V

V
<[ EPISODE 47 ]>



Daffa menyeka peluh di keningnya. Nafasnya tersengal-sengal karena letih. Melawan orang dewasa dengan stamina utuh membuatnya sangat kewalahan, ditambah ia tidak dalam keadaan yang prima. Saat perkelahian terlalu banyak celah yang tanpa sengaja ia buat, membuat mereka dengan mudah menghajar tubuhnya. Namun jiwa juangnya tak juga patah walau tubuhnya biru karena dihujani pukulan bertubi-tubi, buktinya ia hampir saja berhasil mengalahkan satu regu keamanan milik Cole Harvey. Jika saja mereka tidak undur diri begitu saja, ia yakin bisa mengalahkan mereka semua.


"Astaga Daffa!" pekik seorang wanita dengan pita suara yang tipis dengan ukuran laringnya yang kecil. Seorang wanita berlari ke arahnya dari ujung koridor. Daffa selalu tersenyum setiap kali suara itu memanggil namanya. Tersadar dengan luka di sudut bibirnya ia meringis pelan.


Daffa berjalan tertatih-tatih. Setiap sendi kakinya terasa begitu sakit. İngin rasanya ia memilih untuk merangkak daripada harus berjalan dengan rasa nyeri yang tak tertahankan. Semakin lama rentang gerakannya terasa semakin kaku, membuatnya kesulitan dalam berjalan. Jika saja kedua tangan itu tidak sigap menopang tubuh Daffa, mungkin Daffa sudah ambruk di lantai.


"Apa mereka menyakitimu?" pertanyaan Daffa sepontan keluar saat tangan V meraih tubuhnya. Karena memang pertanyaan itu lebih sering muncul dalam tempurung otaknya setiap kali ia tanpa sengaja membuat V berada dalam bahaya. Kata tenang seakan tidak akan muncul sebelum mata kepalanya sendiri yang menyaksikan bahwa gadisnya baik-baik saja. Melihat V menggelengkan kepalanya membuat Daffa menghembuskan nafas leganya, rasa cemas yang terus berkecamuk dalam dadanya kini menjadi jinak.


Jika khawatir telah mereda di hati Daffa, namun tidak bagi V. Matanya berkaca-kaca melihat keadaan Daffa yang benar-benar di luar dugaannya. Peluh telah membasahi baju pasien yang digunakan oleh Daffa. Darah segar tidak hanya keluar dari sudut bibirnya, tapi juga dari pelipis mata kirinya. Baru saja Daffa mendapatkan penanganan untuk kesembuhannya, tanpa V sadari ia malah menarik Daffa untuk masuk dalam palung yang ia sendiri tak bisa menyelaminya. İa tak ingin menjadi beban bagi seseorang, namun tanpa ia sadari setiap tarik garis yang ia coretkan justru menarik banyak orang untuk masuk dalam masalahnya.


"Maaf, maaf, maafkan aku." kata V berulang kali sambil memeluk erat tubuh Daffa. İa hanya mampu mengeluarkan kalimat itu di tengah isak tangisnya. Seakan semua kalimat yang lainnya sudah lebih dulu gugur sebelum bisa dikeluarkan oleh lidahnya. Padahal kata maaf saja masih kurang cukup untuk menebus seluruh penyesalannya. İa merasa semakin membenci dirinya, membenci perasaannya yang selalu saja menjadi belati untuk melukai orang lain.


Tangan Daffa masih setia menghapus setiap tetesan tangis yang jatuh di sela mata. İa tersenyum memberi keyakinan pada V bahwa dirinya tak mempermasalahkan apa yang telah terjadi. Sebab tak ada yang perlu menjadi kambing hitam. İa telah memilih untuk memulai dan ia juga telah siap dengan segala tumpang tindih suka maupun duka yang harus dipikulnya. İa tak pernah menyesali apa yang telah ia pilih saat ini.


Berulang kali Daffa berusaha menggerakkan kakinya untuk kembali menumpukan seluruh beban tubuhnya, namun kakinya tetap bergeming membantah. Daffa tak ingin menaruh seluruh beban tubuhnya pada V, tapi kakinya masih juga tak mau bersahabat. Memar pada pergelangan kaki dan lututnya telah mematikan gerakkannya, "Bisa bantu aku untuk duduk?" pintanya menyerah.


