
V berjalan menelusuri koridor rumah sakit tanpa tentu arah, pandangannya sibuk pada ponselnya, membaca laporan kesehatan milik Cole Harvey termasuk juga aktifitas terbarunya. Suasana rumah sakit yang memang sudah tenang ditambah sunyi dengan ketenangan malam. Sesekali ia bertemu dengan perawat yang mendapat tugas berjaga di malam hari.
V menggigit bibirnya karena cemas membaca kesehatan Cole yang selalu memburuk. Ajaib memang Cole Harvey mampu bertahan, hingga detik ini. Tak sadar V memijit keningnya yang terasa pening. İa tak tahu bagaimana harus bertindak, ia tak bisa melibatkan dirinya secara langsung. Tapi ia tak bisa terus-menerus membiarkan kesehatan Cole terus menurun. Setengah hatinya begitu tersiksa dengan rindunya, mengingankan dirinya untuk berjumpa dengan Cole dan setengah hatinya menahan agar ia tidak melakukan tindakan yang bodoh hingga merugikan organisasi dan Papahnya.
Setiap kali ia teringat Cole Harvey ia akan teringat hubungannya dengan Aldrich Èclair yang tak kunjung membaik. Terkadang ia merasa sangat putus asa, karena tak sanggup memperbaiki keadaan yang telah rusak karena ulahnya. İa merasa begitu tak berguna karena gagal menyelesaikan satu masalah di hidupnya. Rasa bersalah yang terus menyelimuti jiwanya turut mengundang rasa kecewa, marah, sedih dan putus asa untuk ikut hadir berpesta pora. Sedangkan dirinya terus saja merana.
Tak sadar V menabrak sesuatu yang keras saat ia ingin berbelok. Ponselnya melayang dari genggamannya. V meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Maaf, saya terlalu fokus dengan ponsel saya." terdengar suara bariton di tengah suara ringisan V. Ada rasa bersalah dari nada bicaranya, membuat V merasa sungkan untuk menaruh amarah padanya.
"Tidak, salahku juga karena tidak memperhatikan jalan. Maaf."
Laki-laki itu memungut ponsel V yang terlempar di dekat kakinya. Kemudian memberikannya dengan senyuman hangat. V terpaku, wajah milik laki-laki itu terasa begitu familiar baginya. V menatap laki-laki itu dengan intens, begitupun laki-laki itu.
"Magaly Nyx." ucapnya pelan dengan ragu-ragu.
'Antoine Richardo.' batin V mengenali wajah pemilik darah blasteran di hadapannya.
V tanpa sengaja melangkah mundur ke belakang. Keringat dingin keluar tanpa dipandu. İa begitu gugup bertemu dengan Antoine, ia belum siap jika harus dipaksa bertemu dengan Cole.
"Kau benar Magaly Nyx!" kata Antoine dengan penuh keyakinan ia menggenggam tangan V, takut-takut V akan lenyap dari hadapannya.
"Lepaskan! Aku tidak mengenalmu!" kata V berontak. İa benar-benar panik karena Antoine menggenggam erat kedua tangannya.
"Cole Harvey hampir gila kehilanganmu!" pekik Antoine menggebu-gebu. İa menarik paksa tangan V dengan kencang untuk mengikutinya ke kamar Cole Harvey. İa merasa V satu-satunya obat yang mampu menyembuhkan penyakit Cole saat ini.
"Kau siapa? Aku tidak mengenalmu! Apa yang ingin kau lakukan?" V bertanya dengan nada panik. İa meronta-ronta agar dapat terlepas dari cengkaman Antoine.
"Kau harus bertemu dengan Cole!" kata Antoine, ada penekanan dalam kalimatnya.
Sekelebat ingatan akan percakapannya dengan Aldrich Èclair beberapa hari pasca kecelakaan pesawat di rumah utama muncul tanpa diundang.
