V

V
<[ EPISODE 14 ]>



V membuka kembali matanya karena rasa haus dan lapar. Rasa haus itu membuat kerongkongannya terasa seperti tercekik. Ia menutup matanya dengan tangan kanannya. Menelan ludahnya banyak-banyak. Berharap dapat mengobati rasa hausnya walau hanya sedikit.


"Minumlah, mau sampai kapan kau mempertahankan sifat ke kekanakkan mu itu?" tanya sebuah suara yang tak asing bagi V.


Cole Harvey telah duduk di sofa sudut kamar. Ia berjalan ke arah V membawa segelas air di tangannya. Wajahnya tampak khawatir meski nada bicaranya terdengar tak peduli. V menatap wajah tampan dengan aura maskulinnya, namun penampilannya kali ini tidak seperti terakhir kali mereka bertemu. Ia terlihat sangat lelah dengan wajah pucatnya, ia begitu memaksakan dirinya untuk tetap datang menemui V.


V membalikkan tubuhnya secepat kilat tatkala Cole Harvey membalas pandangannya dengan seutas senyum tipisnya. Bukannya marah karena diabaikan, Cole Harvey malah tampak senang melihat tingkah V yang baginya sangat menggemaskan. Ia berpikir V sedang menyembunyikan rona di wajah karena tertangkap basah sedang mencuri pandangan padanya.


"Ku dengar kau belum makan apapun ataupun meminum obatmu ..."


"Aku tidak sakit, aku baik-baik saja." tukas V cepat.


Cole Harvey menarik bahu V dengan perlahan, "Makanlah, aku akan menyuapimu makan. Tapi terlebih dahulu kau harus minum." Ia menyodorkan segelas air ke mulut V setelah tubuh mereka saling berhadapan.


V mendorong tangan dingin Cole Harvey untuk menjauh darinya. Ia tidak ingin minum atau makan, ia lebih memilih untuk menjaga harga dirinya daripada menerima belas kasih dari orang yang tak disukainya. Ia mencoba menyingkirkan tangan Cole Harvey, namun malah membuat sebuah baki terlepas dari genggamannya. Seluruh isinya tumpah di atas celana hitam milik Cole Harvey. Kedua tangan besar itu kini sibuk menyibak tumpahan nasi panas beserta sayur mayur di pahanya.


V kembali membalikkan tubuhnya dengan rasa bersalah, ia harus membuang sifat V pada dirinya saat ini karena sekarang ia adalah Dionysus. Seorang pelayan mengetuk pintu meminta izin membantu membersihkan sisa makanan di atas kasur. Cole Harvey hanya menjawabnya dengan sebuah dehaman. Perubahan suasana hatinya begitu mudah ditebak, padahal mereka belum lama saling kenal.


Cole Harvey memerintahkan pelayannya untuk kembali menyiapkan makan malam untuk V. Tangan kecil itu dengan nakal menumpahkan kembali makanannya saat seorang pelayan menaruh meja kecil di atas kasurnya. Sebenarnya ia tidak mengutuk makanannya, ia hanya tidak suka dengan sikap Cole Harvey yang mengasihaninya.


"Cukup!" bentak Cole Harvey yang membuat V semakin marah karena dibentak. V bahkan melempar meja kecil itu keras-keras hingga patah.


"Kalian keluar!" bentak Cole pada para pelayan yang mencoba membereskan lantai.


V sebenarnya tahu perintah itu tidak ditunjukkan padanya, tapi ia merasa sangat senang sekali bermain-main dengan amarah Cole Harvey yang mudah meledak-ledak. Cole menarik lengan V dengan kasar untuk menghentikan langkahnya. V tidak langsung menatap Cole Harvey, ia malah menatap hasil perbuatan buruknya terhadap makanan.


'Tuhan, ku mohon jangan mengutukku. Aku tidak sedang mendustakan nikmat-Mu. Aku hanya menyampaikan apa yang ada dihatiku. Jangan menghukumku Tuhan. Rintih V ketakutan dalam hatinya.


V tidak dapat menutupi getaran rasa takut di tubuhnya. Cole Harvey yang menyadari getaran samar-samar itu berpikir bahwa V sudah mulai berhasil ia tundukkan. Cole Harvey memang sangat gemar membuat orang tunduk dengan kekuatannya. Tangannya yang besar menarik wajah V dengan cengkaman kencang. V memberontak, namun sehebat apapun ia berkelit Cole Harvey dengan mudah melumpuhkannya.


