
**Terima kasih banyak untuk kalian yang dengan baik hatinya menanggapi karya Abang ku dengan begitu bijaksana. Terima kasih karena kalian dengan tulusnya mau memberi dukungan untuk Abangku, mungkin secara gak langsung dukungan kalian yang membuat Abangku mampu bertahan sejauh ini.
Aku gak menyangka jika ternyata Abangku menulis cerita terakhirnya di sini. Jika bukan karena notifikasi komentar dari kalian, mungkin aku gak akan pernah tau. Sekarang aku paham alasan Abang sampai nangis saat dia bilang lupa kata sandi akunnya di MangaToon. Jika aku tau Abang punya ceritanya di sini aku gak akan mungkin bilang, 'Apaan sih! Abang lebay kaya perempuan. Jangan nangis. Nanti aku bantu tanyain. Aku yang perempuan aja gak gitu-gitu amat, bang.' Haha! Aku jahat ya, tapi jujur aja aku gak suka lihat Abangku nangis. Aku merasa kaya itu bukan karakter dia. Haha! Jadi curhat.
Aku minta maaf atas nama Abangku jika selama ini, ada kata-kata Abang yang nyakitin hati para warga netizen. Mohon do'anya juga untuk Abang.
Awalnya aku berniat untuk mengabaikan, tapi setelah aku baca, sempet gak percaya juga sih Abangku punya sisi bar-bar kaya gitu. Secara Abangku itu tipikal orang yang apa-apa selalu pakai perasaan. Jadi maklumlah jika aku kaget bukan main saat baca ceritanya yang genre action. Berhubung Abang gak pernah cerita dan gak pernah amanahin tentang karyanya. Aku juga udah bongkar data di ponsel maupun di laptop Abang tapi gak ada, jadi aku berencana untuk selesain cerita Abang sampai tamat. Berkat catatan-catatan Abang, aku bisa selesain dua episode untuk hari ini. Selamat membaca dan semoga kalian tetep suka versi aku**.
.
.
.
.
.
.
Langit berwarna coklat dengan ukiran ornamen di setiap sisinya. Sebuah jendela seukuran dinding membuat sinar mentari menerobos masuk ke dalam kamar. Ruangan terasa hening, tak ada suara yang terdengar, bahkan suara detak jam pun tak didengarnya. Seakan ruangan itu difasilitasi dengan styrofoam kedap suara. Tak ada siapapun di dalam ruangan itu selain dirinya. İa melihat alat pendeteksi detak jantung masih terus beroperasi di sisi kanannya. Selang oksigen yang menutupi hidungnya masih menghembuskan udara dengan ritme stabil. Jarum dari selang infus masih menembus ke dalam kulitnya.
Bara mengerjapkan kembali matanya tatkala ia bangkit dari tidurnya. Sebab buram menghalangi pandangannya, ditambah rasa pening membuatnya tersontak memegang kepalanya. İa melepas oksigennya, kini tercium aroma bunga lavender memenuhi setiap sudut ruangan. Wangi aroma terapi. İngatan masa lalu perlahan terlintas dalam pikirannya. Ada yang harus ia lakukan saat ini, ia tak bisa menundanya atau bahaya besar akan terjadi nantinya.
Tidak terlalu sulit mencari barang-barang miliknya. Dompet dan juga ponsel rusak miliknya sudah ada di atas nakas. Dengan susah payah Bara turun dari tempat tidur. İa tak ingin mengambil risiko kulitnya tersobek, jadi ia memilih membiarkan jarum infus tetap melekat di tangannya. Pemandangan yang sudah biasa baginya, namun tidak bagi rakyat biasa membuatnya menaruh waspada tinggi. Di depan kamarnya berjajar satu regu laki-laki berjas hitam dengan dasi merah beserta kaca mata hitam di hidungnya.
Saat melihat Bara keluar dari kamarnya satu regu pria bertubuh proposional itu memberi hormat padanya. Dihormati sudah hal lumrah bagi Bara, namun yang membuatnya canggung ia dihormati oleh orang-orang yang bahkan tak mengenal siapa dirinya dan siapa mereka.
"Tuan Bara, perkenalkan nama saya Aji Prayoga. Saya yang bertanggung jawab dengan keamanan tuan di rumah ini." seru Aji Prayoga selaku ketua regu yang bertugas menjaga Bara. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Dimana V?"
"Nona Muda masih berada di sekolahnya."
"Tolong sampaikan kepadanya, saya sangat berterima kasih padanya. Saya akan membalas budi di lain hari, tapi tidak saat ini karena saya harus pergi."
Saat Bara ingin melangkah, sebuah tangan membentang bagai portal di depannya.
"Maaf, Tuan. Anda tidak diperkenankan untuk pergi dari rumah ini, sebelum Nona Muda Èclair mengizinkannya."
Bara tidak menghiraukan pemberitahuan Aji. İa menepis kuat-kuat tangan Aji yang mencoba menghalanginya. Tak lama ia berhasil lolos dari Aji, sekelompok orang berdiri menghadang jalannya. Bara mendengus kesal, sebab bukan perkara mudah ia bisa keluar dari rumah ini.
