
Beberapa menit setelah sampai di rumah perlahan kedua kelopak mata Q mulai terbuka. Ia mengerjap-ngerjap karena pandangannya belum terpusatkan, buram masih menggelayuti pandangannya. Samar-samar matanya melihat dua sosok yang begitu familiar berdiri menantinya. Q mengusap matanya dengan punggung tangannya.
"Apa kau baik-baik saja? Apakah ada yang sakit?" tanya L mulai mendiagnosis layaknya seorang dokter yang sedang menangani pasiennya. Ia yang lebih dulu mendekat ketika melihat Q membuka matanya.
Sebelum menjawab ia memperhatikan dua wajah yang menampakkan raut cemas, "Pipiku masih terasa sakit, tapi aku masih bisa menahannya." jawab Q memegangi pipinya yang bengkak terkena tamparan. Di pipinya telah terpasang sebuah kompres plester yang didesain secara khusus untuk meredakan luka memar. L meniup-niup kompres plesternya, membuat sensasi dinginnya semakin terasa.
V menatap lembut wajah sendu Q, jemarinya mengusap pucuk kepala adiknya, "Hey jagoan! Kau hebat." ia memberikan dorongan semangat, agar Q melupakan kesedihannya.
Tiba-tiba Lynelle Éclair menerobos pintu kamar Q dengan terengah-engah. Nafasnya tidak beraturan akibat berlari sekencang mungkin untuk melihat kondisi anak-anaknya. Kehadirannya yang tiba-tiba mengambil perhatian mereka. Tangannya dengan cekatan memeriksa seluruh tubuh Q. Nafas lega keluar dari ujung bibirnya, karena tak ada luka serius selain bengkak di pipi Q.
Tangan Lynelle beralih ke tubuh anak-anaknya yang lain. Memeriksa setiap inci anggota tubuh mereka, memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Ia tak akan mempercayai kabar kesehatan anak-anaknya sebelum ia melihat sendiri kondisi mereka. Ia tak mempedulikan protes dari anak-anaknya.
"Mah, kami baik-baik saja. Maafkan kami yang selalu membuat Mamah khawatir." L lebih dulu membuka suaranya.
"L bagaimana bisa Mamah tidak khawatir. Sekali lagi karena kelalaian Mamah kalian terluka. Maafkan Mamah, maafkan Mamah sayang." nada bicaranya begitu menyedihkan, membuat V tak tahan untuk tidak mendekap tubuh Mamahnya.
L menghela nafas panjang, ikut beranjak dari kursinya, ia memeluk punggung Mamahnya. Ia tahu dengan pasti bahwa Mamahnya tak akan tenang sebelum dipeluk, pelukan adalah senjata ampuh untuk menenangkan Mamahnya.
"Mamah, maafkan L yang tak bisa menjaga adik Q. Mamah jangan salahkan diri Mamah lagi, ini semua salah L yang tak bisa menjaga Q."
Hati Q merasa terbebani melihat semua orang menyalahkan diri mereka atas luka memar di pipinya. Ia beranjak memeluk tubuh Mamahnya yang berdiri tepat dihadapannya.
"Mamah, Q berjanji lain kali Q akan lebih berhati-hati agar tidak membuat Mamah, Kakak dan Papah khawatir."
Aldrich Éclair yang baru saja datang menghela nafasnya melihat, entah untuk berapa ratus atau mungkin telah mencapai ribuan kali Lynelle Èclair menyalahkan dirinya atas segala musibah yang terjadi, ia memaklumi bagaimana tabiat isterinya. Meski terkadang merasa risih dengan sifat overprotective-nya, namun tak menutup kemungkinan rasa syukur itu hadir. Ia paham bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengutarakan rasa cinta mereka, dan begitulah Lynelle mengungkapkan rasa cintanya.
