V

V
<[ EPISODE 35 ]>



"Siapa yang berani melakukan ini?" bentak Daffa kepada seisi kelas. Daffa begitu murka saat tahu ancaman sebelumnya tidak diindahkan oleh mereka. İa tak menyangka masih saja ada orang yang berani mengganggu kekasihnya padahal kemarin ia sudah memasang ultimatum kepada mereka.


"Aku bertanya sekali lagi, bedebah mana yang berani melakukan hal ini?" katanya lagi masih dengan nada tingginya. Tak segan-segan Daffa menggebrak meja yang ada dihadapannya, tidak hanya itu ia juga melempar bangku ke depan kelas.


"Daffa?" panggil V bertindak seakan ingin melerai, padahal ia hanya berpura-pura demi mendukung perannya. Betapa bahagianya ia menatap wajah-wajah takut mereka karena amukan Daffa. "Aku tidak apa-apa."


"Kenapa kau selalu diam saja saat orang lain menindasmu? Kau itu bodoh apa idiot? Bukankah sudah ku katakan untuk melawan mereka? Jika kau tidak bisa menggunakan otakmu maka gunakan kekuasaanku!"


'Ya Tuhan, kenapa mulut lelaki ini sama tajamnya dengan Paman Zac. Ingin sekali ku cabik-cabik mulutnya, agar ia tak perlu bicara sekalian.'


V hanya diam tak mengarahkan pandangannya pada Daffa. Saat seperti ini posisinya memang akan serba salah, jadi ia lebih memilih diam daripada membela dirinya. Yang ada perkelahian mulut yang akan terjadi bila ia menanggapi amarah Daffa dan tentu saja hal itu akan membuat para penontonnya bahagia.


"Kenapa kau malah diam seperti orang dungu? Kau itu bisu atau tuli?" tanyanya lagi karena tak mendapat jawaban dari V.


'Nah kan manusia sialan ini memang pintar memancing emosi lawan. Baiklah mari kita lihat apa kau masih berani marah-marah kepadaku, brengsek sialan!'


V memejamkan matanya membayangkan segala hal yang menyedihkan dalam hatinya. Tanpa ia sadari kenangan pilunya muncul menampakkan diri. Membayangkan kenangannya dengan Cole Harvey masih selalu menjadi cara terampuh untuk menguras air matanya. Tidak hanya rasa sedih yang datang menerjang, tapi rasa sesak hingga membuat V sulit bernafas mengaliri tangisnya. Kenangan bersama Cole Harvey selalu menjadi kesedihan yang tak pernah terobati baginya. Nyatanya seluruh usahanya untuk melupakan Cole Harvey tak pernah bertemu pada hasil.


Rasanya semakin sesak, apalagi ketika setiap kenangan terus berputar-putar dalam ingatannya. İa tak mampu menghentikan derasnya luapan emosional yang membuatnya menangis hingga tersengguk.


'Cole, mengapa begitu menyakitkan setiap kali mengingatmu? Mengapa aku selalu tidak baik-baik saja bila mengenangmu?'


Daffa menatap lirih makhluk rapuh dihadapannya. Rasa bersalah menyelimuti jiwanya tatkala makhluk rapuh itu menunjukkan kelemahannya. Daffa menghembuskan nafasnya, ia cukup bingung sebab tak tahu bagaimana caranya meredakan tangis perempuan. Daffa merutuki kebodohannya dalam mengontrol emosionalnya.


"V? Maafkan aku." ucap Daffa merasa bersalah karena telah meninggikan suaranya, ditambah ia telah melanggar janjinya dengan V. Andaikan Daffa tahu alasan utama tangis V yang begitu memilukan karena Cole Harvey, cinta pertamanya. Mungkin Daffa tidak hanya sekedar marah pada dirinya sendiri.


'Cole? Aku tidak menyangka jika membunuh cinta lebih sulit daripada meniadakan nyawa seseorang. Jika aku tahu cinta bisa berdampak sedahsyat ini, aku akan menghindari pertemuan kita malam itu. Aku akan menarik benang-benang kisahku menjauh dari milikmu. Atau ku lenyapkan saja dirimu saat dipelukanku?


Ah, melenyapkanmu? Jangankan untuk membunuhmu, Cole. Menganggap kisah kita tak pernah ada saja aku tidak pernah sanggup. Aku bahkan selalu risau setiap kali angka permintaan untuk membunuhmu melonjak. Dengan kepalang aku menyuruh anak buahku untuk melindungimu, padahal aku tahu tanpa perlindunganku kau lebih dari sekedar sanggup untuk menjaga dirimu sendiri. Tapi tetap saja rasanya begitu cemas, jika bukan diri sendiri yang memastikan kau baik-baik saja.


