
"Sayang sekali Paman. Produk andalanmu tidak memiliki nilai jual yang tinggi." jawab V dengan nada yang dibuat sedikit merendahkan.
"Aish! Tidak ku sangka kau malah mewarisi genetik perilaku Master. Kau memperhitungkan segalanya dengan untung dan rugi rupanya." kata Zac, "Tapi perlu kau tahu, virusku ini merupakan eliksir yang dapat mengoptimalkan seranganmu pada lawan!" jelas Zac tidak mau kalah. Ia mempromosikan keunggulan produk yang dimilikinya.
"Mana bisa seperti itu paman?" V meragukan cara kerja eliksir yang ditawarkan Zac.
"Astaga! Itu cara yang bagus saat kau tidak bisa menggunakan tangan untuk menghajar, maka gunakan virus nyinyirku untuk mencekik lawan."
"Bisa begitu Paman?" tanya V penasaran. Karena ia belum pernah menggunakan produk yang ditawarkan oleh Zac. Selama ini ia tidak pernah melawan setiap cercaan atau hinaan dari orang-orang tatkala ia bergelandang di pinggir jalan.
"Nah dengarkan aku baik-baik. Virus nyinyirku ini bisa menjadi senjata multifungsi yang sangat efisien. Kau bisa menggunakannya sebagai perisai untuk melindungi harga dirimu. Kau bisa menggunakannya sebagai taktik mengecoh konsentrasi lawan. Bahkan virus nyinyirku ini dapat membuat batinmu terasa lebih lega." papar Zac menikmati keindahan virus nyinyir yang telah ia kembang biakkan.
Zac begitu bangga memperkenalkan produk andalannya. Virus nyinyir dengan sejuta rasa surgawi dengan sensasi lemon yang menyegarkan. Komposisi bahan yang digunakan sangat ramah lingkungan, tidak menyebab radiasi, apalagi pemanasan global. Paling hanya menyebabkan terbakarnya sumsum jiwa pendengar.
"Paman Zac, kau pandai berdiplomasi." puji V menampakkan wajah kagum yang dibuat-buat. Zac tertawa mendengar pujian yang lebih seperti cemohan.
Meskipun Zac menganggap hukum alam yang mengatakan, 'Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya', hanya sebagai dalih bagi orang-orang yang tidak memiliki pendirian, tapi ia tidak bisa menutupi kekagumannya akan keluwesan dan kecerdasan Aldrich Éclair yang diturunkan kepada V. Kejadian-kejadian pahit yang V alami telah membawanya pada pendewasaan. Pemikirannya yang terlalu dewasa bagi anak seusianya, membuat Zac begitu berempati. Ia merasa V telah kehilangan masa kanak-kanaknya.
Melihat V yang selalu fokus, tenang, dan cermat pada saat berlatih, membuat Zac tidak segan-segan mewarisi seluruh ilmu yang ia miliki. Tekad V terlihat membara di bola mata hitam legamnya. Tidak hanya bela diri, menembak, memanah, memedang, bahkan sampai memperkenalkan V beraneka ragam obat-obatan yang dapat menyembuhkan atau malah menjadi racun yang mematikan.
Beberapa bulan telah terlewati. V menggoreskan kisahnya dengan belajar, belajar, dan belajar. Ia tidak seperti anak-anak pada umumnya yang belajar di sekolah formal. Aldrich Éclair menggunakan metode pendidikan sekolah mandiri untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat yang dimiliki oleh V. Menurutnya dengan begitu V akan mendapatkan perhatian secara intensif dari guru-gurunya. Alasan khususnya, sekolah mandiri atau sekolah rumah menjadi pilihan yang tepat untuk menjauhkan V dari dampak perseteruan memanasnya dengan para pesaing bisnis legal ataupun ilegal yang ingin menjatuhkannya.
Keberadaan dunia bawah tanah seringkali menjadi perisai bagi para usahawan, atau malah menjadi bom yang mampu memporak porandakan usaha mereka. Setiap bulan atau tahunnya selalu ada uang iuran yang harus mereka bayarkan. Berbagai macam alasan disertai ancaman sering mereka keluarkan untuk menindas para usahawan. Kebanyakan para usahawan memilih jalan damai dengan memberikan jatah perbulanan atau pertahunan dengan sukarela. Bagi mereka yang ingin usahanya berkembang dengan pesat secara cepat, biasanya mereka memanfaatkan jasa mafia untuk intrik kotor dalam menjatuhkan lawannya.
Aldrich Éclair dikenal sebagai satu-satunya pengusaha di negeri Z yang tidak mau tunduk pada sindikat mafia yang berkuasa di negaranya. Segala macam intimidasi mereka lakukan untuk menekan usaha Aldrich Éclair, tapi tidak ada yang membuahkan hasil. Justru cara mereka membuat Aldrich Éclair menjadi sorotan publik, mendapatkan hati masyarakat khalayak ramai.
Hingga pada akhir tahun 2019. Ketika ia sedang berlibur bersama isteri dan anak perempuannya di villa pribadi mereka yang berada di kota Mars. Sekelompok pasukan mafia datang menggertak dengan senjata. Seluruh pengawal yang menjaga keamanan tumbang dalam kurun waktu setengah jam. Malam itu adalah sebuah malapetaka bagi keluarga Éclair.
Lynelle Éclair memeluk tubuh V dengan eratnya di balik sebuah meja yang sengaja dibuat jatuh ke lantai, ia menutup telinga putrinya agar tidak mendengar suara apapun. Aldrich Éclair berdiri tidak jauh darinya, kedua tangannya memegang sebuah pistol. Baku tembak terjadi. Satu peluru berhasil mengenai lengannya. Aldrich Éclair berada dalam keadaan mendesak. Ditambah musuh terus menghujani mereka dengan peluru-peluru yang berhasil membuat coakkan di meja itu.