Aldrich Éclair mendekap tubuh keluarga tercintanya. Tempatnya berteduh dari segala nestapa yang menghujani tubuhnya. Tempatnya berpulang kala ia merasa lelah dengan arogansinya dunia. Tempatnya menemukan bahagia dan berbahagia karena hadirnya menjadi kebahagiaan untuk orang lain. Tempat terindah yang pernah ada di dunia, bahkan keluarga adalah firdausnya dunia bagi tubuh yang telah lama kehilangan fantasinya tentang dekapan.
Aldrich Éclair tumbuh dewasa tanpa sebuah cinta dan kasih dari keluarganya. Kehadirannya memang diharapkan tapi darimana ia berasal yang membuatnya tak lagi diharapkan. Ia menjadi tersisih dan terasingkan di keluarganya. Bagi kedua orang tuanya -Louis Marquess dan Leia Marquess- Aldrich Éclair adalah sebuah kesalahan yang tak seharusnya lahir di dunia ini.
Suatu malam dalam pengaruh alkohol Leia Marquess bermalam dengan seorang laki-laki yang tak dikenalnya dari sebuah bar. Ia berusaha agar tak terjadi pembuahan dalam benihnya, namun dua bulan kemudian tanpa disadarinya ia telah hamil.
Berbagai cara ia lakukan demi menggugurkan kandungannya. Awalnya Louis Marquess menghalangi tindakan bodoh isterinya, namun setelah fakta kelam itu terungkap, ia menyuruh isterinya untuk melakukan aborsi.
Hail Duchess sang kakek begitu marah mengetahui bahwa cucunya akan dibunuh hidup-hidup saat masih dalam kandungan. Ia tak peduli asal-usul ayah dari bayi anak perempuannya. Yang terpenting darah keluarga Duchess mengalir di tubuhnya. Hail Duchess melindungi janin yang masih di dalam kandungan hingga ia lahir ke dunia.
Bayi itu lahir dengan nama Lloyd De Marquess. Karena desakan dan paksaan Hail Duchess, Louis Marquess memberikan namanya kepada Lloyd yang baru lahir. Lloyd kecil hidup dalam kesengsaraan, ia mendapat perlakuan yang lalim dari kakak-kakaknya, Carlisle De Marquess dan Harry De Marquess. Bagi kakak beradik itu Lloyd adalah aib yang merusak darah keturunan bangsawan murni, sehingga mereka begitu membenci Lloyd.
Hail yang mengetahui Lloyd kecil mengalami kekerasan dari keluarganya, menarik Lloyd untuk tinggal di kediaman Duchess. Hail murka, ia memutuskan hubungan kekeluargaan antara Lloyd dengan keluarga Marquess. Seluruh identitas Lloyd dibakar habis olehnya, awalnya ia ingin mencantumkan Lloyd dalam daftar keluarga Duchess. Namun tindakannya mendapatkan penolakan keras dari anggota keluarga lainnya.
Lloyd yang tak ingin mempersulit Hail lebih jauh, membiarkan dirinya hidup tanpa gelar keluarga bangsawan. Tentu hal itu akan mempersulit kehidupannya di masa yang akan datang. Tapi kesulitan itu tak dipedulikan oleh Lloyd, ia terus berusaha meningkatkan kualitas dalam dirinya.
Hingga usaha Lloyd membuahkan hasil. Prestasi-prestasinnya mendapat apresiasi dari Kerajaan, Raja Alexander Albert memberikan gelar keluarga bangsawan Èclair kepada Lloyd. Atas persetujuan Raja Alexander Albert, Lloyd menambah namanya menjadi Aldrich Lloyd Èclair dan menutup seluruh akses tentang kehidupan masa lalunya. Dengan identitas barunya ia dipandang terhormat oleh keluarga bangsawan lainnya karena gelar bangsawannya di berikan langsung oleh Raja Alexander Albert.
