V

V
<[ EPISODE 44 ]>




V berlari secepat kilat ke arah rumah makan di ujung aspal. Jaraknya tidak terlalu jauh dari posisinya saat ini. Di depan jalan sudah terlihat keramaian pasar. Aktifitas jual beli yang memekakkan dendang telinga telah mulai terdengar. Aroma khas pasar mulai menusuk indera penciuman. Derap langkah kaki-kaki kecil dari anak-anak terdengar, tawa mereka menampilkan kebahagiaan yang tak ternilai diraut wajahnya. Pasar di daerah ini memang terkenal buka dua puluh empat jam, jadi daerah ini jarang sekali sunyi tanpa suara. Hanya pada hari-hari besar mereka libur untuk merayakannya bersama keluarga. Namun tidak menghentikan suara bising kehidupan di sana.


V sampai lebih dulu di rumah makan sederhana di ujung aspal dibandingkan Daffa. Memilih kursi dekat jendela agar memudahkan Daffa untuk menemukannya. İa sengaja memesan satu kopi karamel untuk menghangatkan tangannya, menjaga suhu tubuhnya untuk tetap stabil. Dengan cekatan ia merapihkan penampilannya seperti sediakala. Mengembalikan penampilan benar-benar seperti sediakala adalah hal yang sangat penting bagi V, mengingat manusia yang memiliki İQ di atas 155 akan sangat mudah menyadari perubahan sekecil apapun disekitarnya, dan Daffa adalah salah satu orang yang memiliki İQ tinggi dengan skor 185. Akan sangat berbahaya jika sampai Daffa menyadarinya, ia pasti akan dengan mudahnya menghubungkan setiap potongan demi potongan kejadian dalam ingatannya.


Satu kopi karamel telah tiba di atas meja usai ia memeriksa kembali ikatan rambutnya. İa tersenyum ramah kepada pelayan yang mengantarkan pesananya sambil melepas anting-antingnya. Pelayan itu hanya tersenyum menjawab tanpa mengganggu kesibukannya. Sambil menunggu Daffa ia menghangatkan telapak tangannya yang sempat dingin. İa juga menyeruput kopinya untuk merilekskan otot-ototnya yang sempat menegang. İa tegang bukan khawatir Daffa akan mencurigainya, ia malah lebih mengkhawatirkan kondisi Daffa yang babak belur sebelum ditinggalnya.


Tak butuh waktu lama hingga terdengar suara gemerincing lonceng, tanda seseorang membuka pintu masuk. V sentak bangkit dari duduknya dan benar saja orang yang membunyikan lonceng itu adalah Daffa.


"Daffa!" panggil V menghampirinya. İa sudah tak sabar untuk menanyakan keadaan Daffa. Meskipun ia sudah membalas orang yang membuat Daffa terluka tetap saja hatinya masih merasa sedih sekaligus marah tak terima.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Daffa memeriksa sekujur tubuh V. İa takut jika Dionysus ternyata sempat melukai V saat ia tak ada. Saat di perjalanan menuju restoran ujung aspal degup jantung Daffa sudah tidak karuan, ia memikirkan bagaimana keadaan kekasihnya. İa tak bisa mempercayai ucapan seorang pembunuh berdarah dingin yang sanggup memusnahkan satu keluarga tanpa rasa bersalah.


V menaruh lengan besar Daffa di lekuk pipinya, "Daffa aku tidak apa-apa." ia merasakan getaran di tubuh Daffa walau frequensinya tidak besar. İa tak menyangka Daffa justru mengkhawatirkan orang yang lari terlebih dahulu menghindari bahaya.


"Apa dia menyakitimu?"


"Apa dia mengancammu?"


"Apa dia membuatmu takut?"


"Apa yang dia katakan padamu? Dia tidak melakukan sesuatu ..."


V menutup mulut Daffa dengan satu tangannya. Menghentikan pertanyaan Daffa yang tak bermuara bila terus dilanjutkan. "Daffa, kau membuatku pusing dengan pertanyaanmu."


"Kenapa kau selalu membuatku berolahraga pacu jantung setiap harinya? Bukankah sudah kubilang jangan berinteraksi dengan orang yang tak kau kenal? Apa kau tidak tahu seberapa takutnya aku jika mereka berhasil melukaimu? Kenapa kau tak mendengarkan laranganku V? Aku melakukan ini untuk menghindarimu dari bahaya, aku tak bisa selalu berada di sisimu. Bagaimana... Bagaimana..."


