V

V
<[ EPISODE 4 ]>



Zac tidak pandang bulu dalam melatih para prajuritnnya. Ia melakukan pekerjaannya secara profesional. Fakta penting yang diabaikan oleh Zac, V bukanlah seorang laki-laki dewasa. Daya tahan tubuhnya lebih rentan dibandingkan dengan daya tahan tubuh para prajuritnya yang lain.



Hari-hari berikutnya datang secepat gulungan ombak menyapu pesisir pantai. Membuat noda hitam sebagai tanda bahwa, setiap tindakan akan selalu membekas di hari-hari kemarin. Bagi lembar yang baru di mulai, tubuh memerlukan adaptasi, membiasakan diri pada rutinitas baru, sulit memang, memang sulit. V merasakan kesulitan pada kebiasaan barunya, ia belum pernah bangun sepagi itu, harinya di mulai saat matahari sudah berada di atas kepala. Entah setan apa yang merasukinya hingga ia menerima undangan Zac.



Mimpinya terlalu panjang, membuatnya bangun lebih siang. Kebiasaan V yang selalu terlambat menjadikan Zac memiliki alasan yang pantas untuk terus menambah daya kekuatannya melalui hukuman. Mulai dari berlari dari halaman belakang menuju halaman depan, keesokannya ditambah dengan mengangkat sebuah beban di pundaknya, dan semakin hari semakin bertambah kesulitannya. Sampai V merasa Zac memiliki penyakit anaklisis sadisme, sebuah penyakit yang membuat Zac sangat bahagia melihatnya menderita dengan hukuman-hukuman yang tidak pernah ada habisnya. Dan anehnya hanya dirinya yang dengan tabah menerima hukuman tambahan.



Pelatihan fisik yang berat bagi anak seusianya tidak membuat V langsung terkapar di atas tanah. Sistem kerja tubuhnya sangat dapat diandalkan, karena mampu mengelola energi fisiknya dengan baik. Kaki-kakinya perlahan menjadi terbiasa, rasa letih yang sering menusuk-nusuk itu tidak mempengaruhi V sama sekali. Ia tidak lagi merasakan getaran-getaran di anggota tubuhnya akibat lelah. Mungkin ia telah mati rasa, pikirnya.



Menilik V mampu melalui pelatihan fisiknya, Zac mulai melatih kecepatan gaya refleks yang dimiliki oleh V. Ia menyuruh V memukul setiap bola tenis yang menukik kearahnya dengan kepalan tinju. Zac tidak segan-segan melempar bola itu dengan seluruh kekuatannya. Bola berdatangan bagaikan hujan peluru, V tidak bisa mengimbangi kecepatannya. Hal ini membuat mulut Zac tak henti-hentinya memaki.



Hari-hari berikutnya Zac masih tetap saja meletup-letup bagai pop corn. V mulai mengutuk dirinya yang bodoh hingga menjadi objek amarah Zac. Ia tidak bisa mengabaikan setiap makian Zac. Zac memakinya untuk tetap fokus, dan cara itu mampu membuat V mengimbanginya.



Pelatihan berikutnya V harus memukul bola dengan tendangannya. Hatinya memang senang karena masuk ke tahap selanjutnya, meski begitu ia tidak dapat memungkiri fakta bahwa menendang bola tenis dengan kaki tidak semudah memukulnya dengan tangan. Ingin rasanya V menendang bola-bola itu ke arah mulut Zac agar ia bungkam sebentar saja, atau untuk selamanya juga tidak buruk. Karena amarah itu, ia selalu berharap agar tendangannya mengenai wajah Zac dan itu tidak sia-sia.



Ketika hari pelatihan bertarungnya tiba. Rasa sakit mengucapkan selamat datang kepadanya. Ia terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Aldrich Éclair yang melihat sekujur tubuh V penuh dengan memar, memaki Zac dengan sumpah serapahnya. Segala macam jenis hewan-hewanan berkumpul menjadi satu dalam kalimatnya. Mulutnya telah berubah menjadi kebun binatang dan margasatwa secara mendadak. Zac hanya diam mendengarkan, meskipun hatinya menggerutu mendengar nyanyian Masternya yang membuat kantuk datang menyergap.