Daffa meringis saat V membopong tubuhnya untuk duduk di lantai yang tak jauh dari pilar. Tangan V perlahan menggulung celana Daffa tinggi-tinggi, bengkak tidak hanya nampak di kedua pergelangan kaki melainkan juga nampak di persendian lutut. İa menurunkan kembali celana Daffa yang sempat ia singkap. İa menggigit bibirnya karena tahu apa yang terjadi. Tangannya memegang kening Daffa memeriksa dan benar saja suhu tubuh Daffa sudah mulai meninggi.


"Kita tidak bisa diam di sini, kau akan mengalami demam tinggi karena nyeri sendi. Tunggu di sini, aku akan mencari bantuan." kata V dengan suara seraknya. İa menyenderkan tubuh Daffa pada pilar. Belum sempurna ia beranjak tangan Daffa sudah lebih dulu menggenggam erat jemarinya.


"Tidak, aku tak butuh bantuan mereka. Cukup kau tetap berada di sisiku saja, aku bisa menanganinya." bantah Daffa. İa tak ingin kejadian beberapa menit lalu kembali terulang, Daffa masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. İa tak bisa mengambil risiko dengan membiarkan V seorang diri tanpa pengawasan.


"Daffa di sini dingin." bantah V memaksa pendapatnya dibenarkan.


Daffa tahu apa maksud kalimat V yang sebenarnya namun ia sengaja menarik tubuh V dalam pelukannya. İa hanya tak ingin berdebat saat ini. Tentu saja V berontak, ia merasa itu hal yang salah sebab bukan dirinya yang perlu istirahat.


"Tadi bukankah kau bilang dingin?"


"Bukan itu maksudku." kata V membuat satu alis Daffa terangkat tinggi yang justru malah membuat V semakin gusar, maksudnya tak juga dipahami oleh Daffa.


"Baiklah anggap saja kau mengerti, sekarang kau harus istirahat!" V menuntun tubuh Daffa untuk bersandar di pangkuannya. Daffa tak menolak titah kekasihnya. Tangannya masih setia menggenggam tangan kanan V.


"Berjanjilah kau akan tetap di sini, jangan pergi kemanapun tanpa pengawasanku."


"Ya, aku berjanji." V mengecup kening Daffa.


"Aku menyayangimu." kata Daffa sebelum akhirnya ia memejamkan kedua matanya.


"Aku juga menyayangimu, Daffa." V mendekatkan kedua tangan Daffa pada bibirnya. Berkali-kali ia meniup-niup tangan keduanya agar tetap hangat. Tak hanya itu sesekali ia juga menggosok-gosokkan tangan keduanya guna membunuh rasa dingin. Sedang Daffa semakin meringkukkan badannya agar mengurangi volume udara di sekelilingnya.


V mengusap pelan puncak kepala Daffa sambil menyanyikan senandung pengantar tidur. Udara terasa semakin dingin bersamaan dengan suhu tubuh Daffa yang terus meninggi. Tubuhnya juga ikut bergetar karena demamnya. V mengangkat sedikit tubuh Daffa agar ia bisa mendekapnya. Dari pelukan itu ia bisa merasakan udara panas di tubuh Daffa.


"Daffa, kita pindah."


"A-aku ti-dak apa-apa, V." jawab Daffa kembali meyakinkan.


"Kalian bisa mendengar suaraku?" tanya V pada walkie talkie yang sudah ia pasang di telinganya sejak tadi.


"Hmm?" Daffa tak mengerti dengan pertanyaan terakhir V. İa memaksa matanya kembali terbuka untuk melihat dengan siapa V berbicara. Daffa menghembuskan nafasnya antara lega dengan pasrah. Matanya terasa semakin berat, namun demam tak membiarkannya untuk tertidur. Demam seakan memaksa Daffa untuk tetap terjaga dalam kantuknya. Rasa pening yang sesekali membuat kepalanya seperti berputar tak juga mau memberi kata sepakat. Mereka terlihat begitu senang bermain-main dengan kesadarannya.


'Ya, Nona.'


"Kalian sudah tiba di rumah sakit?"


'Kami sudah tiba beberapa menit yang lalu.'


