
"Sayangku, apa kau tidak tahu alasan terbesar suatu hubungan hancur begitu saja dikarenakan hilangnya komunikasi yang baik antara individu yang satu dan yang lainnya?" tanya Daffa yang tentu saja sudah V ketahui sejak zaman baheula. Hanya saja entah untuk alasan apa V begitu menyukai sesi akademis dengan Daffa sebagai narasumbernya. V lebih cenderung mendengarkan Daffa yang terus membahas materi kuliah umumnya.
Hingga secara tiba-tiba Daffa menarik kedua pipi V dengan kencang, membuat V memekik karena kesakitan. "Bagus, kau sedang mempermainkanku." omelnya.
"Tidak Daffa, aku hanya suka saja mendengarkan kau membuka kajian teoritismu..." belum selesai V berkata, Daffa sudah semakin kencang menarik pipi V.
"Gadis nakal. Aku akan menghukummu karena telah berani mempermainkanku."
"Aaaahhhh Daffa, ini sakit sungguh. Pipiku rasanya seperti terbakar." ucap V mulai lirih bahkan rasanya V benar-benar ingin menangis. Melihat wajah V yang memelas membuat Daffa melepaskan cubitannya. Benar saja, pipi V merah karena cubitan Daffa. Daffa merasa tak enak hati karena telah menarik pipi kekasihnya. Ia sendiri juga tak menyangka bahwa cubitannya akan berdampak seperti ini. Daffa mengusap lembut kedua pipi V, menciumnya secara bergantian.
"Maafkan aku sayang, maaf." katanya menatap wajah V begitu lekat. Jarak antara wajah keduanya begitu dekat, sampai V dapat merasakan hembusan nafas milik Daffa.
"Aku sudah memaafkanmu." kata V tersenyum pada Daffa. Tiba-tiba V teringat sesuatu, "Daffa? Bisakah kau tidak berkata kasar saat berbicara kepadaku? Aku tak suka mendengarnya." pinta V yang memang jujur saja ia tak suka dengan umpatan Daffa sebelumnya. Cukup Paman Zac orang terdekatnya yang ia kenal sebagai si tukang mengumpat kelas kakap. Ia tak ingin menambahkan satu populasi lagi ke dalam ordo menjengkelkan itu.
Daffa membelai rambut V begitu lembut dan hati-hati, seakan V adalah porselen yang mudah pecah. Senyum menghias di wajahnya, "Ya. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku." ujar Daffa yang mendapat senyuman manis dari V. Daffa menatap lamat-lamat wajah kekasihnya. Bagi Daffa, kecantikan wajah V melukiskan keindahan para dewa-dewi.
"Untuk masalahmu, lebih baik kau coba hubungi Papahmu. Kau sangat penasaran bukan?" tanya Daffa sambil merapihkan beberapa helai rambut V yang tergerai lepas. Tangannya kembali membenarkan letak pita yang sempat miring beberapa saat lalu.
"Ti-tidak, aku tidak bisa melakukannya." balas V cemas. Ia begitu khawatir dengan apa yang akan dikatakan Papahnya. Ia begitu takut jika yang dikhawatirkannya menjadi kenyataan. Daffa mengerti apa yang tengah dirisaukan oleh gadisnya.
"Telepon Papahmu, minta waktunya sebentar untuk bicara di akhir pekan. Kurasa itu waktu yang cukup untuk mempersiapkan mentalmu." jelas Daffa yang malah membuat V sedikit tersindir. Namun ia tak berani protes, karena apa yang dikatakan Daffa memang benar adanya.
Sebenarnya tanpa harus menghubungi Papahnya secara langsung, V bisa saja mengumpulkan kebenaran dengan usahanya sendiri. Ia bisa meminta bantuan Evan untuk menyelidiki identitas Cassandra Èclair. Hanya saja ingatan akan peringatan Papahnya menyeruak mencegahnya bertindak demikian. Aldrich Èclair begitu membenci orang yang menyidiknya secara diam-diam, oleh karena itu ia lebih memilih V yang bertanya langsung padanya daripada mengamatinya secara diam-diam. Hal itu terbukti dengan kejadian delapan tahun yang lalu saat V begitu penasaran dengan apa yang dilakukan Aldrich Èclair bersama dengan Thomas Wycliff di lantai terbawah basemen.