Aldrich Éclair menentang keras pelatihan sembunyi-sembunyi mereka. Orang tua waras mana yang membiarkan anaknya yang masih belia melakukan pelatihan fisik mematikan seperti itu. Meskipun Aldrich Éclair dikenal bengis oleh dunia bawah tanah, tapi dia juga tidak sekejam dewa Kronos yang memakan anaknya sendiri.



"Kau gila Zac! Dia bahkan baru menginjak tujuh tahun!" bantah Aldrich Éclair meskipun ia tidak tahu pasti berapa umur V yang sebenarnya.



"Master, meskipun Nona Muda masih terlalu dini tapi ia harus tetap belajar bagaimana caranya bertarung! Ia harus bisa melindungi dirinya sendiri." jelas Zac terbawa emosi.



"Lalu untuk apa aku membayar kalian?!" tanyanya dengan nada retoris.



"Master, ia tidak bisa terus menerus mengandalkan perlindungan dari para pengawal. Mengingat perseteruan anda yang semakin memanas. Master, musuh Anda tidak hanya dari bisnis legal saja, tapi juga datang dari dunia bawah tanah! Mungkin sekarang Nona Muda berhasil diselamatkan, tapi nanti-nantinya? Apakah Master bisa menjamin keselamatannya?" tanya Zac mulai tidak sabar. Perdebatan mereka saling menyulutkan amarah satu sama lain.



Menjadi anggota keluarga Éclair memang tidak seindah yang dibayangkan orang-orang. Keberhasilan-keberhasilan yang diraih Aldrich Éclair menyalakan percikan api cemburu banyak kalangan. Ada harga yang terlalu mahal yang harus ia bayar demi kedudukannya saat ini, kehilangan putri semata wayangnya.



"Memangnya kau bisa menjamin ia tetap selamat sampai masa tua menggerogoti umurnya?" tanya Aldrich Éclair menantang Zac.



"Kau pikir aku Tuhan!" Zac mendengus sebal.



"Kau bedebah sialan, baru sadar bahwa kau bukan Tuhan, hah! Apa kau sadar resiko yang kau lakukan bisa merenggut nyawanya!" ujar Aldrich Éclair dengan sangat geram. Ia melayangkan dua pukulan ke arah wajah dan perut Zac.




Ia malas menunggu respon dari Aldrich Éclair, "Kita harus menyiapkan rencana, walaupun itu hal terburuk sekalipun!" tambahnya semakin tidak sabar. Untuk pertama kalinya ia merasa Masternya memiliki pemikiran terlalu naif dan lambat.



"Aku paham Zac. Tapi bisakah kau menunggunya hingga ia berusia sepuluh tahun?" tanya Aldrich Éclair menimbang-nimbang. Ia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan.



"Aku akan menunggunya jika Master dapat menjamin peluru-peluru musuh tidak akan menembus kepalanya sampai ia berusia sepuluh tahun!" tantang Zac sarkastis. Ia sadar nadanya mulai meninggi padahal jelas lawan bicarannya adalah tuannya, orang yang ia hormati dan segani.



"Astaga Zac! Kau bahkan lebih keras kepala daripada aku. Padahal jelas-jelas dia adalah putriku!" tukas Aldrich Éclair tidak habis pikir, ada nada tidak suka di dalam kalimatnya.



"Dia anakmu dan dia muridku! Meskipun ia nantinya harus mati di tangan musuh, tapi aku tidak akan mendidik muridku menjadi martis! Dia harus mati dengan cara terhormat!" begitu banyak penekanan di setiap katanya.



"Astaga Zac! Kau masih saja... " Aldrich Éclair melayangkan pukulan ke wajah Zac.



