V

V
<[ EPISODE 51 ]>



Beberapa hari tinggal di rumah sakit membuat kejenuhan Daffa melonjak melewati garis batas. İa benar-benar bosan dengan rutinitasnya yang hanya istirahat, makan dan jalan-jalan dengan kursi roda, sebab V tak mengizinkannya menggunakan kedua kakinya yang masih dibalut dengan belat. Kejenuhannya tidak hanya disebabkan oleh ketiga faktor itu saja. İa juga jemu dengan kinerja agent pembantunya yang tidak pernah mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan benar. Ditambah dengan Panji Dharma yang tidak selesai-selesainya memecah enkripsi data milik agent Bara.


Daffa memang tak suka segala hal yang berjalan begitu lambat, sebab ia begitu menghargai waktunya. İa bukan orang yang suka berjalan santai, ia lebih menyukai berlari namun tetap teliti. Hal ini yang sulit diikuti oleh setiap agent pembantu yang ditugaskan untuk membantunya. Mereka tidak ada yang bernyali besar untuk tetap berada di bawah tekanan Daffa. Semua agent di SİS begitu mengenali Daffa yang hobi menggunta-ganti agent pembantunya.


Pagi ini Daffa meminta dokter yang menanganinya untuk melepas dua belat yang terpasang di kakinya. Tentu saja dokter menolak sebab penerapan belat masih dibutuhkan sampai beberapa hari ke depan. Dengan dalih untuk menghindari kekakuan dan hilangnya fungsi pada sendi, Daffa tetap bersikukuh untuk melepas belat di kakinya. Hingga pada akhirnya dokter mengambil kebijakan untuk CT scan demi mendapatkan diagnosa terbaik. Ajaibnya hasil CT scan mendukung Daffa untuk melepas belat di kakinya. Bahkan ia juga sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


"Daffa, kau manusia ajaib." kata V usai menilik hasil CT scan Daffa. V sudah berkali-kali membacanya dan masih juga belum mempercayainya.


"Tidak. Tulang-tulangku begitu memahami keinginanku, mereka sangat tunduk pada titahku." balasnya dengan rasa bangga yang membuat V tersenyum kecut melihatnya.


Alasan utama Daffa ingin cepat-cepat melepas belatnya, sebab ia ingin melatih V beberapa bela diri untuk melindunginya. Daffa tahu waktu seminggu masih belum cukup untuk V memahami seluruh ilmu bela diri yang ingin ia ajarkan, jadi ia hanya memilih beberapa yang sekiranya akan berguna nantinya.


"Pelatihanmu dimulai hari ini V, aku tak bisa lagi menundanya begitu lama." ujar Daffa mengubah raut wajahnya menjadi lebih serius. "Aku akan membawamu ke basecamp, bisa kau mengurus absensimu selama satu minggu?"


"Apa secepat itu kau akan pergi? Kau bilang akhir bulan depan? Sekarang saja baru masuk pergantian bulan!" protes V tak terima Daffa mempercepat kepergiannya. "Daffa aku sungguh tidak ikhlas jika kau mempercepat kepergianmu!" kata V sambil mengepal tangannya.


V benar-benar tidak terima jika Daffa mempercepat kepergiannya. İa masih belum siap jika Daffa pergi di saat Cole Harvey kembali datang ke kehidupannya. Mental V masih belum siap. Meskipun saat ini Cole Harvey masih terbaring lemah di kamarnya tanpa ada sedikitpun perkembangan, ia masih belum siap.


"V, mengertilah. Sebelum pergi aku masih harus mengurus beberapa hal."


"Tapi, tak bisakah kau menundanya?"


"V... Mengertilah." balas Daffa dengan sedikit penekanan dalam setiap suku katanya.


V menatap bola mata Daffa. Ketajaman matanya seakan menunjukkan tak boleh ada bantahan. V menatapnya dengan wajah sendu, berharap tatapan tajam itu berubah. Namun sayangnya, Daffa tidak mengubah tatapan tajamnya barang sedetikpun. İa mengerti, itu saatnya ia mengalah. V mengalihkan pandangannya pada lantai, menghela nafasnya pelan, "Baiklah, aku tidak akan membantah."


Daffa mengajak V untuk masuk ke dalam basecamp miliknya sendiri. Selain dijadikan sebagai tempat tinggal, basecamp ini juga dijadikan tempat berlatih oleh Daffa, sehingga banyak terdapat alat-alat yang dapat menunjang latihan mereka. Daffa benar-benar menepati janjinya untuk mengajarkan V praktik bela diri miliknya. Sebelum jatuh pada praktik ia menjelaskan beberapa pengetahuan dasar tentang bela diri yang tentu saja sudah V tamatkan sejak umur delapan tahun. Daffa menciptakan beberapa gerakan yang akan berguna dan mudah dipahami oleh V. Teknik yang ia gunakan menyesuaikan bentuk dan gerakan seorang perempuan, terlihat begitu menawan dan anggun jika dilihat gerakannya bagaikan sebuah tarian. Meskipun begitu setiap pukulannya begitu keras dan mematikan.


Hanya dengan memperhatikan hingga kedua kalinya, V telah menghafalkan setiap gerakan yang diajarkan oleh Daffa. Daffa memecah setiap jurusnya ketujuh bagian. Setiap jurusnya mengandung berbagai macam aliran dalam bela diri dari berbagai macam belahan dunia. Awalnya V menolak untuk mempelajarinya, sebab ada beberapa aliran yang memang tidak sesuai dengan V. Namun perkataan Daffa membuka wawasan V, bahwa semakin banyak ilmu bela diri yang akan dipelajari maka semakin banyak pula peluang untuk membaca gerakan musuh.


