V

V
<[ EPISODE 23 ]>



Cole Harvey tengah berdiri bersama seorang wanita berusia lima puluh satu tahun di belakang rumah wanita itu. Mereka tengah menikmati pergantian waktu dengan mengucapkan selamat datang pada rembulan yang telah nampak.


Karena tekanan yang terus dialami oleh Evelyne Cailean ia menderita gangguan depresi mayor. Selain menurunkan minat hidup, penyakit ini juga menyebabkan perubahan dalam fungsi otak, termasuk aktivitas abnormal dari sirkuit saraf tertentu dalam otak. Banyak ingatan yang ia lupakan, ia hanya mengingat kenangan masa mudanya bersama dengan suaminya. İa terkadang menangis histeris tanpa henti, meraung-raung hingga akhirnya memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri. Sudah tak terhitung berapa kali Evelyne berusaha untuk mengakhiri hidupnya namun dicegah oleh pengurus rumah tangga yang telah disewa oleh Magaly Nyx selama sepuluh tahun kedepan.


Kehadiran Cole Harvey yang secara tiba-tiba membuat Evelyne berpikir bahwa Cole Harvey adalah Ruth Cailean, meskipun berkali-kali Cole berusaha menjelaskan siapa dirinya, namun Evelyne tetap menganggap Cole sebagai Ruth suaminya. Cole bahkan sering bercerita mengenai Magaly Nyx yang langsung mendapat respon tidak suka dan cemburu karena berpikir suaminya telah mengkhianatinya. Evelyne menjadi murka dengan menghancurkan apapun yang ada dihadapannya. Jika bukan karena Magaly Nyx, Cole yang mudah tersulut emosinya, sudah pasti akan melenyapkan Evelyne dengan tangannya sendiri.


"Mah, kita masuk ya. Mamah sudah terlalu lama di luar, angin malam tidak bagus untuk kesehatan Mamah." ujar Cole Harvey membujuk Evelyne yang sejak tadi tak mau beranjak.


"Tidak aku ingin tetap di sini bersama suamiku." Evelyne menatap Cole dengan curiga. "Atau jangan-jangan Papah ingin menemui wanita jalang itu lagi ya? Agar Papah tidak bertemu wanita jalang itu lagi, Mamah aku membunuhnya dengan kedua tangan Mamah."


"Mah, sadar Mah! Dia Magaly Nyx anak Mamah. Dia anak yang baik, berhenti menghina dirinya Mah. Aku tidak akan diam saja jika kekasihku dihina oleh orang lain, termasuk oleh Mamah sendiri orang tuanya!"


Evelyne menatap laki-laki dihadapannya dengan geram, "Wanita murahan itu telah membuat suamiku tergoda olehnya! Wanita sialan!" belum sempat Evelyne berhasil lari mencari Magaly Nyx, tangan Cole Harvey sudah merengkuh bahunya, "Lepaskan! Wanita sialan itu harus mati!"


"Evelyne hentikan!" maki Cole Harvey. İni untuk pertama kalinya Cole Harvey menaikkan tinggi suaranya, membuat Evelyne tersentak.


"Wanita brengsek!" umpatnya pergi meninggalkan Evelyne yang masih terkejut dengan apa yang dilakukan Cole Harvey.


Tanpa mempedulikan isak tangis yang meraung-raung Cole Harvey pergi meninggalkan Evelyne yang memanggil-manggilnya. Cole tidak perlu merasa iba karena tangisannya, toh tangisan itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk suaminya Ruth Caileon.


"Selanjutnya kau saja yang pergi mengunjungi dia. Tingkahnya semakin lama membuatku muak. Jika bukan karena menghargai Nyx, aku sudah membunuh wanita tua itu sejak dulu." ucap Cole Harvey pada salah satu teman setianya yang juga bekerja untuknya, Antoine Richardo menunggunya sejak tadi.


Antoine tertawa mendengar keluhan dari sahabatnya. Bukan sekali dua kali Antoine memperingati Cole bahwa mengurus Evelyne yang dalam keadaan di luar batas normal lebih melelahkan daripada membantai satu keluarga bangsawan. "Aku akan mengutus seseorang untuk mengawasinya."


"Diplomat dari negara S mengirimimu surat undangan. Mereka mendesakmu untuk hadir rapat konsultasi." jelas Antoine sambil memberikan berkas di tangannya.


"Sudah mati akal rupanya mereka." Cole tersenyum merendahkan.


Saat ia ingin menyobek berkas itu, "Cole, aku tahu kau ingin menghancurkan negara ini karena ketidak pedulian mereka dengan kekasihmu. Tapi jangan mengesampingkan dirimu sendiri Cole, kau bisa dituduh makar dan mengancam kedaulatan negara S jika kau tidak menanggapinya dengan serius."


Cole masih bersikap acuh tak acuh saat dirinya telah masuk ke dalam mobil. İa tak mempedulikan badai yang akan menerjangnya di masa yang akan datang, lagi pula ia telah kehilangan minatnya untuk hidup. İa tidak takut dengan kematian, ia malah menyuruh kematian untuk segera datang menghampirinya.


