
Wanita itu berteriak semakin histeris. Ia berlari menutup telinganya, seperti tidak ingin mendengar sesuatu. Rasa takut mengancam jiwanya, tubuhnya bergetar hebat. Larinya semakin cepat. Seperti sedang melarikan diri dari sesuatu yang berbahaya.
Melihatnya yang berlari dengan ketakutan, membuat V juga merasa dipenuhi kabut ketakutan yang gelap. Ia jadi ingin ikut berlari, jika bukan karena rasa ganjil yang menyeruak masuk, mungkin ia akan mengikuti nalurinya untuk berlari.
Sebelum wanita itu mendekat, seorang pengawal berhasil menahan lengan kanannya. Ia memberontak, menghajar membabi buta pengawal yang berhasil memegang lengannya. Pengawal itu terlihat kesulitan, hingga kemudian teman-temannya berhasil menyusul. Mereka menarik paksa wanita itu berjalan ke arah sebaliknya, memberi tabik sebelum akhirnya pergi tanpa penjelasan.
"Tung-tunggu!" ujar V tergugu. Namun mereka mengabaikannya.
V berjalan mengikuti, "Tunggu sebentar! Ada apa?" tanya V lebih keras. Mereka tetap berjalan cepat tanpa mempedulikan pertanyaan V.
Merasa kesal karena diabaikan V mengikuti mereka membawa wanita itu ke suatu tempat. Mereka masih belum menjelaskan apapun walau V bertanya berkali-kali.
Sebuah pistol terselip di pinggang salah seorang pengawal, hanya pistol miliknya yang tampak terlihat keluar dari jas hitamnya. Tentu kesempatan ini tidak akan disia-siakan. Ia berjalan menyejajarkan langkahnya. Secepat kilat tangannya bergerak menarik pistol itu keluar dari wadahnya. Pengawal itu tidak merasa ada yang menarik senjatanya, ia masih berjalan tanpa perasaan kehilangan apapun. Mendengar sebuah slide pistol ditarik, membuat mereka menoleh dengan cepat. Mereka berhenti, terkejut melihat V yang mengacungkan pistolnya ke arah mereka.
"Lepaskan dia! Atau aku akan menarik pelatuknya." gertak V membuat mereka saling adu pandang meminta pendapat. Mereka menimbang-nimbang apa yang harus mereka lakukan. Tentu mereka lebih memilih mengikuti perintah Aldrich Éclair daripada mendengar perintah V. Namun pelatihan V bukan lagi sebagai berita rahasia, hampir setiap hari topik pembicaraan para pengawal di basemen mengenai perkembangan V yang mewarisi kemampuan bertarung Papahnya. Meskipun masih pemula tidak menutup kemungkinan V dapat merobohkan mereka, ditambah sebuah senjata api di tangannya.
Wanita itu masih berteriak histeris. Tubuhnya meronta-ronta agar dilepaskan. Ia seperti tidak memperhatikan apa yang terjadi dihadapannya.
"Haruskah aku menghancurkan satu tangan salah satu di antara kalian? Agar kalian menuruti perintahku?" tirkah V namun mereka masih bungkam tidak menjawab ataupun melepaskan. Itu membuatnya semakin geram.
V berjalan selangkah demi selangkah dengan pistol masih terangkat. Mata andalannya membidik titik sasaran lengan kanan mereka. V menarik pelatuknya. Suara tembakan menggema. Darah mengalir dari jas hitam salah seorang pengawal yang sedang mencekam lengan wanita itu. Suara tembakan membuatnya menjerit semakin histeris.
V melangkah maju membidik dan menembak. Kembali membidik dan menembak. Peluru dengan sempurna mengenai sasaran, walau ada satu yang melesat beberapa senti dari targetnya. V tidak memperhitungkan secara matang arah peluru terakhirnya. Peluru berhasil mendarat di bawah dada para pengawal yang berdiri di belakang, membuat mereka terdorong jatuh ke lantai.
Kesalahannya dalam memperhitungkan tindakannya, membuatnya cemas karena bukan itu tujuannya menembak. Jika bukan karena Aldrich Éclair selalu mengatakan, bahwa setiap petarung harus memiliki 'poker face', mungkin ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya. V menatap dingin tanpa peduli dengan apa yang terjadi.
"Mundur! Lepaskan dia!" perintah V. Menilik dari tindakan mereka yang sebelumnya gegabah, kini mereka memilih untuk mundur.
V melempar senjatanya ke sembarang arah. Ketakutan telah menggerogoti pondasi wanita itu, setelah para pengawal melepaskannya, ia jatuh terduduk di lantai. Rambut panjangnya menutupi wajahnya, dari beberapa celah bentuk wajahnya terlihat. V mendekatinya perlahan. Tangis histeris masih terdengar dari mulutnya.
"Apa yang kalian lakukan padanya hingga ia ketakutan seperti ini?" tanya V berdiri di depan wanita itu. Tangannya perlahan merapihkan helaian demi helaian rambut yang menutupi wajahnya.
"Jangan takut, tidak akan ada yang menyakitimu selama aku berada di sini." V mencoba mendapatkan kepercayaannya, wanita itu tidak menolak jemari-jemari V mengibas rambutnya ke belakang.
Wajahnya begitu mempesona dengan bola mata hitam legamnya. Walaupun terdapat cekungan hitam di bawah matanya, tapi tidak menutupi wajah cantiknya. V baru menyadari bahwa wanita dihadapannya bagitu kurus, hingga tulang-tulangnya begitu nampak.
