V

V
<[ EPISODE 46 ]>



Di tengah tangisnya yang mengharu biru, V merasakan getaran kecil dari ponselnya. İa terpaksa melepas pelukannya pada Cole untuk melihat siapa yang memanggilnya. Nama 'Dafa' yang tertera pada panggilan masuknya. V mengusap wajahnya, menyeka sisa-sisa air mata. İa menarik nafasnya begitu panjang. Ada keraguan ketika ingin mengangkat panggilannya.


'Sayang? Kau dimana?' tanya suara dari seberang.


"A-aku ti-dak ta-hu a-ku di-ma-na." jawab V masih terdengar jelas sisa-sisa tangis yang membuatnya sesenggukkan, ia tak bisa menstabilkan suaranya.


'Ya Tuhan! V kenapa kau ...' kata Daffa tertahan, jika saja ia mengabaikan isak tangis V. Mungkin ia akan memuntahkan kekhawatirannya yang telah menggebu-gebu, 'Aku akan ke sana menjemputmu.'


V sudah menebak cepat atau lambat Daffa pasti akan berkata begitu, mengingat bagaimana sifat Daffa terhadapnya. Jadi sudah tidak mengejutkan lagi kalimat terakhir Daffa muncul. V mengalihkan pandangannya pada sosok Antoine. İa tak tahu di ruangan mana ia berada, hanya Antoine satu-satunya orang yang bisa menjawab.


"Bo-leh ku-ta-hu ini ka-mar no-mor be-ra-pa?" tanya V pada Antoine yang sejak tadi hanya memperhatikannya. V sebenarnya ragu Antoine mau membuka mulutnya, namun tidak ada salahnya mencoba.


'V? Hallo?'


"Jika aku memberitahukannya, apa kau akan pergi?"


"Ya."


"Kalau begitu aku tidak akan pernah memberitahukannya." kata Antoine melipat kedua tangannya di atas dada. İa berdiri semakin dekat dengan pintu, seakan menghalangi V untuk keluar. Tentu saja bagi Antoine bertemu dengan V saat ini adalah kesempatan langka yang tak akan ia sia-siakan.


'V? Kau sedang bersama siapa?'


"Aku tidak mengenal mereka."


'Astaga! Ya Tuhan, V. İni bukan saja untuk yang kedua kalinya!' V bisa merasakan amarah dari getaran suara Daffa. 'Kenapa kau selalu saja ceroboh, kau bukan lagi anak kecil yang mudah dirayu hanya dengan sebungkus permen.'


V hanya diam mendengarkan, tak ingin membuat segalanya menjadi rumit.


'Apa mereka menyakitimu?' Daffa menjatuhkan suaranya ke titik rendah. Tak ingin membuat kekasihnya semakin sedih karena amarahnya.


"Tidak mereka tidak menyakitiku. Maafkan aku, jangan marah padaku." V benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan. İa benar-benar merasa bersalah, cemas dan takut. V benar-benar kalut dengan apa yang terjadi saat ini, ingin rasanya ia menangis saja daripada harus menghadapi situasi pelik ini. Tak peduli dunia akan menghujatnya makhluk lemah sekalipun, ia tak peduli.


'Jangan menangis, maaf jika aku malah membuatmu takut.' kata Daffa melerai. Mendengar kalimat Daffa yang terdengar begitu lemah lembut membuat V semakin ingin menangis karena rasa bersalah.


'Sayang? Apa kau takut?'


V menganggukkan kepalanya, hingga ia merutuki dirinya sendiri bahwa Daffa tidak akan mungkin melihatnya menganggukkan kepala. 'Aku benci saat menangis, karena tingkat kebodohanku pasti akan meningkat.' batin V.


'Shhhttt, tenang. Jangan takut, aku tidak akan membiarkanmu ketakutan. Aku akan menjemputmu.'


"Aku... Aku..."


'Tetap biarkan panggilanku menyala, aku akan menemukanmu.' potong Daffa yang membuat degup jantung V semakin cepat.


