
Kabar mengenai konferensi pers Cole Harvey dan Presiden Adolf, selaku Presiden negara S mengundang wartawan dari berbagai kantor berita untuk datang memenuhi aula Centaurus. Semua orang tahu apa yang dilakukan oleh Cole baik sengaja ataupun tidak sengaja telah mengkebiri sistem pemerintahan negara S. Cole melepas topeng-topeng anggota dewan parlemen yang menyalahgunakan uang rakyat di peradilan tertinggi dunia. Kasus yang harusnya tertutup dari kaca mata dunia, terpaksa dibuka selebar-lebarnya.
Agar tidak mempermalukan negara S lebih jauh lagi, dewan Pertimbangan Agung mendesak Presiden Adolf untuk menarik kembali kasus yang diserahkan ke pengadilan tertinggi dunia, demi menjaga kredibilitas lembaga peradilan negara dan juga kedaulatan negara yang telah terporak-poranda.
Tentu permintaan Presiden Adolf yang secara mendadak menuntut wewenangnya sebagai penegak hukum tertinggi di negara S, membuatnya ditertawakan oleh dunia. Sudah menjadi rahasia umum penolakan keras Presiden Adolf atas permintaan Cole yang ingin kembali membuka kasus yang telah lama ditutup oleh pengadilan. Di bawah pengawasan Pengadilan Tertinggi Dunia, hakim agung mahkamah konstitusi negara S menjatuhi hukuman mati kepada para anggota parlemen dan seorang hakim agung yang terlibat kasus suap dan korupsi dana penanganan bencana La Nina.
Para jurnalis terkemuka hadir untuk menyaksikan peragaan senjata peledak terbaru yang dirancang oleh Cole, entah pada menit keberapa alat pemicunya akan diaktifkan hingga meledakkan seluruh isi lembaga parlemen yang ada. Wajah Presiden Adolf terlihat sedikit pucat, raut lelah tertampak jelas di wajahnya. Berbeda dengan Cole yang tampil dengan segar serta memancarkan aura wibawa yang kuat. Siapapun yang melihat penampilan keduanya mungkin akan sedikit rancu menebak siapa presidennya.
Presiden Adolf berdiri membacakan pidatonya yang konservatif. Membawa audiens pada sejarah-sejarah dunia yang telah mereka khatamkan di bangku sekolah. Mereka tak segan menunjukkan raut ketidak puasan mereka dengan isi pidato Presiden Adolf, karena alasan mereka hadir di acara itu bukan untuk mendapatkan kuliah umum yang bersifat teoritis. Mereka tak butuh itu, begitupun para pembaca yang menunggu berita terbaru mereka.
Yang mereka butuhkan hanyalah laporan hasil rapat konsultasi bersama para pakar ekonomi dunia. Persetan dengan segala teori-teori yang hanya membuat mereka lelah karena tak pernah ada habisnya. Mereka hanya butuh langkah yang tepat dalam mengatasi krisis yang terus menteror rakyat, membombardir usaha-usaha mereka hingga hancur lebur menjadi puing-puing tak berharga. Mereka menunggu pemerintah menangani krisis legitimasi yang menjadi akar dari setiap permasalahan yang ada.
Mereka geram dengan isi pidato Presiden Adolf yang tak juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Hingga moderator membuka termin tanya jawab, membuat mereka berbondong-bondong mengacungkan tangan mereka setinggi-tingginya. Pertanyaan yang mereka ajukan tak jauh dari masa depan negara dan strategi pemerintah dalam memerangi krisis yang menjajah negara S.
Presiden Adolf menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepadanya dengan pembawaan yang tenang dan lugas. Dengan pembawaannya itu ia kembali meyakinkan audiens dan juga rakyatnya bahwa krisis moneter yang terjadi saat ini, tidak benar-benar menghancurkan perekonomian negara S. Pemerintah mengakui kekeliruan mereka saat awal menangani krisis legitimasi dan juga moneter yang datang tak terduga. Dalam menjawab permasalah yang menggemparkan rakyat, pemerintah akan melakukan penguatan ekonomi rakyat. Memberlakukan program baru yang nantinya akan memajukan perekonomian negara. Salah satunya dengan program pembangunan sumber daya manusia melalui pengembangan keswadayaan masyarakat yang akan di dampingi oleh ahli menuju kemandirian usaha.