✌✌✌
Malamnya Aldrich Éclair memanggil V untuk datang ke ruang kerjanya. V yang awalnya berpikir bahwa pembicaraan itu akan mengarah pada urusan Dark Shadow merasa begitu gembira, karena sudah lama ia menanti misi-misi baru yang akan diberikan oleh Papahnya.
Air muka V berubah begitu Aldrich Éclair menjelaskan maksud dan tujuannya memanggil V ke ruang kerjanya. V begitu terkejut dengan permintaan Papahnya. Ah, bukan permintaan, melainkan perintah Papahnya. Aldrich Éclair meminta V untuk sementara waktu melepas tanggung jawabnya sebagai Underbos Dark Shadow dan memulai kehidupan normalnya di Asia, sebagai siswi tingkat pertama Senior High School Microcosmos kota Virgo.
V telah kembali ke kamarnya. Ia tak langsung tidur atau mempersiapkan barang-barangnya karena ia tahu segala perlengkapan yang ia butuhkan telah disiapkan sebelumnya. Tangannya membuka portal Dark Shadow, mengganti status di akun Assasin miliknya untuk sementara waktu. Ia menghembuskan nafas begitu panjang. Ada rasa sesak membuatnya tak nyaman. Hingga sebuah bintang merah muncul di ikon pesannya. Lagi-lagi hal yang menyesakkan datang melaporkan bahwa mereka ada.
Sebuah perasaan yang begitu dalam sulit untuk V jelaskan. Rasanya begitu menyesakkan hatinya. Kepingan-kepingan ingatan tumpah ruah dalam pikirannya. Sebuah bayangan samar muncul mendominasi seluruh pikirannya. Suara khasnya menggema di dendang telinganya. Seakan semua itu baru saja terjadi hari ini.
V begitu merindukan sosok Cole Harvey yang selalu memberinya tatapan hangat dan senyum memukaunya. V begitu merindukan sikap overprotective yang awalnya begitu ia dibenci, namun kini begitu ia rindukan. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki itu.
Apakah ia juga merasakan kegilaan dari sebuah rindu? Apakah ia juga merasa begitu kehilangan hingga rasanya begitu sesak? Apakah ia tetap hidup atau memilih mati karena Magaly Nyx wanita yang ia cintai dilaporkan telah meninggal dunia?
Kata-kata Cole Harvey kembali terngiang-ngiang dalam telinganya. Terkadang membuatnya begitu malu sampai rasanya ingin menutupi seluruh wajahnya. Terkadang membuatnya tergelitik hingga tertawa. Terkadang membuatnya begitu merindukannya hingga ingin rasanya ia memeluk sosok dalam bayangannya.
'*Cole, maafkan aku yang dengan kejamnya memberi tanda titik pada cerita kita yang baru mencapai prolog. Aku begitu membenci diriku yang dengan kejamnya mematikan majas-majas kita yang saling bersahutan. Memberi jarak pada kedua tangan kita yang saling berarak.
Cole, maafkan kedua tanganku yang begitu bengisnya menebang tunas rasa yang baru tumbuh di atas tanah. Memadamkan kobaran rasa yang bergelora di dalam dada kita. Membumi hanguskan sejarah yang sempat kita ukir bersama.
Andaikan kedua tanganku tidak menjadi antagonis dalam cerita kita. Aku pasti akan mampu menemukanmu dalam dunia nyataku. Tidak perlu lagi mencarimu dalam kolam kerinduan atau dalam sisa-sisa kenangan yang telah runtuh. Andaikan ... Andaikan Cole*.
✌✌✌
Céllina Countess tengah sibuk menyajikan sarapan pagi untuk dirinya dan Zac. Setelah berhasil lolos dari pengejaran pasukan Noir lima hari yang lalu, Zac membawa Céllina Countess ke apartemennya di kota Orion. Céllina yang kehilangan ingatannya akibat kecelakaan malam itu, membuat Zac terpaksa harus melindunginya dari organisasi Noir.
"Bukankah sudah ku bilang kau tidak perlu memasak untukku? Aku bisa melakukannya dengan kedua tanganku." ucap Zac ketus duduk di kursinya.