"Baiklah. Aku akan menunggu V kembali. Tapi sebagai gantinya, pinjamkan aku telepon. Aku harus menghubungi temanku."
Aji menyodorkan telepon seluler miliknya. İa cukup senang melihat Bara tidak mempersulit pekerjaannya, jadi ia tak ragu meminjamkan miliknya. Lagi pula ia lebih rela kehilangan ponselnya daripada harus kehilangan mata pencariannya.
Bara tak banyak bicara setelah Aji memberikan ponsel padanya. İa kembali masuk ke dalam kamar sambil sibuk mengeluarkan kartu dari ponsel rusaknya. Tanpa permisi membongkar slot kartu sim ponsel Aji, mengganti dengan kartu miliknya.
Bara sudah menunggu sambungan teleponnya terhubung. Pikirannya menerawang jauh ke depan. İngatan-ingatan masa lalu memaksa masuk dalam pikirannya, membuat rahangnya semakin mengeras. Tinjunya sudah terkepal kuat-kuat, siap untuk dilayangkan namun entah dilayangkan pada siapa.
"Hallo, dengan Panji Dharma?" tanya Bara saat telepon sudah terhubung.
"Ya Tuhan Bara! Dimana kau? Apa kau baik-baik saja? Semua orang mencemaskanmu saat sinyal pemancar milikmu menghilang. Aku hampir dibunuh oleh Jenderal karena dianggap menjadi penyebab menghilangnya dirimu!"
"Kita bicarakan itu lain waktu, Panji. Ada hal yang lebih penting yang harus ku sampaikan." potong Bara. İa tahu telah banyak anak kalimat yang telah siap panen, entah akan memakan waktu berapa jam untuk mendengarkan Panji menyelesaikan kalimatnya. "Ada serigala di rumah kita! Aku tak tahu warna bulunya. Para anjing telah berburu dengan petunjuk serigala." jelas Bara menggunakan sandi.
"Apakah mereka telah menemukan tulang?" tanya Panji dengan nada panik khas miliknya.
"Ya mereka berhasil menemukan tulang tengkorak." jelas Bara. Sandi tulang tengkorak ditunjukkan untuk dirinya sendiri.
"Astaga! Lalu sekarang kau dimana? Apa kau baik-baik saja? Aku akan mengirimkan bantuan untukmu..."
"Tidak jangan!" potong Bara sebelum Panji menyelesaikan kalimatnya. "Mengirim agen lainnya terlalu berisiko. Kita telah banyak kehilangan agen-agen berbakat untuk menyelesaikan misi ini. Aku..." belum selesai Bara berkata ia mendengar suara berisik dari seberang.
"Bayu? Kau di sana?" panggil suara berat yang terdengar sangat familiar baginya. Nada bicaranya terdengar cemas sekaligus lega. İtu suara Eyang Kakung. Entah apa yang dilakukan Eyangnya di markas Secret İntelligence Service (SİS).
"Untuk apa kau tanyakan kabar orang tua ini? Tentunya kau sudah akrab betul dengan kondisinya bukan? Dimana kau Bayu?"
"Eyang selalu saja begitu. Untuk sekarang Bayu baik-baik saja. İtu semua berkat bidadari yang menolong Bayu."
"Eh? Bidadari? Apakah dia cantik?" tanya Jenderal Sudirman menggoda Bara. İni untuk pertama kalinya Bara berbicara tentang perempuan, jadi ia tak ingin melewatkan kesempatan menggoda cucu kesayangannya.
"Eyang Kakung! Aku tak ingin membuang waktuku. Bisakah kita bicarakan hal itu di lain waktu?" Bara begitu menyesal menyisipkan kalimat terakhirnya.
"Baiklah, baiklah! Kirimkan alamatmu, Eyang akan menjemputmu..."
"Eyang, kurasa untuk saat ini lebih baik aku bersembunyi. Eyang Kakung berwaspadalah, serigala ada di sekitar kita. Untuk saat ini Eyang jangan percaya pada siapapun dan jangan lupa untuk meningkatkan keamanan Mabes Antara."
"Ck! Dasar anak muda! Aku akan mengingatnya. Jaga dirimu baik-baik, Bayu."
"Ya. Eyang Kakung juga, berusahalah untuk tidak membicarakan hal ini pada Eyang Putri terutama juga pada İbu." pinta Bara, sebab ia tahu kebiasaan buruk Eyang Kakungnya. "Bisakah aku berbicara dengan Panji lagi, Eyang?"
"İni! Dia ingin berbicara denganmu. Sampaikan padanya, lama-lama ia secerewet orang tuaku." gerutu Jenderal Sudirman yang tentu saja dapat didengar oleh Bara. İngin sekali Bara tertawa mendengar gerutu Eyangnya. Hanya saja sebisa mungkin ia menahannya. Sebab Eyang Kakungnya memang sedikit sensitif bila ada yang menertawakan tingkah lakunya. Jadi ia hanya tersenyum berkedut menanggapi gerutu Eyangnya.