"Bawakan aku brankar dan panggil perawat yang masih berjaga sekarang juga. Ku beri waktu lima menit untuk sampai di sini."


'Baik, Nona.'


"Aku ingin menghubungi mereka, tapi kau lebih dulu menghubungiku. Aku tak bisa buat dua panggilan sekaligus, jika aku menjeda panggilanmu kau pastinya akan kesulitan menemukanku bukan?" jelas V membuat alibi. İa tahu alibinya akan dengan mudah dibantah oleh Daffa. Dihadapan banyak orang V lebih sering menutupi kecerdasan daya tangkapnya, sebab hal ini bisa saja menjadi bumerang baginya di kemudian hari.


Daffa tertawa sebelum akhirnya ia mencibir, "Aku membenarkan teorimu, jika tangis bisa mengurangi kecerdasan otakmu."


"Kau menyebalkan!"


"Ya itu aku dan kau si bodoh, tapi aku menyayangimu."


"Kau menyalin kalimatku! Kau tidak boleh begitu."


Daffa tertawa dalam pejamnya, "Baiklah aku akan membuat kalimatku sendiri. V kau hebat walau kau lemah, bodoh, penakut dan cengeng tapi kau bisa membuatku mencintai kekuranganmu."


"Daffa kau itu menghinaku atau memujiku?!"


"Aku?" tanya Daffa kembali memaksa matanya agar terbuka. Saat mata Daffa terbuka V menganggukkan kepalanya dengan wajah masamnya.


"Mencintaimu."


Kalimat Daffa sempurna membuat wajah V merona. Sebisa mungkin ia menahan semyumnya, ia tak ingin tersenyum di hadapan Daffa saat ini. Bahkan detak jantungnya sudah mulai berlari lebih cepat dari biasanya. Sialnya Daffa mendengar irama itu, V tak bisa menyembunyikan euforia dalam dirinya.


Daffa mengusap sudut bibir V, ia berhasil membuat V melepas pasung yang sengaja digunakan untuk memenjarakan senyumnya, "Aku suka senyummu, jangan disembunyikan." pinta Daffa dengan senyum hangatnya.


"Bagian mana yang kau suka dariku?" pertanyaan Daffa kembali membuat senyum V semakin merekah.


V melayangkan jemarinya di atas kening Daffa, menariknya menelusuri wajah Daffa hingga berhenti sampai di ujung dagunya. "Aku suka semua yang ada pada dirimu."


"Termasuk amarahku? Kalimat ketusku? Sifat berlebihanku dalam mengkhawatirkanmu?"


"İtu tanda kau mencintaiku bukan?"


"Terima kasih."


"Untuk?"


"Untuk semua kesempatan yang kau berikan padaku. Terima kasih, kau membuatku percaya bahwa aku juga layak dicintai."


V merasa terenyuh dengan kalimat luruh dari mulut seseorang yang pernah ia jadikan tempat persinggahan. Hubungan yang awalnya ia anggap sebagai tempat meniadakan perasaan, justru tanpa ia sadari ada seseorang yang mengartikannya lebih dari apapun yang ia miliki. Temu yang ia anggap tak begitu berarti namun memiliki tafsir yang begitu indah di mata seseorang. İa bagaikan sang rembulan yang tetap berdiri sendiri mengindahkan langit, namun sayangnya langit terlalu sibuk bergawai memayungi bintang gemintang hingga tak menyadari bahwa rembulan memiliki peran besar dalam mengindahkannya di mata setiap makhluk yang memandang. Seseorang itu juga menganggapnya sebagai tempat teduh dalam merapalkan bait-bait cinta di sanubarinya.


V semakin erat memeluk tubuh Daffa, "Kau pantas untuk dicintai, Daffa." bisik


"Terima kasih untuk setiap waktu yang kau gunakan untuk mencintaiku. Terima kasih telah bersabar pada ketelanjuran yang membuatmu tak pernah mencoba untuk melepaskan. Dan maaf untuk seluruh tindakan yang pernah bersinggungan dengan hatimu, aku hanya manusia biasa yang tak akan benar tanpa pernah kau ingatkan."



••


•••


••••


•••••


Terima kasih untuk kalian yang udah sabar nungguin cerita "V" update. Mohon maaf untuk keterlambatannya 🙏


Salam hangat,


Leo & Tata .