"Master, kau mengenalku lebih baik dari siapapun. Kau dan aku adalah orang yang tidak akan pernah mengalah. Agar perdebatan ini mendapat titik terang, biarkan Nona Muda yang memilih jalan hidupnya." usul Zac.



Aldrich Éclair menghajar wajah Zac begitu keras, "Brengsek kau Zac! Kau berani melakukan perundingan dengan ku karena kau tahu dengan pasti hasilnya bukan? Heh?" tanya Aldrich Éclair mendengus. Ia terlalu kesal untuk mendengar jawaban Zac, jadi ia memutuskan untuk meninggalkan Zac. Tentu saja Zac terkekeh mendengar kalimat terakhir tuannya.



Aldrich Éclair memilih mengalah, karena ia tahu V begitu menginginkan pelatihan ini. Terbukti hingga pelatihan terakhir yang V jalani, ia membiarkan dirinya menerima pelatihan fisik mematikan itu tanpa mengeluh. Bahkan tidak ada bantahan setiap kali Zac menyuruhnya melakukan hal-hal yang dapat membuat tubuhnya terluka.



Zac sudah berada di tepi tempat tidur V. Pikiran Zac kembali mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Ia membenarkan perkataan Aldrich Éclair, bahwa pelatihan yang ia berikan kepada V cukup membahayakan nyawanya. Zac menatapnya dengan pandangan takjub karena V masih tetap hidup dan bernafas.



"Biar ku tebak, Papah murka kepada Paman dan luka di sudut bibirmu adalah ulah Papah? Benar?" tebak V sambil terkekeh.



Tidak ada orang waras di rumah ini yang berani menghajar Zac, kecuali Aldrich Éclair. Bukan karena status Zac yang sebagai kapten keamanan rumah utama keluarga Éclair, melainkan karena status Zac yang dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin yang telah mencapai level Master Bintang Emas, tentu saja itu membuat siapapun enggan berurusan dengannya.



Menaklukkan seorang Zac bukanlah perkara yang mudah. Bahkan Eduardo Stevenson, pemimpin organisasi Noir -sindikat pembunuh bayaran yang melibatkan komplotan mafia kelas kakap- angkat tangan dengan perilaku Zac yang sulit diatur dan mudah meledak-ledak. Bakat Zac yang melampaui seluruh anggota organisasi, membuat Eduardo Stevenson sangat berhati-hati dalam menghadapinya. Perseteruan antara Zac dengan Eduardo Stevenson bukan menjadi rahasia lagi. Eduardo Stevenson merasa Zac dapat mengancam posisinya, ditambah lagi dengan banyak badan eksekutif dan anggota organisasi yang lebih royal terhadap Zac dibanding dirinya. Hingga ia menyusun siasat memfitnah Zac melakukan pengkhianatan terhadap organisasi, membocorkan keberadaan brankas keuangan organisasi kepada badan intelijen negara. Eduardo Stevenson mengutus algojo untuk membunuh Zac.



Andara seorang informan yang mengetahui dengan pasti apa yang terjadi, memperingatkan Zac untuk pergi sejauh mungkin, tapi Zac menghiraukan peringatan Andara. Demi dendam membunuh Eduardo Stevenson, ia membumi hanguskan markas besar Noir dengan tangannya sendiri. Membakar hidup-hidup satu kompi pasukan elit. Meski tubuhnya babak belur, ia tidak berhasil menyentuh seujung kuku Eduardo Stevenson.



Zac menjadi buronan organisasi, hidupnya dipenuhi oleh aksi penyerbuan pasukan elit. Pada saat kritis itu Aldrich Éclair datang menawarkan bantuan kepadanya dengan upeti yang harus dibayar, yakni bersumpah setia seumur hidup dan menutup mulut setiap kali ia berada dalam masalah. Karena keadaanya yang begitu terdesak, Zac menerima tawaran Aldrich Éclair.



"Wah, tidak ku sangka kau pintar mengejek rupanya. Tidak sia-sia aku mengembang biakkan virus nyinyirku selama ini." ucap Zac dengan nada pongah. Kedua tangannya tersilang di atas dada.