V

V
<[ EPISODE 18 ]>



Dari belakang sebuah tendangan mengarah ke punggungnya. Ia mengelak dengan memutarkan tubuhnya, melayangkan sebuah tendangan ke arah wajah pria bertindik di cupingnya. Pria itu membalas dengan melayangkan pukulan kuat bertubi-tubi ke udara, sebab V berhasil menghindarinya. Ia menggertakkan giginya karena kesal melihat V dengan mudah menghindari pukulannya.


V tak mau membuang waktu, dengan satu kali tendangan lawannya telah ia robohkan. V menoleh ke belakang. Ia menepuk keningnya melupakan L yang haus akan perkelahian. Tampak L dan Q melawan sisa lawannya dengan penuh semangat perjuangan. L dan Q saling bahu membahu menyerang lawan mereka. Walaupun kekuatan lawan lebih besar dan kemampuannya lebih hebat dari mereka, namun mereka tidak merasa kesulitan karena mereka memiliki kerjasama tim yang kompak. Mereka bahkan tampak menikmati petarungannya.


V menendang punggung lawan mereka yang langsung mendapatkan protes masal dari adik-adiknya.


"Kaaaaak!!!" teriak kedua adiknya bersamaan saat perhatian lawan tak tertuju lagi pada mereka.


"Kak, Ayolah! Aku bisa menghajarnya dengan kedua tanganku." protes L tak terima pertarungannya diganggu. V menghiraukannya. Tanpa basa basi tangannya menyambar kepala lawannya. Beberapa detik kemudian lawannya tak lagi bernafas.


"Hei wanita jalang! Kau menggunakan anak-anak sebagai bawahanmu, sungguh tindakan pengecut." teriak wanita itu mencemoh. Kalimatnya tentu membuat L dan Q naik pitam.


"Lancang sekali kau! Akan ku sobek mulutmu!" teriak L yang sudah siap ingin menerkam wanita itu, namun terhalang oleh tangan V.


"Hei! Beraninya kau berteriak kepada Ibuku!" teriak anak laki-laki yang sejak tadi hanya diam menyaksikan. Suaranya mengandung amarah yang tak terkira.


"Bibi, pergilah bawa dompetmu." ucap V sambil menunjuk dompet yang tak jauh dari jasad para pengawal dengan isyarat dagunya.


Wanita itu menatap V dengan tatapannya yang merendahkan, "Kau pikir kau siapa berani menyuruh-nyuruhku?"


Tak ada yang menghiraukan dompet itu. Wanita itu bahkan tak mempedulikannya, ia malah bersikap begitu arogan dengan kekuasaannya. Semua orang masih menatap ke arah mereka, menantikan kisah mereka selanjutnya.


L tampak begitu gusar. Wajahnya telah menghitam akibat gejolak amarahnya. Tangannya terkepal kuat bergetar hebat sebab menahan ledakan. V tak mungkin menyuruh L untuk mengantarkan dompet itu. Bisa-bisa L malah akan kembali menyulutkan api peperangan di antara mereka.


"Q sayang, tolong bawakan dompet coklat itu ya. Berikan kepada bibi di sana." pinta V lembut kepada Q yang tampak lebih tenang daripada L. Q menganggukkan kepalanya, senyum manis mengembang di wajahnya. Sorot matanya yang begitu bersih membawa ketenangan.


Q berjalan mengambil dompet. Memberikannya kepada wanita paruh baya dengan dress berwarna abu-abu yang mengira V sebagai pencuri. Setelah wanita itu mengambil dompetnya, sebagai balasan tak segan-segan ia menghajar wajah Q hingga terjatuh.


"Huh, kau pikir bisa merendahkan keluarga Toya!" katanya tanpa dosa setelah memukul Q. İa kembali memasang wajah angkuhnya.


Wanita itu seakan tak menyadari perubahan tatapan dari mata kakak beradik itu. Aura membunuh telah mengental membuat siapapun yang melihatnya bergidik ketakutan. V dan L mengumpat sikap wanita itu. Mereka berlari secepat yang mereka bisa, menatap wanita itu dengan tatapan predator. Apa yang dilakukannya sungguh perbuatan yang tak bisa dimaafkan. Q tak sadarkan diri karena menerima pukulan tersebut. L masih mengeluarkan sumpah sarapahnya tatkala ia berlari.


Melihat L dan V berlari ke arah mereka dengan tatapan tajam seperti itu, bagikan sepasang singa yang berlari ke arah mangsa. Rasa takut membuat wanita itu bagaikan domba tak berdaya yang siap untuk diterkam kapanpun.


V mengunci kedua tangan anak laki-laki itu, agar menghindarinya dari amukan adik laki-lakinya. Anak laki-laki itu tak seharusnya mendapat amukan dari L, sebab ia tak tahu menahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. İa memberontak sekuat tenaganya tatkala menyaksikan apa yang dilakukan oleh L terhadap İbunya. Tangisnya pecah ruah.


