V

V
<[ EPISODE 3 ]>



<[ EPISODE 3 ]>




Sudah sangat lama V tidak pernah merasa sebahagia itu. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, ia merasa seperti seluruh rasa yang ia miliki menguap ke atas langit kemudian membeku. Tidak pernah ada yang mengajaknya berbicara apalagi menanyakan bagaimana keadaannya.



"Nona Muda? Kenapa anda menangis ?" tanya Shopie salah satu pelayan yang ada di kamar V. Semua pelayan yang ada di kamar itu mulai panik. Mereka takut perkataan mereka malah melukai V.



"Tidak apa-apa. Aku sangat senang sekali. Sudah sangat lama aku tidak pernah mendapat perlakuan sehangat ini." jelas V mengusap air matanya yang tidak kunjung berhenti membanjiri pipinya.



"Pasti sangat berat menjalani hari-hari Nona Muda. Bertahun-tahun para penculik itu tidak memperlakukan Nona Muda dengan baik." iba Tiffany membuat pelayan yang lainnya turut bersimpati.



V terdiam sejenak. Otaknya menyambungkan beberapa fakta baru yang ia temukan dengan cepat.



"Para pelayan menganggapku di culik selama bertahun-tahun. Dari mulut Papah kemarin malam Nona Muda yang sebenarnya telah meninggal empat tahun yang lalu. Kebenaran menyakitkan ini hanya diketahui oleh Papah. Kemungkinan hal ini untuk menutupi sesuatu yang besar." analisa V.



"Nona Muda? Maaf jika saya lancang, tapi bolehkah saya memeluk Nona Muda?" tanya Rozita yang langsung mendapat tatapan menusuk dari teman-temannya.



"Ah saya tidak bermaksud lancang Nona Muda, saya hanya merasa pelukan dapat mengangkat sedikit kesedihan. Maafkan saya Nona Muda." jelasnya cepat-cepat sebelum terjadi salah paham.



V menganggukkan kepalanya, mengangkat kedua tangannya. Rozita tersenyum memeluk tubuh kecil V dengan sangat hati-hati. Mengingat tubuh V sedang terluka dan ia tidak tahu luka itu ada di bagian mana saja. Sebenarnya tanpa Rozita menjelaskan V akan dengan senang hati menerima tawaran tersebut tanpa pikir panjang.



Hati memang mudah memanas. Kecemburuan bermekaran di hati para pelayan yang lainnya. Mereka berbondong-bondong meminta izin untuk memeluk V. Hati siapa yang tidak luluh ketika banyak uluran tangan menyambutnya setelah duka dan nestapa menjungkir balikkan dunianya. Bahkan untuk seorang gadis berusia enam tahun, perilaku itu begitu menghangatkan hatinya. Ia mengulurkan tangannya menerima semua pelukan yang diberikan para pelayannya.



Waktu berjalan sesuai dengan rotasinya. Hari demi hari terlewati silih berganti. Keadaan tubuh V semakin membaik. Aldrich Éclair merawat V dengan kedua tangannya sendiri. Hal itu membuat V begitu menyayangi dan menghormati sosok laki-laki tampan nan gagah perkasa ini. Ia perlahan mulai menerima identitas barunya sebagai Nona Muda keluarga Éclair.



V selalu bertanya-tanya dimana Mamahnya, tapi tidak pernah ada yang menjawab dimana Mamahnya. Aldrich Éclair melarang seluruh pekerja di rumahnya memberitahu V keberadaan Lynelle Éclair. Ia takut jika V tidak bisa menerima keadaan Lynelle Éclair jika ia tahu apa yang telah terjadi terhadap sosok Mamah barunya.



V yang periang dan sangat aktif itu tidak pernah diam di satu tempat. Seluruh tempat di rumah besar itu ia jelajahi. Ia tidak mempedulikan lelah di kakinya karena sering berlari kesana-kemari. Bagi V luas rumah milik keluarga Éclair sungguh kelewatan. Luas rumah yang benar-benar terlalu luas ini membuat waktu terlalu banyak terkuras. Tidak hanya memakan waktu melainkan juga memakan banyak tenaga. Jika bukan karena sering ditemani oleh para pelayan, mungkin V akan tersesat di rumah itu.