Cole? Apa kau masih menyimpan rindu untukku? Ataukah? Ataukah? Ah, Cole untuk membayangkan kau tidak lagi merindukanku saja, aku sudah tidak sanggup. Apalagi jika hal itu bukan saja menjadi khayalku, tapi juga menjadi nyataku. Mungkin duniaku akan kembali runtuh seperti saat kedua orang tuaku telah tiada.'


"V? Hey, apa kau mendengarku?" tanya Daffa yang sudah menautkan kening keduanya. İa telah menggoncang-goncangkan tubuh gadis itu, namun tetap saja tak ada tanggapan darinya.


Saat V mengangkat wajahnya, Daffa memandangnya dengan tatapan intensif. Tangan besarnya mengusap wajah mungil V. Jemarinya lihai menghapus setiap bulir-bulir air mata yang terus berjatuhan. "Maafkan aku, aku mengakui kesalahanku. Aku tidak akan meninggikan suaraku lagi." ujarnya begitu lembut bagai semilir angin yang mengusap lemah daun telinganya.


'Bisakah kau meminjamkan pelukanmu untukku? Bolehkah aku bersikap seperti ini?'


V memeluk Daffa begitu erat. Semakin erat seakan ia ingin masuk lebih dalam lagi. Ia merasa seluruh tokoh dalam dirinya sekejap menjadi antagonis. Dionysus menjadi antagonis karena mencabut nyawa manusia dan V Èclair menjadi tokoh antagonis karena membunuh cinta setiap orang yang dengan tulus mencintainya.


Tanpa mengatakan sepatah kata, V mendekap dalam pelukan hangat Daffa. Menumpahkan setiap kesedihannya. Hanya semesta dan hatinya yang tahu, tangis dan kesedihannya untuk siapa.


✌✌✌


Bel pulang sekolah sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Daffa sedang menemani V menunggu mobil jemputannya tiba. Masalah mereka terselesaikan hanya dengan sebuah pelukan bisu. Sebuah pelukan yang memiliki arti berbeda-beda bagi mereka.


Sebuah hypercar berwarna putih meluncur di depan gerbang SHSM. Tidak hanya itu, mobil ini juga diiringi oleh dua mobil sport berwarna hitam lainnya. Kehadiran mobil sport sudah hal yang lumrah di sekolah ini. Namun kehadiran dua mobil sport sekaligus yang mengiringi hypercar keluaran terbaru membuat hal ini menjadi pemandangan yang tidak biasa. Seorang pria berjas hitam dengan kaca mata hitam di hidungnya memberi tabik pada mereka.


"Nona Muda Èclair." mereka memberi hormat terlebih dahulu kepada V, "Tuan Muda." tabik mereka kepada Daffa.


"Kabari aku jika kau sudah sampai di rumah."


"ID mu yang tadi pagi?" tanya V mengingat pesan singkat yang benar-benar padat dan lugas. Daffa sebenarnya bingung harus mengirim pesan apa untuk V, ia belum pernah mengirim pesan kepada seorang gadis sebelumnya.



Sebuah kecupan hangat menjadi penutup perjumpaan mereka. V masuk kedalam hypercar yang berdiri gagah di depan mereka. Perlahan ketiga mobil itu berjalan hingga hilang di persimpangan.


"Daff, ada masalah." ucap Gitar yang sudah berdiri di belakang Daffa.


"Kenapa?"


"Kau diminta untuk menghadap Kak Bondan."


Daffa berdecak. İa tahu kehadiran seniornya bukan pertanda baik untuk dirinya. Sudah menjadi rahasia umum perseteruan antara Daffa dan Bondan. Apalagi Bondan terang-terangan memberikan ultimatum kepada Daffa. Bondan masih menyimpan dendam pada Daffa karena telah menggulingkan kepemimpinannya. Jadi bukan tanpa alasan Bondan selalu mencari celah untuk menyingkirkan Daffa. Perseteruan ini juga membuat organisasi Singa Putih menjadi terpecah. Sebagian kubu masih mendukung Bondan sebagai ketua, dan sebagian lagi mendukung Daffa untuk naik menjadi pemimpin Singa Putih.


Untuk menjadi anggota Singa Putih bukan hanya dengan mengandalkan catatan kriminal yang mereka miliki. Sebelum menjadi anggota akan ada uji penerimaan anggota baru yang terkenal begitu sadis. Para calon anggota akan bertarung dengan anggota lainnya di atas arena yang telah ditentukan. Segala jenis aliran pertarungan dihalalkan di atas arena ini. Jadi bukan hal yang tabu bila banyak calon anggota yang gugur di atas ring.


