V

V
<[ EPISODE 49 ]>



V tak lagi menanyakan perihal kepergian Daffa. İa memilih berpura-pura mengetahuinya, padahal masih terlalu banyak kolom pertanyaan yang belum terjawab. İa tak tahu apakah Daffa akan menjawab pertanyaannya jika ia bertanya dengan begitu detail, atau malah memilih merahasiakannya. V tak akan menuntut Daffa untuk selalu terbuka padanya, ia paham memang selalu ada beberapa hal yang tak boleh ia ketahui. Dan begitupun dirinya, ada beberapa hal yang tak boleh Daffa ketahui, bahkan duniapun dilarang untuk menyingkapnya.


"Kau marah?" tanya Daffa melihat V yang memilih bungkam membalas kalimat terakhirnya.


"Apa boleh?"


"Aku tak akan melarangnya."


"Meskipun aku marah dan berusaha mencegahmu, kau akan tetap pergi bukan?"


"Benar, aku akan tetap pergi."


"Jadi untuk apa kau izin padaku jika pada akhirnya dengan atau tanpa izinkupun kau akan tetap pergi."


"Kau sepertinya salah paham, aku tidak sedang meminta izin padamu. Tapi aku sedang berpamitan denganmu."


V menatap sengit kearah Daffa, kalimat terakhir Daffa seakan meruntuhkan toleransinya. Sejak lama ia ingin sekali murka, menyampaikan isi hatinya yang selama ini ia paksa bungkam. İa selalu mencoba mengerti Daffa seperti ia mengerti dirinya. Bohong jika ia tak pernah mengeluh, setiap kali Daffa menyembunyikan sesuatu padanya. Bohong jika ia tak marah, setiap kali Daffa tak memberinya penjelasan. "Sikapmu yang seperti ini membuatku merasa seakan aku tak punya hak atas dirimu."


"Kau punya, V."


"Tidak, kau tak pernah memberiku kesempatan."


"V, aku ..." belum tuntas Daffa berbicara V sudah lebih dulu memotong kalimatnya.


"Lalu hakikatnya diriku itu apa Daf? Apa karena kau mengartikan diriku sebagai rumah, sebuah kata benda, jadi kau benar-benar menganggapku sebagai benda mati yang hanya bisa digerakkan oleh kehendakmu? Dan aku, aku tak punya kuasa apapun selain mengikuti kehendakmu, begitu Daff?"


Daffa menghela nafasnya dengan gusar. İa perlahan turun dari brankar. Tangannya mengendurkan selimut yang sejak tadi membalut tubuh V.


"Daffa jawab! Kau bisu?"


"Sabar V, aku harus menerjemahkan apa yang dikatakan otakku. Aku perlu merangkai kalimatku selugas dan sehalus mungkin agar kau tidak salah mengartikannya."


"Astaga Daffa! Kau berpikir aku sebodoh itu?"


Meskipun memang harus berpura-pura untuk membatasi pengetahuannya, V tetap saja merasa sakit hati setiap kali Daffa menganggapnya benar-benar bodoh.


"Tidak begitu! Astaga, salah lagi." kata Daffa hampir menjerit. İa menarik-narik ujung rambutnya karena tak tahu harus bagaimana.


"Lalu bagaimana? Beritahu aku."


"Tidak begitu V, aku tak pernah berpikir..."


"Tidak begitu bagaimana? Coba kau ingat-ingat Daff apa kau pernah menuruti kata-kataku? Saat ku bilang untuk tidak terlibat dalam perkelahian, kau malah terang-terangan berkelahi di depanku. Saatku bilang untuk tidak pergi, kau malah pergi ke markas besar Elang seorang diri dan lihat hasilnya, kau hampir saja mati Daff saat itu."


"V, aku punya pertimbanganku sendiri..."


"Karena kau punya pertimbanganmu sendiri, kau tak mengindahkan kalimatku!"


