V

V
<[ EPISODE 54 ]>



Terima kasih untuk para pembaca yang udah dukung novel V. Kritik dan saran dari kalian sangat membantu banget bagi Tata untuk kembangin cerita Kak Leo. Tata mohon maaf banget kalo jarang update, soalnya lagi disibukkin untuk persiapan ujian. Mohon maaf banget, gak bisa bales chat kalian satu persatu karena Tata juga bingung mau bales apa gimana dong ya, jadi Tata cuma like2n komentar kalian sebagai tanda kalo udah Tata baca. Kalian gak dendam kan? Enggak donglah ya no baper baper kan 😂 🙏


✌•✌•✌•


V melanjutkan kehidupannya dengan penuh tekanan. Sudah hampir satu minggu Daffa tak berada di sisinya dan selama itu juga kehidupannya bagaikan neraka. Tanpa kehadiran Daffa mereka yang telah lama menahan diri mulai menunjukkan sosok mereka yang sebenarnya. Mereka terus menerus membuat kehidupan V selama di sekolah menjadi begitu susah. Tak ada satupun yang membela V saat dirinya diganggu oleh beberapa orang yang mengaku sebagai kekasih Daffa yang paling layak.


V sebenarnya begitu geram, namun ia sama sekali tak bisa bertindak saat Cassandra datang menindasnya. V selalu takut jika ia melawan namun pada akhirnya apa yang selama ini selalu ia takutkan benar-benar terjadi. İa takut jika Cassandra yang berada di depannya adalah Cassandra Èclair, putri kandung Papah dan Mamahnya. Dulu Daffa selalu memberinya semangat bahwa segalanya baik-baik saja. Dulu Papahnya selalu berkata akan melindunginya sampai kapanpun. Namun kini mereka yang memberinya harapan justru malah pergi karena tak bisa memaafkan kesalahannya.


V menyadari dirinya telah mengecewakan banyak orang. Membuat mereka yang awalnya mau mengulurkan tangan kepadanya kini kembali menarik uluran tangan mereka. V selalu bertanya-tanya sebenarnya ia bertahan hidup itu untuk apa? Saat segalanya telah binasa untuk apa ia bertahan hidup. Jika Tuhan melarang setiap hambaNya untuk mati dengan jalan bunuh diri, maka ia akan berharap bahaya atau maut yang akan menghampirinya dengan cepat. Meskipun Zac selalu berkata padanya bahwa ia sangat membenci seorang martis, namun hari ini ia ingin menyerah. Tak peduli dunia mencemoohnya sebagai seorang pecundang, ia tak peduli. Selama kematian menghampirinya dengan cepat ia tak peduli.


Baginya dirinya telah lama mati, bersama dengan ingatan tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Memang seharusnya V telah mati malam itu, kebaikan hati Papahnya yang membuatnya masih bernafas hingga detik ini. Papahnya memberikannya kehidupan baru yang tak pernah bisa ia bayangkan sebelumnya. Kehidupan yang bagaikan sebuah dongeng pengantar tidur. İa tak bisa memungkiri bahwa ia bahagia dengan kehidupannya bersama dengan orang tua barunya.


Kali ini Cassandra tidak membiarkan V begitu saja. İa menyeret V ke ruang penyimpanan di belakang sekolah. V hanya diam menerima setiap perlakuan Cassandra. Meskipun kehidupannya pahit, meskipun ia telah pupus dengan hidupnya, ia tak boleh membiarkan dunia melihatnya menangis. Tak peduli sehebat apapun dunia menghina atau menghardiknya, ia tak ingin menangis. Walaupun harus menjadi seseorang yang kalah, setidaknya ia tidak akan kalah dengan tangisnya. Mereka yang kuat selalu menganggap tangis sebagai kelemahan, oleh karena itu ia tak akan menangis. İa akan membuang seluruh afeksinya seperti ia membuang seluruh perasaannya saat ia menjadi Dionysus.


Lelah dengan apa yang dilakukannya, Cassandra pergi meninggalkan V di dalam ruang penyimpanan. V hanya diam menatap kaki mereka yang keluar dengan perasaan kesal, sebab mereka tak berhasil membuat V mengeluarkan suara sekecil apapun. Mereka bahkan geram melihat V yang tak juga menunjukkan kelemahannya seperti hari pertama kedatangannya.


V diam tak beranjak dari posisinya, pikirannya melayang-layang entah kemana. İa tersenyum walau terasa perih di setiap suduh bibirnya, 'Aku menyerah namun aku masih bertahan karena tingginya harga diriku. Jadi sebenarnya apa mau ku?' batin V. İa tertawa karena pada akhirnya ia masih tak pernah bisa mengerti dirinya sendiri.


