
V menatap wajah laki-laki dihadapannya dengan lekat-lekat. Cole Harvey menghapus air mata di pipi V, mencium keningnya dengan penuh rasa cinta. Hal itu membuat V semakin menangis, tidak rela dengan akhir kisah mereka. Tapi ia juga tidak bisa berada di sisi Cole Harvey, Cole adalah bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
Pesawat mulai oleng naik turun. Cole Harvey masih memeluk V dengan hangatnya. Hingga tiba-tiba kembali terdengar suara ledakan. Bagian-bagian mesin sayap kiri terlepas akibat ledakan. Pecahannya menghantam badan pesawat, membuat coakan yang cukup besar. Cahaya menembus badan pesawat yang telah berlubang. Coakan itu menyedot V untuk keluar dari pesawat. Cole Harvey menggenggam erat tubuh V agar tidak tersedot keluar. Bangku yang V duduki berguncang hebat, hampir terlepas dari knopnya.
"Lepas sabuk pengamannya!" ucap Cole Harvey berteriak agar dapat mengalahkan suara angin.
Wajah V memucat setelah mencoba membuka sabuk pengaman, pengaitnya macet, "Tidak bisa." jawab V bergetar.
"Peluk aku dan jangan pernah lepaskan!" tanpa perintah kedua V memeluk tubuh Cole dengan sangat erat.
Kurang dari satu menit Cole Harvey melepas sabuk pengaman di tubuh V dengan pisaunya. Bangku V tersedot ke luar jendela dalam hitungan detik. Saat tubuhnya melayang-layang, V sempat melihat penumpang di belakangnya tersedot keluar jendela. Tubuhnya menghilang dalam gumpalan asap hitam.
Degup jantung V berpacu semakin kencang. Bayangan akan dirinya yang ikut tersedot keluar menghantuinya. Membuatnya dibanjiri oleh keringat. Ia juga merasakan kedua tangannya perlahan berkeringat.
"C-cole" panggil V semakin bergetar takut. Meskipun V sebagai Dionysus terkenal dengan kebengisannya membunuh. Seorang pembunuh pun tetap akan merasa takut saat ajal berada di depan mata mereka.
Cole merasa pegangannya semakin lama, semakin mengendur, "Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskanmu!" teriaknya mengalahkan suara angin yang menusuk-nusuk telinga mereka.
Cole Harvey menarik tubuh V yang tersedot ke luar. Arusnya terlalu kencang sampai Cole hampir terseret jika saja dua orang agen bayangan Dark Shadow tidak membantunya. Salah seorang agen itu menarik pergelangan tangan V. Satu tangannya lagi menggenggam erat pergelangan tangan temannya yang berpegangan pada kursi penumpang tak jauh dari mereka.
Sekuat tenaga mereka menarik V melawan arus angin. Mereka berjalan menjauh dari coakkan agar tidak kembali disedot keluar. Kisah heroik mereka diikuti oleh beberapa awak pesawat yang membantu penumpang lainnya untuk menyingkir dari lubang tersebut.
Cole Harvey dan V duduk di lantai kabin. Tangan Cole masih memeluk erat pinggang V. Suasana kapal terasa begitu mencekam dengan teriakan panik dan takut dari para penumpang.
"Hei, apa kau tahu? Sejak kecil aku sering menangkap lumba-lumba agar nantinya bisa aku terbangkan di atas bukit." ujar Cole Harvey tiba-tiba. V yang awalnya tidak begitu menyimak kalimatnya menjadi begitu memikirkan isi kalimatnya.
"Cole, kenapa kau malah melucu di saat seperti ini." balas V tertawa sambil mencubit perut Cole.
Cole mengerang, "Ahh, sakit. Kau jahat malah mencubitku."
"Kau menyebalkan karena menggodaku." alibi V karena tak ingin disalahkan.
"Coba jelaskan kepadaku, bagian mana dari perkataanku yang menggodamu?" tantangnya dengan senyum jahil di wajahnya. V merasa begitu malu dibuatnya.
"Kau membuatku malu, jangan menggodaku terus." V memasang wajah cemberutnya. Cole semakin gemas dengan tingkah laku V.