"Astaga aku belum selesai bicara, V." keluh Daffa sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


V menutup mulut Daffa rapat-rapat dengan kedua tangannya, "Biarkan aku berbicara! Selama ini selalu kau yang berbicara." katanya. "Saat aku memintamu untuk tidak berbicara dengan Cassandra kau malah bercanda gurau dengannya. Saat aku menyuruhmu untuk tidak tersulut dengan kalimat Bondan, kau malah mengamuk hingga patah tulang-tulang orang. Haruskah aku membeberkan satu persatu perintahku yang kau bantah?"


V menyelesaikan kalimatnya tanpa jeda sedikitpun. Setiap kali mengingat episode menyebalkan itu, ingin sekali V membom bardir segala apa yang ada dihadapannya. Selama ini V memang tidak mempermasalahkannya, sebab ia tak ingin ada perselisihan di antara mereka. İa juga tak mencoba mengungkit-ungkitnya, karena ia tahu bukannya menyelesaikan masalah malah menambah masalah.


Daffa hanya menyimak apa yang dikatakan gadisnya. İa begitu tersentuh mendengar V selama ini telah tabah menghadapi sikapnya yang begitu keras kepala. Melihat V terengah-engah Daffa mengambil segelas air dari nakas, memberikannya kepada V.


"Ah ya, terima kasih." jawab V menerimanya. İa meneguknya hingga kandas tak tersisa. Dugaan Daffa benar, kalimat panjangnya membuat kerongkongannya kering.


"Masih haus? Mau ku ambilkan lagi?"


"Ya, boleh." jawab V. İa melupakan amarahnya yang sempat meletup-letup beberapa saat yang lalu karena haus.


Saat Daffa mengambil gelas dari tangan V seketika itu juga V menggigit lengan Daffa.


"Astaga V! Kau kanibal?"


"Kenapa kau malah memberiku air minum? Kau harusnya mendengarkan kalimatku, Daffa!" ujarnya begitu geram usai membuat bekas gigitan di lengan Daffa.


"Aku mendengarkannya, V. Astaga! Salah lagi." gerutunya. Sebenarnya Daffa memang sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. Melihat V yang begitu tersulut dengan amarahnya apapun perkataan Daffa nantinya tetap saja akan salah. Jadi daripada saling berkeras kepala beradu argumen, lebih baik Daffa mendinginkan suasana yang sempat memanas.


"Daffa kau benar-benar menyebalkan."


Daffa tersenyum mendengar gerutu V. Gerutu yang selalu ia hafal, "Ya, aku juga mencintaimu. Sangat malah." jawab Daffa yang malah membuat V tertawa. İa merangkulkan kedua tangannya di pundak Daffa.


"Daffa." panggil V sambil tertawa namun nada suaranya terdengar begitu manja. V menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyumnya yang terus saja merekah.


Daffa mengenal betul gadis yang berada dihadapannya, usai marah-marah ia pasti akan bersikap manja. Menuntut agar Daffa lebih memberikan perhatian kepadanya. "Apa? İngin kupeluk?" tanya Daffa yang membuat V semakin menyembunyikan wajahnya.


Daffa mengecup kening V begitu lama, "Maafkan aku." pintanya. "Kau selalu punya hak atas diriku, V. Maaf aku hanya memikirkan keinginanku saja, tanpa mempedulikan perasaanmu."


"Jangan egois lagi."


"Kalau posesif boleh?"


V menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Daffa. Sebenarnya dengan atau tanpa izin V, Daffa akan tetap bersikap posesif. Jadi tak ada gunanya juga ia meminta izin.


"Sudah tidak marah?"


"Amarahnya sudah habis, belum panen lagi." kata V yang membuat keduanya tertawa.


Daffa menatap manik-manik bola mata gadisnya, hitam legamnya bagai arang. Ketegasan dalam guratan bola matanya justru malah yang paling meneduhkan. Daffa memeluk V begitu eratnya seakan tangannya tak ingin melepaskan pelukan itu walau sesaat. "Terima kasih, sudah mau mengerti."