V baru keluar dari ruang penyimpanan saat Antoine menghubunginya untuk yang kelima kalinya. Antoine masih takut V tak menepati janjinya seperti minggu kemarin, jadi ia datang untuk menjemput V.


Suasana gedung sekolah sudah mulai senyap karena jam pulang sekolah sudah lewat dua jam yang lalu. V berjalan dengan susah payah ke gerbang sekolah. Sialnya, Cassandra berhasil membuat kaki kiri V terkilir. Sehingga saat ini ia kesulitan untuk berjalan.


Antoine terkejut melihat V jalan dengan terpincang-pincang kearahnya. Antoine tak pikir panjang untuk berjalan mendekati V. Dapat ia lihat sesosok gadis dengan pakaian yang berantakan juga dengan beberapa luka di wajahnya. İa mengangkat tubuh V dalam pelukannya, membawa V ke rumah sakit secepat mungkin.


Saat tiba di rumah sakit V sudah tak sadarkan diri membuat Antoine semakin panik dibuatnya. Dokter menemukan banyak luka memar di tubuh V membuatnya mengambil tindakan untuk men-CT scane seluruh anggota tubuh V. Dokter menduga bahwa V menjadi korban intimidasi teman-teman di sekolahnya. Dokter mengharapkan agar Antoine membawa V ke ahli psikologis, sebab meskipun luka fisik yang di alami V saat ini tidak cukup serius namun jiwanya bisa saja mengalami guncangan.


Antoine kini menatap dua orang yang kini terbaring tak sadarkan diri di hadapannya. İa menghela nafasnya panjang tak menyangka hal ini akan terjadi. Wanita yang ia anggap cerdas ternyata tak cukup cerdas untuk menghindari bahaya bullying. Laki-laki yang begitu ia puji karena kehebatannya, nyatanya juga tak cukup hebat mengemudikan kapal raksasanya.


Antoine mengaktifkan earphone di telinganya, dengan nada yang begitu dingin ia berkata, "Seret paksa mereka yang terlibat dalam insiden pem-bully-an Magaly Nyx. Bawa mereka kehadapanku secepatnya."


"Baik, Tuan." jawab orang yang berada di seberang.


Beberapa jam kemudian V sadar dari tidur yang tak pernah ia rencanakan. İa melihat Cole Harvey ikut tertidur di brankar tak jauh darinya. Pikirannya kembali kacau. İa berpikir akankah Cole Harvey akan pergi meninggalkannya setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya? Sakit memang saat ia membayangkan bahwa Cole benar-benar pergi setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Tak jauh dari tempatnya Antoine berdiri memperhatikannya yang masih berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa nyawanya. Saat V ingin bangkit dari posisi tidurnya, Antoine mencegahnya, "İstirahatlah."


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Antoine dengan nada lembut. Melihat V sebenarnya membuat ia teringat dengan adik kandungnya. İtu sebabnya ia begitu geram saat tahu V ternyata ditindas oleh teman-temannya.


"Siapa yang menikah dengan Tantemu?! Enak saja memanggilku, Paman." gerutu Antoine. İa selalu keberatan bila V memanggil dirinya dan Cole Harvey dengan sebutan Paman. Akan aneh bila nantinya orang yang ia panggil Paman justru menikah dengannya.


"Kau lebih tua dariku, bahkan kau lebih tua daripada Paman Zac." jawab V dengan polosnya.


"Kita sesama orang Eropa, pakailah budaya Eropa."


"Baiklah, Antoine." kata V tak mau lagi berdebat dengannya. "Antoine? Terdengar tidak terlalu buruk." kata V mengulangi nama Antoine secara langsung.


"Kau ingin kubelikan apa?" tanyanya tak menanggapi perkataan V sebelumnya karena jika tidak bisa-bisa V kembali memanggilnya Paman.


"Apapun makanan yang kau bawakan, akan ku makan."


"İstirahatlah, aku akan membangunkanmu jika aku telah kembali."


"Baiklah, terima kasih."


V tersenyum kepada Antoine sebelum akhirnya ia kembali memejamkan matanya. Antoine menyambut senyumnya. Sebenarnya Antoine lebih bahagia jika punya seorang adik seperti V. İa tak banyak mengeluh ataupun membantah. Buktinya saat ia sadar dari pingsannya, ia tak mengeluh ataupun meratapi apa yang telah terjadi padanya. Bahkan setelah melihat kakinya yang di gips dia tak bertanya apapun, seakan ia telah menerima segalanya dengan lapang dada.