"Kau pikir aku tidak berani melakukan hal kasar terhadapmu?" tanya Cole Harvey menggertak V.


"Sakitt!" protes V tanpa sadar.


"Ikuti aturanku atau kau akan merasakan akibatnya!" perintahnya mendorong tubuh V ke atas kasur, "Buka mulutmu saat aku menyuapimu makan!"


Seorang pelayan kembali mengetuk pintu membawa makan malam. Cole Harvey meraih nampan itu, menaruhnya di atas meja kecil dekat kasur. Tangannya menyodorkan sendok ke mulut V. Bukan karena takut gertakan dari Cole Harvey, melainkan karena V takut ia akan benar-benar dikutuk oleh Tuhannya jika kali ini ia menolak karunia Tuhannya lagi. Mau tidak mau ia harus menerima dengan tabah setiap kali tangan Cole Harvey menyodorkan makanan ke mulutnya.


'Ah, betapa manisnya gadis dihadapanku ini. batin Cole.


✌✌✌


Tengah malam V terbangun dari tidurnya. Ia merasa sangat haus, tidak ada segelas air yang tersedia di atas mejanya. Membuat V merutuki sikap pelayan yang tidak kompeten dalam melayaninya.


V menyusuri koridor yang tampak gelap dan dingin. Ia menyesali dirinya tidak membawa alat penerang, sehingga ia terpaksa meraba-raba apa yang ada di depannya. Dengan susah payah ia berhasil mencapai dapur, meneguk segelas air dingin untuk menghilangkan hausnya.


Samar-samar telinganya mendengar suara pukulan dan erangan yang tertahan. Suara ini sudah begitu bersahabat dengan V, ia bisa menebak apa yang sedang terjadi. Menggunakan indera pendengarannya V mengikuti asal suara tersebut. Suara itu berasal dari halaman belakang villa. V menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan setelah ia tahu apa yang terjadi.


"Bos, ini salahku karena tidak memperhatikan musuh sedang mengintai kami. Mohon bos mau memaafkan kami." pinta Jacob tak tahan melihat anak buahnya dipukul habis-habisan oleh Cole Harvey. Ia sedang berlutut dihadapan Cole Harvey.


"Bos, kami berjanji tidak akan gagal lagi saat menjalankan tugas." ujar salah seorang laki-laki yang tengah terbaring di atas rumput. Wajahnya dipenuhi lebam dan juga darah.


"Bos, izinkan aku menyuarakan pendapatku." ujar seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari Jacob, "Jika anda memberikan mereka kesempatan sekali lagi, bukankah itu melanggar moto organisasi kita? Mohon bos pertimbangkan sekali lagi."


"Benar bos apa yang dikatakan Kak Fall." tambah seorang laki-laki yang lebih kurus daripada Jacob.


"Tentu kalian tahu, aku tidak menerima sebuah kegagalan." erangnya menghajar wajah Jacob berkali-kali.


V memperhatikan beberapa laki-laki lainnya yang berdiri mengerumuni tempat eksekusi. Mereka hanya diam memperhatikan, ada beberapa yang terlihat tampak senang melihat temannya dihajar habis-habisan. V tidak menduga akan menyaksikan pertempuran para pengawal yang memperebutkan jabatan di keluarga Harvey. Meskipun ia tidak bisa mengelak bahwa hal itu juga terjadi pada para bawahannya, tapi ia tidak pernah melihat mereka memperebutkannya secara terang-terangan seperti ini.


Cole Harvey meletakkan ujung pistol di kening Jacob. Tangannya telah bersiap menarik pelatuk. Jacob hanya bisa pasrah, menerima takdir hidupnya segera berakhir. Ia tidak akan bisa bertemu dengan keluarganya lagi. Miris memang, tapi itulah yang harus ia bayar ketika memutuskan bergabung menjadi anak buah Cole Harvey.


V tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tidak seharusnya ia ikut campur dalam urusan Cole, karena ia tidak tahu perkara yang sebenarnya. V menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Cole.." panggil V dari pintu dapur. Ia berjalan santai ke arah Cole yang masih mengacungkan senjatanya.


