V

V
<[ EPISODE 21 ]>



Zac merasa bersalah karena tanpa sengaja tangannya menyakiti Céllina. Ia ingin sekali meminta maaf kepada Céllina namun tertahan oleh egonya sendiri. Ia menghilangkan rasa gusarnya dengan menghubungi V. Tak peduli apakah pilihannya tepat atau tidak, ia hanya ingin mengalihkan pikirannya dari rasa bersalah dan amarahnya yang meledak-ledak.


"Paman Zac aku baru saja ingin menghubungimu. Tak menyangka bahwa intuisimu lebih akurat daripada ramalan cuaca, dimana kau?" tanya suara di seberang sana.


"Masih di kota Orion. Kau sudah siap? Aku akan menjemputmu malam ini."


Zac melepas penatnya, menanyakan pertanyaan random yang terkadang membuat V tertawa. Mereka hanyut dalam percakapan panjang, panggilan ini akan menjadi panggilan terlama bagi Zac.


"Paman Zac tunggu saja di hellpad dermaga, Paman Kuhn akan menjemputmu di sana. Papah mempercepat jam penerbangan kita. Sampai jumpa Paman Zac, aku merindukanmu." kalimat terakhirnya mengakhiri pembicaraan mereka.


Pilihannya tidak salah, perasaannya lebih baik setelah mendengar suara V dan apa-apaan kalimat terakhirnya? Zac menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, gadis itu kini sudah pandai merayunya. Ia ingin melepas tawanya karena merasa geli digoda oleh anak berusia lima belas tahun. Dan anehnya lagi ia merasa malu oleh godaan itu.


Di sisi lain sepasang mata memperhatikan apa yang tengah dilakukannya dengan perasaan tak menentu. Zac mengabaikannya, ia tak ingin merusak semi di hatinya menjadi badai guntur. Tak masalah jika ia melihat luapan perasaan Zac saat ini, toh ia memang tak pernah peduli bagaimana pandangan itu menilainya.


"Apakah tadi itu kekasihmu?" kata pemilik suara yang menunggu Zac di ambang pintu. Nada suaranya terdengar sedih. Ia menatap Zac begitu dalam. Tatapan itu selalu membuat Zac merasa muak, sebab ia akan kembali teringat pengkhianatan yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.


Tanpa mempedulikan Cèllina, Zac melangkah pergi membawa tas bahunya. Sikap dingin Zac yang telah mendarah daging seringkali melukai banyak orang, membuat mereka enggan untuk terlibat dengan Zac lebih jauh. Tapi tidak dengan Cèllina, semakin Zac menampakkan sikap apatisnya, semakin Cèllina melihat Zac yang semakin rapuh.


Cèllina memandang Zac dengan kaca mata yang berbeda dari orang lain. Rasa sakit yang Zac luapkan dalam kedinginan sikapnya, membuat Cèllina semakin ingin mengobati luka-luka Zac. Sekeras apapun Zac menolaknya, ia tak akan pernah menyerah, ia ingin membuat Zac kembali percaya pada sebuah cinta yang telah ia anggap sebagai dongeng tidur. Tapi jika ia membiarkan Zac pergi meninggalkannya, bagaimana ia bisa mengobati luka Zac?


Cèllina telah mencoba berbagai cara untuk mencegah Zac ataupun memohon agar Zac membiarkannya untuk ikut, namun Zac menolak keras usahanya. Cèllina hanya bisa pasrah melihat punggung Zac yang perlahan hilang dari hadapannya.


Zac telah tiba di parkiran apartemennya. Matanya jatuh pada mobil van hitam yang berdiri tak jauh dari pintu darurat. Sejauh lima km di arah jam sebelas juga terparkir mobil van hitam yang sama. Zac melihat ke arah jam tiganya, juga terparkir mobil van hitam.


'Sial!' batinnya.


"Satu menit ku beri waktu kalian untuk sampai ke apartemenku. Perhatikan tiga mobil van di parkiran dan sambungkan CCTV apartemen ke ponselku." perintah Zac melalui headset tanpa kabel yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan anak buahnya.


Pasukan Noir telah memblokade jalur tangga darurat begitu juga dengan koridor menuju tempat tinggalnya telah di kepung oleh beberapa pasukan. Mereka telah sampai di depan pintu rumah Zac. Sementara Cèllina masih diam di dalam kamar Zac, ia belum menyadari kehadiran tamu yang tak diundang.


Laki-laki berpakaian serba hitam dengan penutup muka hitam berdiri menjaga pintu lift. Kondisi koridor lenggang tanpa aktifitas lain dari para pemilik gedung, mereka telah membersihkan jalur menuju tempat tinggal Zac.


Zac melumpuhkan mereka yang ada di koridor dengan senyap. Melihat semua senjata di lengkapi peredam, Zac menjadi yakin bahwa keberadaan Cèllina telah diketahui oleh mereka sejak kemarin. Mereka telah merencanakan penyergapan seapik mungkin. Mereka juga telah menyingkirkan beberapa anak buah Zac yang berjaga di apartemen.


