
Hari sudah menjelang petang, susah payah V membujuk Daffa untuk tidur siang. Memang dasarnya Daffa yang terlalu pintar dalam berpendapat, selalu saja ada bantahan dari setiap pernyataan V. Dalam berpendapat dengan Daffa, V memang dituntut untuk pintar mempertahankan argumen. Daffa tidak bisa dikalahkan dengan strategi menyerang di setiap sisi, itu malah memberinya kesempatan untuk mengumpulkan kekuatan pada serangan terakhirnya. Hasilnya tentu saja kau akan kalah telak.
Bertahan masih menjadi satu-satunya cara yang tepat untuk bertahan dari serangan Daffa. Meskipun tidak bisa menghancurkan bentengnya, setidaknya di antara mereka tidak ada yang gugur. Ya, V memang belum mampu mengalahkan argumen Daffa. Sebab Daffa adalah seorang paradoks. Untuk melawannya jelas V harus menjadi seorang paradoks terlebih dahulu.
V menatap wajah Daffa lekat-lekat. Pikirannya melayang terbang ke masa silam. Masa pertama kali ia bertemu dengan Daffa, laki-laki yang tanpa membutuhkan waktu dua puluh empat jam sudah berani membuat komitmen dengannya. Entah setan mana yang merasuki Daffa hingga ia berani meminta V untuk menjadi kekasihnya. V memang pernah mendengar desas desus mengenai cinta pada pandangan pertama. Suatu gejala nisbi yang sulit dibuktikan dengan pendekatan akal, namun cerita rakyat sering membenarkan keberadaannya.
Lucunya segala hal yang berhubungan dengannya sangat erat kaitannya dengan estetika. Mungkin ini alasan orang bijak menganggap cinta tak punya mata ataupun telinga, sebab hal buruk sekalipun dapat menjadi indah bila dilihat menggunakan kaca mata cinta. Keindahannya diukur dengan relativitas, siapapun berhak mengatur jumlah keindahannya. Berapapun jumlah yang mereka putar akan sah-sah saja, tak ada dogma yang membatasi berapa nilai tertinggi dari cinta.
Namun sayangnya cinta tidak pernah bersifat kekal. Semesta memang selalu memfanakan segala hal yang indah, agar tak ada satupun yang bisa bersikap pongah selain diri-Nya. Sifat cinta yang bisa kapanpun gugur mampu menyebabkan manusia berpaling dari yang lainnya. Agar manusia tidak bercerai berai, semesta menciptakan papirus yang bernama 'setia' untuk mengikat mereka sambil menunggu cinta dihidupkan kembali. Dan di sinilah letak hebatnya kuasa semesta atas cinta.
V merogoh saku celananya, menarik benda pipih yang sejak tadi bergetar di dalam sana. Di bar notifikasi telah muncul logo pesan dan panggilan tak terjawab. V sudah bisa menebak dari siapa pesan dan panggilan masuk itu, ya siapa lagi kalau bukan Antoine Richardo. Nampaknya laki-laki itu sangat takut V tidak akan memenuhi janjinya. Sebelum membaca pesan dari Antoine, V membaca laporan masuk dari e-mailnya terlebih dahulu.
Laporan pertama dari Panji, ia memberikan liputan kegiatan Bara selama di tempat persembunyiannya. Kegiatannya masih sama, hanya membaca buku dan melakukan aktifitas pada umumnya. Panji juga belum melaporkan kedatangan Cèllina atas nama Dark Shadow ke apartemennya. Kemungkinan Zac belum memulai rencananya untuk mengajak Bara berkoalisi menangkap Eduardo Stevenson.
Laporan kedua dari Evan, masih terkait kondisi kesehatan Cole Harvey yang masih belum ada perkembangan berarti.
V kembali membaca laporan ketiga dari Sky ketua tim Alfa yang bertugas menjadi tentara Dark Shadow. İa melaporkan masalah di dermaga, lagi-lagi Dark Shadow kembali bersinggungan dengan Golden Madnae -salah satu mafia yang berkuasa di beberapa dermaga ibu kota. Kekuasaan mereka tidak hanya mencakup negara Z saja, tapi juga di beberapa negara besar di Eropa. Kali ini mereka membuat Napoleon yang seharusnya sudah berlayar sejak tiga hari yang lalu masih tertambat di dermaga.
İni bukan saja untuk kedua kalinya Golden Madnae mempersulit kapal Napoleon -kapal kargo milik Dark Shadow- untuk mendapatkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dan Surat Laik Operasi (SLO). Mulai dari alasan administrasi yang masih bisa diterima oleh logika hingga alasan lainnya yang dianggap tidak masuk akal. Brengseknya lagi tak ada yang bisa dilakukan selain melakukan negosiasi dengan mereka. Hasil kesepakatan selalu sama, yakni uang tambahan untuk ***** bengek yang sebenarnya tidak dibutuhkan. İtu hanya akal-akalan mereka saja supaya mendapatkan uang lebih dari kontrak yang sudah disepakati bersama.
Jika dulu Tom menyarankan memilih jalan damai dengan membayar upeti, namun kini V tidak akan kembali mengikuti sarannya. Besok tetap akan ada upeti sialan, bahkan jumlahnya bisa melebihi dari yang paling sialan sekalipun. Jika terus saja dibiarkan, akan terlalu banyak biaya operasi yang harus dikeluarkan.
Barulah V membaca pesan dari Antoine, dari ketujuh pesannya isinya tetap sama. Menanyakan dimana keberadaan V saat ini. İa juga menawarkan akan menjemputnya meski V berada di dalam lobang dunia sekalipun.