Aldrich Éclair menarik tangan Lynelle Éclair untuk pindah tempat persembunyian. Mereka berlari dengan cepat ke sebuah pilar yang masih kokoh tanpa bekas tembakan. Namun ketika mereka berlari, tubuh V terlepas dari genggaman Lynelle Éclair. Aldrich Éclair berhasil menarik tubuh V dalam pelukannya. Namun sayang, sebuah peluru telah menghentikan aktifitas jantung V.
Jelang beberapa menit kemudian, pasukan mafia tersebut menghentikan serangan mereka sebab misi mereka hanya mengkoyak-koyakkan rumah keluarga Éclair. Mereka tidak tahu bahwa peluru mereka berhasil menewaskan anak semata wayang keluarga Éclair.
✌✌✌
Agar dapat menjaga staminanya V memutuskan untuk langsung beristirahat seusainya pelajaran terakhir. V membagi waktunya secermat mungkin, ia menghilangkan rutinitasnya untuk beranjangsana ke setiap ruangan. Ia juga mencoret aktifitasnya menonton televisi bersama para pelayannya. Ia harus mengikhlaskan serial drama yang telah lama ia ikuti selama ini, begitu disayangkan. Waktu petangnya ia gunakan untuk mengerjakan tugas atau sekedar mengulang kembali materi yang ia pelajari. Makan malam menjadi aktifitas terakhirnya, ia memilih bersegera tidur hingga dini hari datang, menjadi awal aktifitasnya dimulai.
Suara tembakan terdengar sangat keras, memekakkan telinga. V menatap kagum setiap mimis yang dengan sempurna mendarat di tengah papan bidik. Kekaguman itu tidak pernah bertahan dari sepuluh detik, karena rentetan cemohan membuat rasa kagum itu menguap.
"Sekali lagi!"' teriak Zac di kuping V. Tentu saja hal itu disengaja, Zac memang sangat hobi memicu emosi lawan.
"Atur nafas dengan benar, lakukan dengan dinamis. Gunakan mata andalanmu dalam membidik. Perhatikan letak target dengan benar, ingat bagian paling atas pembidik depan harus sejajar secara horizontal dengan ..." ujar Zac memberi petunjuk. Belum selesai Zac berkata, V telah menekan pelatuk untuk menggerakkan picu. Tubuhnya terdorong ke belakang. Peluru meleset dari sasaran.
"Astaga! Tindakanmu sok pintar tapi ternyata bodoh ya! Jangan menyentak pelatuk bodoh! Sehebat apapun kau mengatur nafas atau membidik, jika eksekusi terakhirmu dihentak, sama saja kau sebodoh babi! Kau ini manusia atau babi? Lakukan dengan benar!" maki Zac di kuping kanan dan kiri V. Zac memang bukan orang yang suka duduk diam sambil menyeruput kopi panas saat melatih. Ia lebih suka berkeliling melihat dari jarak dekat apa yang dilakukan muridnya. Eksistensi Zac yang berada terlalu dekat sambil menembakkan virus nyinyir merupakan ujian terbesar tatkala ingin berkonsentrasi dalam membidik.
V kembali berkonsentrasi penuh. Mengabaikan ingar bingar mulut Zac yang tidak kunjung padam. Tiba-tiba sebuah tangan besar memperbaiki posisi jari jemari V, menjalar memperbaiki gestur tubuh V yang tampak kaku. "Bidik target sekali lagi." bisiknya "Tarik pelatuknya sekarang." bisiknya sekali lagi di telinga V.
Peluru keluar dari moncong pistol dengan kecepatan 580 cm per-detik. Peluru berhasil menembus titik bidik dengan sempurna. Aldrich Éclair tersenyum ramah mengusap lembut rambut V.
"Lakukan sekali lagi dengan cara yang sama." pinta Aldrich Éclair yang dijawab dengan anggukan mantap oleh V.
Peluru kembali menukik ke arah titik bidik center hold dengan sempurna. Aldrich Éclair menepuk kedua tangannya sebagai tanda apresiasi. V melompat memeluk tubuh Aldrich Éclair karena senang tembakannya mengenai sasaran.
"Terima kasih Papah." V mencium pipi Aldrich Éclair. Ia mendapatkan kembali sebuah ciuman di pipi dan keningnya.
"Matahari sudah mulai menyingsing, kau bersiaplah untuk pelajaran pertamamu."
"Baiklah. Papah hati-hati di jalan. Jaga kesehatanmu. Ingat jangan terlambat untuk makan siang!"
Aldrich Éclair mendengar sebuah nada perintah dari mulut V. Raut wajahnya yang penuh kekhawatiran membuat Aldrich Éclair tampak semringah. Telah lama air telaganya mengering karena duka, memaksa dingin membekukan hangat di dalam jiwanya. Hujan pembawa berkat dari semesta akhirnya turun mengisi telaga. Tidak ada yang lebih membuat hati merasa gembira atau mengharu biru dalam satu waktu selain cinta.
Suara tembakan masih saling sahut menyahut di halaman belakang rumah. Rangkaian latihan menembak masih berlangsung oleh beberapa orang yang masih mencoba memecahkan rekor pada diri mereka masing-masing. Teriakan histeris seorang wanita terdengar samar-samar. Semakin lama suaranya semakin mendekat ke arah V. Detak jantungnya bergerak semakin cepat, ketakutan dan kekhawatiran menyergap tubuhnya bagaikan tawanan budak. Sesosok wanita dengan dress berwarna putih dan biru berlari ke arah V. Sekumpulan pelayan dan pengawal mengejar di belakangnya.
"Astaga! Apa yang terjadi!" batin V.