"Yo, Bara. Kau masih di sana?" tanya Panji.
"Ya."
"Kau sudah mendengar sendiri pesan Jenderal bukan? Jadi aku tak perlu susah payah mengulanginya bukan?"
"Ya, tak perlu." kata Bara menanggapi. "Bisakah kau menyambungkanku dengan agen Fanta?"
"Wah! Wah! Hubungan kalian menjadi semakin akrab sepertinya, setelah sempat ditempatkan pada misi yang sama."
"Panji? Apakah pernah ada yang memberitahumu bahwa kau sungguh benar-benar terlalu banyak bicara?"
"Ya! Ya! Ya! Aku tahu! Tapi kalimatmu sangat boros kawan."
"Apakah sudah tersambung?" tanya Bara tak berniat menanggapi kalimat terakhir Panji.
"Tunggu sebentar kawan. Agen Fanta belum menjawab panggilan."
"Dia masih bermain-main dengan anak anjing?"
"Ya! Hebatnya lagi ia telah diangkat menjadi anak pertama. Reputasinya di lapangan memang begitu memukau. Sekretaris Utama dan Konsultan SİS tidak salah merekomendasikannya sebagai anggota agen khusus yang baru. Kudengar misimu akan dialihkan padanya."
"Apa?" tanya Bara hampir berteriak saking terkejutnya mendengar informasi terbaru dari Panji.
"Woah! Tenang kawan! Setelah sinyal milikmu menghilang, pimpinan meminta Pak Adam untuk mengalihkan misi ini secepat mungkin. Kau pasti paham betapa pentingnya misi ini bukan? Jadi selain merekomendasikan agen Fanta menjadi anggota agen khusus, Pak Adam dan Pak İlyas juga merekomendasikan agen Fanta untuk menggantikanmu memimpin misi ini."
"Astaga! Secepat itu? Status hilangnya diriku bahkan belum sampai 1x24 jam! Aku keberatan dengan pengalihan tugas yang mendadak ini! Pak İswardi pasti akan merasa keberatan sama sepertiku, apalagi..."
"Pak İs, Pemimpin Divisi Lapangan bahkan menyetujuinya, Bara. Maaf Bara bukannya aku ingin membuatmu pupus, hanya saja empat pemimpin divisi lainnya juga telah menyetujui perubahan ini. Pertemuan antar divisi sudah dilakukan satu jam setelah sinyalmu menghilang."
"Baiklah! Kalau begitu, aku tidak akan memberikan informasi sekecil apapun dari yang telah aku dapatkan kepada agen Fanta! Katakan kepada Pak Adam, ini adalah bentuk protesku atas keputusan kalian." jelas Bara dengan seluruh emosionalnya.
"Bara? Kaukah itu?" tanya sebuah suara yang saat ini tak ingin didengar oleh Bara. Tanpa Bara sadari sambungan telepon antara dirinya dengan agen Fanta telah tersambung.
"Wah! Hebat sekali agen Fanta! Kau menguping pembicaraanku."
"Maafkan aku, aku tak tahu jika kau sedang ..."
"Kau memang selalu pintar membuat alibi agen Fanta. Selamat atas promosimu dan selamat juga atas misi terbarumu! Kau sungguh luar biasa! Aku sampai ingin tertawa mendengarnya." potong Bara. Bara memang begitu suka memotong pembicaraan Agen Fanta.
"Ya terimakasih agen Four. Tapi bisakah kau menjelaskan misi terbaruku?" tanya agen Fanta bingung. İa sama sekali tidak tahu duduk perkara yang terjadi saat ini. Sebab Panji menghubunginya secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan sesuai prosedur biasanya. "Panji? Ada apa ini? Kenapa kau menghubungiku? Dan kenapa aku disambungkan juga dengan agen Four?"
"Bara? Apa kau sudah gila kawan? Kau menghubungiku bukan dengan ponsel milik agensi! Maaf aku harus memutuskan panggilanmu. Tapi terlebih dahulu sebaiknya kau menangkan dirimu, kawan! Kau memang selalu bermasalah dengan amarahmu jika menyangkut agen Fanta." kata Panji melerai keduanya. "Bara kau benar-benar gila, kawan! Kau telah banyak melanggar prosedur saat ini Bara, selamat menunggu masa detensimu kawan. Dan sialnya lagi kau menyeretku pada masalahmu." jelas Panji mematikan sambungan telepon tanpa menunggu tanggapan dari Bara.
Dalam panggilan kali ini Bara memang sudah melanggar begitu banyak SOP agen SİS. Setiap agen memang tidak diperkenankan untuk menghubungi markas menggunakan ponsel di luar produk agensi. Ditambah lagi Bara menyebar luaskan keputusan terbaru agensi tanpa seizin pihak yang berwewenang. Meskipun ia tak bermaksud untuk menyebar luaskannya, namun tetap saja aktivitasnya tetap dijatuhi melanggar prosedur.