Ia menarik pipi V dengan kencang membuat V mengerang kesakitan, "Kau begitu menggemaskan membuatku jadi ingin memilikimu cepat-cepat." ia melepaskan cubitannya.
"Kalau begitu kau harus menikahiku." ujar V begitu pedih. Ia tak kuasa menahan air matanya. Ia tak tahu mengapa rasanya begitu sakit dan pedih.
Jemari Cole menghapus air mata di wajah V. Ia mencium kening V begitu lama. "Aku akan menikahimu, pasti. Jangan menangis." ucapnya kembali menghapus air mata V. Cole merasa V meragukan kalimatnya. Maraknya perceraian membuat pemerintah begitu melindungi pernikahan dengan hukum. Kebanyakan pasangan muda-mudi lebih memilih untuk bersenang-senang dengan tinggal bersama tanpa pernikahan.
"Lihat aku, apa aku bercanda saat mengatakannya?" tanya Cole yang mendapat gelengan kepala V sebagai jawaban.
"Kalau begitu jangan menangis lagi. Air matamu menggodaku untuk meneguknya hingga habis." ujarnya, "Mari sini, aku minum habis air matamu agar nantinya kau tidak akan menangis lagi." tambah Cole mendekatkan wajahnya ke wajah V. Dengan kuat-kuat V mendorong wajah Cole sambil tertawa.
Pesawat telah menurunkan ketinggiannya menjadi 31 ribu kaki. Selain kerusakan pada dua mesin pesawat di bagian kiri, Kapten pilot kembali di kejutkan oleh weather radar yang telah berubah menjadi merah. Warna itu menandakan keberadaan awan kumulonimbus. Pesawat terus melaju menerobos awan kumulonimbus tanpa sempat ia berpindah jalur. Kapten pesawat baru menyadari adanya kerusakan pada Airspeed indicator, indikator kecepatan pesawat.
Kapten menyalakan lampu ignition, mesin anti es. Sebab kumulonimbus mengandung petir, es dan air. Pesawat mengalami turbulensi pada tingkat server turbulence. Hal ini menyebabkan mesin pesawat mati, ditambah Auxiliary Power Unit tidak berfungsi.
"Prepare emergency!" kapten pilot berteriak kepada salah satu awak kabin. Para awak kabin membagikan life vest -rompi pelampung- kepada penumpang.
Berkali-kali kapten pilot dan co-pilot kembali menghidupkan mesin mengikuti SOP, namun sia-sia. Matinya listrik dan komunikasi membuat mereka tidak bisa meminta bantuan kepada ATC (Air Traffic Controller). Kapten pilot terpaksa melakukan pendaratan pesawat di runaway seadanya dalam hitungan menit sekarang ini.
Cole Harvey memeluk tubuh V ketika pesawat melakukan pendaratan di atas permukaan laut. Tangannya menggenggam erat salah satu bangku penumpang terdekat mereka. Satu tangan V memeluk Cole Harvey dan satu tangannya lagi menggenggam bangku penumpang di depannya. Mereka terombang-ambing di dalam pesawat.
"Apa isinya?"
V menatap tajam ke arah Cole, "Kau tidak percaya pada Tuhan?" suara V terdengar begitu serak.
Cole tersenyum kecut mendengar V menjawab pertanyaanya dengan pertanyaan.
"Jika kau tidak percaya kepada Tuhan, bagaimana kau akan mendo'akanku setelah aku mati nanti?"
Cole tampak begitu marah, tulang pipinya mengeras, "Jangan pernah mengatakan hal itu lagi."
"Cole, sejujurnya aku juga mengharapkan do'amu sebagai kado istimewa setelah aku mati nanti." V mengusap lembut wajah Cole yang tampak begitu marah.
"Jika kau mati, aku juga akan ikut menyusulmu. Jadi aku tidak pelu berdo'a untukmu." balasnya dengan tatapan yang begitu menusuk. V mencubit perutnya yang keras. Membuat Cole kembali mengerang karena sakit.
"Bodoh! Jika kau ikut mati setelah aku mati, aku akan membunuhmu agar kau tidak bisa bereinkarnasi." ancam V bersungguh-sungguh.
"Kalau begitu aku melarang Tuhan untuk mencabut nyawamu. Di pesawat ini sudah ada begitu banyak pengikut Tuhan. Kehilangan satu juga tidak akan membuatnya rugi."