Pemerintah juga merencanakan program rekapitalisasi perbankan untuk membantu permodalan bank-bank yang masih dapat ditolong untuk meneruskan operasinya. Atas ide Cole Harvey demi mendukung berjalannya program pemerintah dan juga menekan hutang negara yang semakin membengkak, mereka menawarkan kepada para investor dalam negeri ataupun investor asing untuk berinvestasi di negara S. Dan program yang paling membuat semua puas adalah melakukan revisi pada undang-undang dengan mengembalikannya pada aspirasi publik demi memperkuat peradilan di negara S. Tawaran-tawaran ini membuat audiens merasa puas terjawab sudah seluruh pertanyaan mereka.
Presiden Adolf tidak langsung meninggalkan aula Centaurus usai pidatonya, ia kembali ke tempat duduknya, menunggu pidato yang akan dibacakan oleh Cole. Presiden Adolf sebenarnya sedikit was-was dengan isi pidato Cole, ia takut isi pidatonya akan kembali menyulutkan emosi rakyatnya. Meski pada saat rapat konsultasi Cole memberikan nasihat-nasihat yang membangun, namun Presiden Adolf yakin bahwa hal itu hanyalah profesionalitasnya sebagai penasihat ekonomi terbaik dengan segunung piala penghargaan yang telah diraihnya.
Cole Harvey meraih sebuah mikrofon agar lebih dekat dengan mulutnya. Ia membaca sebentar kertas-kertas isi pidatonya yang telah disiapkan oleh Antoine. Di luar dugaan, Cole melipat kertas pidatonya hingga berbentuk pesawat terbang, meluncurkannya kesembarang arah. Membuat pandangan para wartawan ikut teralihkan ke pesawat yang kini telah menukik di lantai. Ia hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari wajah bingung mereka.
Cole membuka pidatonya dengan kata sambutan yang sederhana, kemudian menutup pidatonya dengan salam penutup yang begitu manis. Cole membuat seluruh hadirin tercengang bengang dengan pidato yang bagi mereka sama sekali tidak ada isinya. Di sudut ruangan Antoine menepuk keningnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sahabat sekaligus atasannya. Presiden Adolf yang sejak tadi merasa tegang, tersedak oleh salivanyanya karena terkejut. Ia terbatuk-batuk di kursinya.
Belum sempat semua orang kembali ke alam sadar mereka Cole kembali berkata, "Tidak ada pertanyaan? Ternyata lebih cepat selesai dari dugaanku. Moderator bisa langsung menutup konferensi siang ini."
Antoine kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Moderator yang telah kembali ke alam sadarnya mempersilahkan audiens untuk bertanya. Puluhan tangan terangkat ke atas, dengan wajah penuh harap bahwa dirinyalah yang mendapat kesempatan untuk bertanya. Cole terkekeh melihat tindakan impulsif mereka. Mereka sebenarnya tak perlu berpikir lagi, karena memang mereka telah menyiapkan pertanyaan sebelum datang ke konferensi ini. Ia mempersilahkan tiga orang yang beruntung untuk mengajukan satu pertanyaan kepadanya.
"Pertanyaan pertama dari Nona Calla Grethania. Nona Grethania anda memiliki nama secantik diri anda." ucap Cole yang membuat Calla tersipu malu, "dan nama saya juga setampan diri saya." lanjutnya yang mendapat gelak tawa dari audiens.
"Loh? Bukankah pernyataan saya benar? Karena dia seorang perempuan makanya saya puji cantik, jika saya puji tampan baru itu bermasalah." bela Cole yang kembali membuat audiens tertawa.
"Ah baiklah, baiklah, aku paham kalian jauh-jauh ke sini bukan untuk mendengar leluconku." kata Cole mencoba menghentikan tawa mereka, "Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku membuka kembali kasus Ruth Cailean, benar?" tanya Cole. yang mendapat anggukkan kepala dari Calla dan beberapa audiens lainnya.