"Daffa? Kau..."


'Shhht, yang kau pikirkan benar. Maaf, aku hanya takut saat kau membutuhkanku aku justru tidak ada di sana.'


Kalimat Daffa membuat V semakin ingin menangis. İa tak menyadari Daffa telah memasang sinyal GPS di ponselnya. Sekali lagi V menatap sosok Cole Harvey yang masih dalam keadaan koma.


'Tenang V, kau harus membuat keputusan.' batin V.


V memperhatikan durasi waktu panggilannya, belum sampai satu menit. Merasa tidak ada cara lain, V mematikan sambungan teleponnya dengan Daffa. Tak sampai di situ ia juga mematikan ponselnya. Hal itu guna melenyapkan alamat İP yang telah ditangkap oleh Daffa. Satu menit waktu yang cukup untuk mengkunci alamat İP seseorang. V menghapus sisa-sisa air matanya.


"Biarkan aku keluar, aku tak ingin ada perseteruan." pinta V setengah memohon.


"Maaf Nyx, aku tak bisa membiarkanmu pergi." kata Antoine sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Satu tangannya mengaktifkan alat komunikasi di telinganya.


"Perketat keamanan di lorong menuju kamar, hadang siapapun yang mencoba masuk ke kamar ini."


V memejamkan matanya sambil menarik-narik rambutnya. İa benar-benar kalut. Cole Harvey berhasil meluluhlantakkan pusat perhatiannya. V membenarkan kembali posisi tidur Cole Harvey. İa menggenggam tangan Cole Harvey. Memejamkan matanya berpikir apa yang harus ia lakukan.


"Maaf, sekeras apapun aku berusaha aku tak bisa mengingatmu." kata V kembali berbohong. İa kembali menyakiti dirinya dengan jalan pikirannya sendiri.


"Aku tak tahu kau siapa? Kapan kita bertemu? Dan mengapa aku menjadi penyebab kau berada di sini? Aku tak tahu."


Sama sekali tak ada tanggapan dari Cole.


"Atau kau seorang pembual yang mengaku bagian dari sejarah hidup seseorang padahal namamu saja tak pernah disinggungkan oleh langit."


Antoine mengangkat jari telunjuknya ke arah V. Tangannya bergetar tanda ia menahan amarahnya, "Nyx, sekali lagi kau berani menghakiminya di depanku. Aku tidak akan memandang siapa dirimu." ancam Antoine tersulut oleh perkataan V.


"Lalu kenapa aku tidak bisa mengingatnya! Siapa kalian sebenarnya? Apa mau kalian? Apa jangan-jangan kalian sedang menjadikanku sandera karena Daffa memporak porandakan markas besar kalian? Atau kalian adalah sindikat penjual manusia yang sedang maraknya di Asia Tenggara?" tuduh V tak berdasar. İa menatap ke arah Cole Harvey, "Atau jangan-jangan temanmu hanya bersandiwara sedang terluka? Haha lucu sekali aku pernah menaruh iba kepadanya."


Tangan besar Antoine hampir mendarat di wajah V andai saja ia tak segera menahannya. Kini tangannya masih melayang ke udara sambil menatap tajam pada V. "Nyx, bersabarlah aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." kata Antoine sambil menurunkan kembali tangannya.


"Tidak! Aku ingin keluar." bantah V berusaha menerobos tubuh Antoine. Namun Antoine tetap menghadangnya keluar. V bisa merasakan kekuatan otot-otot yang dimiliki Antoine, jika ia bertarung dengannya saat ini hanya akan menghancurkan identitasnya sebagai V Èclair. Dan belum tentu ia akan menang melawan Antoine tanpa senjatanya.


"Kenapa aku harus berada di sini? Daffa sedang mencariku, aku tak ingin membuatnya cemas."


"Dengarkan aku, kemungkinan kecelakaan hari itu membuatmu melupakan siapa Cole Harvey. Percaya kepadaku, kau aman berada di sini." kata Antoine mencoba menenangkan V.