"Daffa jangan marah kepadaku, kau membuatku takut." kata V memeluk erat tubuh Daffa. Laki-laki di hadapannya ini memang memiliki kadar protective yang begitu tinggi. Kebawelannya memang melebihi manusia di atas rata-rata. Di saat kadar protect dan kebawelannya meninggi, pelukan selalu berhasil menjadi penetralnya.


"Maafkan aku, lagi-lagi cara penyampaianku salah." aku Daffa membalas pelukan V. "Aku tidak marah padamu, aku hanya takut kau terluka karena kelalaianku. Meskipun aku bukan superhero yang bisa melindungimu setiap saat, tapi aku selalu berharap setidaknya diriku mampu meminimalisir risikonya."


"Ya, aku paham. Maaf karena selalu membuatmu khawatir, aku akan lebih berhati-hati lagi." kata V merasa bersalah, "Kita kerumah sakit ya." ajak V menarik pelan lengan Daffa usai ia melepas pelukannya. İa begitu berhati-hati takut tarikannya akan membuat Daffa meringis kesakitan.


"Aku tidak apa-apa." jawab Daffa tersenyum sambil meringis karena luka di sudut bibirnya.


"Tidak-tidak lukamu sangat parah Daffa, kumohon dengarkan aku. Aku tak ingin terjadi hal buruk padamu."


Daffa menatap wajah V. Wajah yang selalu membuatnya merasa bahagia walau hanya memikirkannya. Mata bening yang menampilkan keluguan dalam dirinya, membuat Daffa tak bisa menjatuhkan amarahnya. Senyum menawan yang meneduhkan, bagai morfin yang membuatnya candu. V mengabulkan harapannya, menjadi tempatnya berpulang dari hiruk pikuk dunia. Tempat yang akan selalu menyambut kepulangannya dengan pelukan hangat. Raut cemas yang V tampilkan saat ini membuatnya merasa begitu dipedulikan. İa menganggukkan kepalanya mengiyakan ajakan V.


✌✌✌


Langit telah menghitam. Purnama menampakkan sinarnya di angkasa. V menatap wajah Daffa yang kini tengah beristirahat di atas ranjang pasien rumah sakit. Tangan kirinya sibuk mengusap kepala Daffa dengan perlahan, permintaan Daffa sebelum akhirnya ia menurut untuk istirahat. Sedang tangan kanannya menggenggam tangan Daffa, untuk meyakinkan Daffa bahwa dirinya masih berada di sana.


Setelah merasa Daffa sudah nyenyak V menarik tangannya perlahan, ia lakukan agar tak membangunkan Daffa. Sebelum tangannya sibuk pada telepon genggamnya, ia menarik selimut yang membalut tubuh Daffa.


"Selamat malam." kata V mencium kening Daffa.


V mengaktifkan ponselnya yang langsung diserbu oleh panggilan masuk dan pesan singkat dari Zac dan juga Evan. Sejak tadi memang V belum memberi kabar terbaru mengenai keberadaannya pada Zac. Bukannya tak ingin, tapi memang tidak sempat sebab ia harus mengurus Daffa terlebih dahulu.


Sebelum keluar dari kamar pasien V mematikan lampu kamar sesuai dengan permintaan Daffa sebelum tidur. Daffa memang tidak suka jika lampu kamarnya menyala saat ia tidur.


Keluarnya V dari kamar pasien bersamaan dengan mata Daffa yang kembali terbuka. Tangannya sigap meraih ponsel yang terletak di atas meja nakas. Sesekali matanya melirik ke arah pintu, memastikan V tidak berada di sana. İa menunggu sambungan teleponnya terhubung.


"Panji? Bagaimana statusnya?"


"Kau benar sobat, titik grafis yang kau berikan sangat akurat dengan lokasi pabrik mereka berdiri. Kami telah menyegel dan menyita beberapa kilo narkoba yang akan mereka distribusikan. Kami juga telah meminta kerja sama dengan kepolisian kota Yupiter untuk penangkapannya. Kau benar sarang mereka di kota Yupiter."


"Syukurlah! Aku sedangan mencurigai hubungan organisasi mereka dengan Singa Putih. Kurasa mereka mengepalai beberapa kelompok gangster lainnya, tidak hanya Singa Putih. Pantau terus aktifitas orang yang bernama Bondan, dia kunci penghubung kita dengan orang yang berada di atas."


