
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Beberapa hari berlalu..
Azhela kembali ke kampus karena tidak mau ketinggalan pelajaran, ada rasa sepi saat Azhela yang biasanya berempat menjadi sendirian karena Andini masih di rawat.
Syok berlebihan membuat Andini cenderung banyak halusinasi, dan sekarang Andini mengalami penyakit depresi ringan situasi di mana otak nya masih belum bisa menerima kejadian yang membuat nya syok.
Tin tin..
Suara klakson terdengar..
Azhela langsung mengadahkan pandangan nya ke sumber suara.
"Menunggu lama?" tanya Juna yang hanya membuka kaca mobilnya sedikit.
Azhela tidak langsung menjawab, dia memilih masuk ke dalam mobil suaminya dan seperti biasanya Juna memasangkan nya sabuk pengaman.
"Aku merasa kesepian, tidak ada teman membuat aku terlihat menyedihkan" ucap Azhela dengan wajah di tekuk nya.
Juna hanya mendengarkan, dia memilih menyalakan mesin mobilnya dan kembali melajukan mobilnya membelah jalanan kota.
"Kapan Kevin akan melepaskan Celine, aku merindukan semua teman-temanku" kata Azhela lagi.
"Jadi kau memilih memaafkan Celine?" tanya Juna.
"Tentu saja, dia melakukan nya karena terpaksa bukan seperti Fara yang memang dasar nya jahat" jelas Azhela.
"Lalu bagaimana dengan Fara?" tanya Juna lagi.
Dia ingin mendengar jawaban istrinya, karena untuk nya Fara adalah penjahat dan seperti Arga dan Oma Anggelina Juna akan membiarkan nya mati di ruang bawah tanah nya.
Dendam nya pada keluarga Oma Anggelina yang telah membunuh Jelita adik nya masih tetap ada, dan dia tidak ingin melibatkan polisi karena Juna tau jika pengadilan hanya akan memberikan hukuman bebarapa tahun saja, dan itu sama sekali tidak sebanding dengan banyak nya nyawa yang mereka renggut hanya untuk kepentingan pribadi nya.
"Terserah pada mu, aku tidak akan meminta Fara di bebaskan jika dirinya memang bersalah" jelas Azhela.
"Kalau dia tidak bersalah dan hanya ikut-ikutan?" tanya Juna lagi.
"Aku serahkan semuanya sama kamu, dan apapun keputusan kamu aku dukung" balas Azhela sambil tersenyum.
Azhela dan Juna mengobrol banyak sepanjang perjalanan nya, sampai akhirnya mobil keduanya berhenti di rumah yang sama sekali tidak Azhela kenal.
Juna mengajak Azhela turun dan Azhela hanya menurut meski dia bingung, keduanya berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Bagaimana?" tanya Juna.
"Apanya?" tanya balik Azhela.
"Rumah nya, apa kamu suka?" tanya Juna lagi.
"Jadi rumah ini buat aku?" Azhela sedikit kaget.
"Ini rumah baru kita" balas Juna santai.
Azhela tidak begitu syok melihat rumah mewah itu, sejak kecil dirinya sudah sangat terbiasa dengan kemewahan jadi hanya untuk melihat rumah mewah saja tidak akan membuat mata Azhela silau.
Juna mendekati Azhela, lalu dia mencium pipi Azhela dengan lembut dan penuh cinta.
Tangan Juna memegang tangan Azhela dan dia cium punggung tangan sang istri dengan mesra, membuat Azhela yang di perlakukan seperti itu sedikit geli.
Astaga tumben dia romantis banget, bau-bau minta jatah pasti. batin Azhela curiga.
Cup..
Kali ini Juna mengecup bibir Azhela, dan Azhela masih diam tak bereaksi berlebihan karena dia memang tidak lebay.
"Ini baru rumah pertama, aku masih ada 6 rumah lagi untuk menjadi saksi percintaan kita di ranjang" bisik Juna di telinga Azhela.
Apa!
Membeli banyak rumah hanya untuk numpang bercinta? yang benar saja.
"Kamu gila ya" Azhela memutar bola matanya malas mendengar ucapan suaminya yang mesum.
"Iya gila sama tubuh kamu" balas Juna semakin menjadi-jadi.
"Jual lagi rumah nya, sayang banget punya banyak rumah nggak di tempati mana gajih orang beberes terus belum lagi bayar listrik dan hal-hal lain nya, mending di kasih ke panti kalau gitu syukur-syukur jadi pahala untuk kita" cerocos Azhela sudah seperti ibu-ibu.
Dan reaksi Juna tentu saja gemas melihat sikap istrinya yang sudah seperti ibu-ibu rempong.
"Kalau gitu aku akan donasikan semua hasil penjualan rumah itu untuk panti" kata Juna sambil memeluk pinggang istrinya.
Azhela semakin melotot mendengar ucapan suami nya, apalagi tangan Juna sudah meraba perut nya.
"Shadaqah itu karena ikhlas bukan karena terpaksa ataupun karena ikut-ikutan, harus karena Alloh" ceramah Azhela.
"Iya.. iya sayang paham, kamu gemasin banget sih" Juna menciumi leher Azhela dengan gemas.
"Sayang, lepas nggak" kata Azhela.
Duh keceplosan kan! batin Azhela menggerutu.
"Cie yang udah manggil sayang" Juna tergalak, dia senang Azhela mulai memanggilnya dengan panggilan sayang.
"Dih geer banget orang aku mau bilang__" ucap Azhela terhenti karena bibir nya langsung di bungkam dengan ciumaan oleh Juna.
Hemphh..
Azhela semula berontak, tapi ciuman lembut yang di berikan Juna membuat Azhela lama kelamaan terbuai dengan apa yang di lakukan suaminya.
Dan keduanya berciuman selama beberapa menit hingga akhirnya ciuman itu terlepas dan keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kenapa lihat nya gitu?" Azhela salah tingkah.
"Nggak kenapa-kenapa cuman mau bilang kalau bibir kamu manis dan aku merasa ingin mengajak mu ke kamar" kata Juna sambil tersenyum smirk.
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