Tawa bergemuruh namun Cole memasang wajah tak sukanya, menatap ke kursi di sudut ruangan, "Ya, ya, aku tahu orang yang di pojok sana tak suka dengan pernyataanku. Peduli setan dengan argumenmu, suka ataupun tidak aku tetap dibayarkan. Mau apa kau?" tanya Cole dengan wajah mengejeknya. Tingkahnya kembali membuat mereka kesakitan karena tertawa terus menerus.
"Ahh, sepertinya Nona Grethania mulai menaruh dendam padaku karena kubuat lama menunggu." kata Cole lagi yang membuat Calla menjadi salah tingkah, karena mendapat perhatian dari setiap penjuru. "Nona Grethania, apakah kau pernah jatuh cinta?" pertanyaan Cole membuat Calla tersipu malu karena memang ia juga sedang jatuh cinta.
"Ah?! Maaf, Sir?" tanya Calla malu-malu.
"Ya Tuhan! Aku hanya bertanya dan kau langsung malu-malu." kata Cole tertawa, tawa Cole seperti mendoktrin audiens untuk ikut tertawa bersamanya. Sedangkan Calla semakin memerah karena malu, andaikan hanya ada mereka berdua, mungkin ia akan menghajar tubuh Cole karena telah mempermalukannya. "Jadi apa yang kau rasakan dari cinta?" tanya Cole yang kini membuat Calla benar-benar ingin menghajar wajahnya.
"Sir, bukankah itu tak ada sangkut pautnya dengan kasus kita?" tanya Calla yang merasa dipermainkan. Nadanya terdengar kesal.
"Tentu saja cinta dan pertanyaanmu serta dua pertanyaan lainnya saling bersinambung, Nona." Kata Cole membuat semua orang yang mendengar kata-katanya bertanya-tanya. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, menerka-nerka kiranya apa yang menjadi penjelas masuk akal bagi pernyataan Cole.
Cole Harvey kembali meneguk minumnya. Ia diam beberapa saat, menunggu, "Astaga! Lihatlah wajah serius kalian yang menunggu kalimatku selanjutnya." Cole tertawa sambil mengedarkan pandangannya, aula Centaurus kembali bergemuruh oleh tawa, "Bahkan Presiden Adolf pun sampai tak berkedip menunggu kalimatku." tambah Cole membuat mereka semakin tertawa. Karena melihat semua orang tertawa, mau tidak mau Presiden Adolf ikut tertawa daripada tersinggung.
"Aku kembali membuka kasus Ruth Cailean karena putri angkat mereka adalah mantan tunanganku, Magaly Nyx." kata Cole setelah suasana mulai tenang. Nada suara Cole yang bergetar membuat siapapun yang membuka telinga mereka lebar-lebar bertanya-tanya. Cole begitu mahir mencampur adukkan perasaan mereka. Kalimat awalnya yang penuh dengan tawa, mendadak meluap karena kesedihan di nada akhirnya. Mereka tak ada yang berani menyuarakan pertanyaan mereka. Saling menyimpan dalam benak mereka masing-masing. Memilih menunggu Cole Harvey melanjutkan perkataannya yang terputus karena tercekik oleh rasa pedih di hatinya.
Cole menceritakan alasannya kembali membuka kasus Ruth Cailean yang telah lama ditutup oleh pengadilan. Suaranya yang terdengar begitu lirih dengan butiran-butiran air mata yang terus mengalir, membuat hati siapapun yang mendengar ikut merasakan kesedihan. Bahkan beberapa dari mereka telah meneteskan air matanya, karena cerita sedih Cole Harvey. Bagaimana tidak? Cole bercerita mengenai balada yang tidak hanya dirasakan oleh tunangannya melainkan juga dirasakan oleh masyarakat negara S.