Cole Harvey menyadari buah yang akan ia petik dari bibit yang ia tanam. İa tak peduli dengan segala risiko yang akan ia tanggung nantinya, selama ia mampu mewujudkan cita-cita Magaly Nyx untuk membersihkan nama baik keluarganya. Juga demi dendamnya kepada seluruh penduduk negara S yang telah menindas dan bersikap apatis kepada kekasihnya. İa tidak peduli dengan apapun, selama tujuannya tercapai.


Antoine Richardo hanya bisa menghela nafasnya panjang. İa tak menyangka hanya karena kehilangan calon tunangannya, sahabatnya bisa bertindak sejauh itu. İa juga menyayangkan bakat Cole Harvey yang harus berhenti karena tutup usia, jika ia terus seperti ini. Entah kapan ajal akan benar-benar menjemputnya. Kasus teror dan juga usaha pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa elemen kepada Cole Harvey, bagaikan mengonsumsi obat yang dilakukan tiga kali dalam sehari.


"Cole, meski aku tidak mengenal Magaly Nyx. Tapi aku yakin ia pasti bukanlah wanita sembarangan. Karena tak mungkin seorang Cole Harvey mau menjatuhkan hatinya pada wanita rendahan." Antoine mencoba mengambil perhatian Cole Harvey. Meski tidak menunjukkan perhatiannya secara jelas, Cole Harvey menunggu kalimat selanjutnya. Antoine yang mengenal betul sahabatnya sejak kecil, mengerti tanda yang diberikan oleh Cole sekecil apapun itu.


"Aku ingin bertanya, apakah kau masih mengingat pesan terakhirnya saat di pesawat?" tanya Antoine yang langsung mendapat anggukkan kepala dari Cole. Sinar mata Antoine seperti mengisyaratkan 'kau masuk perangkapku'.


"Aku yakin Magaly memintamu untuk tetap hidup selepas kepergiannya." tebak Antoine yang ia sendiri juga tak tahu dengan pasti kebenaran tebakannya. Namun melihat Cole yang menjadi antusias membuatnya merasa tebakannya 100% mengenai sasaran.


"Ya, aku terkadang merasa aneh jika memikirkannya."


Antoine tak mengerti dengan tanggapan Cole, "Hah?!"


"Kalau begitu kau harus menyelamatkan nyawamu yang sedang di ujung tanduk."


"Untuk apa?"


Antoine menepuk jidatnya, "Agar kau tetap hiduplah. Bukankah Nyx melarangmu untuk mati?!"


Cole Harvey tertawa, "Dia memang melarangku mati, tapi karena aku bunuh diri. İa tak pernah bilang kan kalau ia juga melarangku mati karena terbunuh? Lagi pula aku selalu mendoakannya. Aku telah mengirimkan kado teristimewanya setelah ia tak ada. Jadi kalau aku berjumpa dengannya di akhirat aku tak akan merasa bersalah."


Antoine mengusap wajahnya, "Cole, aku tak bisa membantah argumenmu." ia mengaku kalah jika harus melawan Cole dalam berparadoks. "Tunggu, kau bilang berdoa? Kau berdoa pada Tuhan?" tanya Antoine bingung.


Antoine sekarang tertawa terbahak-bahak, "Kau akhirnya menunduk pada Tuhan, zat yang selalu kau hina firman-Nya? Kekuasaan-Nya selalu kau dustakan hanya karena keabsurdan dan skeptisme mu yang mendarah daging. Bukankah dulu kau berkata kau tidak akan percaya pada Tuhan? Kau menjilat ludahmu sendiri sobat." Antoine tertawa terpingkal-pingkal karena mengingat bagaimana dulu Cole menolak dengan keras keberadaan Tuhan.


Cole Harvey memang menolak kehadiran Tuhan karena pikirannya hanya menerima segala ilmu yang dideduksi dari rasionalitas manusia. Sedangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, berada di luar kognitif. Baginya pemikiran akan Tuhan mengimplikasikan turunnya derajat akal manusia dan keadilan, İa merupakan negasi kebebasan manusia yang paling tegas, dan seperlunya akan berakhir pada perbudakan umat manusia, dalam teori dan praktiknya.


Cole selalu merasa bahwa kemahakuasaan, kemaha belas kasihan, kemahatahuan dan beberapa sifat yang disandang oleh Tuhan tidaklah cocok untuk diri-Nya. Karena Tuhan membiarkan dunia penuh dengan kejahatan dan penderitaan. Sehingga ia menganggap kemanusiaan sebagai sumber mutlak etika serta nilai-nilai, dan mengizinkan individu untuk menyelesaikan permasalahan moral tanpa bergantung pada Tuhan.


"Aku hanya ingin menyenangkan kekasihku. Memangnya salah? Tuhan itu hanya ada di dalam buku-buku pelajaran, sedangkan dalam dunia nyata Tuhan itu tidak ada. Kehadiran Tuhan hanyan indoktrin agar kau selalu terikat oleh sebuah subjek yang bernama Tuhan.


