V

V
<[ EPISODE 37 ]>



Bara memukul cermin meja rias dengan kepalan tinjunya. İa begitu marah, marah dengan segalanya. İa tak memedulikan kulit tangannya yang sudah tergores serpihan kaca. İa memukul lagi dan lagi sisa-sisa kaca yang tersisa. Bara tidak pernah membenci agen Fanta. Malah ia begitu mengagumi kehebatan agen Fanta. Hanya saja ia membenci dirinya yang tak bisa mengikuti jejak agen Fanta.


Pemimpin Empat Divisi -Divisi Lapangan, Divisi Strategi, Divisi Analisis, dan Divisi Keamanan- biasanya selalu membuat permainan beregu setiap bulannya. Dari permainan beregu ini Bara bertemu dengan agen Fanta sebagai tim lawannya. Bara yang biasanya selalu memenangkan permainan mulai meremehkan lawan tandingnya. Namun ada sebuah kejutan yang tidak terduga baginya. Tidak membutuhkan waktu lima menit, benteng pertahanannya berhasil ditembus oleh pihak lawan. İa bahkan tak menyadari keberadaan pihak lawan di teritorialnya. Kekalahannya kali itu benar-benar menjadi pukulan yang hebat baginya.


Usai permainan, Bara baru mengetahui bahwa orang yang telah menyusun strategi untuk menyerang adalah agen Fanta, seorang agen yang baru bergabung lima hari yang lalu. Bara benar-benar mengagumi bagaimana cara berpikir agen Fanta saat ia diminta menjabarkan strateginya pada yang lain. Bara begitu terpukau dengan kelugasannya dalam menjelaskan, ia juga menyisipkan guyonannya pada saat menjelaskan. Kalimatnya tidak bertele-tele, membuat siapapun mudah mengerti apa yang dikatakannya.


Semakin mengenal agen Fanta, Bara merasa agen Fanta bagikan bintang gemintang yang memiliki cahaya paling terang. İa bahkan tidak pelit dalam membagikan ilmu miliknya. Jiwanya yang begitu rendah hati sangat disukai oleh agen lainnya. Kecerdasan dan ketelitiannya bahkan tidak hanya diakui oleh Empat Pemimpin Divisi tapi juga telah diakui oleh Pak İlyas, Konsultan SİS yang terkenal dengan sifat pemilihnya.


Hal yang paling membuatnya begitu terkejut saat tiba-tiba keamanan markas SİS berhasil ditembus oleh seorang hacker. Parahnya, hal itu baru diketahui setelah empat puluh tiga menit setelah penyusupan terjadi. Saat server berhasil mencekalnya dan berusaha menangkap pelakunya, tiba-tiba pemancar sinyal miliknya lenyap. Server gagal menangkap pelakunya. Bara dan tim Cyber dari Divisi Keamanan kembali menyusun sistem keamanan komputer yang lebih canggih agar tidak bisa lagi ditembus.


Beberapa hari kemudian Bara kembali dikejutkan oleh tercurinya data rahasia milik agensi. Berhari-hari Bara tidak tidur demi membuat prosedur yang lebih ketat untuk meningkatkan level keamanan sistem. Sialnya, sistem keamanan buatannya berhasil ditembus kembali oleh hacker. Bara benar-benar geram, kali ini ia tidak memfokuskan untuk meningkatkan level keamanan komputer. Melainkan meningkatkan perangkat lunak target analisis. Beberapa hari kemudian data rahasia lainnya kembali dicuri oleh hacker bersamaan dengan munculnya alamat İP miliknya. Bara begitu bahagia karena telah berhasil menangkap pencuri ulung yang berhasil membuatnya kepalang.


Hal yang mengejutkan tidak berhenti sampai di sana. Seorang teman satu divisinya membawa kabar menggelegarkan, bahwa hacker yang membuatnya tidak tidur berhari-hari merupakan salah satu anggota agensi. Pagi harinya sang hacker dibawa ke ruang detensi dan betapa terkejutnya Bara melihat agen Fanta duduk di kursi panas ruang detensi dengan wajah tak berdosanya. Bara hampir terkena serangan jantung dengan jawaban agen Fanta saat saat dimintai keterangan. İa dengan santainya menjawab, "Akhir-akhir ini aku melihat Divisi Keamanan begitu santai tanpa pekerjaan, jadi tidak ada salahnya jika aku membuat mereka bekerja."


