V

V
<[ EPISODE 48 ]>



Dini hari pagi langit masih gelap gulita. Suhu udara masih turun beberapa derajat, suasana malam masih terasa betul walau fajar telah tiba. Daffa membuka matanya perlahan. İa memandang langit-langit kamar beberapa detik sebelum akhirnya memandang perempuan yang masih tertidur pulas di sampingnya. Malam itu V memang ikut tidur di atas brankar bersamanya. Walau V tak mengungkapkan isi hatinya, tapi Daffa bisa mengerti jika V tidak nyaman tidur di atas sofa. Jadi ia menawarkan V untuk ikut tidur di brankar.


Beberapa jam yang lalu Daffa telah dibawa kembali ke kamarnya, ia juga sudah mendapat perawatan khusus dari dokter Gomer. Syukurnya saat ini dokter Gomer bersama beberapa anggota asosiasi kedokteran negara Z datang berkunjung ke kota Mikrokosmos. Sebenarnya mereka datang bukan untuk berwisata melainkan membeli beberapa vaksin HİV yang berhasil dikembangkan oleh Professor Sahid. Kebetulan ini yang membuat V tidak kesulitan memintanya untuk datang malam itu juga. Memang baru-baru ini dunia kedokteran sedang digoncangkan oleh penemuan vaksin yang mampu mematikan replikasi HIV sekaligus menyembuhkan sel-sel T-helper yang sempat rusak. Vaksin ini juga sudah lulus dalam proses uji coba dengan hasil yang begitu mengagumkan. Sehingga banyak perwakilan dari negara asing yang datang berbondong-bondong untuk membeli mahakarya fenomenal itu.


Suhu tubuh Daffa sudah tidak sepanas sebelumnya, walau pening masih menggelayuti kepalanya ia masih sanggup menahannya. Bengkak di persendiannya juga sudah di kompres dengan pembalut elastis. Memang masih terasa nyeri namun setidaknya sudah lebih baik dari sebelumnya.


Daffa menghadapkan tubuhnya ke arah V, "Sayang? Hey bangun. Sudah pagi." ucap Daffa membangunkan gadis yang masih tertidur pulas dalam pelukannya.


Bukannya bersegera bangun V malah semakin merangsek dalam dekapan Daffa mencari posisi yang belum ia jamah, mengabaikan panggilan Daffa yang menyuruhnya bersegera bangun. V tahu Daffa membangunkannya pagi-pagi sekali agar ia bisa bersiap-siap ke sekolah. Pagi itu V lebih merasa nyaman bersembunyi di dalam pelukan Daffa sambil menentramkan pikirannya daripada harus bersiap ke sekolah. Jadi daripada bangun lebih baik berpura-pura tidur sampai matahari benar-benar menyingsing.


Daffa tidak menyerah begitu saja dalam membangunkan kekasihnya. Segala macam rencana jahat telah mendesak masuk untuk kemudian dipilih. İa mengusap lembut puncak kepala V, sesekali jemarinya usil memilin-milin ujung rambut V. "Mot bangun, yuk." panggil Daffa yang sudah mendekatkan bibirnya ke telinga V dengan nada yang ia buat menggoda. "Lemot sayangku. Ayo bangun." kata Daffa mulai melancarkan aksinya membangunkan V dengan panggilan yang sengaja ia buat mendayu-dayu.


"Daffa, jika aku dengar kau membangunkanku dengan nama itu lagi. Aku akan menendang kakimu." balas V dengan suara serak khas seseorang yang baru bangun tidur. İa mengancam dengan mata yang masih terpejam. Tangan kanannya membentang untuk kemudian memeluk tubuh Daffa, semakin merangsek mencari posisi nyaman untuk kembali tidur.


Dari sekian banyak panggilan buruk yang menyatakan kebodohannya, V paling benci jika Daffa memanggilnya dengan panggilan 'lemah otak'. Apalagi jika panggilan itu sengaja Daffa lakukan dengan nada mendayu-dayu. Jika saja V tidak memandang siapa yang ada dihadapannya, mungkin kepalan tinju sudah mendarat di wajah Daffa saat ini.