V berlatih sejak petang hingga malam, bahkan pernah sampai tengah malam. Pelatihan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari untuk V. Daffa awalnya merasa berat memaksa V belajar hingga malam, namun ia tak punya pilihan lain. Waktu yang ia miliki begitu singkat. İa merasa ini satu-satunya pilihan. İa tak bisa meninggalkan V tanpa adanya persiapan.


Waktu V begitu terkuras untuk mengurus sekolah dan jadwal pelatihan yang dibuat usai pulang sekolah. Selama jadwal berlatih V tak sekalipun pergi menemui Cole Harvey, sebab memang selama pelatihan ia tinggal dengan Daffa. Sebenarnya alasan lain V memilih untuk tinggal bersama Daffa, agar ia bisa terhindar dari Cole Harvey beberapa waktu. Sebab setiap kali ia harus bertatap muka dengan Cole, ia selalu merasa takut. İa takut jika pada akhirnya Cole akan kecewa padanya, ia takut jika Cole akan membencinya setelah mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya. V benar-benar merasa tertekan.


"Daffa?" panggil V usai latihan. Daffa tidak menjawabnya, tangannya masih sibuk menghapus peluh di wajah V.


"Kau ingat waktu malam di rumah sakit?" V sebenarnya sudah lama menimbang-nimbang haruskah ia menceritakan Cole Harvey pada Daffa atau membiarkan waktu yang mengungkapnya.


"Malam yang mana?"


"Saat aku membuatmu dipukuli oleh banyak orang. Maaf, semua itu salahku."


"Hei, lupakan! İtu memang sudah tugasku untuk melindungimu." bantah Daffa. Sorot matanya terlihat begitu teduh, tatapannya tajam seakan tak ada yang bisa membantah kesungguhannya.


"Saat malam itu, aku bertemu dengan orang yang mengenalku namun aku tidak mengenalnya." kata V sambil menunggu respon Daffa, namun Daffa tak juga menanggapi seakan ia menunggu V melanjutkan ceritanya. "İa membawaku ke kamar inap temannya yang sedang koma. İa bilang, aku memiliki ikatan dengannya."


V menceritakan sedikit kejadian malam itu membuat raut wajah Daffa berubah. Daffa menghela nafasnya yang terasa begitu berat, ia memalingkan wajahnya beberapa saat dari V. "Dia seorang laki-laki?" tanyanya sebisa mungkin ia mengatur suaranya. Namun tetap saja kesedihan itu tetap terdengar dalam suaranya, seakan tak bisa dibantahkan bahwa kesedihan itu benar-benar ada di sana. V menganggukkan kepalanya membenarkan dugaan Daffa, walaupun ia tak ingin membenarkan kenyataan pahit ini namun ia harus tetap membenarkannya.


V kembali menceritakan setiap kalimat yang ia dengar dari Antoine. İa juga menceritakan tentang janjinya pada Antoine bahwa ia akan datang setiap hari untuk mengunjungi Cole Harvey. Setiap cerita V bagai tamparan untuk Daffa. Kecemasan terus berlarian mempermainkan perasaannya. İa ingin sekali marah, namun amarahnya tentu saja tidak berdasar. Sebab tak ada yang pantas menerima amarahnya.


Daffa hanya diam mendengarkan tanpa sekalipun ia menghujat ataupun menghakimi tindakan kekasihnya. Daffa paham bahwa selama ini hanya dirinya yang selalu menjadi teman berbagi kekasihnya, selama ini kekasihnya itu hanya memendam segala apa yang mengganjal hatinya sebab ia tak tahu harus menyuarakannya kepada siapa.


"Sudah malam, tidurlah." kata Daffa usai mendengar cerita V secara keseluruhan yang tentu saja ada beberapa yang telah direfil olehnya. V tak mungkin menceritakan perkara masalahnya secara detail dan menyeluruh, bunuh diri namanya.


"Kau tidak marah?" V bertanya ragu-ragu, sebab sejak tadi Daffa sama sekali tidak menyampaikan pendapatnya, ia hanya mendengarkan V bercerita.


"Apa kau ingat dulu kau pernah bertanya kepadaku, bagaimana jika ada seseorang yang lebih mencintaimu daripadaku? Kau masih ingat jawabanku?"


Tentu saja V mengingat pertanyaan itu, sebab jawaban yang diberikan Daffa menjadi penguat alasan V untuk memulai hubungan dengannya.


Melihat V menganggukkan kepalanya, Daffa membalikkan pertanyaan yang dulu pernah dilontarkan oleh V untuk dirinya. Daffa memang tak pernah menanyakannya selama ini, sebab ia tahu bahwa pertanyaan itu masih belum waktunya untuk dipertanyakan.


V diam membatu mendengar pertanyaan Daffa yang bertubi-tubi. Pertanyaan yang dulunya begitu ringan ia ucapkan, namun nyatanya begitu berat untuk ia jawab. Daffa hanya bisa tersenyum pahit melihat V begitu kesulitan menjawab pertanyaannya. İa mengusap rambut V dengan lembut sebelum akhirnya ia meninggalkan V sendiri di ruang latihan.


Keesokan paginya, saat matahari belum terbit tak ada pamit yang terucap dari mulut Daffa. İa bahkan tak menyempatkan dirinya untuk sekedar menengok kekasih hatinya. Sebelum pikirannya benar-benar kalut, Daffa meninggalkan basecampnya menuju markas SİS cabang kota Mikrokosmos. Selama melaju motornya, Daffa tak sekalipun melirik ke arah belakang walaupun melalui kaca spion motornya.