Luvy, dan tentu saja hal itu di luar sepengetahuan Papah. Karena jika Papah tahu, Papah akan menyuruhnya mengubah menjadi V Èclair."
"Apa kau berpikir bahwa Papahmu menyuruh kau bersekolah di sini untuk bertemu salah satu anak rahasianya? Dan pikiran itu yang membuatmu begitu terkejut seperti tadi?" tebak Daffa. V tidak bisa membenarkan seluruh perkataannya, jadi ia hanya menganggukkan kepalanya. Membenarkan kalimat terakhir yang ia anggap akurat.
"Apa kau sudah bertanya dengan Papahmu?" tanya Daffa yang lagi-lagi hanya mendapat isyarat sebagai jawaban, namun kali ini V menggelengkan kepalanya.
.
.
.
.
.
✌✌✌✌✌
Terima kasih buat temen-temen yang udah luangin waktunya buat baca mahakarya gw. Jangan lupa klik tombol like kalo kalian suka sama cerita gw. Bagi kalian yang kurang atau gak suka sama cerita gw, kalian bisa tulis kritik dan saran di kolom komentar. Agar kedepannya gw bisa memperbaiki tulisan gw. Jangan lupa klik tombol favorite biar kalian dapat pemberitahuan saat gw update episode terbaru.
Terima kasih juga buat kalian para silent reader, tanpa kalian statistik gw gak akan berkembang. Tapi kalo bisa sih tinggalin jejak kalian di halaman gw, bikin sampah di kolom komentar gw juga gak apa-apa. Apalagi kalo nyampahnya pake bom like, gw bahagia malah.
Salam hangat gw manusia tertampan dan rupawan versi Mamih dan Papih gw,
-Leonil Aslan 🦁