Daffa tersenyum puas sebab V telah memakan umpannya, "Loh? Terus maunya dipanggil apa, hmm?"


"İsteri."


Daffa tertawa mendengar jawaban V yang begitu lancar jaya tanpa hambatan. Tawanya bukan untuk mencemoh keberanian V mengungkapkan keinginannya, melainkan sebagai pengalihan rasa senangnya. İa tak ingin V mengetahui bahwa dirinya sedang salah tingkah setelah mendengar pernyataannya. Jadi sepintar mungkin ia menyembunyikannya.


"İsteriku? Kanjeng Raden Ayu-ku? Bangun yuk, sayang. Kau harus ke sekolah bukan? "


"Aku di sini saja menemanimu ya? Sebagai isteri yang baik, aku akan merawat suamiku. Jadi lebih baik kau kembali tidur." jawabnya sambil meraba mengusap wajah Daffa. Sedangkan Daffa merasa keheranan dengan apa yang dilakukan oleh V.


"Apa gunanya tanganmu mengusap hidungku? Kau pikir dengan kau mengusapnya lantas aku akan tertidur begitu?"


"Daffa mengertilah, tanganku tidak sampai untuk mencapai puncak kepalamu. Berhubung yang terdekat adalah hidung jadi aku mengusap hidungmu."


"Ya Tuhan! Kau kan bisa mengusap pipiku?"


"Oh ya! Kau benar." V menggeser tangannya beberapa senti untuk mengusap pipi Daffa.


Kesal dengan kebodohan kekasihnya, Daffa melepas selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Menarik selimut itu tinggi-tinggi hingga menutupi puncak kepala V. İa merealisasikan rencana-rencana jahil yang sejak tadi memenuhi kepalanya. İa tertawa dengan apa yang tengah dilakukannya. Tangannya sibuk membungkus tubuh V dengan selimut. Apa yang dilakukan Daffa memicu teriakan dan tawa V dari dalam selimut. V dengan susah payah menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, namun Daffa sudah lebih dulu menumpuk bantal di atas selimut untuk menahan pergerakan V. Dengan santainya Daffa menaruh kepalanya di atas tumpukan bantal sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dada.


"Daffa, aku tidak bisa bernafas." keluhnya disela tawa. V terus berusaha untuk keluar dari gulungan. İa bisa saja dengan mudahnya keluar dari gulungan itu, namun ia tak mungkin menunjukkannya pada Daffa. Jadi ia berpura-pura seakan sulit keluar dari sana. Di sisi lain Daffa semakin tertawa terbahak-bahak menyadari V terus meliuk-liukkan tubuhnya.


"Sayang, kau terlihat seperti ulat. Sungguh, aku tidak berbohong." katanya di sela tawa.


"Daffa!" teriak V. "Kau jahil sekali, aku akan mencabut seluruh rambutmu hingga kau botak." ancam V. "Daffa! Lepaskan aku."


"Kau bilang apa? Aku tak mengerti bahasa ulat." bantah Daffa berbohong, walau suara V teredam oleh selimut dan bantal ia masih bisa mendengarnya dengan jelas.


V kembali menggerak-gerakkan tubuhnya, "Daffa! Awas saja jika aku mati kehabisan nafas, kau orang pertama yang akan aku datangi!" teriaknya lagi. V terus meronta-ronta di dalam selimut. İa merasakan keseruan dari canda mereka pagi ini.


Merasa iba, Daffa membalikkan gulungan tubuh V. Membantunya untuk duduk. İa tidak langsung melepaskan gulungan selimut itu, melainkan hanya membantu V meloloskan kepalanya agar bisa kembali menghirup udara segar. Daffa memeluk tubuh V dari belakang, "Kau sangat nyaman dijadikan guling." katanya.


"Aku semakin ragu dengan kakimu. Kau sedang terluka seperti ini masih saja bisa mengusiliku." protes V.


"Kakiku itu hanya terluka bukannya lumpuh, bodoh." nyinyir Daffa.