Seorang laki-laki sedang duduk di atas sofa kulit hitam sambil menyilangkan satu kakinya. Di antara jari telunjuk dan jari tengahnya tersampir sebatang rokok yang sudah menyala. İa tidak duduk sendiri, ada empat gadis yang mengenakan seragam ketat menemaninnya duduk di atas sofa. Dan yang membuat Daffa muak adalah mereka tertawa cekikikan saat satu tangan milik Bondan telah menghilang.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Daffa langsung pada intinya saat pertama kali kakinya tiba di basecamp Singa Putih. İa tentu tak ingin berlama-lama berada di satu ruangan yang sama dengan Bondan.


Bondan tidak langsung menanggapi pertanyaan Daffa. İa sedikit sibuk dengan para gadis yang begitu menggoda nafsu birahinya. Entah sudah berapa kali jemari-jemari miliknya keluar masuk di balik rok mereka.


"Binatang sialan!" gerutu Daffa muak dengan tingkah laku mereka. Belum sempat Daffa berbalik untuk meninggalkan Bondan, Bondan sudah lebih dulu menanggapi kalimatnya. "Ku dengar kau sudah memiliki kekasih?"


"Katakan apa yang kau inginkan bajingan!"


Bondan tertawa terbahak-bahak. İa tak merasa tersinggung dengan kalimat Daffa. İa masih sibuk memenuhi nafsu birahinya yang telah mencapai puncak. Tubuhnya kini bahkan sudah **** salah satu gadis miliknya.


"Binatang sialan!" maki Daffa yang hanya dibalas oleh suara desahan mereka.


"Daffa? Bagaimana rasa tubuh milik kekasihmu? Apakah ia hebat di atas ranjang?"


Tanpa menunggu jeda, Daffa menghajar wajah Bondan. Rasanya tidak puas jika hanya menghajar wajahnya, ia menyeret Bondan hingga lepas penyatuannya. İa kembali menghajar tubuh Bondan. Daffa tidak memberi Bondan kesempatan untuk melawan pukulan-pukulannya. Terus memukul membabi buta.


Bondan tertawa sambi sesekali meringis, "Aku penasaran bagaimana rasa bibirnya jika ..." belum selesai Bondan berkata Daffa sudah melayangkan satu pukulan ke arah mulutnya. Terus memukul walau kini Bondan sudah terkulai tak berdaya di lantai.


Tak ada yang berani melerai perkelahian mereka, bunuh diri namanya. Mereka lebih memilih membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka masing-masing. Sebab memang tak ada larangan bagi mereka untuk saling bertarung antar anggota demi memperebutkan kekuasaan, mereka hanya dilarang untuk saling membunuh.


"Daffa, sudah hentikan! Kau bisa membunuhnya!" teriak Gitar yang sudah kalang kabut melihat Bondan tergeletak tak berdaya dengan darah mengalir dari tubuhnya.


"Ba-hi-ngan!" erang Bondan tertahan karena kini Daffa sedang mencabut gigi seri milik Bondan yang sudah goyang karena tinjunya.


"Dengar ini baik-baik. Sekali kau berani menyebut ataupun menyentuh kekasihku, tidak hanya gigimu yang kupastikan akan lepas dari posisinya. Tapi aku juga akan mencabut tangan dan kakimu, dengarkan itu baik-baik, sialan!"


Ancaman Daffa membuat bulu kuduk Bondan meremang, ia tak menyangka bahwa selama ini Daffa selalu menahan diri saat melawannya. İa tak tahu apakah saat ini Daffa sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya atau belum, tapi yang pasti, apa yang dilakukan Daffa saat ini benar-benar membuatnya ketakutan.


Sore itu tidak hanya Bondan yang mengakui kekuatan Daffa, tapi juga para kubu yang menentang kepemimpinannya.


"Daf, kita pergi." ucap Gitar menyerahkan sehelai anduk kepada Daffa agar ia menyeka bercak darah yang mengenai tubuhnya.


"Tunggu, ada yang harus ku tanyakan." Daffa kini sudah berjongkok di sebelah tubuh Bondan. "Heh bedebah sialan? Katakan apa yang mereka perintahkan?"


"Me-he-ka me-na-hi-kan hu-ang hi-yu-ran."


"Bajingan! Mereka pikir aku ini mesin uang mereka?"


"İ-hu ke-pu-hu-san muh-lak pim-pi-han."


"Persetanan dengan segala hal! Apa masih kurang uang setoran sebelumnya? Mereka pikir sepuluh juta perhari mudah didapat!"


"Me-he-ka tak ma-hu ta-hu Da-ha-fa."


"Kalau begitu gunakan otakmu untuk mencari sisanya."


.


.


.


.


.


✌✌✌✌✌