Sehebat apapun Aldrich Éclair menyembunyikan Lynelle Éclair, semesta tetap akan menyingkap keberadaannya. Aldrich Éclair berdiri tidak jauh dari V, menyaksikan apa yang dilakukan oleh putrinya itu. Alasan ia tidak pernah mempertemukan V dengan Lynelle Éclair sebab ia terlalu takut V tidak dapat menerima keadaan jiwa Mamahnya. Ia terlalu takut kebahagiaan keluarganya saat ini, akan kembali terpecah seperti empat tahun yang lalu.
"V jangan tinggalkan Mamah. Maafkan Mamah. Jangan tinggalkan Mamah. Maafkan Mamah." mulut Lynelle Éclair terus menggumamkan kalimat yang sama.
"Aku di sini, Mamah." balas V mengelus lembut punggungnya kembali menenangkan.
Lynelle Éclair melihat sosok Aldrich Éclair berdiri tidak jauh dari mereka. Ia diam membatu di tempatnya sambil menatap ke arah mereka. "Lihat putri kita telah pulang. Dia di sini, kemarilah." panggil Lynelle Èclair dengan gembiranya.
Aldrich Éclair memeluk tubuh mereka, berkali-kali mencium kening mereka satu persatu. Semesta mendengar doa lirih yang selalu dipanjatkan Aldrich Éclair setiap waktu. Jalan menuju kata "pulang" terlalu berliku-liku. Membuatnya seringkali tersesat dalam penjelajahannya menuju rumah. Tempat beristirahatnya segala penat yang seringkali membakar jiwanya.
Mereka kembali menata kehidupan mereka, menyortir segala aktifitas yang belum sempat mereka realisasikan. V bagaikan rumah sakit, tempat bagi jiwa merawat diri dari luka-luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat tetes. Seorang nahkoda yang mampu menstabilkan kapal layar yang hampir digulung ombak akibat diterjang badai laut. Ia bagaikan terapi psikis bagi Lynelle Éclair, mengukuhkan kembali jiwa yang telah goyah. Mereka telah kembali menemukan bahagia mereka yang hilang.
✌✌✌
Dua tahun berlalu, telah banyak hal baik telah terjadi di keluarga Éclair. Menuju tengah malam Lynelle Éclair berjuang hidup dan mati melahirkan anak keduanya. Yuli seorang dokter kandungan membantu proses persalinan. Hal tidak terduga terjadi. Penyerangan oleh sekelompok mafia di rumah utama keluarga Éclair kembali menunda bahagianya. Mereka menyadap telekomunikasi rumah Éclair agar tidak ada bala bantuan yang dapat menggagalkan rencana mereka. Sepertinya mereka benar-benar ingin melenyapkan seluruh keluarga Éclair dari muka bumi ini.
Berita tentang penyerangan malam itu telah sampai ke telinga Lynelle Éclair, membuat proses persalinan terhambat. Ketuban telah pecah, namun kepala bayi belum juga sampai di mulut ******. Aldrich Éclair berdiri di samping ranjang isterinya, memberikan jutaan kalimat penenang. Lynelle Éclair menggeleng pasrah, ia merasa bayi keduanya begitu sulit untuk keluar. Rasa sakit yang sudah memuncak membuat sekujur tubuhnya melemah. Hal ini sangat berbahaya bagi ibu dan juga bayinya.
"Tuan, keadaan Nyonya tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Nyonya harus di bawa ke rumah sakit..." belum selesai bidan Yuli berbicara Aldrich Éclair memotong pembicaraannya dengan tatapan tajam lengkap dengan aura membunuhnya.
Tatapannya melembut ketika ia menatap wajah isterinya yang kini pucat pasi, "Sayang, andaikan aku bisa menggantikan posisimu, tentu aku akan menggantikannya tanpa ragu. Andaikan aku bisa membagi sedikit tenagaku kepadamu, aku dengan rela hati membaginya." kata Aldrich Éclair membelai lembut rambut isterinya.
"Wahai bunga hatiku, apa kiranya yang harus aku lakukan untuk membantumu selain memohon kasih pada semesta agar menguatkan jiwa dan ragamu? Tidak ada yang aku bisa selain memohon pada pemilik kuasa agar Ia sudi membantumu."
"Jika kau tidak percaya bahwa aku mampu menguatkan jiwamu. Maka percayalah bahwa sang Maha Kuasa ada di dalam sanubarimu, meminjamkan sedikit kekuatannya untuk membantumu melahirkan buah hati kita."
Tutur kata Aldrich Éclair begitu menenangkan hati isterinya. Harapan hidupnya tumbuh bagaikan sebuah lampu yang dialiri oleh tenaga listrik. Ia berusaha sekuat tenaganya membiarkan anaknya melihat besarnya dunia. Doa yang dibalut sengan penuh cinta dan kasih dari seorang ibu untuk anaknya, memohon agar sang Pencipta menghendaki anaknya lahir di muka bumi. Ia menggantungkan segala takdirnya pada langit setelah segala upaya telah ia lakukan.
Seorang bayi laki-laki memproklamasikan eksistensinya dengan teriakan tangis bahagianya. Ia diberi nama Léon Darell Elios Barrak Maddie Aslan Eloi Léandre Astin Fadeyka Ives Aylmer Éclair Shaquil Kyne Jourell Hamlet Artagnan Light Adhiraj Akhza, sama seperti anak sulungnya, Aldrich Éclair memanggilnya hanya dengan satu huruf, "L".
Aldrich Éclair meminta V untuk menemani Lynelle Éclair dan L di kamarnya. Kondisi Lynelle Éclair yang baru melahirkan menghambat proses evakuasi. V memperhatikan apa yang dilakukan Papahnya. Sosok laki-laki itu tetap tenang namun cekatan. Ia mendorong sebuah rak buku-buku di sudut ruangan. Seketika rak itu berubah menjadi rak tersembunyi yang berisi gudang senjata.