Melihat V yang menghampirinya, Cole menurunkan senjatanya. Berjalan ke arah V dengan senyuman manis. Ia juga mencium kepala V tatkala gadis itu telah berada dihadapannya. Aroma sampo yang biasa V pakai tercium di hidungnya, membuatnya menciumnya sekali lagi. Ia menyukai aromanya.


"Ahh, maaf a-a-akuu.." ujar V berpura-pura gugup. Ia melangkahkan kakinya mundur, "Aku akan kembali ke kamarku. Maafkan aku telah mengganggu."


"Biar ku temani." balas Cole menggandeng tangan V. Ia masih menggenggam senjata apinya di tangan kanan, tak berniat melepaskannya. Sebab memang ia akan menembak kepala Jacob saat ia telah sampai di teras belakang.


Cole memandangi wajah V yang memancarkan kecemasan diraut wajah mungilnya. Tapi ia tidak menurunkan tangannya yang mengudara dengan pistolnya.


"Nyx, jangan mencoba mencampuri urusanku." Cole memperingati V untuk tidak mencoba mencegahnya.


"Maafkan aku, aku memang mencoba menghentikanmu. Aku tidak akan berusaha berbohong ataupun menutupinya." V melepaskan tangannya dari baju Cole, ia tak berani menatap wajah Cole karena merasa apa yang dilakukannya begitu lancang.


Cole menarik tubuh V dengan tangan kanannya yang masih memegang pistol. V menjadi was-was dengan keberadaan pistol di pinggangnya.


"Kau ingin aku mengampuni Jacob dan anak buahnya?"


"Kurasa kau bukan orang yang suka bernegosiasi." balas V memberanikan diri menatap wajah Cole.


"Jika denganmu, itu tak masalah. Aku akan membiarkan mereka tetap hidup jika kau sanggup menebus mereka dengan satu ciuman."


'Astaga, semudah itu? Kupikir aku harus menebus mereka dengan nyawaku. Tak disangka Cole Harvey begitu bermurah hati. batin V.


V mengusap wajah Cole Harvey dengan tangan halusnya. Sebenarnya ia merutuki tubuhnya yang pendek dan Cole Harvey yang terlalu tinggi, sehingga ia tak sampai mencium Cole. Ia berkali-kali mengingatkan dirinya untuk tetap memasang poker face.


"Tanpa kau menjadikannya sebagai syarat dalam negosiasi, aku akan tetap menciummu ataupun memelukmu sesuka hatiku." balas V masih dengan poker face-nya.


Kalimat V membuat Cole begitu terkejut. Ia mendekatkan wajahnya ke arah V dengan perlahan. V menarik wajah Cole Harvey agar mendekat ke arahnya, kemudian ia mencium pipi Cole Harvey. Sebuah ciuman yang menghancurkan ekspektasinya.


"Sudah larut malam, aku akan kembali ke kamarku. Kau cepat beristirahatlah." ujar V masih mengelus pipi Cole, "Selamat malam." ia kembali mencium pipi Cole Harvey.


Cole Harvey masih diam tak bergeming di tempatnya. Ia bahkan tak mengucapkan sepatah katapun dalam menjawab setiap kalimat V. Ia masih mencerna percakapan terakhir mereka. Entah ia yang salah dalam berkata atau malah V yang salah menerjemahkan.


✌✌✌


Pagi harinya V masih melihat Jacob dan beberapa anak buahnya masih bernafas. Meskipun tubuh mereka penuh lebam biru yang menghitam, mereka masih memaksakan diri untuk sekedar memberi salam kepada V. Tentu V menyambut mereka dengan sangat suka cita, Cole Harvey memenuhi janjinya untuk membebaskan mereka.


Usai sarapan Cole Harvey mengabarkan bahwa mereka akan berangkat menggunakan pesawat pribadi. Hal ini akan mengacaukan rencananya. Dengan segala macam cara V membujuk Cole Harvey untuk menggunakan pesawat penumpang. Bahkan ia sampai rela membuat dirinya bersikap manja dihadapan Cole Harvey agar bisa menghancurkan batu di kepalanya.