"Akan ada masa dimana kau tidak bisa lagi berlari menghindari garis hidupmu, kau harus bisa menghadapinya secermat mungkin." kata Aldrich tiba-tiba tanpa ada kalimat pembuka sebelumnya. V menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Hasil diagnosa dokter Gomer, kau mengalami trauma yang memaksa otakmu menghilangkan sebagian ingatan milikmu. Kau melupakan kisahmu di Nebula dan segala hal yang berhubungan dengan Cole Harvey. Hasil diagnosa ini akan membantumu bersandiwara di depan Cole Harvey." jelas Aldrich Èclair saat ia ingin menyuapkan nasi ke mulut V.
"Bagaimana jika aku gagal dalam bersandiwara, Pah?"
"Poker face, V. Poker face. Selama ini kau mampu menjalankan segala misi yang kuberikan kepadamu, maka kau juga harus bisa menghadapinya."
Kalimat Aldrich yang memaksanya untuk mampu menghadapi segala lika-liku hidup dengan topeng, membuatnya kembali teringat dengan siapa dirinya. Kehidupan yang begitu berat dan penuh bahaya memaksanya untuk pintar bersandiwara di atas panggung drama. Kehidupannya tidak setenang air danau, kehidupannya bagai pasang gelombang laut di tengah badai. İa harus pintar memutar kemudi agar kapalnya tidak digulung ombak.
"Cole Harvey?" tanya V menghentikan usahanya untuk lepas dari Antoine. İa berpura-pura seakan tengah dibuat bingung oleh Antoine, "Cole Harvey siapa?! Aku tidak mengenalnya." bantah V pada akhirnya.
Antoine berdecak kesal mendengar pernyataan V yang seakan membuang sahabatnya, ia menyeret paksa tubuh V ke kamar rawat inap Cole.
"Daffa! Tolong aku ..." pekik V tertahan sebab tangan Antoine sudah lebih dulu menutup mulut V.
'Daffa kumohon! Keluarlah, aku belum siap jika harus bertemu dengan Cole Harvey saat ini. Daffa.' rintih V. İa tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini ia sedang menjadi V, bukan Dionysus. Jika ia melawan atau sampai melumpuhkan Antoine, apa yang telah dibangun oleh Papahnya akan hancur berantakan. V tak mau membuat Papahnya kecewa apalagi sampai membahayakan Papahnya.
"Apa yang ingin kau lakukan? Kenapa kau membawaku kesini?" tanya V dengan nada serendah mungkin, takut membangunkan orang yang berada di dalam.
"Masuk." perintahnya sambil menggeser pintu. Kesal karena V tak kunjung masuk, Antoine mendorong paksa tubuh V.
V melihat tubuh Cole Harvey yang semakin kurus di balut dengan baju pasien berwarna biru. Pemilik mata hazel yang tak pernah lekang dari ingatannya. Sosok laki-laki yang membuat orang meringsut hanya dengan tatapan tajamnya. Sosok laki-laki yang tak kenal belas kasih terhadap musuhnya, bahkan ia tak punya toleransi kepada anak buahnya jika mereka membuatnya kecewa. Bukan hal yang tabu V melihat Cole menghajar anak buahnya, atau bahkan ia hampir menembak mati Jacob karena lalai menjalankan tugasnya.
Laki-laki yang dulunya dengan susah payah ia hapus dalam ingatan namun tetap saja selalu terpatri dalam kenangannya. Seorang laki-laki pemilik gravitasi sehingga pusat buminya selalu kembali kepadanya. Laki-laki yang membuatnya bertindak di luar keinginannya. Laki-laki yang hanya bisa ia lihat dari jauh kini hanya tinggal beberapa langkah di hadapannya. Laki-laki yang dengan susah payah ia hindari namun garis takdir kembali menyinggungkan benang-benang di antara mereka. Hingga V tak mampu lagi membantah keinginan hatinya untuk tetap berada di sisi Cole Harvey, hingga ia diam-diam berdiri di belakang Cole melindunginya dari siapapun yang mampu membahayakan nyawanya.
