
Waktu telah menunjukkan pukul 04.09 PM., matahari beranjak turun dari singgasananya. V menilik arloji di tangannya berkali-kali. Matanya kemudian menyusuri setiap sudut jalan berharap menemukan seseorang yang dinantinya. Bukan hal biasa orang itu datang terlambat tanpa memberikan kabar. V begitu mengenalnya, ia sangat disiplin terhadap waktu, bahkan pada apapun. Jadi akan sangat janggal bila ia tiba-tiba datang terlambat tanpa memberitahu lebih dulu.
Untuk yang kelima kalinya V membuka layar ponselnya, berharap akan ada ikon pesan atau panggilan masuk muncul di bar notifikasinya. V mulai gelisah, ia takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan menimpa orang itu. Saat sedang memperhatikan persimpangan, V merasa ada seseorang yang berjalan mendekatinya. Awalnya V merasa bahagia, namun ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapannya.
"Eh, hai." sapa seorang laki-laki asing mengenakan topi hitam. İa memiliki tubuh yang cukup ideal bagi laki-laki seusianya. Senyumnya tetap merekah meskipun V menatapnya dengan datar. İa memberikan senyuman terindah miliknya, berharap V akan terpesona pada pandangan pertama. Sedangkan V tidak peduli dengan apa yang diinginkannya.
"V, benar?" tanyanya yang membuat V mengernyitkan keningnya. V menatap tajam pada laki-laki asing itu. Bukan karena bingung mengapa laki-laki itu bisa mengenalnya, melainkan karena V tak suka ada seorang laki-laki yang bersikap sok akrab padanya. Aldrich Èclair terlalu banyak mendoktrin hal-hal buruk tentang kebiasaan laki-laki, terutama hobi mereka yang suka menggoda wanita. Belum sempat laki-laki itu memperkenalkan dirinya, V menemukan sosok laki-laki yang telah dinantinya berdiri sedikit jauh di belakang tubuh orang asing itu.
"Daffa!!!" teriak V dari kejauhan. Wajahnya kembali berseri saat melihat Daffa telah datang. "Di sini!" teriaknya lagi sambil melambaikan satu tangannya ke udara. V bahkan tak sadar bahwa tubuhnya sudah melompat-lompat di udara saat melambai pada Daffa.
Pekan ini mereka memang berencana akan menghabiskan waktu bersama. Hubungan mereka sudah terjalin selama dua bulan, namun sekalipun mereka belum pernah bertemu di lain hari selain di sekolah. Bukannya mereka tidak ingin pergi bersama, hanya saja mereka tidak tahu rutinitas orang berpacaran pada umumnya. Jika saja Gitar tidak mengajukan pertanyaan pada mereka berdua, mungkin saat ini mereka tidak akan berencana pergi bersama. Pertanyaan Gitar juga yang membuat V dan Daffa mempunyai rutinitas baru, yakni mencari tahu hal-hal yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih.
"Sudah lama?" tanya Daffa setibanya ia di sana. V menganggukkan kepalanya masih dengan senyum semringahnya. Tangannya memeluk tubuh Daffa cukup lama. Membiarkan hangatnya pelukan menjalar keseluruh tubuhnya.
"Kau terlambat sepuluh menit." kata V memberitahu. Tanpa V sadari tangan V telah menekan memar di tubuh Daffa. Daffa tersenyum masam, menahan rasa nyeri pada lebam di perutnya akibat pukulan bertubi-tubi yang didapatnya beberapa menit lalu. Sebenarnya jika Daffa tidak mendapat panggilan dari markas besar Singa Putih, Daffa sudah tiba sejak setengah jam yang lalu.
"Aku minta maaf atas keterlambatanku." kata Daffa yang sudah menggenggam tangan V dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya lagi ia gunakan untuk merapihkan sejumput rambut V yang terkena hembusan angin. Saat ia ingin beranjak ia kembali teringat dengan laki-laki yang berdiri di samping V. Daffa menatap keduanya bergantian, menuntut penjelasan dari keduanya.