"Dasar manusia bodoh! Aku akan memohon pada Tuhanku, agar aku bisa memiliki kesempatan untuk tetap hidup setelah ini. Aku akan membuatmu bertaubat untuk menginsafi penghinaan yang kau lakukan kepada Tuhanku."
Cole tertawa mendengar kalimat V, "Baiklah aku akan menginsafi semua penghinaan yang telah aku lakukan. Sekarang aku akan berdo'a kepada Tuhan." ia diam untuk waktu yang cukup lama, "Sudah" katanya lagi.
"Apa yang kau pinta?" tanya V penasaran.
"Aku memohon agar Tuhan mengizinkan aku dan kamu hidup bersama, jika Tuhan mengabulkannya aku akan menginsafi seluruh kesalahanku. Tapi jika Tuhan tidak mengizinkan, tentu aku akan mengutuk Tuhan." jawabnya begitu santai membuat V ingin menghajar wajahnya.
V kembali mencubit perut Cole, "Kau, berani-beraninya mengancam Tuhanku. Sini, akan ku kutuk kamu." ucap V mencubit tubuh Cole dengan satu tangannya. Cole memeluk tubuh V semakin erat agar tangannya tak memiliki ruang untuk kembali mencubit tubuhnya.
"Tuhan, kali ini aku bersungguh-sungguh memohon ampunanmu. Aku bersumpah tak akan pernah menghinamu lagi. Tanpa syarat deh kali ini."
V semakin geram, "Astaga kau begitu berani bernegosiasi dengan Tuhan." teriak V di telinga Cole. Bukannya marah, Cole malah tertawa mendengar teriakkan V yang penuh dengan keki.
Para penumpang yang berada tak jauh dari Cole dan V hanya memperhatikan dalam diam. Sebagian dari mereka memilih fokus pada do'a-do'a mereka. Sebagiannya lagi menyimak percakapan sepasang kekasih ini. Meskipun percakapan mereka terdengar begitu konyol, namun tak menutup kemungkinan bahwa percakapan itu sedikit menghilangkan rasa stres mereka akibat suasana yang begitu mencekam.
Pendaratan pesawat di atas laut tidak sempurna. Menyebabkan pesawat terbelah menjadi tiga bagian. Belum dipastikan jumlah korban yang terluka dan meninggal dunia. Sebuah guncangan pada saat pendaratan membuat Cole dan V tak sadarkan diri.
Air laut memasuki lantai kabin, membuat para penumpang yang masih sadarkan diri semakin panik. Badan pesawat semakin lama semakin tenggelam. Mereka berebut keluar dari pesawat, saling dorong mendorong, bahkan sempat terjadi perkelahian antar penumpang. Kericuhan ini dimanfaatkan oleh agen bayangan Dark Shadow untuk membawa V menjauh dari Cole Harvey.
✌✌✌
V terbaring lemah di kamarnya. Sudah seharian V belum juga sadarkan diri. Lynelle Éclair begitu terpukul karena merasa ia telah melalaikan tugasnya sebagai seorang ibu untuk melindungi putrinya. Tangis masih menggenangi wajah putihnya, ia terus menerus mengutuk dirinya sendiri. Tak ada yang memberitahu Lynelle Éclair apa yang sebenarnya terjadi, ia hanya tahu bahwa V mengalami kecelakaan lalu lintas. Aldrich Éclair berdiri di sampingnya menenangkan.
✌✌✌✌✌
Gw sangat berterima kasih sama kalian yang udah ikutin cerita gw hingga saat ini. Jangan lupa like setiap episodenya kalo kalian suka dengan cerita gw. Ikutin terus episode-episode selanjutnya dengan klik favorite, agar nantinya kalian dapet info episode terbaru dari novel V. Bagi warga netizen yang gak suka sama cerita gw, kalian bisa tulis kritik dan saran kalian di kolom komentar.
"Glücklicher 74. Indonesischer Unabhängigkeitstag." Ich hoffe, dass Indonesien in Zukunft erfolgreicher sein wird. Vielen dank meine feunden, Ohne deine Unterstützung bin ich nichts.
Meine liebe Grüße,
-Leo.