"Jika aku aman berada di sini, mengapa kau memperlakukanku seakan aku ini adalah tawanan?"


"Maaf, aku hanya tak ingin kehilangan jejakmu. Cole benar-benar membutuhkanmu, Nyx."


"Baik, kita buat kesepakatan. Aku akan memberikanmu akses untuk menghubungiku, jadi kapanpun temanmu itu sadar kau bisa memintaku untuk datang ke rumah sakit. Tapi kau harus mengizinkanku keluar dari sini."


"Apa kau bisa kupercayai?" tanya Antoine sedikit ragu dengan kesepakatan yang dibuat V.


"Astaga!" pekik V tertahan. V menyerahkan kartu pelajar miliknya sebab memang hanya itu identitas yang ia bawa saat ini.


Antoine menatap V lekat-lekat. Menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki berulang kali, "Namamu Cassandra Luvy? Atau Magaly Nyx?" tanya Antoine memastikan, ia khawatir jika ia telah salah mengenali orang.


"Kau ingin tahu nama lengkapku?" tanya V yang membuat Antoine menganggukkan kepalanya cepat.


"Cassandra Lobelia Elèonore Athena Marioline Delyth Grethania Islean Adeline Lavina Cadis Marizta Éclair Princella Light Queenna Luvy Kiyandra Calista Magaly Nyx." V tersenyum ramah melihat Antoine ternganga keheranan. "Cassandra adalah nama awalku dan Luvy adalah asal muasalku dipanggil V, oleh karena itu Paman Frankenstein mendaftarkanku sebagai Cassandra Luvy."


Antoine membaca kembali kartu yang diberikan oleh V, ia terbelalak saat mengetahui V masih duduk di bangku tahun ke dua Senior High School.


"Kau belum genap tujuh belas tahun?" tanya Antoine hampir berteriak.


"Ya, kenapa kau begitu terkejut?"


Antoine menggeleng-gelengkan kepalanya, ini sudah kesekian kalinya ia memperhatikan V dari ujung kepala hingga kakinya, "Kau tahu? Jika bukan karena wajah dan penampilanmu mungkin orang lain akan salah paham."


"Ya, aku sering mendengar kalimat yang serupa. Jadi apa kau menerima kesepakatanku?" tanya V tak ingin menunda-nunda lebih lama.


"Apa alamat rumahmu benar?" Antoine masih menilik kartu pelajar yang V berikan. İa sedikit ragu, takut V hanya mempermainkan dirinya.


"Berikan ponselmu." perintah V mengacungkan tangan meminta. Antoine lantas memberikannya kepada V.


"Aku sudah memasukkan nomor ponselku, bisa aku keluar sekarang?"


Antoine menekan tombol panggilan, ia menatap tajam ke arah V karena panggilannya tidak terhubung. V paham makna tatapan itu. İa menarik telepon genggamnya dari saku, lantas mengaktifkan ponselnya. Panggilan masuk terhubung ke ponselnya saat layarnya tiba di desktop. Tertera nomor tak terdaftar di ponselnya. V menunjukkannya kepada Antoine.


"Baiklah kau boleh keluar. Aku akan mengantarmu." kata Antoine sambil menggeser pintu.


Belum sempat Antoine melangkahkan kakinya V menarik lebih dulu pergelangan tangan Antoine kuat-kuat, "Tidak! Kau hanya akan memperparah keadaan. Aku tak ingin ada keributan. Jika kau ingin menolongku, aku lebih senang jika kau menarik pasukanmu mundur."


"Kau tahu, jika aku tak sempat melihat umurmu. Aku pasti meragukan fakta bahwa kau masih berumur enam belas tahun."


"Ya, terima kasih untuk pujianmu. Aku memang cerdas seperti Papahku." jawab V melambaikan tangannya.


"Besok pagi kau harus kembali lagi ke sini." kata Antoine yang masih bisa didengar oleh V.


"Aku sekolah."


"Kalau begitu saat kau pulang sekolah." balasnya tak mau kalah


"Aku les."