V

V
<[ EPISODE 27 ]>



'Cole jika kau ada di sini, apa kau akan memelukku dengan erat seperti waktu itu?'


'Cole, apa kau akan datang menyelamatkanku jika kau benar-benar ada di sini?' V terus melontarkan pertanyaan tertahannya. Ia menangis dalam bisunya, memeluk kedua kakinya semakin erat. Membayangkan sebuah dekapan hangat dari tangan besar Cole Harvey.


'Cole, kau dimana? Bisakah kau mendengarkan tangisku?' semakin lama susunan kalimatnya terus menyakiti hatinya. Karena ia tahu, hal itu tak akan mungkin sampai pada telinga Cole. Parahnya lagi, kini Cole beranggapan bahwa dirinya telah tiada.


'Cole Harvey!' teriaknya dalam bisu. İa terus meneriakkan nama Cole dalam tangis heningnya.


Tatkala tangis berkecamuk tercium aroma semerbak parfum asing ke dalam hidungnya. Pikirannya bertanya-tanya siapa pemilik aroma parfum itu. Tapi sayangnya kepala V terlalu pening untuk menebak-nebak siapa pemilik aroma manis itu. 'Hangat?' tanya V tak mengerti. 'İ-ini pelukan?!' tebaknya menerjemahkan kehangatannya. 'Pelukannya begitu hangat' kata batinnya lagi sambil merasakan kehangatan dari pelukan ini.


Tangannya perlahan menyuarakan isi batinnya, ia membalas pelukan hangat yang ia tak tahu milik siapa. Pelukan asing yang ia sendiri tak tahu untuk siapa dan dari siapa, namun karena dampak damai yang ditimbulkan setelahnya membuat ia tak mau melepasnya. Pelukan hangat yang sama dari keluarganya dan juga dari kekasih hatinya, Cole Harvey. Entah sudah berapa lama V tak lagi merasakan pelukan sehangat ini.


V memeluk erat tubuh yang menyediakan dadanya untuk bersandar. Semakin lama dekapannya semakin erat, seakan ia tak ingin pelukan itu melemah. İa tak ingin kehilangan pelukan itu saat ini.


"Kumohon keluarkan suaramu." terdengar suara yang begitu kencang di telinganya.


"Ayolah, kau bisa mati jika terus seperti ini!" katanya lagi.


'Suara? Mati?'


V berusaha membuka matanya untuk melihat pemilik suara yang mengajaknya berbicara. Samar-samar ia melihat wajah laki-laki asing yang terlihat familiar. Wajahnya terlihat sangat tampan, namun tetap saja bagi V yang tertampan dalam hidupnya tetap Papahnya. Kulitnya putih bersih tanpa ada setitik noda di wajahnya. Matanya berwarna coklat keemas-emasan, begitu indah di bawah sinar matahari. Hidungnya mancung namun tidak besar, khas penduduk Asia.


"Katakan sesuatu, jangan hanya diam menatapku seperti orang bodoh." perintahnya yang membuat V kembali menarik kekagumannya pada makhluk Tuhan satu ini.


'Ah, sudah. Aku tak akan perhitungan dengannya, toh ia telah memelukku. Aku lebih membutuhkan pelukan ini daripada pertengkaran sia-sia di antara kita.'


"Biarkan seperti ini, sebentar saja." pinta V semakin merangsek masuk dalam dekapan laki-laki asing di depannya. Laki-laki itu tak menjawab ataupun membantah. Tangannya mengusap puncak rambut V hingga ke pundaknya. Laki-laki itu berpikir betapa rapuhnya wanita dipelukannya, mungkin hanya dengan dorongan dua jarinya mampu mematahkan seluruh tulang belulang di tubuhnya.


İnstrumen piano memecah keheningan mereka. Bel masuk telah didendangkan seantero sekolah. V melepas pelukannya.


"Terima kasih dan maaf." ucap V menundukkan kepalanya.


"Aku tidak akan mempermasalahkannya, asalkan kau mau berjanji kepadaku." katanya sambil melepas jepitan pita warna-warni di rambut V.


"Apa itu?" V lebih penasaran dengan janji yang harus ia buat daripada alasan kenapa laki-laki itu melepas jepitannya.