"Aku tidak mengenalnya." kata V cepat sebelum orang asing itu berkata. İa menggelengkan kepala dan tangannya demi mendukung pernyataan mulutnya. İa takut Daffa akan salah paham jika V masih tetap bungkam, apalagi jika laki-laki itu yang menjelaskan. Bisa saja laki-laki itu malah memperkeruh suasana bukannya melerai masalah.
Daffa menatap laki-laki asing itu dengan lekat sebelum akhirnya menyentil kening V dengan pelan, "Sudah kubilang berkali-kali jangan berbicara dengan orang asing!"
"Kok sentilanmu tidak ada rasanya, Daf?"
"Karena aku melakukannya menggunakan cinta." kata Daffa sambil menarik tangan V meninggalkan laki-laki itu. V hanya menurut membiarkan Daffa menggengam erat tangannya. "Apa kakimu sudah lelah karena menungguku?"
Pertanyaan Daffa membuat V sontak memasang wajah memelasnya, ia selalu bahagia setiap kali dapat berperilaku manja pada Daffa. ia menganggukkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Daffa. "Ya, rasanya seperti ingin copot."
Daffa menilik setiap ruas wajah V, betapa menggemaskannya wanita yang berdiri di hadapannya saat ini. İa menampakkan segaris senyum hangatnya, mengusap lembut puncak kepala V. "Mau ku bantu untuk melepaskannya?" tanyanya begitu manis.
"Daffa! Kau menyebalkan. Harusnya kau itu menyenangkan hatiku, gimana sih. Kan sudah kubilang kau harus sering membaca artikel cara memperlakukan pasangan yang baik." gerutu V. Kali ini emosinya murni datang dari hatinya, ia benar-benar kesal pada Daffa yang tak pernah sesuai dengan harapannya. V menghentikan langkahnya, melipat kedua tangannya di atas dada, membuang pandangannya pada tanah.
Daffa terpaksa menghentikan kakinya, ia tak bisa mengabaikan gadisnya yang sedang marah. Melihat V memasang wajah tidak bersahabat bukan kali pertama baginya, V memang sangat sering bertingkah kekanakan untuk mendapat perhatian lebih dari Daffa. Tentu saja Daffa dengan suka relanya melayani keinginan gadisnya tanpa pamrih.
V masih menggerutui sikap Daffa tanpa henti, sedangkan Daffa memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum ramah menahan tawannya. İa bahkan menggigit bibirnya sendiri agar tidak berkedut di depan V. Daffa memang begitu senang menggoda gadisnya, baginya menggoda seseorang yang ia cintai adalah kesenangan yang ia sendiri bahkan tak mampu menjelaskannya dengan kata-kata. Mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa Daffa adalah sosok laki-laki yang selalu kaku karena terlalu serius dalam menjalani hidup. Tapi sebenarnya Daffa adalah laki-laki yang ceria dengan tingkat keusilannya yang begitu tinggi.
"Tidak!" bantah V tegas. İa sama sekali tak beranjak dari posisinya. "Kau selalu saja begitu! Tidak pernah sesuai dengan keinginanku."
Dalam menghadapi makhluk bernama wanita, ia memang dituntut untuk selalu bersikap sabar. Pada dasarnya dalam menjalankan hubungan memang selalu ada pihak yang harus mengalah. Perkara ini memang bukan sekali dua kali mereka ributkan. Daffa menatap seluruh ruas wajah gadisnya. Tak sampai sepuluh detik ia sudah mendekatkan wajah keduanya. Mendaratkan satu ciuman dibibir V. Awalnya ia hanya menempelkan bibirnya, namun lama kelamaan ia membuka mulutnya untuk meraih bibir V.
İni untuk pertama kalinya bagi mereka melakukannya. V yang terkejut dengan apa yang dilakukan Daffa, berjalan mundur ke belakang. Daffa merasakan tubuh V semakin jauh darinya, ia menarik tubuh V dalam pelukannya agar semakin dekat dengannya. Saat tak ada ruang di antara keduanya Daffa semakin memperdalam ciumannya. Sedangkan V hanya diam tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Daffa melepas ciumannya, memberi kesempatan pada keduanya untuk kembali bernafas. Sesekali ia tertawa mengingat apa yang telah ia lakukan. Dan gilanya lagi ia melakukannya di tempat umum, yang siapapun dapat menyaksikan apa yang telah ia lakukan.