V membuka kunci layar pada ponselnya. Beberapa detik ia hanya diam menatap ponselnya. Daffa memang geram melihat V yang tampak ragu-ragu, tapi ia tak bisa bertindak. Keberanian harus muncul sendiri dalam diri V. Mereka saling hening menatap layar ponsel V yang tak juga berpindah posisi. V sebenarnya bukan takut jika teleponnya bisa mengganggu Aldrich Èclair. Sebab Aldrich sendiri yang membebaskan ketiga anaknya untuk menghubungi dirinya. Namun meski mereka diberi kebebasan untuk menghubungi kedua orang tuanya, mereka masih tahu diri untuk tidak mengganggu pekerjaan keduanya.
Semakin banyak angka-angka masa yang di lewati, semakin V terlihat gugup. Ia begitu khawatir jika praduganya ternyata adalah kenyataan pahit yang harus ia terima. Keluarga barunya begitu berarti bagi V, hingga ia tak rela jika jalan cerita mereka bertemu pada kata 'TAMAT'. Meski ia tahu bahwa Papahnya sendiri yang berkata dan meyakinkannya bahwa V Èclair yang asli telah tiada. Bisa saja Papahnya keliru, bisa saja V Èclair yang asli tertukar saat di rumah sakit dengan anak lain yang juga seumuran dengannya. Kemungkinan-kemungkinan yang lainnya juga bisa saja berlaku.
Aldrich Èclair memang pernah bercerita kepada V mengenai putri kandungnya yang telah tewas sembilan tahun yang lalu. Namun Aldrich tidak menceritakan secara lengkap bahwa putri kandungnya wafat dengan seketika di hadapannya sendiri. Sehingga V tidak tahu kebenaran ini.
Karena tak ingin kembali menjadi pengecut yang takut akan segala hal padahal sebagian jiwanya adalah Dionysus. Tangannya menekan nomor ponsel Papahnya.
Daffa yang sejak tadi menunggu dengan geram, memasang wajah puasnya. Mereka menunggu sampai tulisan huruf itu berubah menjadi angka.
'Hallo Pah?' panggil V membuka percakapan saat teleponnya tersambung.
'Ya sayang, ada apa?'
'Apa aku mengganggu Papah saat ini?'
'Tidak masalah. Aku hanya sedang rapat dengan dewan direksi tidak terlalu penting.'
Kalimat Papahnya membuat V menepuk keningnya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan ketoleransian Papahnya terhadap anak-anaknya.
'Pah, aku akan menelpon lagi. Papah selesaikan saja lebih dulu rapatnya.' kata V mengambil jalan tengah.
'Apa kau marah sayang?'
V kembali menepuk keningnya, belum sempat V membantah Aldrich Èclair sudah kembali membuka kalimatnya, 'Papah akan tunda rapatnya, mungkin dua puluh lima menit cukup.'
'Tidak Papah, mana berani aku menaruh amarah pada Papah. Aku tidak ingin mengganggu Papah.'
'Tidak masalah, ada apa menelpon Papah?'
'Apakah Papah bisa meluangkan waktu untukku? Ada yang ingin ku bicarakan dengan Papah.'
'Baiklah, Papah akan menghubungimu lagi nanti.'
'Terima kasih Pah, aku sangat amat merindukan Papah dan Mamah. Jaga kesehatan kalian di sana.'
'Tidak masalah sayang, kami juga sangat merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa untuk menelpon Mamahmu, ia akan sangat cemburu jika tahu kau hanya menelpon Papah.' kata Aldrich terkekeh.
'Papah juga mencintaimu sayang.' balasnya mengakhiri telepon di antara mereka.
Daffa hanya diam memperhatikan pembicaraan mereka. Ia melihat keakraban di antara keduanya. Sangat jarang seorang bos eksekutif lebih mengutamakan keluarganya daripada bisnisnya. Dan lihat, betapa Aldrich begitu tidak mempedulikan rapatnya dengan dewan direksi tatkala V menelponnya. Seakan ia lebih takut melihat kekecewaan dari anak-anaknya daripada melihat penurunan omzet perusahaannya atau melihat anjloknya harga saham perusahaannya. Dari sikap yang ditunjukkan Aldrich Èclair beberapa detik lalu membuat Daffa bisa sedikit mendeskripsikan bagaimana sosok si raja bisnis dunia yang tersohor itu.
Kini pandangan V teralihkan pada sosok Daffa yang berdiri di hadapannya. Tak sekalipun tangannya berhenti memainkan rambutnya saat ia sibuk bercengkrama dengan Papahnya. Seakan ia ingin menunjukkan bahwa eksistensi dirinya tidak boleh ditiadakan. V berpikir bahwa semua laki-laki yang dikenalnya mengidap sindrom posesif yang kuat.