"Kakek Fernandez, sebenarnya apa yang melatar belakangi Papah mendesain rumah seluas ini?" keluh V pada Kepala Pelayan yang tidak pernah lelah menemaninya.



"Ah, kalau itu saya tidak berani menjawabnya. Nona Muda bisa tanyakan langsung kepada Tuan Besar Éclair." jawab Fernandez.



"Mungkin Papah terinspirasi dari taman bermain The Fun Light ? Jika dikira-kira luasan mana rumah ini dengan taman bermain itu Kakek Fernandez?" tanya V termenung.



"Ah, pasti luasan taman bermain itu. Bagaimana jika kita membuka taman bermain di sini ? Mungkin rumah ini tidak akan sesunyi ini. Tapi jika menjadikan rumah ini sebagai taman bermain butuh perombakan secara besar-besaran dan perlu menambahkan beberapa mesin bermain." gumam V menerka-nerka dengan gaya penuh pengetahuan.



Fernandez tertawa melihat tingkah Nona Mudanya yang bertanya sambil menjawab sendiri pertanyaannya. Ia seperti melihat sosok Aldrich Éclair kecil, karena sejak kecil Aldrich Éclair sudah mulai tertarik dalam dunia bisnis.



"Ah, Nona Muda, bolehkah saya menginterupsi anda ?" tanya Fernandez meminta izin.



"Eh, bukannya Kakek Fernandez sudah melakukannya ?" tanya V mengingatkan.



Fernandez tertawa kecil karena malu, "Ah ya, sebenarnya taman bermain The Fun Light itu milik keluarga Éclair. Taman bermain itu didesain khusus untuk Nona Muda. Untuk luas wilayahnya memang tentu The Fun Light lebih luas dari rumah utama." jelas Fernandez.



"Astaga ! Aku baru tahu Papahku sekaya itu. Kupikir taman bermain itu milik seorang Kakek-kakek tua berperut buncit dengan kepala botak di tengahnya." jawab V terkejut dengan polosnya. Membuat Fernandez dan beberapa pelayan lainnya tertawa kecil.



"Selanjutnya kita akan kemana Nona Muda ?" tanya Sophie setelah menyelesaikan sesi tertawanya.




Saat sampai di mulut basemen. V disambut oleh para pengawal yang sedang berada di sana. Kedatangan V membuat mereka terkejut. Karena jarang sekali bahkan hampir tidak pernah melihat Tuan rumah datang berkunjung ke lantai basemen.



Kapten Zac- seorang kepala keamanan rumah utama keluarga Éclair- menjelaskan letak dan fungsi ruangan kepada V seperti seorang pemandu wisata. V selalu bertanya dengan bersemangat, membuat kapten merasa begitu senang menjelaskan panjang lebar kepada V.



"Kapan biasanya kalian berlatih paman Zac ?" tanya V setelah mereka puas berkeliling.



"Beberapa jam sebelum terbit fajar, sekitar pukul tiga pagi." jelas Zac menarik kursi lipat yang berada tidak jauh di antara mereka agar V dapat beristirahat.



"Terima kasih Paman Zac." jawab V duduk karena telah dipersilahkan oleh Zac. V merasa sedikit sungkan bila menolak.



"Paman Zac ? Bisakah kau memperlihatkan kepadaku bagaimana kalian berlatih ?" pinta V sedikit penasaran dengan pelatihan yang mereka jalani setiap harinya.



"Tentu saja, jika Nona Muda berkenan datang ke halaman belakang. Nona Muda pasti akan melihat secara langsung pelatihan yang kami jalani." jelas Zac. V merasa tertantang akan undangan yang diberikan oleh Zac.