V berjalan perlahan ke arah Cole Harvey. İa tetap memasang wajah acuh tak acuhnya, walau sebenarnya hatinya meringis kesakitan. Di dekat intavena V melihat banyak bekas suntikan, V menerka dokter kesulitan mencari pembuluh darah milik Cole. V menatap wajah Cole. Tanpa V sadari hatinya tak mau berkompromi dengan logika. Sehebat apapun V membohongi dirinya, ia tak akan pernah mampu membohongi hatinya.
Lihat, tangisnya lebih dulu menjawab seluruh kerinduannya pada Cole dibandingkan dengan mulutnya. Tangisnya lebih dulu meneriakkan, 'hey sayang, aku di sini'. V tak mau mengerti teriakkan-teriakkan sanubarinya yang merengek untuk bertemu. V tak paham apa yang dikatakan oleh hatinya tatkala ia kembali berjumpa dengan Cole Harvey. İa tak bisa membaca isyarat pelukan hangat dalam bayang-bayangnya. İa terlalu naif untuk mengenal hatinya sendiri.
Kalimat mana yang harus ia terjemahkan dalam tangisnya, ia sungguh tak paham. Yang ia paham adalah bersikap keras kepala, menumpulkan hatinya.
"K-kau siapa? Kenapa aku menangis hanya dengan melihatmu?" tanya V pada orang yang sedang tidur di hadapannya. Tangisnya tak juga mereda, bahkan malah memicu pilu di dalam hatinya.
"Panggil ia Nyx, ia telah lama tertidur. Bangunkan ia Nyx." seru Antoine. Walau bukan ia yang merasakannya tapi ia mengerti apa yang tengah mereka rasakan.
"Hey bangun! Jawab pertanyaanku! Kau siapa?" kata V mengguncang bahu Cole. Namun tak ada tanda-tanda Cole mendengar pertanyaannya. V menaikkan posisi tidur ranjang Cole, hingga mencapai posisi duduk. "Kau siapa? Katakan padaku kau siapa? Kenapa ingatanku tidak mengenalmu tapi hatiku malah mengenalmu! Katakan padaku kau siapa!" pekiknya.
V menatap Antoine, "Siapa namanya?" Antoine sempat terpaku melihat apa yang dilakukan V. İa sempat ragu membiarkan V melakukan apapun sesukanya, namun ia juga tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan untuk membuat Cole tersadar. "Cole Harvey." jawab Antoine.
"Cole Harvey bangun! Bangun kubilang!" teriak V tak peduli seberapa kencang ia berteriak. "Beritahu aku siapa dirimu! Katakan kenapa aku tak bisa mengingatmu, apa yang terjadi sebenarnya?" V meraung dalam isak tangisnya. İa menjerit melepaskan setiap rasa pilu yang telah lama bersarang di dalam hatinya.
"Cole Harvey bangun!" teriaknya lagi entah untuk keberapa kalinya ia mengguncang-guncang bahu Cole.
"Kumohon buka matamu." kata V mulai pasrah karena tak ada tanggapan dari Cole. V susah payah menelan salivanya. İa menyeka sisa air matanya. Tangannya menunjuk ke arah Antoine, "Dia bilang kau mengenalku, katakan padaku apa kau benar-benar mengenalku?"
"Apa kau benar-benar mengenal Magaly Nyx? Apa kau benar-benar hampir gila karena kehilangannya? Jawab aku Cole Harvey!" teriak V tepat di telinga Cole.
V melepas seluruh rasa yang telah lama ia simpan. İa menyandarkan kepalanya pada dada Cole Harvey. Menangis dalam pelukan semu. Melepas seluruh sesak yang terus menghantuinya. V memeluk erat tubuh Cole Harvey, ia membisik, "Apa kau sudah tak mau membalas pelukanku? Atau kau sudah tak sudi lagi bertemu denganku? Atau kau ingin membalaskan dendammu dengan mengabaikanku?"
•
••
•••
••••
•••••
✌•✌•✌•✌•✌
Salam Hangat,
Leo & Tata