V

V
<[ EPISODE 32 ]>



Mereka membungkuk dengan satu tangan mereka diletakkan di atas dada. "Nona Muda Èclair." ucap mereka sambil memberi tabik. V bangkit dari posisi duduknya membuat keempat temannya terdoktrin untuk ikut berdiri. Mereka tidak dibenarkan untuk mengubah posisi sampai V mengizinkannya.


"Terima kasih." ucap V kepada mereka sambil memberi isyarat dirinya menerima hormat mereka. Sebenarnya V tidak diwajibkan untuk mengucapkan terima kasih. Bahkan sangat jarang bangsawan lain mau mengucapkan terima kasih saat para pengawalnya memberi hormat, sebab bagi kebanyakan bangsawan hal itu sudah sepantasnya dilakukan untuk menghormati tuan mereka.


"Ah, Nona anda tidak perlu mengucapkannya. Kami merasa tidak enak." ucap Sergio Aguero asisten pribadi Zac mewakili rekan-rekannya, jujur saja mereka merasa canggung sekaligus cemas menerima perlakuan V. Mereka mawas jika saja hal ini diketahui oleh Tuan Besar Èclair, nyawa mereka bisa menjadi taruhannya. Sudah hal lumrah bila nyawa seorang pelayan menjadi milik tuannya. Mereka tahu hukum tak tertulis ini dan mereka tidak bisa membantahnya. Apalagi mereka tahu bahwa keluarga Èclair memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Kerajaan Z. Mereka harus lebih berhati-hati lagi jika tidak ingin kehilangan nyawa dan seluruh keturunannya.


Ini untuk pertama kalinya mereka melayani V, jadi mereka belum terbiasa dengan perlakuan V yang bagi mereka sangat janggal. V memahami kekhawatiran mereka, ia tersenyum ramah untuk meyakinkan, "Paman tidak perlu merasa sungkan. Aku memang ingin mengucapkannya sebagai rasa syukurku atas kesetiaan kalian kepada keluargaku." perkataan V membuat mereka tersentak karena terkejut.


Mereka terpukau sekaligus takjub dengan apa yang dilakukan V. Belum pernah mereka merasa dihormati oleh bangsawan seperti yang dilakukan V saat ini. Ajaibnya rasa hormat itu mereka dapat dari puan mereka yang baru menginjak usia lima belas tahun. Apa yang dilakukan V membuat mereka semakin memantapkan hati untuk setia kepada keluarga Èclair. Rasa takjub sekaligus respek tidak hanya datang dari para pengawalnya, tapi juga dari keempat teman barunya. Mereka kenal betul bagaimana sikap bangsawan yang lebih sering congkak dan lalim, apalagi kepada bawahan mereka.


'Kau yang terlalu baik atau kau yang terlalu naif V?' batin Daffa menilik sifat V.


"Dimana Paman Zac?" tanya V langsung pada intinya.


"Kapten Zac masih ada pekerjaan di kantor. Beliau bilang untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada Nona Muda. Hari ini beliau akan pulang larut malam, jadi Nona Muda tidak perlu menunggunya."


"Baiklah, aku ingin ke kantor menemuinya."


"Mohon maaf Nona Muda, ini perintah dari Tuan Besar untuk langsung mengantar Nona Muda ke rumah."


V menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia tak pernah mempunyai keberanian untuk membantah perintah Papahnya.


"Nona Muda?" panggil Sergio sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Tidak terima kasih. Aku bisa membawa tasku sendiri, Paman." bantah V yang tak ingin diperlakukan seperti anak kecil.


"Saya hanya mematuhi prosedur yang ada Nona." kata Sergio yang tentu saja sudah V ketahui. Sebeb seluruh pengawal yang sering membantah perintahnya selalu beralasan sama, yakni karena prosedur.


"Tidak sekalian kalian menggendongku sampai ke dalam mobil?" tanya V mencibir yang malah terlihat menggemaskan di mata mereka. Ia sebenarnya tidak suka dengan prosedur pelayanan keluarga bangsawan, tapi ia tidak bisa menolaknya.