Zac mengambil senjata dari musuh terakhir yang ia lumpuhkan. Tangannya bergerak lihai menembaki tubuh orang-orang organisasi yang ada di dalam kamarnya.


"Céllina! Céllina! Dimana kau?" teriak Zac mencari Céllina di setiap ruangan.


"Zac..." terdengar suara lemah dari dalam lemari pakaiannya. Dengan detak jantung yang tak beraturan Zac membuka lemari bajunya.


Céllina terbaring di dalamnya. Terdapat luka tembak di perut sisi kirinya. Zac mengangkat tubuh Céllina ke dalam pelukannya. Céllina melingkarkan kedua tangannya di leher Zac.


"Brengsek! Dimana kalian sekarang bedebah?" tanya Zac geram karena anak buahnya tak kunjung datang.


Zac membuka baju Céllina tanpa permisi. Ia juga menyobek ujung seprainya, mengikatkannya pada luka di tubuh Céllina. Ia ingin menghentikan pendarahan yang keluar dari perut Céllina. Saat sedang menekan luka dengan membalutnya, Zac menyadari kebodohannya. Céllina tampak diam tak bergeming dihadapannya dengan detak jantungnya yang semakin cepat.


Sambil terus mengutuk dirinya sendiri Zac mengambil sisa kemejanya dari lemari. Memakaikannya pada Céllina yang setengah tanpa busana.


"Maafkan aku, aku panik." Zac benar-benar menyesali perbuatan impulsifnya. Ia benar-benar takut jika Cèllina akan menilainya sebagai orang mesum yang sedang memanfaatkan keadaan.


"Aku paham. Aku tidak akan menyalahkanmu." wajah Céllina tampak begitu malu karena Zac telah melihat setengah dari tubuhnya. Ia juga tidak bisa menyalahkan sikap Zac, ia paham Zac tak berniat kurang ajar terhadapnya.


Suara baku tembak terdengar dari luar. Zac merutuki kebodohan anak buahnya. Suara tembakan memicu bala bantuan organisasi Noir untuk mendekat ke jaraknya. Suara teriakan sepanjang koridor menembus kamar Zac, membuatnya terus mengutuk anak buahnya.


"Zac, jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut." Céllina memohon pada Zac, tangannya menggenggam erat jaket Zac. Tubuhnya bergetar hebat, membuat Zac meragukan identitas asli Céllina sebagai Golden Assasin.


Tanpa berkata sepatah katapun Zac membawa Céllina menembus pertempuran antara anak buahnya dengan organisasi Noir.


✌✌✌


Zac membalas pelukan V, ia juga merindukan wanita yang memeluknya erat. Sudah begitu lama mereka tidak bertemu, terakhir kali Zac bertemu dengan V usai pesta ulang tahunnya yang berjalan berantakan akibat sifat posesif Aldrich Éclair. Semua penghuni mansion menobatkan satu gelar tambahan untuk Masternya sebagai Daddy's girl. Jadi mereka tidak heran lagi dengan sikap Masternya.


L dan Q awalnya ingin ikut memeluk tubuh Zac saat mereka melihat Zac di koridor, namun dicegah oleh V. Sifat posesif Aldrich Èclair tanpa sengaja tertular pada V, sehingga ia menguasai Zac untuk dirinya sendiri.


Di ruang tamu tatapan kecemburuan dipancarkan oleh Céllina, ketika ia melihat Zac melingkarkan tangannya di pinggang seorang wanita yang baginya begitu cantik melebihi dirinya. Mereka berjalan mendekati Cèllina. Pikirannya menjadi begitu kacau, ia menduga bahwa wanita itu adalah orang yang di telepon Zac terakhir kali di apartemen. Hatinya terasa teremas-remas, ia begitu cemburu.


Tatapan cemburu tidak hanya terpancar dari sorot mata Cèllina. Tapi juga dari kedua mata para pelayan yang berdiri di sepanjang jalan menuju ruang tamu. Meski mereka tahu Zac hanya menganggap V sebagai adiknya, tapi tak menutup rasa iri atas perlakuan hangat Zac kepada Nona Muda mereka.


Di dunia ini hanya ada satu wanita yang paling disayangi oleh Zac setelah Ibunya wafat, V Èclair menempati posisi tertinggi kedua di hati Zac. Posisi yang hingga empat belas tahun tak pernah tergantikan, tak pernah ada kudeta yang cukup hebat untuk melengserkan tahta ratu di hati Zac untuk V.


Cèllina tak pernah melihat tatapan hangat itu tertuju untuknya, ia menjadi terbakar dengan api cemburunya. Dengan sisa-sisa harapannya yang perlahan menjadi jelaga, Céllina tersenyum memberi salam kepada Nona Muda Éclair.


"Oh ya V, perkenalkan ini Céllina. Ia juga akan ikut kita ke Asia." jelas Zac memperkenalkan, "Céllina ini V Éclair. Dia adalah ..."