"Ku mohon ampuni İbuku, aku akan membujuknya agar ia tak lagi menyakiti orang lain. Ku mohon hentikan." pintanya.


L menghajar wanita itu dengan membabi buta. İa tak mempedulikan suara lirih dari anak laki-lakinya. Wanita itu memang melawan, namun tenaganya tak cukup kuat untuk memukul mundur L.


"L, hentikan." ucap V merasa cukup, ia begitu tak tega membuat anak laki-laki di pelukannya menyaksikan adegan ini. L sama sekali tak menggubrisnya, ia masih memukul wanita di hadapannya. Wanita itu bisa mati mengenaskan di tangan L jika saja V tidak cepat menghentikannya.


V beralih memeluk tubuh L, mendekapnya sehangat dekapan seorang ibu kepada anaknya. Mulut L masih terus mengumpat apa yang dilakukan wanita itu terhadap adiknya. Tangisnya pecah ruah. İa tak tahan menahan semua kekesalan dan kepedihan di hatinya. Tangisnya membuat L lebih terkendali, ia diam terduduk dengan air matanya yang tak mau berhenti. V melepaskan rengkuhannya, ia beralih mengangkat tubuh Q ke dalam pelukannya.


Anak laki-laki itu segera mendekati İbunya, namun siapa sangka, İbunya mendorong tubuh ringkih itu agar menjauh darinya. İa seperti tak mengharapkan belas kasih anaknya.


Seorang laki-laki mengenakan jas hitam berjalan ke arah mereka. Di belakangnya berdiri beberapa pengawal. Pria itu begitu terkejut mendapati isterinya tampak mengenaskan. Penampilannya begitu semrawut. Terdapat lebam di mata kananya, hidungnya mengeluarkan darah segar, dan di sudut bibirnya sebuah darah bertengger di sana. Make up tebalnya tak mampu menutupi biru di pipinya. Ia terbaring tak berdaya di jalanan dengan banyak sepasang mata yang menonton.


Tangisan anak laki-lakinya yang tak berdaya membuatnya semakin geram. Tangisan itu baginya seperti lolongan seekor anjing. Begitu memalukan. İa mengepal tangannya kuat-kuat.


"Siapa yang berani melakukan hal ini kepada isteriku?!" teriaknya marah.


Semua orang hanya diam menyaksikan, tak berani membuka mulut. Takut mereka menjadi sasaran amukannya. V masih berusaha menenangkan tubuh L yang sedari tadi sudah memberontak.


"Pergi kalian semua! Atau aku akan mencongkel kedua bola mata kalian jika kalian masih berani berdiri di sini." teriaknya murka. Pengawalnya mulai bertindak mengusir para pengunjung yang menonton drama memalukan keluarga mereka.


"Pa-pah, maafkan aku yang tak ..." ucap anak laki-lakinya belum tuntas, karena tangan besar melayangkan sebuah pukulan ke wajahnya. Membuat tubuh kecil itu kembali terhempas ke tanah, "Diam kau! Memalukan!"


"Diam! Tidak berguna!" makinya melayangkan tamparan keras di wajah anaknya.


"Bedebah! Kalian bahkan lebih hina dari bedebah sekalipun! Kalian tak pantas menjadi orang tua!" teriak L geram melihat penindasan dihadapannya. Tak pernah sekalipun ia melihat perilaku hina yang lebih rendah dari binatang terjadi dihadapannya.


Wanita itu geram mendapat cacian dari L. Mulutnya ingin sekali melontarkan kata makian, namun terhalang oleh rasa sakit akibat pukulan L di sudut bibirnya. Anak laki-laki itu menatap L tak percaya, orang yang ia anggap musuh malah membelanya. Tak pernah ia melihat ada orang yang membelanya selama ini. Semua orang seperti menutup mata dan telinga mereka tak mau mendengar rintihan tangisnya.


"Anak kurang ajar, tau apa kau! Tak berpendidikan, bagaimana orang tuamu mengajarimu? Heh?!" makinya marah mendapatkan cemohan dari mulut anak kecil seperti L.


L tersenyum sinis, menatap hina ke arah mereka, "Tentu saja kedua orang tuaku mendidikku menjadi manusia. Bukan menjadi binatang seperti kalian." balas L mencibir.


"Kau wanita tak beradab. Kau tak pantas menjadi seorang Ibu! Bahkan menjadi seorang manusiapun kau tak pantas!" L kembali mencibir dengan penekanan di setiap kalimatnya.


Matanya beralih ke wajah pria di sana, "Dan kau pria tua sampah! Kau telah kehilangan kehormatanmu sebagai seorang Ayah. Lebih baik kau mati saja, pemimpin tidak berguna!" tambahnya tak puas kalau hanya harus memaki isterinya.