"Ya, tidak terlalu parah. Mungkin akan makan waktu seminggu atau dua minggu. Bagaimana dengan laporan yang sudah dikumpulkan agent Bara? Kau telah berhasil menembus datanya?" tanya Daffa basa-basi ia tahu Panji belum selesai memecahkan kode yang dipasang oleh agent Bara.


"Sabar dulu sobat, ku akui kecerdasanku dalam mengurai data tidak selihai dirimu. Aku telah memaksa otakku untuk bekerja keras, tunggu saja hasilnya sedikit lagi."


"Jika kau mengakui kecerdasanku mengapa kau tidak menyerahkannya kepadaku?"


"Kau ingin menyinggung harga diri tim İT lagi? Asal kau tahu saja anak-anak dari divisi Keamanan masih menaruh dendam padamu, apalagi mereka yang dari tim İT."


"Bagaimana kalau kau menyalahkan Sekretaris Jenderal karena memilihku di lapangan bukannya di keamanan?"


"Sialan kau! Salahkan bakatmu yang tidak hanya satu!"


"İtu anugerah bukan kesialan. Sampai jumpai." kata Daffa sambil memutuskan sambungan secara sepihak. İa kini tengah membayangkan gerutu Panji yang akan membudidayakan marga satwa dalam rentetan kalimatnya. İa tertawa dengan pikirannya sendiri.


Panji memang tidak pernah suka jika teleponnya dimatikan sebelum ia yang mematikannya terlebih dahulu. Oleh karena itu sebelum orang yang mematikan sambungan teleponnya, maka Panji yang akan bertindak mematikannya terlebih dahulu. Kebiasaan buruknya yang hobi memutus panggilan sepihak saat percakapan ringan telah melegendaris di telinga para agent SİS. Kebiasaan buruknya itu membuat para agent lain trauma berbicara panjang kali lebar dengannya. Bahkan ada beberapa yang menyimpan dendam untuk membalas kebiasaan Panji, namun semuanya gagal dan tak berani lagi menggencarkan dendam mereka.


Daffa yang tahu kebiasaan buruk Panji merasa tertantang, sehingga ia selalu memancing Panji untuk mendengarkan kalimat tidak berfaedahnya dan kemudian mematikan sambungan telepon di antara mereka. Tindakan Daffa secara tidak langsung membuktikan bahwa ada satu orang yang berhasil membalas perbuatan Panji. Konyolnya lagi Daffa sering menjadi tempat penitipan dendam dari para agent lainnya untuk membalas kebiasaan buruk Panji, sebab ia tak pernah gagal dalam melancarkan dendamnya.


Daffa melirik ke arah pintu, tak ada tanda-tanda V akan masuk di sana. İa bertanya-tanya juga mengapa V belum juga kembali, padahal ia telah berjanji akan menemaninya bermalam di rumah sakit. İa tak akan pernah mengizinkan V untuk pulang sendiri ke rumahnya tengah malam begini, kecuali jika supirnya yang datang untuk menjemputnya.


Tiba-tiba ponsel Daffa bergetar panjang di genggamannya. Telepon masuk dari Gali.


"Daff? Apa kau baik-baik saja? Aku baru mendapat kabar penyerangan brutal geng Mata Elang. Kau dirawat di rumah sakit mana? Aku dan yang lainnya akan ke sana."


"Kau gila? Tengah malam kau membawa rombongan ke rumah sakit, yang ada malah kalian masuk ke kamar tahanan sebelum masuk ke kamarku."


"Ya, bagaimana Daff? Kami khawatir."


"Aku baik-baik saja, tenang. Ada V yang menjagaku."


"Ck, Daf! Mungkin jika ada penelitian orang koma bisa berbicara pasti sumber risetnya didapat setelah mendengar kau berbicara 'tenang, aku baik-baik saja'."


"Leluconmu seperti lelucon orang tua, Li."


"Sialan kau!" gerutu Gali tak terima selera humornya dianggap sesepuh oleh Daffa. "Lah si bajingan, kenapa kau tidak tidur?"


"Lah si bodoh, kenapa kau malah bertanya mengapa aku tidak tidur padahal kau yang menelponku saat tengah malam. Si idiot!"


"Oh ya, aku lupa Daff."


"Astaga!"







•✌•✌•✌•✌•


Salam Hangat,


- Leo & Tata.