Seluruh rakyat tahu bahwa negara S senantiasa mengutamakan hukum sebagai landasan aktivitas negara dan masyarakat. Namun dalam realitasnya hukum tidak saja dijalankan sebagai rutinitas belaka tetapi juga dipermainkan seperti barang dagangan. Peraturan yang seharusnya adil, tegas dan bukan tebang pilih, tidak ada sebuah sabotase, diskriminasi dan pengistimewaan dalam menangani setiap kasus hukum baik pidana maupun perdata. Tapi nyatanya semua itu hanya menjadi hiasan tertulis dalam cita-cita negara.
Hukum yang seharusnya menjadi alat pembaharuan masyarakat, telah berubah menjadi mesin pembunuh karena didorong oleh perangkat hukum yang morat-marit. Rakyat tak berdaya melawan sistem hukum yang mengkungkung hak-hak mereka sebagai warga negara S. Bukannya pasrah hanya saja protes mereka tak didengarkan. Namun karena tindak nyata emansipasi hukum dari seorang yang bahkan berkewarganegaraan asing, menuntut penegakan hukum secara adil dan menyeluruh di negara S. Hal itu membuat mereka kembali berani berjuang menyuarakan aspirasi mereka, tak peduli walau harus mengorbankan jiwa dan raga mereka demi keadilan.
Berbagai perasaan berkecamuk di dada mereka masing-masing. Presiden Adolf yang awalnya berpikir bahwa Cole ingin mengkudeta kekuasaan dirinya, tersentak tak percaya mendengar pernyataan Cole Harvey. Ancaman yang membuatnya getar-getir dan parahnya lagi ia sama sekali tak mampu menyentuh sehelai rambutpun ancamannya. Namun lihat sekarang orang yang membuatnya demam panas dingin beberapa bulan belakangan ini bertindak bukan demi kekuasaan. Dan konyolnya lagi itu berasal dari Cole Harvey, semua orang tahu siapa itu Cole Harvey. Laki-laki yang sebelumnya terkenal dingin seekstrim badai salju di musim dingin, bisa sehangat musim semi jika menyangkut perihal tunangannya, wanita yang dicintainya.
Melihat Cole yang tergugu oleh isak tangisnya membuat Presiden Adolf yang duduk di sebelah Cole Harvey mengusap-usap pundaknya, agar lebih tegar. Meskipun awalnya Presiden Adolf telah mengibarkan bendera perang pada Cole, mendengar tangis yang menderu-deru bagaikan seekor anak kucing yang kehilangan induknya, siapa yang tidak melemah? Antoine yang telah memutar kursi Cole agar menghadap ke arah sebaliknya, memberikan Cole air mineral. Sedangkan moderator yang harusnya mengambil alih, masih tetap diam terpaku menunggu tindakan Cole selanjutnya.
"Cole, biar aku yang melanjutkan konferensinya. Kau bisa menenangkan dirimu di ruang tunggu yang telah ku persiapkan." ujar Antoine tak tega melihat rekannya terus diombang-ambing oleh kesedihan.
"Tidak, biarkan aku menyelesaikan apa yang telah ku mulai." bantah Cole Harvey mengusap wajahnya, entah untuk yang keberapa kalinya ia mengusap wajahnya.
Cole Harvey membalik kursinya kembali menghadap audiens yang telah menunggunya. Matanya berkeliling menatap audiens yang juga ikut merasakan kesedihannya. Beberapa menit setelah ia berhasil mengambil alih dirinya, ia melanjutkan perkataannya, "Aku menyelidiki kembali kasus tersebut secara mendalam, aku merasa ada hal yang janggal dari beberapa bukti yang diajukan oleh jaksa penuntut. Dari bukti yang ku kumpulkan Mr. Cailean harusnya dinyatakan tidak bersalah dan terbebas dari segala tuntutan, namun keputusan hakim menyatakan sebaliknya.
"Pada saat kau ingin terbebas dari tuduhan maka kau harus mencari kebenarannya bukan?" tanya Cole yang tak perlu menunggu jawaban, Cole terus bercerita dengan suara lirihnya. Mereka memahami kesedihan dan kemarahan yang dirasakan oleh Cole hingga mereka dengan sabar dan tabah mendengarkan keluh kesahnya.