"Apa?" tanya Daffa yang mendapatkan tatapan menusuk.
"Hentikan sifat posesif bodoh mu itu." balas V sedikit ketus. Ia tak ingin menambah satu makhluk yang terjangkit virus posesif yang pasti akan membuat kepalanya pusing bukan main.
"Aku tidak posesif, hanya ingin mengingatkan keberadaanku." kata Daffa dengan wajah polosnya. Daffa memang memiliki wajah yang sangat rupawan dengan sudut menggemaskan di setiap tarik dan lekukan wajahnya. V berani bertaruh di luar sana akan ada miliaran gadis yang siap memberikan apapun demi mendapatkan kesempatan menjadi bagian dalam sejarahnya.
"Jangan memikirkan lelaki lain saat bersamaku!" protes Daffa karena perkataannya tidak ditanggapi.
"Bagaimana ya, lelaki yang ada dipikiranku begitu mempesona. Ya, walaupun tidak setampan Papahku." goda V memainkan suara dan mimik wajahnya.
"Setidaknya aku lebih tampan dari mereka."
"Apa? Kau? Mimpi saja sana." V memutar bola matanya tak suka mendengar pernyataan percaya diri milik Daffa. Baginya, Papahnya yang paling tampan dari yang tertampan sekalipun.
Belum sempat Daffa membantah perkataan terakhir V, seseorang sudah lebih dulu mengambil kesempatannya. "Bos, ada sedikit masalah di markas." kata seorang lelaki yang sudah berdiri di belakang mereka. Ia memakai seragam yang sama dengan Daffa, terdapat lencana berbentuk segi lima berwarna perunggu meniban bet sekolahnya. Bentuk lencana itu seperti tameng yang biasa digunakan para ksatria. Di dalam tameng itu terdapat dua buah pedang perak yang saling bersilang. Terdapat siluet kepala singa di depan kedua pedang.
"Brengsek! Dimana sopan santunmu saat menghadapku, bajingan!" maki Daffa melayangkan satu pukulan ke perut laki-laki itu. V membaca papan namanya, Rafael Adinata.
"Maafkan saya bos, saya sudah mengetuk pintu sebelum menghadap. Mungkin bos tidak mendengarnya." kata Rafael membela dirinya. V menyumpahi kebodohan Rafael, pembelaannya hanya akan membuat ia dalam masalah. Bukannya berlagak maha tahu, V hanya berpikir sebagai Dionysus.
Daffa kembali melayangkan pukulan di wajah Raffael, "Brengsek! Kau menganggapku tuli?" tanya Daffa menarik kerah baju Raffael dengan geramnya. Sedangkan Raffael hanya diam menyusut karena takut pada Daffa. "Bukankah seharusnya kau menungguku sampai aku selesai dengan urusanku, heh?!" teriak Daffa di depan wajah Raffael yang terus menyusut.
Untuk membantu perannya sebagai gadis baik-baik yang anggun, V menutup mata dan telinganya. Ya, meskipun ia sudah kebal dengan hal yang berdarah-darah. Namun tetap saja pengalaman itu milik Dionysus, Nona Muda Dark Shadow yang terkenal berdarah dingin. Bukan milik V Èclair, Nona Muda Èclair yang terkenal lemah lembutnya.
V sebenarnya kasihan terhadap Raffael yang langsung menjadi bulan-bulanan Daffa. Ia tak mungkin menghentikan tindakan Daffa, meski bisa saja Daffa mengindahkan permintaannya. Tapi tetap saja V tidak seharusnya ikut campur bagaimana Daffa mendisiplinkan anak buahnya, karena memang sudah tugas seorang atasan dalam mendisiplinkan bawahannya. Lagi pula hukuman yang diberikan Daffa masih dalam kategori wajar, Daffa tidak langsung menghukum mati anak buahnya seperti Cole Harvey waktu itu.
"Bos, tolong maafkan anak buah saya. Saya akan lebih mendisiplinkannya lagi agar hal ini tidak lagi terulang." pinta seseorang yang baru masuk, ia langsung bersujud di kaki Daffa.
"Brengsek kalian semua!" erang Daffa menghajar keduanya. Sudah puas Daffa menghajar kedua anak buahnya, pandangannya teralihkan pada sosok V yang sejak tadi diam di belakangnya.
V masih duduk di atas matras dengan menutup mata dan telinganya. Tubuhnya bergetar, sampai Daffa kini bisa mendengar suara kecil derak besi dari tempatnya. Daffa menepuk keningnya, memejamkan kedua matanya. Baginya ia telah melakukan kesalahan fatal dengan melupakan sosok V yang mungkin tidak terbiasa dengan kekerasan.