"Berjanjilah jika nanti kau menangis lagi, keluarkan suaramu. Katakan kepadaku seluruh kepedihanmu, aku akan mendengarkannya."


"Kenapa kau lepas?"


"Berjanjilah padaku!" perintahnya tegas. V menghela nafasnya sambil menganggukkan kepalanya.


Usai melepas semua ikatan dan jepitan di atas rambutnya, mengeluarkan sebuah sisir kecil dari sakunya. İa menyisir rambut V yang sempat berantakan. Tangannya gemulai menata rambut V. İa kembali memasang jepitan itu di rambut V yang telah ia tata ulang. Namun kali ini ia hanya menggunakan warna merah muda senada, menyisihkan warna yang lainnya. V tampak mempesona dengan model rambut barunya.


"Lebih kalem dari sebelumnya." kata laki-laki itu menyerahkan ponsel yang ia gunakan untuk bercermin.


"Wahh, ini indah. Terima kasih." balas V takjub melihat sebagian rambutnya yang terkepang ke samping. Sisa rambutnya yang tidak terikat, dihiasi oleh jepitan pita merah mudanya.


"Ayo kembali ke kelas, kau tak ingin bolos bukan?" tanyanya bangkit dari duduknya. V menganggukkan kepala menjawab pertanyaan laki-laki asing itu.


Mereka berpisah di depan kelas V yang sudah tampak dimulai kegiatan belajar mengajarnya. Mr. Rusyan, guru kimia sudah sibuk menjelaskan tentang persamaan reaksi, saat V tiba-tiba mengetuk pintu kelas. Syukurnya Mr. Rusyan memberikan toleransi kepada V yang datang terlambat tanpa memberikan hukuman. V duduk di kursinya yang kosong beberapa menit lalu. Di kursi sebelahnya juga kosong, tak ada teman sebangkunya. V mengedarkan pandangan mencari teman sebangkunya, tapi ia tak berhasil menemukannya.


'Aneh. Barang-barangnya masih ada di mejanya.' pikirnya.


Lima belas menit berlalu. V hanya duduk diam tanpa mencatat apa yang dijelaskan Mr. Rusyan, karena ia telah menamatkan BAB ini saat di Eropa. Pintu kelas kembali diketuk, membuat semua orang kembali menoleh ke pintu masuk. Di ambang pintu berdiri sosok wanita yang sejak tadi dicari oleh V. Mr. Rusyan menghela nafasnya panjang, dengan isyarat menyuruhnya untuk langsung duduk. Sepanjang ia berjalan, semua orang yang dilewatinya langsung menutup rapat-rapat hidung mereka.


'Ya Tuhan, aku tak tahu apa yang dilakukannya sampai ia bau amis seperti ini.' batin V menahan agar tangannya tidak ikut-ikutan menutup rapat lobang hidungnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya V setengah berbisik padanya.


"Ya, terima kasih sudah bertanya." balasnya.


V menjulurkan tangannya ke arah wanita itu, "Kau bisa memanggilku V."


İa tampak ragu melihat V yang menjulurkan tangannya tanpa memandang rendah dirinya. "Namaku Melodi."


"Senang berkenalan denganmu Melodi."


"Kenapa kau mau berbicara denganku?" tanya Melodi takut-takut. V mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Eh? Memangnya kenapa? Ada yang salah?"


"Apa kau tidak takut denganku?" tanyanya ragu-ragu.


"Eh?!"


"Apa kau makhluk astral? Atau alien yang diutus melakukan aliansi dengan penduduk bumi?" tanya V lagi yang membuat bibir Melodi berkedut menahan tawa.


"Tidak, tentu saja bukan. Hanya saja, mereka menganggapku pembawa sial. Jadi mereka tidak sudi berbicara denganku." katanya.


Kini gantian V yang tertawa kecil, "Lucu. Jika kau benar-benar pembawa sial, sang pendoktrin tidak akan mungkin harus bersusah payah mengganggumu." kata V usai tertawa. Perkataan V membuat Melodi diam seribu bahasa, bukan karena ia tersindir, tapi apa yang dikatakan V ada benarnya dan ia tak bisa membantahnya, "Mereka hanya iri pada apa yang kau miliki." tambah V.