"Sama seperti dirimu yang selalu mengkhawatirkanku, aku juga tak ingin hal buruk terjadi padamu, Daff."


"Perihal khawatir, itu sudah tugasku. Kau tak perlu ikutan khawatir. Kekasihmu ini begitu hebat, V."


"Tapi kau manusia, Daffa."


"İngin membantuku?"


"Tentu saja."


"Berusahalah agar dirimu tetap baik-baik saja, itu sudah cukup."


"Baiklah, aku akan berusaha." balas V menuruti keinginan Daffa.


'Baik-baiknya diriku itu tergantung dirimu, Daff.' batin V.


V tersenyum dalam hatinya ia tak bisa berjanji untuk tidak tetap khawatir, ia akan tetap memantau aktifitas Daffa. İa memang mengizinkan Daffa untuk pergi tapi bukan berarti ia akan membiarkan Daffa pergi tanpa pengawalannya. İa tak tahu maut yang mana lagi yang ingin dijemput kekasihnya itu.


"Daffa, aku lapar. Boleh ku minta roti abonmu?" tanya V kembali membuka topik pembicaraan di antara mereka. V sebenarnya tidak lapar, ia hanya asal memilih bahan pembicaraan di antara mereka.


Daffa melepas pelukannya, "Boleh." jawabnya sambil mengambil kantong yang berisi roti. Sebenarnya tanpa V meminta izin kepada Daffa, Daffa sudah pasti akan mengizinkannya. Hanya saja sifat Daffa sebelas dua belas dengan Aldrich Èclair yang begitu menjunjung tinggi etika moral, jadi V tak bisa bersikap seenaknya.


"Sebagai ucapan terima kasih, mau kubuatkan secangkir kopi?"


"Mau, terima kasih."


"Dengan senang hati, Daffa."


"Mau sarapan pagi di atap?"


"Ya, rencananya aku ingin mengajakmu melihat matahari terbit."


"Untuk apa?"


"Ya untuk dinikmatilah, Daffa. Pemandangan pada saat matahari terbit itu sangat indah, kau harus melihatnya."


Daffa berjalan mendekati V. Tangannya lihai merebut coffe grinder yang sejak tadi sedang V putar. İa menuang bubuk kopi yang telah digiling ke dalam coffe pot. Aroma khas biji kopi menyebar ke setiap sudut ruangan. Usai menaruh coffe pot di atas kompor induksi, ia mengalungkan tangannya di pinggang V.


"Tidak perlu, kecantikan waktu fajar akan kalah dengan panorama ciptaan Tuhan yang sengaja dibuat hanya untukku. Bahkan semestapun iri setiapkali aku memuji keindahannya."


"Eh? Memang apa itu, Daff?"


"Kamu."


V tersipu malu mendengar kalimat Daffa. Kalimatnya memang selalu terdengar indah, ia begitu pandai dalam merangkai kata. Mulut Daffa memang begitu bertuah, dalam satu waktu mulutnya bisa setajam belati dan selembut sutra.


"Kalimatmu indah."


"Kau yang terlalu indah, V."


"Aku tidak seindah itu, aku terlalu banyak kekurangan. Jadi, sepertinya aku tak layak ..."


"Shhhtttt." desis Daffa menutup mulut V dengan jari telunjuknya. "Di mataku hanya ada satu bidadari yang tampak lebih cantik daripada bidadari yang paling cantik sekalipun. İa lebih sempurna dari yang paling sempurna. Jika kau ingin melihatnya, bercerminlah pada bola mataku saat ini. Kau akan menemukannya di sana."


"Daff, kau..." kata V terpotong oleh senyum meronanya.


"Apa?"


"Jangan menggodaku terus menerus."


"Kalau mencintaimu terus menerus, boleh?"