"Tentu saja aku akan datang." jawab V mantap. Fernandez merasa cemas mendengar perjanjian tersirat yang mereka lakukan.



"Ah ya, Nona Muda, kau dilarang terlambat walau satu detikpun. Aku adalah orang yang sangat menghargai waktu. Akan ada konsekuensi yang harus diterima siapapun yang membuang waktuku dengan percuma." jelas Zac menekankan.



"Zac, apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?" tukas Fernandez keberatan.



"Ah, aku hanya memenuhi rasa ingin tahu Nona Muda kita. Tidak ada maksud apa-apa." jawab Kapten Zac santai tidak mempedulikan sikap kontra yang diberikan Fernandez.



"Tidak perlu cemas Kakek Fernandez. Aku mengerti dengan baik isi perjanjian yang telah aku buat dengan Paman Zac. Mulai besok Paman Zac akan menjadi guruku, itu suatu kehormatan bagiku karena Paman Zac mau melatihku." jelas V mencoba menenangkan Fernandez.



Fernandez begitu cemas karena ia mengenal betul siapa Zac. Baginya V masih terlalu muda, "Tapi Nona ..."



"Ah, kau ternyata secerdas Papahmu." interupsi Zac mengusap lembut rambut V.



✌✌✌



Waktu menunjukkan hampir dini hari pagi. V sudah berlari menuju halaman belakang rumahnya. Luas bangunan rumahnya memang selalu menjadi masalah baginya. Jika ia tidak cepat ia akan benar-benar terlambat ke tempat pelatihan.



Karena tidur lebih lambat dari biasanya dan para pelayan telah sepakat tidak membangunkan V karena mereka tidak setuju dengan isi perjanjian itu. Maka V hanya dapat mengandalkan tekad kuatnya untuk berusaha hadir tepat waktu. Namun sayang V datang lebih lambat tiga detik dari waktu yang telah dijanjikan.



Hatinya menggerutu, Zac benar-benar kejam. Ia bahkan tidak mentoleransi keterlambatan walau hanya tiga detik. Zac bahkan tidak mempedulikan nafas V yang masih menderu-deru, ia telah menyuruh V untuk skot jump dua puluh lima kali.



Hatinya menggerutu tidak terima perlakuan tidak berperi kemanusiaan seperti itu. Mengingat ia tidak memiliki tenaga kuda yang dapat bekerja seperti mesin. V merasa otot-otot kakinya menegang, telapak kakinya terasa seperti membesar dan mengecil silih berganti. Penderitaannya tidak berhenti sampai disitu. Zac menyuruhnya menyeret sebuah matras seorang diri. Padahal saat itu kaki dan tangannya sudah bergetar karena letih.



"Paman Zac? Kau mau membuatku kolaps malam ini? Hah! Jangan berharap aku akan mewujudkan impianmu!" batin V.



Ia terus menyemangati dirinya bahwa tubuhnya lebih kuat dari anak seusianya. Rasa lelah telah menjadi teman karibnya, maka malam ini seharusnya hal itu telah menjadi hal yang lumrah. Ia tidak akan mengalah dengan rasa lelah atau rasa sakit di telapak kakinya. Ia mengatur nafasnya sebaik mungkin agar dirinya tetap tenang. Rasa cemas dapat melumpuhkan pertahanan tubuhnya, maka ia membuang seluruh rasa cemasnya.



Keesok harinya pada waktu yang sama, V kembali terlambat. Ia masih terlambat tiga detik. Zac yang merasa tidak puas karena tidak berhasil membuat V kolaps kemarin, kembali memberi hukuman yang semakin berat.



Hukuman-hukuman yang diberikan Zac sebetulnya untuk mengamati daya tahan yang dimiliki oleh tubuh V. Sebelum memulai pelatihan Zac selalu menganalisa kekuatan prajuritnya, sehingga ia akan memberikan pelatihan lebih ekstra lagi agar para prajuritnya mampu melewati batasan pada diri mereka. Zac selalu berambisi memiliki pasukan tempur yang tahan banting.