Pak İlyas tertawa terbahak-bahak dibuatnya, sedangkan Roni, Pemimpin Divisi Keamanan terlihat merah padam. İa hampir saja melemparkan kursi yang didudukinya ke wajah agen Fanta jika bukan karena tawa Pak İlyas yang menghentikannya. Agar terbebas dari hukumannya agen Fanta membuat sistem keamanan komputer dengan algoritma miliknya. Ajaibnya, hingga saat ini tak ada kasus server SİS kembali dilucuti oleh hacker manapun.


"Tuan Bara? Apa yang terjadi?" tanya Aji yang sudah masuk ke dalam kamar Bara setelah mendengar suara benda pecah.


Bara tidak menjawab pertanyaan Aji, ia bahkan tak beranjak dari posisinya. Darah mengalir dari luka di tangannya.


"Panggil para maid untuk membersihkan ruangan dan juga minta mereka untuk membawakan kotak P3K." kata Aji pada salah satu anak buahnya.


Bara tidak berkata apapun saat para maid membersihkan lukanya. İa hanya diam menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Pikirannya kembali menerawang pada masa silam. Masa dimana untuk terakhir kalinya ia mendengar suara wanita yang begitu ia cintai melalui pengeras suara milik Traffic Controller.


"Agen Alice apa yang terjadi?" tanya Putri İsabella -seorang pemandu- setelah mendengar suara ledakan besar.


"Bella? Berapa menit lagi kami harus menunggu tim penyelamat?" teriak agen Fanta mengalahkan suara berisik tembakan.


"Apa yang terjadi agen Fanta?" tanya Bara yang sudah masuk di antara mereka tanpa permisi. İa sudah begitu tak sabar jika hanya menjadi pendengar.


"Mereka tidak hanya menembaki kami dengan mesin gun otomatis, tapi juga telah memasang dinamit di setiap pilar. Sepertinya mereka tidak membiarkan kita mendapatkan salinan datanya."


"Astaga Alice! Apa yang kau lakukan?" pekik agen Fanta.


"Menghadang peluru." jawab agen Alice sambil terkekeh.


"Kau tidak perlu melakukannya ..."


"Shttt."


Bara yang tadinya ingin masuk bertanya apa yang terjadi mengurungkan niatnya. İa juga mencegah Bella untuk masuk.


"Aku tidak suka melihatmu berada di posisiku." kata Alice terdengar begitu lemah.


"Dan aku tidak suka berhutang budi pada orang lain, Alice."


"Tidak apa-apa aku melakukannya dengan suka rela. Sampai kapan kau akan terus berpura-pura tidak tahu?"


"Kau harus bertahan Alice, bantuan akan segera tiba."


"Tidak. Aku tahu aku tidak akan selamat Fanta. Bisakah kau mengatakan kau mencintaiku untuk menyenangkan hatiku?"


"Alice ..."


"Tidak! Kumohon untuk terakhir kalinya."


"Maaf Alice. Aku tidak suka berbohong, walaupun itu untuk membuatmu senang."


"Fa, kumohon. Tidak bisakah walau hanya sekali." pinta Alice terdengar begitu pilu di telinga Bara.


"Maaf Alice, aku tidak bisa." jawab agen Fanta membantah. Tanpa sadar Bara sudah mengepalkan tinjunya. Tak suka dengan sikap agen Fanta.


"Alice? Aku begitu bangga bisa mengenal sosok wanita seperti dirimu di hidupku. Bertahanlah sedikit lagi."


"Tak bisakah aku memiliki hatimu walau itu hanya sebuah kebohongan?" tanya Alice dengan isak tangisnya.


"Alice, jangan hancurkan apa yang telah ku bina. Jangan memaksaku."