Satu hal yang tak pernah bisa V ubah dari Daffa ialah sifat ceplas-ceplosnya yang sudah mendarah daging. Menghadapi mulut Daffa sama halnya dengan menghadapi mulut laknat milik Zac, hanya bisa didengar dan disumpah sarapahi di dalam hati. Sebab jika dibalas tidak akan pernah ada celah untuknya merebut kemenangan mereka. Yang ada hanya semakin menguras emosi, tenaga dan buang-buang waktu dua puluh detik secara percuma hanya untuk menimpali nyinyiran mereka. Pada akhirnya yang ada hanya bisa menelan empedunya bulat-bulat, syukur-syukur kalau tidak tersangkut di tenggorokan.


"Kenapa kau hobi sekali menghakimiku dengan spekulasi jahatmu itu? Aku selalu ingin menarik rambutmu kuat-kuat setiap kali kau mengeluarkannya."


"Kau menyebalkan."


"Tapi kau mencintainya." sambung Daffa yang seakan sudah bisa menebak kelanjutan dari kalimat V.


"Daffa kau itu peramal yang sok tahu, ya?"


"Bukan, aku hanya mengaplikasikan rumus kombinatorik." jelasnya yang membuat V cukup terdiam. "Aku hanya perlu menghitung enumerasi terbanyak dari kelanjutan kata yang sering kau ucapkan. Jika aku sudah bisa mengenali unsur sifat dasarnya, maka aku sudah bisa menebak kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul nantinya."


V masih diam sambil menghembuskan nafasnya, tak habis pikir dengan jalan pikiran Daffa. "Kau itu rumit ya. Padahal kau bisa menjawab, bahwa kau belajar dari pengalaman. İtu lebih lugas dan efisien daripada kau menjelaskannya secara detail namun berbelit-belit. Kau membuang tiga puluh detik berhargaku, Daffa!"


"Jika ada jalan yang lebih panjang, mengapa kau memilih jalan yang lebih pendek?"


"Daaaffaaaa!" pekik V tersulut dengan jawaban Daffa yang begitu menggemaskan.


"Kau sedang latihan bernyanyi? Tinggi suaramu perlahan naik satu oktaf."


"Ya, aku ingin sekali membawakannya tepat di dendang telingamu."


Daffa terkekeh mendengar gerutu V. İa tahu V sudah mulai geram dengan tingkah lakunya, tapi ia suka melakukannya.


"V?" panggil Daffa yang tidak mendapat tanggapan dari V. "Akhir bulan depan aku akan pergi ke negara M, aku akan lama di sana. Sebelum aku pergi aku ingin mengajarimu cara bertarung, meski aku tahu kau memiliki banyak pengawal tapi mereka tidak selamanya bisa diandalkan."


"Aku mengerti kekhawatiranmu, terima kasih sudah mencemaskanku."


"Maaf jika aku terlalu egois, aku hanya tak ingin kehilanganmu."


"Kalau begitu berusahalah agar kau tidak kehilanganku."


"Pasti." katanya sambil mengecup pipi kanan V.


"Berapa lama kau di sana?"


"Aku tidak bisa memastikannya, tapi aku berjanji akan segera kembali secepatnya."


"Kau akan pergi dengan teman-temanmu yang lainnya?"


"Tidak, aku akan pergi sendiri."


V masih diam tidak menanggapi jawaban Daffa. İa masih menunggu kalimat Daffa selanjutnya. Namun Daffa tak juga mau memberitahunya. V sadar ada sesuatu yang disembunyikan Daffa dan batasannya untuk mengetahui hal itu hanya sampai di sana. V mengerti setiap orang punya zona miliknya sendiri, ada saatnya mereka ingin menyembunyikan satu rahasia besar tentang dirinya dari khalayak. İtu hal yang wajar.



••


•••


••••


•••••


•✌•✌•✌•✌•


Terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca karya Kak Leo dan Tata. Jangan lupa untuk klik tombol like dan tulis kritik dan saran kalian agar kedepannya Tata bisa menulis dengan lebih baik lagi. Jangan lupa juga untuk bantu vote yaa 🐰 Terima kasih, see you.