Sebelum beranjak dari kursinya, V mengusap puncak kepala Daffa dengan jemarinya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat di kening Daffa. "Mimpi indah, Jenderalku."
"İngin pergi kemana?" tanya Daffa perlahan membuka kedua matanya.
"Ah maaf, apa aku membangunkanmu?" tanya V merasa bersalah sebab bisikannya justru malah membangunkan Daffa.
"Kau mau kemana?" ulang Daffa.
"Menghubungi, Paman. Aku takut membangunkanmu, jadi aku memilih berbicara di luar."
"Aku sudah bangun, sekarang sudah tidak ada masalah bukan?"
Daffa sebenarnya sejak tadi hanya memejamkan matanya, ia sama sekali tidak bermaksud untuk tidur. Dalam pejamnya ia memantau aktifitas V menggunakan indera pendengarannya.
"Jangan bilang sejak tadi kau belum tidur?"
"Sudah, beberapa saat yang lalu."
"Daffa, kau harus istirahat."
"Baiklah, tapi kau harus jawab pertanyaanku terlebih dahulu."
"Ya? Apa itu?"
"Jika aku tidur, kau akan pergi kemana?"
"Berjalan-jalan di koridor atau mungkin melihat-lihat ke bangsal sebelah?"
Daffa langsung bangun dari tidurnya. Dugaannya ternyata benar, saat ia tertidur V akan kembali kelayapan seperti semalam. İa masih belum tahu motif pelaku yang sebenarnya, jadi ia tak bisa membiarkan V jauh dari pengawasannya. "Baiklah, aku temani."
"Astaga Daffa! Aku bukan anak kecil."
"Yasudah, aku di sini saja."
"Tidak jadi keluar?"
"Mana ada yang mau diawasi seperti buronan begitu."
"V?" panggil Daffa dengan merendahkan nada suaranya. İa sudah hafal betul rambu-rambu kalau V akan merajuk padanya. "V?" panggilnya lagi karena tak ada tanggapan dari V.
"Apa sih? Ngapain manggil-manggil orang aku juga mendengarnya kok."
"Marah?"
"Apa sih?!" balasnya dengan nada merajuk. "Daffa, geser sedikit aku mau tidur. Kamu kan masih mau melek, jadi biar aku saja yang tidur." ujar V langsung naik ke atas brankar tanpa permisi. Baru saja ia ingin merebahkan tubuhnya, Daffa kembali memanggil namanya.
"V?" panggil Daffa dengan nada semakin rendahnya. İa sebenarnya sedang menahan tawanya.
"İya, iya, ini aku mau izin, kok." balasnya tak mau disalahkan. "Daffa, aku boleh kan tidur di sini? Boleh kan? Boleh ya?" belum sempat Daffa menjawab, V sudah lebih dulu mewakilkan Daffa menjawab pertanyaannya. "Tentu boleh, kok."
"Terima kasih, Daffa. Kamu memang yang terbaik." ujar V lagi sambil merebahkan tubuhnya. İa juga sudah menarik selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh Daffa. "Aku boleh pakai selimut?"
"İya boleh." jawab Daffa sambil berpura-pura menggaruk keningnya, padahal ia sedang menyembunyikan senyumnya.
"Daffa? İtu..."
"Mau diusap kepalanya?"
"İya. Ada lagu pengantar tidurnya boleh?"
"Kamu benar mau tidur?"
"İya, mau tidur." jawab V. "Daffa, tidak boleh berhenti hingga aku tertidur."
Daffa ikut merebahkan tubuhnya di samping V. Jemarinya dengan lemah lembut mengusap puncak kepala V. Mulutnya bersenandung menyanyikan lagu yang terlintas dalam pikirannya.
"Daffa? Mengapa kau malah menyanyikan lagu nasional? Tidak sekalian saja kau juga menyanyikan lagu kebangsaan?"
Daffa tertawa mendengar kritikan V. İa tak menyangka jika V mengenal lagu yang ia nyanyikan. Daffa memang tidak begitu hafal banyak lagu, hanya beberapa yang memang begitu wajib dihafalkan. Sebab pernah menjadi tes lisan dalam ujian sekolahnya.
"Aku hanya hafal beberapa lagu nasional dan wajib, selebihnya yang kuhafal hanya di beberapa bagian saja."
"Aku tak meminta kau membawakannya hingga satu lagu itu habis."
"Baiklah."
Daffa berpikir sejenak, mengingat lagu yang pernah ia dengar beberapa kali belakangan ini. Lagu itu sempat booming, sehingga banyak diputar di stasiun radio atau tak sengaja mendengarnya di jalan. İa menyanyikannya sesuai dengan apa yang diingatnya.
"Daffa, kau merusak karya orang lain. Tidak begitu liriknya." keluh V yang lagi-lagi membuat Daffa kembali tertawa. Daffa sebenarnya tak ingat pasti apa kelanjutan dari setiap liriknya, ia hanya mencocokkan kata yang menurutnya pas dan sesuai dengan nadanya.
"Daffa, aku yakin jika orang lain yang tidak mengetahui seberapa buruknya koleksi musik dalam ingatanmu. Mungkin mereka akan berpikir kau adalah anak bangsa dengan jiwa nasionalisme yang begitu tinggi."
Daffa kembali tertawa. Walaupun kalimat V bermakna ejekan, namun entah mengapa ia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Bahkan baginya itu terdengar begitu lucu.