"Tunggu, iri? Apa yang mereka irikan dariku? Aku hanya orang dari kalangan rendahan yang berhasil masuk ke sekolah ini karena beasiswa." kata Melodi membantah premis V.


"Justru karena itu mereka membencimu, kau tidak membutuhkan harta untuk menyongkong dirimu di sekolah ini. Sedangkan mereka? Harus bersusah payah bergantung pada keluarga mereka. Kau juga cantik. Tak ada yang kurang dari dirimu."


"Apa kau bercanda? Aku bisa kapanpun dikeluarkan dari sekolah ini karena tak ada dukungan. Yayasan bisa kapanpun mencabut bantuan mereka untukku."


"Tampaknya kau tidak percaya diri. Kepala sekolah bukan orang bodoh yang gila harta. İa tak akan mungkin melakukan itu."


"Apa kau tidak tahu? Saat aku baru menjadi siswi di sekolah ini, aku sudah mendapatkan surat peringatan dari sekolah untuk tindakan yang tidak pernah aku lakukan! Apakah itu yang kau bilang kepala sekolah bukan si bodoh penggila harta?!" kata Melodi sarkasme mencemooh Frankenstein. V mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Tak terima orang terdekatnya dihakimi dengan dalih konyol yang ia tahu ketidak benarannya secara pasti.


Frankenstein bukanlah penguasa yang gila harta. V mengenal betul siapa Frankenstein. Bersama dengan Aldrich Èclair, Frankenstein mendonasikan sebagian hartanya untuk mendirikan rumah sakit bagi mereka yang menjadi korban peperangan di negara T. Mereka juga mendirikan sekolah rakyat untuk negara T, agar pemuda dan pemudinya tidak buta akan ilmu pengetahuan. Frankenstein mengirimkan bantuannya bagi kota Khatulistiwa di negara Z yang saat itu dilanda kemarau panjang. Kedermawanan Frankenstein tidak berhenti sampai situ saja, ia mendirikan yayasan untuk memberikan bantuan pendidikan bagi siapa saja yang membutuhkan dana untuk melanjutkan studinya. Yayasannya sudah berdiri di seluruh benua. Apa yang dilakukannya bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk orang lain. Lucu jika ada orang yang menghakimi Frankenstein sebagai orang bodoh penggila harta.


"Jangan pernah menghina orang lain, padahal kau sendiri tidak tahu siapa ia sebenarnya." gertak V dengan emosi tertahannya. İngin sekali ia mencabik-cabik wanita disebelahnya karena berani menghina orang terdekatnya.


"Aku meyakinkanmu karena aku mengenal orang yang dihina hanya karena ia tak memiliki keluarga, dihina karena ia orang tak punya, namun kecerdasannya membawanya pada cita-citanya yang dulu ditertawakan oleh banyak orang. Apa kau tahu berapa banyak orang yang membencinya? Berkali-kali ia ditendang dari sekolah ternama hanya karena ia bukan dari keluarga bangsawan. Tak ada yang bisa melindunginya untuk bertahan di sekolah bangsawan. Padahal setengah dari darahnya adalah darah keluarga bangsawan.


"Tapi karena ketidak murniannya membuat ia tak diakui oleh keluarga manapun. Sekalipun ia tak pernah merengek agar namanya dicantumkan dalam silsilah keluarga bangsawan. İa tak mempedulikan dicemooh, dicaci dan dimaki, karena ia sadar apa yang mereka katakan memang benar adanya. Tapi apa ia menyerah? Merutuki takdirnya yang begitu sial? Sekalipun ia tak membenci jalan hidupnya. Justru setiap hinaan mereka membuatnya semakin gigih untuk meraih mimpinya. Apa kau tahu apa mimpinya?" tanya V yang mendapat gelengan kepala dari Melodi.


