
Ruang pertama yang di temui saat pertama kali masuk adalah ruang foyer yang begitu luas. Gaya interior rumah ini didominasi oleh warna putih dan gold yang gemerlap, memberi kesan mewah dan elegan. Lantainya terbuat dari marmer berwarna putih yang berkilau. Lampu-lampu kristal tergantung menjuntai dari atas plafon. Terdapat ornamen-ornamen kristal dan ukiran khas di setiap sudut. Kumpulan guci-guci dengan beraneka ragam ukiran menghias di sudut-sudut ruangan. Ada berbagai macam lukisan dari para pelukis ternama di dindingnya. Di dekat jendela raksasa terdapat sebuah rak besar berisi penghargaan yang telah Aldrich Éclair raih.
Di depan ruang foyer terdapat ruangan yang lebih tinggi tanpa penyekat. Ruang itu digunakan sebagai jantungnya rumah. Ruangan ini didekorasi dengan gaya kontemporer dengan kesan mewah dan nyaman. Masuk lebih dalam terdapat pintu transom yang memisahkan antara ruang tamu dengan ruang nimfeum- sebuah ruangan pada masa Romawi Kuno yang dihiasi oleh air mancur, tanaman, dan patung-patung- yang dapat memanjakan kedua mata dengan kesan damainya. Di ruangan ini juga terdapat sebuah kolam renang yang sangat luas.
Masuk lebih dalam melewati koridor dengan pintu transom. Di koridor itu terdapat lorong-lorong jalan yang berbeda. Setiap lorongnya mengarah kepada ruangan-ruangan tertentu.
Mereka menaiki sebuah tangga besar yang didesain melingkar. Plafon tangga itu menembus hingga lantai ketiga. Di atas plafon itu terdapat mosaik-mosaik indah berwarna-warni. Letak tangga itu menghadap sebuah dinding yang di desain dengan kaca yang menampilkan sisi halaman belakang rumah.
Di dalam sebuah kamar dengan bangunan yang sangat luas. Dinding kamar itu berwarna merah muda dengan gradasi. Lampu-lampu panjang dengan ujungnya berbentuk bintang menjuntai menghiasi plafon. Di sisi timur kamar itu terdapat tempat tidur berukuran besar dengan tirai di sekelilingnya, lengkap dengan bench. Di atas tempat tidur dikelilingi oleh boneka-boneka beruang berwarna coklat muda dengan ukuran yang beraneka ragam. Kamar itu memang sudah disiapkan sebelumnya.
Aldrich Éclair menaruh gadis cilik itu di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.
"Aku tidak peduli dengan kehidupanmu sebelumnya, siapa namamu, siapa orang tuamu dan dimana kau tinggal. Mulai hari ini, kau menggantikan peran anakku yang telah meninggal empat tahun yang lalu. Panggil aku dengan sebutan Papah dan panggil isteriku dengan sebutan Mamah.
Namamu sekarang adalah V, untuk nama lengkapmu kita bicarakan besok. Kau dilarang memberitahu kepada siapapun siapa dirimu yang sebenarnya, kau juga dilarang keluar rumah tanpa seizin dariku, dan kau dilarang bertingkah semaumu. Semua perkataanku adalah perintah dan kau dilarang untuk membantah! Kau hanya punya satu hak, yakni hak hidup. Ada pertanyaan?" jelasnya dengan begitu banyak penekanan di setiap suku katanya.
Nada suaranya yang terdengar dingin, tatapan matanya yang menusuk. Membuat seluruh tubuh meremang. Refleks V menggeleng lemah ketakutan.
Ia tersenyum puas, "Bagus. Istirahatlah!" kalimat terakhir itu disertai dengan ciuman hangat di kening V.