"Saya akan melakukannya jika Nona Muda memerintahkannya." balas Sergio masih dengan senyum ramahnya. V jadi merasa bersalah, mereka tentu tidak bisa melanggar prosedur yang telah ditetapkan. Karena akan ada sanksi berat bagi mereka yang melanggarnya.


"Maafkan aku Paman." kata V dengan nada rendahnya. Ia menundukkan kepalanya merasa bersalah. Tingkah laku V benar-benar terlihat menggemaskan, tidak hanya Sergio yang merasa bahwa Nonanya terlihat begitu manis. Melainkan seluruh mata lelaki yang memandangi V saat ini akan merasa tingkahnya terlihat begitu manis.


"Tidak masalah Nona Muda. Mari kita pulang." jawab Sergio semakin merekahkan senyum indahnya.


"Sampai jumpa." ucap V melambaikan tangan kepada keempat temannya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Mereka serentak membalas lambaian tangan V, senyum merekah mengiringi kepergian V dengan perasaan mereka masing-masing.


Usai V pergi bersama para pengawalnya. Fandi memperhatikan wajah Daffa yang masih merekahkan senyumannya. Entah apa yang dipikirkan Daffa, tapi Fandi dapat menebaknya bahwa itu hal yang membahagiakan dirinya. Mereka berempat berjalan ke parkiran motor. Sesekali Gitar melontarkan banyolannya untuk memecahkan keheningan yang langsung ditimpali oleh Gali.


"Fa? Sepertinya kau begitu menyukai V." ucap Fandi yang telah keluar dari alur percakapan mereka.


"Aku paham, kenapa Daffa menyukai V sejak pandangan pertama. Dia memang berbeda dari gadis kebanyakan." sambung Gitar membenarkan tingkah laku sahabatnya. Daffa yang merasa senang mendapat dukungan dari Gitar hanya bisa mengguncangkan jari jempolnya ke arah Gitar.


"Dia begitu rapuh seperti dandelion, kapan saja angin bisa menghancur leburkannya. Aku ingin menjaganya." tekad Daffa yang membuat Gali menatap lamat-lamat kepadanya.


Sebenarnya Gali mengerti apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Sebab ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya. Sebuah perasaan yang mengharuskannya untuk menjaga dan melindungi gadis itu. Perasaan yang memaksanya untuk menyayangi kekasih sahabatnya dan perasaan yang seharusnya tak boleh tumbuh di dalam hatinya. Gali tak paham mengapa hatinya mudah luluh hanya dengan melihat wajah naifnya. Tapi yang ia tahu jantungnya berdebar di luar gerak jangtung saat melihat wanita sahabatnya.


Ia juga tak mengerti mengapa hatinya malah menjatuhkan cintanya kepada wanita yang bahkan jauh dari kriterianya. Gali begitu mengidamkan wanita dewasa yang gagah bagaikan Wonder Woman, tokoh superheronya. Sedangkan V adalah karakter Loli yang sering ia temukan dalam serial anime adik perempuannya. Logikanya mengatakan bahwa V hanyalah wanita lemah, yang nantinya hanya akan menyusahkan dirinya. Gali begitu benci hal-hal yang merepotkan dirinya, sehingga ia selalu menjauhkan dirinya dari para wanita manja yang akan bergantung padanya seperti parasit. Tapi hatinya berkata lain saat ia melihat V. Membuatnya tak bisa menerbangkan perhatiannya pada poros lain, sebab seluruh gravitasinya tertumpu pada V


Semakin Gali mencoba meyakinkan dirinya, semakin rapuh pula dinding pertahanannya. Ia terus terbayang-bayang akan wajah menggemaskan V, suara manja yang awalnya membuat ia begitu muak. Tapi entah mengapa kini ia menyukai suara, wajah, dan penampilan kekanak-kanakannya. Bahkan segala apapun yang ada pada dirinya, Gali akan menyukainya.