"Kehadiran Tuhan hanya akan membuat akalmu mati! Apalagi saat terjadi fenomena alam, susah payah ilmuwan meneliti gejala dan akibat yang timbul sesudahnya karena tak tahu apa yang terjadi pada alam. Dengan entengnya para pemuka agama berkata, 'İtu karunia Tuhan atau itu peringatan Tuhan'. Kemudian kau akan melakukan upacara bodoh memuja Tuhan berjam-jam tanpa melakukan antisipasi bencana yang akan terjadi selanjutnya."


"Pada akhirnya yang bekerja juga otak-otak manusia! Memangnya Tuhan langsung turun sambil menyihir dunia seperti tokoh utama kartun yang ditonton anak-anak? Kepercayaan ..."


"Ya ya, terserah apa katamu saja. Penghinaanmu terhadap Tuhan semakin lama semakin menggila. Aku tidak akan ikut campur lagi masalah kepercayaanmu, setidaknya hentikan penghinaanmu terhadap Tuhan di depanku, setuju?" Antoine tak tahan lagi mendengar argumen Cole Harvey yang mengukur segalanya melalui rasionalisme dengan pendekatan epistemologi.


"Kau tahu? Nyx tak pernah mau kalah saat berdebat denganku masalah Tuhan. İa akan menjadi wanita dengan pendirian yang keras, aku suka dengan sinar ketegasan di matanya." Cole Harvey kembali larut dalam kenangannya.


"Apa yang akan dikatakan Nyx jika dia tahu kebodohanku? İa pasti akan sangat marah dan mencubit perutku. Hanya ia satu-satunya wanita yang mempedulikanku dengan tulus, aku tak akan pernah menyesal mencintainya hingga tutup usiaku."


Antoine yang mendengar ratapan hati sahabatnya menjadi pilu. Meski ia tak pernah bertemu dengan Magaly Nyx, ia akan tetap menaruh rasa hormat padanya. Siapapun wanita yang berhasil menaklukkan hati sahabatnya yang sekeras batu, bukanlah wanita sembarangan. İa juga menyayangkan Nyx yang tidak berumur panjang, sehingga ia tak punya kesempatan untuk bertatap muka dengannya.


Antoine mengusap pelan pundak sahabatnya, "Percayalah bahwa Nyx juga mencintaimu, sehingga ia ingin kau melanjutkan hidupmu dengan bahagia."


"Ya, aku tahu dia mencintaiku. Oleh karena itu, aku berjanji akan menikahinya." kalimat Cole Harvey membuat Antoine begitu terkejut. İa seperti tak lagi mengenal sosok laki-laki yang duduk di sebelahnya.


Seorang Cole Harvey yang hidup bebas tanpa ingin terikat oleh apapun. Tiba-tiba memberikan sebuah komitmen kepada wanita yang baru ia temui? Padahal sebelumnya ia hanya menganggap wanita sebagai tempat pelampiasan nafsu liarnya. Bahkan ia tak pernah menganggap wanita sebagai manusia karena mereka penganut hedonisme.


Cole menenggelamkan kepalanya dalam telapak tangannya. İa menundukkan kepalanya semakin dalam. Untuk pertama kalinya Antoine melihat sisi lemah Cole Harvey. Cole Harvey bahkan tak mempedulikan harga dirinya, di depan anak buahnya. İa menangis dalam kesedihannya. Bahkan isak tangisnya dapat didengar setiap telinga yang ada di dalam mobil. Tangisnya yang begitu menyayat membuat setiap hati ikut merasakan kepedihan yang dialaminya.


Berkali-kali Cole Harvey memanggil nama Nyx dengan suaranya yang lirih. Meski ia tahu panggilannya tidak akan mendapatkan tanggapan dari pemilik suara yang ia rindukan. Tapi tak menutup harapannya untuk tetap mendengar kembali sahutan dari panggilannya.


"Nyx, aku merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu. Apakah kau dengar tangisanku? Aku harus bagaimana Nyx? Bagaimana caranya aku mengobati kerinduanku? Aku bagaikan pengembara yang kehabisan air di padang pasir. Semakin jauh aku menyusuri gurun pasir, semakin aku menginginkan air. Harapan hanya memberikanku fatamorgana oasis Nyx. Fatamorgana Nyx, hanya fatamorgana."


Cole larut dalam kesedihannya, tak mempedulikan pandangan orang yang melihatnya. İa hanya ingin meluapkan kesedihannya, melapiaskan frustrasinya. İa tak perlu dihibur, karena ia tahu hiburannya hanyalah kemustahilan belaka. Saat hati Cole Harvey terasa lebih tenang, dengan sisa air mata di sudut matanya ia menatap Antoine, "Kita penuhi undangan mereka. Siapkan pidatoku untuk konferensi pers usai rapat konsultasi." Antoine mengangguk kuat karena puas dengan akhir dari keputusan Cole Harvey yang telah ditunggu-tunggunya.