Mengingat setiap perkataannya mutlak adalah perintah, V memejamkan matanya berharap ia bisa cepat-cepat tertidur. Meskipun ia mendengar dengan jelas percakapan antara dua orang laki-laki di telinganya. Ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membuka matanya. Ia bahkan mengabaikan sebuah jari-jari hangat yang melepas pakaiannya dengan lembut. Mengusap seluruh tubuhnya dengan air hangat. Mengoleskan sebuah cairan dingin ke beberapa bagian tubuhnya, kemudian membalut tubuhnya dengan kain harum.
✌✌✌✌
Ketika waktu sarapan pagi telah tiba. V menyantap sarapan paginya bersama dengan Aldrich Éclair di dalam kamar. Pagi tadi sekujur tubuhnya terasa menggigil akibat rasa sakit yang baru ia rasakan ketika membuka mata. Padahal kemarin malam rasa sakit itu tidak separah yang ia rasakan pagi ini. Aldrich Éclair duduk di pinggir tempat tidur V, membantu V menyuapkan roti isi ke mulutnya. Pagi itu wajahnya begitu bersahabat. Memberi kesan hangat kepada V yang sempat ketakutan melihatnya di ambang pintu pagi tadi.
"Dengarkan baik-baik nama lengkapmu. Kau harus bisa menghafalnya," ucap Aldrich Éclair membantu V meminum susu coklat hangatnya.
"Cassandra Lobelia Elèonore Athena Marioline Delyth Grethania Islean Adeline Lavina Cadis Marizta Éclair Princella Light Queenna Luvy Kiyandra Calista Magaly Nyx." lanjutnya memenggal setiap kata yang ia ucapkan.
V tampak terdiam dan berpikir, "Terdiri atas dua puluh satu suku kata?"
Aldrich Éclair menghela nafasnya, "Harusnya aku tidak berharap banyak padamu." ia tidak menjawab pertanyaan V. V mengerucutkan bibirnya tidak terima daya ingatnya direndahkan oleh orang lain.
"Namaku Cassandra Lobelia Elèonore Athena Marioline Delyth Grethania Islean Adeline Lavina Cadis Marizta Éclair Princella Light Queenna Luvy Kiyandra Calista Magaly Nyx, benar? Dari nama sepanjang itu nama panggilanku bahkan tidak sampai setengah dari huruf setiap katanya. Bukankah itu patut dipertanyakan?" tanya V menggigit roti isinya kembali.
Aldrich Éclair tertawa puas, "Bukankah hebat satu huruf mampu mengalahkan seratus tiga puluh sembilan huruf yang lainnya? Heh?" tanya Aldrich Éclair menikkan satu alisnya ke atas. Wajahnya hari ini tidak semenakutkan kemarin malam. V ikut tertawa mendengar penjelasannya.
"Papah ingin aku sehebat apa? Apa yang Papah harapkan dariku? Aku yakin Papah tidak sedang melakukan amal sosial" tanya V dengan tatapan menyelidiki. Ia merasa sedikit curiga dengan perlakuan Papahnya.
"Wah! Wah! Kau sedang menginterogasi Papahmu heh?" tanya Aldrich Éclair dengan menaikkan alisnya. "Meski tenang kau tetap waspada juga ya." ujarnya menaikkan sudut bibirnya.
"Bukankah aneh saat semua orang mengabaikan nasibku, bahkan sanak saudaraku tidak ada yang mempedulikanku dan Papah malah membawaku pulang ke rumah mewah? Itu patut diwaspadai." jelas V yang membuat Aldrich Éclair tertawa renyah.
"Baiklah pekerjaan apa yang harus aku lakukan?" tanya V kembali karena perkataan sebelumnya tidak digubris.
V yang ingin menyuap roti isinya terhenti, Matanya menatap membelalak, "Eh? Hanya itu? Sesederhana itu ?" tanya V tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ya, tugasmu hanya sebatas itu." ujar Aldrich Éclair santai, kembali memasukkan potongan terakhir roti isinya.
V mengangguk-anggukkan kepalanya, "Sepertinya menjadi anak Papah tidak sesederhana itu." gumamnya menganalisa.