Betapa menjijikannya tingkah laku itu. V tidak pernah mempermasalahkan sikap manjanya, ia mengakui dirinya memang gadis yang manja. Tapi mengenai sikap itu ditunjukkan pada siapa yang membuatnya merasa hal itu sangat menjijikan. Ia tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya pada orang asing, bahkan sikap manjanya hanya ia tunjukkan pada Papah dan Mamahnya.


Sebelum pergi ke bandara, V telah mengirim sinyal merah ke Evan untuk menjalankan protokol terakhir. Ini adalah satu-satunya cara agar V dapat terbebas dari genggaman Cole Harvey.


Di bandara Big Beng V berpapasan dengan beberapa agen bayangan milik Dark Shadow. Kehadiran mereka membuat V merasa lega karena akhirnya ia tidak sendirian lagi.


Pesawat telah lepas landas tujuh belas menit yang lalu. Sepanjang perjalanan V lebih memilih tidur untuk mengumpulkan tenaga. Sedangkan Cole Harvey menemaninya tanpa banyak berbicara, ia juga terlalu sibuk dengan grafik di laptopnya. Meski mata dan tangan kirinya sibuk dengan laptop, tapi tangan kanannya tak pernah melepaskan genggamannya dari tangan V. Tak ada yang bisa V lakukan untuk melepaskan genggamannya, tenaga Cole Harvey lebih besar daripadanya.


Para penumpang mulai tenang tanpa terlibat percakapan apapun. Hingga tiba-tiba terdengar suara dentuman keras yang mampu menggoncang pesawat, disusul dengan suara berderak-derak. Masker oksigen turun ke wajah penumpang, membuat para penumpang panik bukan kepalang. Para pramugari dengan cekatan menenangkan para penumpang. Membantu mereka mengenakan masker oksigen.


V berpura-pura panik seperti penumpang lainnya. Cole Harvey bertindak bagaikan pangeran berkuda putih yang sedang menenangkan tuan putri.


"Tenang, ini hanya turbulensi. Jangan takut." hibur Cole mengusap kepala V.


V menatap ke luar jendela karena penasaran, posisi tempat duduknya tidak jauh dari mesin sayap kiri. Gumpalan asap tebal terlihat di udara. V sangat terkejut karena peristiwa itu di luar dari protokol yang seharusnya. Harusnya Evan hanya mematikan mesin pesawat yang menyebabkan pesawat melakukan emergency landing. Lagi pula protokol itu baru akan diaktifkan setelah setengah jam pesawat lepas landas, sedangkan saat ini belum ada setengah jam dari keberangkatan mereka.


"C-cole, me-mesinnya, me-mesinnya..." ujar V ketakutan.


Tidak hanya gumpalan asap yang tampak di luar jendela. Baling-baling pesawat patah dan berputar secara tidak sempurna sehingga menyebabkan percikan api yang menyala-nyala.


Cole Harvey menutup jendela dengan tirai. Memeluk tubuh V semakin erat, mengusap punggung V agar tenang. Belum sempat ia berhasil membuat V tenang, sebuah asap memenuhi kabin dengan suasana panas yang menyelimuti atmosfer dalam pesawat, membuat udara semakin menipis.


Terdengar suara dari earphone bluethooth yang Cole pakai, seorang pengawal bayangan melaporkan kabar buruk mengenai pesawat dan spekulasi apa yang akan terjadi. Cole merutuki dirinya sendiri. Ia menatap gadis yang ada dipelukannya saat ini.


"Apapun yang terjadi aku berjanji akan melindungimu, Nyx." kalimat Cole Harvey bagaikan payung yang melindungi V dari rintik hujan.


✌✌✌✌✌✌


*Terima kasih untuk kalian yang udah membaca novel V hingga detik ini, bagi kalian yang suka dengan ceritanya, jangan lupa klik, "👍" atau suka. Jangan lupa juga klik "❤" atau favorite, agar kalian bisa mendapatkan notif episode selanjutnya. Bagi kalian yang gak suka sama cerita gw, kalian bisa tinggalkan kritik dan saran di kolom komentar. Agar gw bisa review* lagi dan meningkatkan kualitas gw dalam menulis cerita.


Gw harap kalian mau basa-basi tinggalin sepatah dua patah kata buat gw di kolom komentar. Entah kenapa, komentar kalian jadi hiburan tersendiri buat gw.


Salam hormat gw,


-*Leo.***