"Kenapa kau membatu? Bukankah bagian itu juga ada di dalam artikel yang pernah kau baca?" tanya Daffa memperhatikan V yang hanya diam membisu menatapnya. V menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Daffa. Wajahnya telah memerah.
"Jadi kenapa kau malah diam? Jangan-jangan kau berharap itu terjadi lebih lama?" tanya Daffa sambil mencari tahu tanggapan V. İa menaikkan satu alisnya lebih tinggi. "Atau jangan-jangan kau penasaran dengan adegan selanjutnya?" goda Daffa yang langsung membuat wajah V tersipu dalam lekukan senyumnya.
"Ahh, mana sini kulihat wajah merona kekasihku." goda Daffa menarik wajah V agar lebih dekat padanya.
V mencubit perut Daffa sekencang mungkin membuat yang punya perut meringis kesakitan. "Daffa kau menyebalkan, tapi aku menyayangimu." bisik V dengan penuh keyakinan. İa juga sempat mendaratkan satu ciuman singkat di bibir Daffa. Kini giliran Daffa yang dibuat merona oleh tindakan V.
Daffa berdecak, "Ck, akhhh!!!" katanya masih dengan senyum yang tak bisa ia hilangkan. Bayangan akan kejadian beberapa detik lalu terus terngiang-ngiang dalam kepalanya. İa menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Mengacak-acak rambutnya. Tapi tak juga bisa menghilangkan perasaan yang memekar dalam hatinya. Hingga akhirnya Daffa berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
V tertawa terbahak-bahak melihat Daffa yang tak bisa mengendalikan dirinya sendiri, "Daffa, kau lucu sekali saat salah tingkah." katanya sambil memeluk Daffa dari belakang atau lebih tepatnya naik ke atas punggung Daffa. "Ayo jalan!"
Daffa berdiri sambil mengangkat tubuh V yang meringkuk di punggungnya. İa berjalan santai tanpa mempedulikan banyak pasang mata yang menatap kearah mereka. Sesekali ia melompat untuk membenarkan posisi tubuh V.
V membenamkan kepalanya diceruk leher Daffa. Aroma parfum milik Daffa perlahan mulai terpatri dalam ingatannya. Memejamkan kedua matanya. "Daffa? Bisakah kita melakukan ini lebih sering lagi?" tanya V masih memejamkan matanya.
"Selama kau merasa nyaman, aku tak keberatan melakukannya lebih banyak lagi." kata Daffa sambil mengusap kepala V dengan tangan kanannya.
"Aku rindu saat masa kecilku. Dulu Papah selalu mengangkat tubuhku setiap kali aku menyambutnya. Sekarang aku merasa begitu jauh dari Papah." V merasa begitu terluka setiap kali ia mengingat hubungannya dengan Aldrich Èclair yang semakin renggang. "Aku rindu masa kecilku." V memeluk pundak Daffa semakin erat. Semakin erat seakan ia tak pernah berniat melepaskannya. Seperti anak kecil yang takut akan kehilangan mainannya.
"Daffa apa salahku hingga aku merasa diasingkan seperti ini?"
Daffa menghentikan langkahnya, "Hei, kita ke sini bukan untuk bersedih. Aku yakin Papahmu pasti punya alasan mengapa menghindarimu, bukan karena ia tak lagi mencintaimu. Bukankah kau bilang Papahmu orang yang bijaksana? Bukankah kau tak pernah meragukan keputusan Papahmu? Jadi untuk apa kau bersedih pada keputusan yang begitu kau yakini." hibur Daffa. "Pikirkan yang baik-baik tentang mereka, mungkin kedua orang tuamu sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan mereka. Bukankah kau bilang mereka sedang melebarkan sayap usaha mereka di Asia? Hentikan pikiran burukmu itu, sebelum akhirnya kau terluka oleh kecemasanmu sendiri."