Aldrich Éclair tertawa mendengar gumaman V yang seperti menggerutu. Ia mengusap lembut kepala V.
"Kau masih mewaspadai Papahmu?"
V merasa hal ini tidak patut ia waspadai terus menerus. Ia menilik wajah Aldrich Éclair dari matanya hingga seluruh bagian yang ada di wajah itu.
"Papah? Dimana Mamah? Mengapa tidak ikut sarapan bersama kita?" tanya V penuh dengan antusias. Sontak membuat Aldrich Éclair tersentak. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum.
"Belum saatnya kau bertemu dengan Mamahmu. Tunggu kondisimu lebih baik dari saat ini. Baru setelah itu kita jemput Mamahmu." jelas Aldrich Éclair masih dengan mengembangkan senyumnya. V yang menyadari perubahan mimik wajah itu mengerti dengan pasti isyarat batasan yang boleh ia ketahui dan tidak ia ketahui. Ia memilih tidak bertanya lebih dalam lagi, ia melanjutkan menyantap sarapannya tanpa suara.
Sepasang mata Aldrich Éclair menilik arloji berwarna perak di tangan kirinya. V begitu paham bahwa Papahnya yang sekarang bukanlah seorang laki-laki yang bisa dengan mudah ditemui kapan saja. Setiap detik waktu yang ia miliki sungguh sangat amat berharga. Untuk menyempatkan sarapan dan makan malam bersama saja sebetulnya adalah sebuah anugerah bagi V.
Sebenarnya Aldrich Éclair tidak ingin pergi secepat itu. Begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan secara langsung kepada V, namun masih ada beberapa hal yang perlu ia urus. Ia tidak pernah puas jika menyerahkan tugas penting kepada orang lain, karena hasilnya tidak pernah sesuai dengan kehendaknya. Ia memang seorang perfeksionis, sehingga segala sesuatunya harus berjalan dengan sempurna tanpa kesalahan sedikitpun.
Aldrich Éclair mencium kening V sebelum akhirnya ia menyambar jas abu-abu yang menggantung di sandaran kursi. Hari ini ia tidak mengenakan rompi seperti malam kemarin. Tubuh gagah dengan bahu yang berbentuk itu menghilang di balik pintu kayu berwarna coklat.
Para pelayan yang telah berdiri di ambang pintu, mengetuk pintu, meminta izin untuk merapihkan alat makan. V mempersilahkannya masuk.
"Ah Bibi? Bisakah kau membuka pintu itu untukku? Aku tidak suka berlama-lama di ruangan ber- AC." pinta V kepada seorang pelayan yang berdiri tidak jauh darinya.
Wajah V yang begitu manis dengan bola mata lebar berwarna hitam legam, membuatnya begitu terlihat menggemaskan. Ditambah dengan rambut panjangnya yang sengaja di kuncir dua oleh Aldrich Éclair. Membuat siapapun ingin mencium atau memeluk tubuhnya.
"Tentu saja Nona Muda." jawabnya dengan tersenyum riang.
"Nona Muda apa kau membutuhkan sesuatu ?" tanya pelayan satunya lagi.
"Aku sedikit bosan, aku sangat ingin bermain di halaman. Tapi jika aku bangun, tubuhku akan terasa sangat sakit sekali."
Pelayan yang sebelumnya membuka pintu kaca itu mendekat.
"Tuan Besar Éclair berpesan, bahwa Nona Muda tidak diizinkan untuk keluar dari kamar. Nona Muda harus beristirahat dalam beberapa hari ini." jelasnya mengingatkan.
"Baiklah. Bibi, aku belum mengenal nama kalian semua. Bisakah kalian memperkenalkannya?" pinta V dengan wajahnya yang menggemaskan.
Para pelayan memperkenalkan nama mereka satu persatu dengan senang hati. Kepribadian V yang ramah dan hangat membawa kesan menyenangkan bagi para pelayan. V yang mudah mengakrabkan diri membuat para pelayan tidak sungkan menjawab pertanyaan V.