"Biarkan aku membalas kebaikanmu." jawabnya ikut duduk di kursi sebelah Zac. Tangannya masih sibuk mengambil alat makan untuk Zac. Ia begitu telaten menyiapkan dan menghidangkan sarapan untuk Zac.
"Ah, jika kau ingin membalasnya maka cepatlah kembali mengingat masa lalumu dan pergi secepat mungkin."
Céllina menundukkan kepalanya, "Apakah kau begitu membenciku?" tanyanya dengan suara yang terdengar begitu menyedihkan.
Zac menghela nafasnya panjang. Ia begitu tak paham bahwa kehilangan ingatan dapat menjungkirbalikkan kepribadian penderitanya. Céllina dengan ingatannya yang hilang menjadi orang yang begitu sensitif. Jika ia mengekstrak amarahnya dengan makian Zac akan lebih tenang, namun Céllina mengekstrak amarahnya menjadi tangis.
Perawakan tubuh Céllina yang lebih kecil dari gadis seusianya, membuat Zac seakan sedang menjadi tokoh jahat yang menindas anak di bawah umur. Sifat Céllina yang begitu mudah menangis membuat Zac dengan terpaksa menambahkan kata 'harus' dalam bersikap lemah lembut pada Céllina.
Zac mengusap lembut puncak kepala Céllina, "Aku tak membencimu. Kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Hanya saja aku tak suka merepotkan orang, jangan pernah berpikir seperti itu lagi." ucap Zac menenangkan Céllina yang mulai menangis. Dalam hatinya ia merasa muak dengan tingkah menjijikannya.
"Apa kau benar-benar belum mengingat siapa dirimu?" tanya Zac sekali lagi. Ia teringat akan tugas terbarunya dari Master Dark Shadow.
"Apa kau tidak mempercayaiku? Jika aku sudah ingat, aku pasti akan langsung memberitahumu." jawabnya tampak semakin sedih karena tak juga mendapat kepercayaan dari Zac.
"Bukan begitu, aku harus pergi. Pekerjaanku sudah tertumpuk terlalu banyak."
"Kalau begitu, biarkan aku membantumu."
"Tidak, kau yang sekarang tidak bisa membantuku. Lebih baik kau tetap tinggal di sini sampai ingatanmu kembali. Siang ini aku akan berangkat."
Céllina begitu terkejut mendengar kalimat terakhir Zac. Ada rasa sedih melanda hatinya, "Apakah aku tidak boleh ikut?" tanyanya berharap Zac mengizinkannya untuk ikut. Ia tak ingin berpisah dengan Zac.
Tangan Zac capat melayangkan pukulan ke atas meja, ia sudah kehilangan kesabarannya, "Kau gila ya? Kau pikir aku akan bertamasya? Tidak! Cukup sampai di sini keterlibatan antara kita." ia menutup kalimatnya dengan beranjak kembali ke ruangannya. Ia mulai jengkel dengan sikap Céllina yang bergantung padanya setiap hari. Sebenarnya ia begitu muak melihat Cèllina yang terus menerus mencari perhatiannya. Membuatnya menyesali keputusannya untuk membantu Cèllina lari dari pengejaran organisasi Noir.
Céllina mencoba mencegah kepergian Zac, ia meraih tangan Zac. Spontan Zac melayangkan satu pukulan ke wajah Céllina. Tubuh Cèllina mendarat ke atas meja, membuat hancur berantakkan apa yang ada di atasnya. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Perlakuan kasar Zac begitu melukainya, ia tak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar dari persembunyiannya.
✌✌✌✌✌
"Terima kasih untuk kalian yang udah dukung cerita gw, jangan lupa like kalo kalian suka sama jalan ceritanya. Kirimin gw kritik dan saran kalo kalian gak suka sama cerita gw, biar gw bisa perbaikin kekurangan gw."