Gali mengandai-andai, jika saja bukan Daffa yang menemukannya waktu itu. Mungkin saat ini laki-laki yang akan merasa beruntung itu adalah dirinya. Pikiran Gali semakin kalut, karena hasratnya juga menginginkan kekasih sahabatnya. Ia mengacak-acak rambutnya. Matanya kembali menatap sahabat masa kanak-kanaknya. Persahabatan yang dulunya ia anggap mustahil bertahan lama. Namun konyolnya masih bertahan hingga ia duduk di bangku putih abu-abu.


Hal itu terbukti saat masa putih biru dulu, saat seorang siswi menyatakan perasaannya pada Daffa namun ditolak mentah-mentah hanya karena Gitar juga menyukai wanita itu. Padahal Fandi tahu bahwa Daffa juga menyukainya, tapi malah ia lepas demi sahabatnya. Tidak hanya itu Daffa bahkan pernah mengalah untuk dirinya, membiarkan ia mendekati wanita yang ternyata juga disukai oleh Daffa. Fandi tahu bahwa Daffa begitu menghargai persahabatan mereka. Sebab itu Fandi selalu bersikap loyal kepada Daffa.


Pertanyaan Fandi juga membuat Gali seketika menoleh ke arah Daffa. Menunggu dengan perasaan berkecamuk apa yang akan dikatakan sahabatnya. Nyatanya memang tidak hanya Fandi yang penasaran dengan jawaban Daffa, ketiga temannya pun menatap dengan perasaan ingin tahu yang begitu tinggi. Sedangkan Daffa diam dengan beribu-ribu persepsi yang menuntut pahamnya dibenarkan oleh Daffa. Ia diam untuk beberapa waktu yang lama sebelum akhirnya bertanya, "Apa kau menyukainya Fan?"


Fandi tersenyum puas melihat kekhawatiran tergurat di wajah sahabatnya. "Sobat, meski V memiliki tampilan kekanak-kanakkan tapi itu tidak menutupi kecantikan wajah yang ia miliki dan ditambah sifatnya membuatku takjub padanya. Ia berbeda seperti yang kau bilang. Tentu jika kau bertanya apa aku menyukainya aku akan mengatakan dengan tegas, 'aku menyukainya."


Kalimat Fandi bagaikan halilintar yang menyengat tubuh Daffa dengan kekuatan terdahsyatnya, hingga rasanya tubuh Daffa kini hanya tinggal jelaga. Dengan tegas sahabatnya berkata dihadapannya langsung, dengan kalimat tersuratnya ia mengakui bahwa dirinya juga menyukai V, kekasihnya.


"Aku sependapat dengan apa yang dikatakan Fandi. Tidak hanya Fandi, Daf. Aku dan mungkin juga Gali menyukai kekasihmu." kata Gitar menambahkan, Daffa merasa tubuhnya kini benar-benar tak bertenaga.


Daffa menatap sahabat-sahabatnya secara bergantian, "Apa kalian benar menyukai kekasihku?" tanya Daffa yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala dari mereka bertiga.


'*Ya Tuhan! Semustahil itukah aku memiliki dua hal yang sakral sekaligus? Apakah memang aku harus memilih di antara sahabat dan kekasihku? Haruskah aku mengalah lagi pada mereka? Berpura-pura bahwa aku tak tahu apa-apa demi menjaga hubungan kami? Apakah memang aku tidak ditakdirkan untuk mempunyai keluarga? Hingga aku harus berkali-kali kehilangan keluargaku?


Mana yang lebih penting antara sahabat yang telah ku anggap sebagai saudara atau seorang wanita yang baru ku kenal hari ini. Ataukah mungkin ini risiko yang harus aku tanggung karena terburu-buru menjadikan V miliknya? Aku tak bisa memilih di antara keduanya, karena aku memang membutuhkan keduanya. Aku tak ingin kehilangan sahabat-sahabatku, sebab hanya mereka anggota keluargaku yang tersisa. Aku tak ingin kehilangan V, wanita yang meluluhkan hatiku tanpa membutuhkan waktu dua puluh empat jam. Entah sihir apa yang ia gunakan hingga membuatku begitu kepalang*.'