L menatap tajam kedua orangtua itu. Ia telah mengepalkan kedua tangannya, bersiap untuk menghajar wajah keduanya. V menggenggam bahu L dengan satu tangannya. Kepalanya menggeleng setelah L menatap wajahnya.


Pria itu tampak begitu marah mendengar hinaan dari L. Ia merasa keluarganya sudah dipermalukan di depan orang banyak. Ia berjalan cepat ke arah L. Tangannya melayangkan satu pukulan. Namun berhasil ditepis oleh tendangan V.


V menarik mundur tubuh L, "Langkahi dulu mayatku jika kau ingin menyentuh kulit adikku!" tatapan mata V kini berubah. Aura membunuhnya kembali terpancar begitu kuat. Membuat pria itu tak berkutik menatap V dengan perasaan gentar.


Park Jimin seorang Manajer Operasional Taman Bermain The Fun Light berjalan dengan wibawanya. Ia datang bersama para stafnya yang berjalan mengekor di belakangnya.


Pria itu memperhatikan papan nama di dada Park Jimin. Ia tersenyum angkuh merasa akan mendapat dukungan dari Park Jimin.


"Nona Muda, Tuan Muda Éclair." tabik mereka kepada L dan V.


"Paman Jimmin. Tolong bantu aku membawa Q ke klinik. Setelah itu black list seluruh keluarga Toya dari taman bermain Fun Light, beritahu juga kepada pengelola di Asia, Afrika ataupun di Amerika untuk melakukan hal yang sama." ucap V dengan nada berwibawa. Seorang staf yang berdiri di sisi Park Jimmin mengangkat tubuh Q dari tangan V.


Kalimat V membuat mereka bagaikan tersambar halilintar di siang hari. Keluarga Toya memandang V dan L dengan tatapan yang berbeda. Mereka tidak menyadari bahwa orang yang mereka rendahkan ternyata memiliki posisi penting di taman bermain ini. Entah malapetaka apa yang akan menimpa keluarga mereka, karena telah menyinggung keluarga Éclair.


Sepasang suami isteri itu menundukkan kepala mereka berkali-kali, "Nona Muda Éclair, Tuan Muda Éclair mohon ampuni kesalahan saya dan isteri. Maafkan kami yang tidak segera mengenali kalian."


L naik pitam mendengar kalimatnya, "Lantas jika itu bukan aku dan kakakku, kau akan berbuat sekehendak hatimu?" selidik L mengintimidasi. "Sombong sekali peringai kalian."


Kepala keluarga Toya semakin membungkukkan badannya, "Tidak, Tuan Muda, kami tidak berani. Maafkan kami."


"Aku Ellios Éclair tidak akan melupakan apa yang telah kalian perbuat terhadap adikku ataupun kakakku. Walaupun keduanya telah memaafkan kalian, bahkan jika kedua orang tuaku jug ikut memaafkan kalian. Aku tidak akan memaafkan kalian."


"Aku akan menuntut keadilan atas apa yang telah kalian perbuat terhadap Kakak dan adikku!" kalimat L begitu lugas dan penuh penekanan. Meskipun kalimat itu keluar dari seorang anak berusia 6 tahun, kalimat itu tidak bisa dianggap omong kosong belaka.


"Tuan Muda, mohon ampuni kami." ucap sepasang suami isteri itu bersamaan sambil bersujud dihadapan L. Mereka benar-benar ketakutan. Anak laki-laki mereka masih diam terduduk menatap L dan kedua orang tuanya bergantian tak mengerti. İa tak pernah melihat kedua orang tuanya bersujud merendahkan diri mereka sendiri dihadapan orang lain.


L menatap ke arah anak laki-laki itu dengan pandangan iba, "Hei kau, ku sarankan kau tinggalkan keluarga Toya. Aku takut kelak kau hanya akan menjadi sampah seperti mereka." ucap L yang membuat V menatapnya tak percaya.


V merasa L terlalu banyak mengkonsumsi virus nyinyir yang dikembangkan oleh perusahaan Zac. Kalimat L menjadi lebih tajam seiring berjalannya waktu.


"Kalau aku pergi, lalu aku harus kemana?" tanya anak itu begitu polos. Ada nada takut saat ia bertanya. İa memang telah lama ingin pergi dari rumahnya, namun ia tak punya tempat untuk dituju sebab tak pernah ada yang mempedulikannya selama ini.


L tertawa mendengar pertanyaannya, "Gunakan otakmu." balas L singkat meninggalkan mereka. Tatapan dan senyum terakhir L mengisyaratkan agar anak laki-laki itu pergi mendatanginya. İa akan dengan senang hati menyambut kedatangannya. Melihat perlakuan kedua orang tuanya yang berani bersikap kasar di depan publik, membuat L yakin bahwa kehidupan anak laki-laki itu begitu buruk di rumahnya. Postur tubuhnya yang begitu ringkih membuat L begitu yakin dengan analisanya.


✌✌✌✌✌


**Salam hangat gw,


-L.E.O**