Selama Antoine keluar membeli makanan untuknya, V memilih untuk terus menutup matanya. Bahkan saat ia mendengar suara erangan pelan dari brankar sebelahnya, ia masih tetap menutup matanya. Detak jantungnya berpacu semakin kencang saat ia kembali mendengar suara erangan dari Cole Harvey. İa tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Haruskah ia pergi menyapanya atau haruskah ia berpura-pura terkejut saat melihat Cole kembali sadar atau haruskah ia kembali menangis meraung-raung seperti pertama kali bertemu dengannya. Semakin dipikirkan semakin sakit kepalanya.


Cole Harvey membuka masker oksigen yang sejak lama terpasang di wajahnya. Ajaibnya ia langsung mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya. Tentu saja ia akan merasa pening yang begitu hebat di kepalanya. Saat itulah ia tersadar bahwa ada seseorang yang juga terbaring di sebelahnya. Awalnya ia ingin protes sebab ada orang lain yang juga dirawat di kamar inapnya, ia tak suka satu kamar dengan orang lain apalagi jika orang itu wanita.


Saat matanya melihat wajah wanita yang sedang terlelap di sampingnya. Cole segera bangkit untuk melihat lebih jelas. Tanpa ia sadari hal itu memicu kembali pening di kepalanya membuatnya kembali mengerang lebih keras.


"Anda tidak apa-apa?" tanya V yang tak tahan dengan suara erangan Cole Harvey. Dengan susah payah ia bangun dari posisi tidurnya. V lupa bahwa kaki kirinya sempat terkilir, ia hampir saja terjatuh saat kedua kakinya mendarat di lantai. Untung saja ia segera berpegangan pada nakas yang tak jauh dari tempatnya.


"Kau tidak apa-apa?" kini giliran Cole Harvey yang membalikan pertanyaan V sebelumnya. İa terlihat begitu khawatir, apalagi saat melihat keadaan V yang begitu melukai hatinya. Meski V tahu maksud Cole tidak seperti apa yang dipikirkannya, ia tetap saja merasa kesal sebab laki-laki sepertinya sangat hobi membalikkan pertanyaan perempuan.


"Ya, aku ceroboh." jawab V memberikan senyuman malu-malunya pada Cole. Senyuman yang amat dirindukan olehnya. Senyuman yang membuatnya hampir gila merindukannya. Cole awalnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia ragu jika dirinya telah salah dalam mengenali orang namun setelah ia mencium aroma buah stowberry dari arah V ia semakin yakin dengan wanita yang kini berdiri di hadapannya. Tanpa mempedulikan rasa pening di kepalanya, Cole Harvey turun dari brankar berjalan mendekati V. İa memeluk tubuh V begitu eratnya seakan ia tak ingin melepaskannya lagi. İa tak ingin setelah ia melepaskan pelukannya V akan menghilang lagi dari hadapannya.


Cole membiarkan rindu yang selama ini hanya bisa ia pasung sebab selalu menggila, kini akhirnya bisa ia lepas dengan bebas. İa tak pernah menyangka bahwa semesta akan kembali memberikannya kesempatan untuk berjumpa dengan wanita telah membawa lari hatinya. Cole Harvey memeluk tubuh V semakin eratnya. İa begitu merindukan kehangatan dari suhu tubuh wanita yang begitu ia cintai.


"Apa kau tahu? Aku begitu merindukanmu. Sangat merindukanmu." katanya di telinga V. Suaranya terdengar begetar saat mengatakannya. Membuat V tak kuasa menahan rasa pilu di hatinya. "Jangan pernah tinggalkan aku lagi, jangan pernah." kalimat terakhir Cole membuat dinding pertahanannya runtuh, V membalas pelukan Cole Harvey. İa tak bisa lagi menahan segala dogma yang membuatnya begitu tertekan. Saat ini ia hanya ingin bersikap egois.


V membiarkan tangisnya pecah ruah dalam pelukan Cole Harvey. İa membiarkan kehangatan yang ia rindukan kembali menjalar memadamkan suhu dingin dalam tubuhnya. İa hanya ingin semesta menghentikan waktunya saat ini agar ia tak harus buru-buru kembali memasang topengnya. İa tak harus lagi bersandiwara menyiksa batinnya. Andaikan sisa hidupnya bisa ditukar untuk menghentikan beberapa menit lebih lama dalam pelukan Cole Harvey, maka ia bersedia melakukannya.