"Mimpinya hanya sederhana, ia hanya ingin membuat nama keluarga diakhir namanya. Nama keluarga yang nantinya akan diakui oleh seluruh keluarga bangsawan lainnya. Cita-citanya ternyata bukan untuk dirinya, tetapi untuk anak cucunya agar mereka tidak dihina sebagaimana dirinya dihina sejak ia lahir hingga tumbuh dewasa. İa menyadari bahwa kehormatan lebih dari apapun, oleh karena itu ia harus bisa memberikan kehormatan untuk dirinya dan juga keturunannya." cerita V panjang kali lebar sama dengan luas persegi panjang. Suaranya yang bergetar penuh dengan hasrat membuat Melodi bergidik. İa yang sejak tadi menatap wajah V merasakan aura mematikan keluar dari tubuhnya sepanjang ia bercerita.


Selalu ada kesedihan setiap kali ia mengingat-ingat kisah hidup Papahnya. Laki-laki hebat yang selalu ia kagumi dan ia puji wibawanya. Aldrich Èclair adalah sosok nyata dari cerita pahlawan yang sering ia tonton di layar kaca. Namun super hero hebat dan kuat dalam layar kaca itu, berbeda dengan super hero dalam ceritanya kali ini. Super hero dalam kisah ini memiliki kepribadian ganda, terkadang ia menjadi super hero bersayap malaikat dan terkadang ia menjadi tiran bertopeng iblis. İa seperti seorang pemain yang memiliki dua avatar yang berbeda dalam satu game virtual. Terlepas dari keduanya, bagi V , Aldrich Èclair adalah salah satu panutannya.


"Ma-maaf, kalau aku boleh tahu siapa orang yang kau ceritakan?" tanyanya takut-takut. İa kini benar-benar takut dengan aura yang keluar dari tubuh V. Aura yang keluar dari tubuh V lebih menakutkan dari pada kalimat intimidasi yang pernah ia dengar sepanjang ingatannya.


"Dia Papahku, Aldrich Lloyd Èclair. Aku memberitahumu nama lengkapnya, jarang ada yang tahu nama lengkap kami." balas V.


"Ka-kau juga anak konglomerat yang sedang naik daun? Ta-tapi bagaimana bisa? Bukankah Keluarga Èclair hanya mempunyai satu anak perempuan? Kenapa jadi ada dua?" tanyanya tak percaya. Pertanyaannya juga membuat V tak mengerti. Tiba-tiba kepala V menjadi sedikit sakit setelah mendengar lelucon tadi. Detak jantung V berpacu dengan kencangnya, membuat keringat dingin keluar dari tubuhnya. Tubuh V bergetar begitu hebatnya.


'Apakah dia adalah V yang asli? Apakah ini alasan Papah mengirimku ke sini? Untuk berkenalan dengan putri kandungnya? Apakah aku akan dibuang dari keluarga Èclair? Apakah aku akan kehilangan semua yang telah aku miliki saat ini? Apakah aku akan kembali dibuang ke jalanan? Ya Tuhan! Aku tak sanggup membayangkannya.' V kembali menangis dalam heningnya. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi menghantam kepala V dengan dahsyatnya. Bayangan akan dirinya yang kembali ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya berputar-putar dalam kepalanya.


V terkulai lemas. Menjatuhkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja. Keringat dingin membuatnya semakin menggigil ketakutan.


.


.


.


.


.


✌✌✌✌✌✌✌✌✌


Kalo sosok Radent Daffa Anantha-nya itu kaya dia,



Lo pada bisa mengkhayal dengan baik dan benar kan?


.


.


"Terima kasih untuk kalian yang udah ikutin jalan cerita V dari awal sampai episode kali ini. Kalo kalian suka sama cerita gw jangan lupa klik tombol suka di akhir panel. Tapi kalo kalian gak suka sama cerita gw, silahkan tulis kritik dan saran untuk gw di kolom komentar. Agar kedepannya gw bisa mengembangkan cerita gw menjadi lebih baik lagi.


Selamat Ulang Tahun untuk kalian di bulan September dan awal Agustus. Semoga apa yang selama ini menjadi mimpi kalian diridhoi oleh sang pencipta. Semoga dengan bertambahnya umur kalian menjadikan kalian sebagai pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya. Panjang umur dan selalu diberikan kesehatan oleh sang Maha Kuasa agar kalian bisa beraktifitas seperti biasanya".


Salam hangat dari lelaki tertampan bagi Mami dan Papi gw,


-Leonil Aslan 🦁