"Kalian pergilah, aku akan menyusul nanti." kata Daffa dengan nada melembut.
"Ta-tapi bos..." belum sempat mereka berkata, Daffa sudah kembali mengeluarkan aura hitamnya. Menatap tajam mereka seakan memberi isyarat jika ada kata yang keluar lagi, mereka akan habis di tangannya. Tatapan intimidasi Daffa membuat mereka mengurungkan niatnya.
"Baik bos, kami permisi." kata Dimas, laki-laki yang memegang lencana berwarna perak.
Daffa berjalan mendekatkan dirinya dengan V setelah mereka berdua pergi. Daffa mencoba menarik tangan V dengan begitu perlahan. Namun V langsung menariknya dengan gesit. "Tidak, jangan menyentuhku."
"V?" panggil Daffa dengan suara lembutnya, berbeda jauh dari nada suaranya saat berbicara dengan Raffael dan Dimas. "Jangan takut padaku, maaf." katanya lagi setelah diabaikan. Ada nada penyeslaan dalam kalimatnya.
"A-aku ti-tidak i-ingin ta-takut ..." ucap V terbata-bata. Daffa sudah lebih dulu memeluk tubuhnya sebelum V menyelesaikan kalimatnya. Sebab Daffa sudah tahu garis besar kalimat yang akan dikeluarkan oleh V, jadi ia tidak perlu menunggu V menyelesaikan kalimatnya yang entah akan memakan waktu berapa menit.
"Daffa, apakah kau memperlakukan orang lain seperti itu?" tanya V yang masih berpura-pura terkejut melihat perilaku Daffa. Sebenarnya ia sangat tertarik dengan sosok Daffa, jadi ia terus memainkan sandiwaranya.
Daffa tersenyum kecut mendengar pertanyaan V. Ia sedikit ragu menjelaskan siapa dirinya kepada V. Bukan karena malu mengakui siapa dirinya, melainkan ia takut jika V merasa tidak nyaman dengan identitasnya. Lebih-lebih malah menghindarinya. Daffa juga tak mengerti dengan dirinya, kenapa ia begitu peduli dengan gadis rapuh di hadapannya. Padahal dengan identitas dirinya bisa saja ia mendapatkan gadis tangguh yang mampu memperkuat eksistensinya. Seperti yang dilakukan oleh kebanyakan rekan-rekannya. Wanita mereka kebanyakan mampu berdiri dengan kakinya, sehingga mereka sering membangga-banggakan kehebatan wanita mereka.
"Daffa?" panggil V tak ingin menunggu lebih lama lagi. V menatap wajah Daffa, ia tahu Daffa sedang mencari cara untuk menjelaskan padanya tanpa harus membuatnya takut. Betapa manisnya bukan laki-laki di hadapannya itu? Pikirnya.
Daffa yang diam seribu bahasa tak tahu harus mengatakannya bagaimana. Egonya yang pongah memerintahkannya untuk mengatakan yang sejujurnya, jika V tidak bisa menerimanya bukan perkara besar meninggalkan gadis yang baru dikenalnya. Tapi nuraninya melarang ia mengatakan yang sebenarnya, setengah hatinya begitu takut V pergi dari hidupnya.
Alasan utama ia memilih V untuk menjadi gadisnya, karena ia ingin hidup seperti manusia normal lainnya. Pergi berkencan sambil bergandengan tangan, menikmati film layar lebar sambil berbagi pop corn, pergi ke kedai es krim kemudian saling bertarung mempertahankan es krim masing-masing, ataupun pergi ke restoran bertukar makanan kesukaan. Entah keyakinan darimana, saat pertama kali melihat V menangis di hadapannya ia merasa bahwa wanita itulah sosok yang akan memenuhi keinginannya.
V datang dengan penampilan kekanak-kanakannya. Dengan tangis tak berdaya jatuh dalam pelukan tubuhnya. Ia melihat pada diri wanita itu ada sifat manja yang akan selalu merengek padanya. Itu tidak masalah, karena memang ia ingin wanitanya selalu berdiri di belakang punggungnya untuk berlindung. Ia ingin wanitanya hanya akan bersandar pada dirinya, menjadikannya satu-satunya tempat bergantung. Bukankah akan sangat menyenangkan jika setiap hari ia dapat melihat wajah naif yang begitu menggemaskan menatap wajahnya? Bukahkah akan sangat terlihat manis saat ada seseorang yang memperhatikanmu dengan cara romantisnya sendiri?