"Orang yang paling berharga di hidupnya." potong V yang membuat Zac batuk karena tersedak liurnya sendiri.


"Orang yang paling berharga di hidupku itu, diriku sendiri. Kau nakal berani mengubahnya." ucap Zac mencubit pipi V dengan kencang. V mengerang kesakitan. Kalimat Zac kembali menumbuhkan harapan di hati Céllina. Céllina merasa bahwa Zac buru-buru menjelaskan agar ia tidak salah paham dengan perkataan V.


Mereka berangkat ke Asia menggunakan pesawat pribadi keluarga Éclair. L dan Q melepas kepergian mereka di depan hellipad villa Yupiter. Melambaikan salah satu tangan mereka hingga akhirnya helikopter melesat semakin jauh.


Di Asia mereka menetap di negara A. Sebuah negara yang mendapat gelar sebagai zambrud khatulistiwa. Aldrich Èclair membeli sebuah rumah minimalis bergaya modern dari pelelangan untuk ditempati oleh V. Perpaduan warna putih dan hazelnut memberi kesan hangat dan nyaman. Rumah itu hanya memiliki dua lantai dengan dua balkon yang terpisah. Rumah ini memiliki pelataran yang tidak terlalu luas, namun cukup untuk membangun sebuah taman kecil di halaman depan.


V yang sudah hafal dengan layout tempat tinggalnya memilih langsung masuk ke dalam kamarnya di lantai dua. Suasana di pesawat benar-benar terasa begitu menyesakkan. Terlalu banyak kenangannya bersama dengan Cole Harvey yang terus menerus menghantuinya. Teriakkan rindunya semakin memekakkan dendang telinganya. Getaran-getaran tangis terus mengguncang jiwanya.


Ia mengabaikan seseorang yang membuka pintu kamarnya dengan perlahan, karena ia mengetahu siapa orang itu. Belaian halus di kepalanya yang tiba-tiba membuatnya semakin ingin menumpahkan semua rasa sedihnya. Zac tanpa berkata membiarkan V meluapkan segala rasa gundah di pelukannya. Ia telah menyadari perubahan suasana hati V pada saat mereka di pesawat. Tapi ia tak memaksakan V untuk bercerita, ia menunggu V yang lebih dulu menceritakannya.


"Paman? Pernahkah kau tanpa sengaja terlibat dengan seseorang pada saat menjalankan misi?" tanya V perlahan. Walau suaranya disertai dengan senggukkan tangis, Zac masih mengerti apa yang dikatakan V.


Mata hitam legam yang berkaca-kaca itu membuat Zac sedikit terluka melihatnya.


"Berceritalah, aku akan menyiapkan telingaku. Kau lebih membutuhkan telingaku daripada mulutku."


V menaruh kepalanya di atas pangkuan Zac. Tangan Zac masih setia mengusap lembut rambut V. Zac mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut V. Terkadang ia ikut tertawa saat melihat V tertawa. Membantunya menghapus air matanya saat cerita itu membuat V merasa sedih.


Zac mensyukuri bahwa ada orang lain yang begitu menyayangi V hingga tak rela melihat V terluka. Namun ia juga mengutuk kehadirannya karena orang itu menjadi sesorang yang akan lebih diprioritaskan oleh V. Seseorang yang akan lebih mengambil peran mendalam meski sehebat apapun peran yang dimiliki oleh Zac. Bagi V orang itu akan lebih hebat daripada dirinya.


Zac tak bisa menyalahkan siapapun ataupun apapun, karena memang tidak ada yang salah. Hanya saja bagi Zac, gadis kecilnya masih terlalu dini untuk dipatahkan hatinya. Zac begitu menyayangkan keadaan yang membuat V bertindak serba salah. Pada saat V mampu mengenali rasa yang tertanam di hatinya, keadaan membuatnya harus menjadi kejam dengan mengubur hidup-hidup rasanya yang baru lahir.


Andaikan V memilih untuk bersama, mungkin bukan hanya perasaannya saja tapi dirinya juga yang akan ikut dikubur hidup-hidup oleh Cole Harvey. Jalan terbaik dari keduanya adalah melupakan, menganggap bahwa segalanya tak pernah terjadi. Zac paham bahwa manusia tidak akan pernah bisa untuk melupakan, karena tak ada yang benar-benar dilupakan oleh manusia. Mereka hanya bijak memilih kepingan mana yang harus diikhlaskan, hingga mereka mampu melepas jangkar yang membuat kapal mereka tertambat lebih lama di dermaga.


.


.


.


.


✌✌✌✌✌


*Terimakasih untuk lo semua yang masih setia baca cerita absurd gw. Jangan lupa teken like* kalo lo suka sama cerita gw. Kalo lo gak suka atau lo punya saran, silahkan tinggalin kritik dan saran untuk gw.


Salam hangat gw,


-L.E.O**