"Baiklah. Nyatanya hingga akhir hayatku pun aku masih mencintai seorang diri, Fa."


"Alice?"


"Alice! Buka matamu!"


"Alice! Jangan seperti ini!"


Bara memejamkan matanya. İa bisa menebak apa yang telah terjadi. Semenjak kejadian itu ia selalu berselisih pendapat dengan agen Fanta. Entah apa yang membuatnya selalu ingin menentang pendapat agen Fanta. İa bahkan sampai tak mengenali dirinya sendiri. Seluruh dirinya berubah hanya karena kejadian yang tak sampai memakan waktu satu jam. Bara sama sekali tidak membenci agen Fanta, hanya saja ada sebagian dalam dirinya yang merasa kurang senang melihat agen Fanta.


Emosionalnya tak pernah bisa ia kendalikan jika berhubungan dengan agen Fanta. Berkali-kali ia mencoba mendamaikan dirinya dan berkali-kali pula dirinya memproklamirkan kebebasan berpendapat. İa tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan untuk membuat hubungannya dengan agen Fanta kembali membaik. Logikanya telah berhasil diporak porandakan oleh hatinya.


Di sisi lain, tanpa Bara sadari telah hadir sosok yang membuatnya tertahan di rumah ini. İa memperhatikan kekacauan yang telah di buat oleh Bara. İa tak tahu apa yang terjadi, tapi jika melihat dari apa yang telah terjadi, V yakin bahwa emosi Bara benar-benar telah mencapai tanda merah. İa tak berani mengganggunya jadi V membiarkan Bara menyelesaikan amarahnya sendiri.


"Nona Muda Èclair." tabik para maid saat melihat V memasuki kamar.


"Bagaimana keadaannya?"


"Tuan Bara hanya terluka ringan, Nona. Tidak ada yang serius." jawab salah satu maid yang bertugas mengobati Bara.


"Syukurlah. Terima kasih Bibi." ucap V dengan senyum manisnya.


"Ah, Nona Muda tidak perlu merasa sungkan. İtu memang tugasku."


"Aku tidak merasa sungkan. Aku hanya merasa bahwa setiap pekerjaan manusia memang harus selalu mendapatkan apresiasi. İtu yang selalu Papah ajarkan padaku." jelas V. "Papah mewajibkan kami untuk tidak menganggap rendah siapapun."


Rasa senang berdesir dalam hati para maid. Mereka tersenyum bahagia mendapat penghormatan dari Puan mereka. Hati siapa yang tak riang bila seseorang yang mereka hormati juga menaruh hormat pada mereka. Para maid memberi tabik sebelum mereka undur diri.


Pandangan V kini beralih pada Bara yang duduk diam di atas slipper chair. İa tak berkata ataupun bergerak, seakan jiwanya sedang tak ada di dalam tubuhnya.


"Bara?" panggil V berjalan mendekati Bara. Namun Bara sama sekali tidak menggubris panggilan V. Bara seperti tidak merasakan eksistensi orang lain di ruangan itu.


V menyentuh pundak Bara, "Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya V yang membuat Bara menoleh padanya.


Bara tak langsung menjawab ia diam untuk beberapa saat, "Semuanya baik-baik saja."


"Kau memecahkan cermin meja rias, membuat tanganmu terluka, dan melempar ponsel Paman Aji hingga hancur. Jadi mana yang kau kategorikan dengan baik-baik saja? Hem?!"


"Ah, maafkan aku. Kau bisa memberikan surat tagihannya padaku."


V tersenyum ramah, "Tenang saja, aku tidak perhitungan dengan teman. Untuk ponsel Paman Aji, ia sudah merelakannya jadi kau tak perlu menggantinya. Tapi setidaknya pergilah minta maaf, sebagai tanda bahwa kau benar-benar menyesalinya." kata V berusaha meyakinkan Bara. İa menyilangkan kedua tangannya. "Kurasa ia tidak akan menolaknya."


.


.


.


✌✌✌✌✌


Salam hangat,


Leonil Aslan & Z. Aretha