Daffa tersenyun miris dengan fakta yang baru saja mengguncang dirinya. Entah berapa skala richter guncangan itu bila dihitung dengan seismograf, mungkin saja gempa yang dirasakan Daffa berpotensi tsunami karena saking dahsyatnya.


"Bolehkah aku bersikap egois?" tanya Daffa dengan suara lirih dan tatapan sendu yang meluluhkan. "Aku tidak ingin kehilangan keduanya. Bukankah kalian tahu bahwa hanya kalian keluargaku yang tersisa saat ini?"


"Pilihan itu hanya satu, Daff. Kau tidak dibenarkan untuk memilih kedua-duanya." jawab Fandi yang langsung membumi hanguskan harapan Daffa. Tidak hanya Daffa yang dikejutkan dengan jawaban Fandi, kedua temannya yang lain juga terkejut bukan kepalang. "Bahkan sekalipun kau bermain monopoli, permainan yang membuatmu mendapatkan kesempatan berkali-kali dan dana umum berkali-kali. Kau tetap dipaksa memilih satu, dana umum atau kesempatan."


"Apakah aku akan kehilangan kalian jika aku tetap memilih kesempatanku?" tanya Daffa dengan wajah yang sudah memucat.


"Berengsek kau Fandi! Pertanyaan macam apa yang kau ajukan itu?" tanya Gitar yang sudah tersulut emosinya melihat Daffa disudutkan. "Sialan! Persetanan dengan segala kontradiksi yang kau jelaskan. Jika peraturan alam melarang Daffa memilih di antara keduanya, maka pilih kekasihmu Daff. Biar aku yang memilihmu untuk tetap menjadi sahabatku! Kau tidak akan kehilangan keduanya." jelas Gitar lantang.


"Pertanyaanmu sudah kelewatan Fan. Aku juga tidak terima kau menyudutkan Daffa seperti itu. Aku memang menyukai V, tapi aku tak akan tega menyuruh sahabatku memilih antara diriku dan kekasihnya." tambah Gali yang membenarkan pernyataan Gitar.


Fandi tersenyum puas. Ini yang ingin ia dengar dan ia lihat. Ia ingin ketiga sahabatnya saling mengerti dan saling mendukung satu sama lain. Jika dulu hanya Daffa yang mati-matian menjaga persahabatan mereka, maka Fandi ingin saat ini agar bukan hanya Daffa yang berusaha keras menjaga hubungan di antara mereka. Tetapi mereka semua, tak terkecuali siapapun atau karena apapun.


"Ini yang ingin ku dengar dari mulut kalian. Aku ingin mendengar Daffa yang memperjuangkan kehendak hatinya dan kalian yang mengerti apa keinginannya mendukungnya. Ini sudah saatnya kita berganti tugas." jelas Fandi yang membuat Gali dan Gitar tak mengerti. Sedangkan Daffa terkejut menatap tak percaya pada Fandi.


"Jika dulu dia yang mengalah untuk kita, sekarang giliran kita yang mengalah untuknya." tambah Fandi menjelaskan, sebab ia tahu wajah kebingungan milik Gitar dan Gali.


"Daff, kami memang menyukai kekasihmu. Kami tak ingin menutupinya bukan untuk membuatmu mundur apalagi mengalah untuk kami. Kau telah salah menafsirkannya." kata Gitar yang sudah mengerti makna perkataan Fandi yang sempat membuatnya bingung.


"Tapi tenang saja, kini ia sudah jadi milikmu. Aku tidak akan sebajingan itu mencuri sahabat pacarku sendiri. Tapi satu hal yang harus kau ketahui Daf, jika kau tidak mampu menjaganya dan malah menyakitinya. Maka aku, Fandi dan Gitar akan berusaha mati-matian menarik V dari pelukanmu Daf."


.


.


.


.


.


✌✌✌✌✌