
"Sudahlah, lagipula aku mempunyai dua kekuatan disini, karna mereka aku jadi ingin lebih berusaha dan terus berjuang." Batin Miho menatap Rei and Ren.
"Aku rasa nenek dan kakek sengaja pergi meninggalkan ayah dan Bibi di rumah ini," ujar Rei.
"Rei tidak boleh mengambil kesimpulan sendiri seperti itu. Sudah, bersihkanlah diri kalian."
Rei and Ren pergi ke kamar mereka untuk membersihkan diri, sedangkan Miho pergi mencari bibi Emi untuk pergi membeli bahan-bahan makanan kesukaan Rei and Ren.
Seusai membersihkan diri Rei and Ren duduk di ruang tamu, di ruang tamu itu juga ada Hisao yang sedang duduk sambil menonton TV.
"Hei Tuan Muda, apa yang sedang kalian rencanakan?" tanya Hisao pada Rei and Ren dengan mata yang masih menatap layar TV.
"Apa yang Paman Hisao katakan, kami tidak mengerti." Jawab Rei.
"Heh' berlagak sok manis di depanku? itu sama sekali tidak berlaku."
Mendengar perkataan Hisao membuat Rei and Ren menyeringai dengan kepala yang tertunduk.
"Heehh …" Ucap Rei.
"Benar juga, bukankah Paman Hisao sudah mengenal kami." Timpal Ren.
"Ck! kedua bocah ini sudah mulai berulah jika tidak ada nona Miho di rumah. Aku rasa mereka sudah merencanakan ini dari awal." Batin Hisao.
"Hei Hisao, bisakah kau membantu aku. Aku membutuhkan dirimu dalam rencanaku." Jelas Rei.
"Teruslah bermimpi, aku tidak akan pernah membantu."
"Kenapa?" tanya Ren.
"Karna kalian bukan Tuanku."
"Siapa yang mengatakan kalau kami bukan Tuan mu, kami Tuan mu." (Rei).
"Berisik, aku tidak peduli kalian itu siapa. Kalian tidak mengenalku, maka jangan asal berbicara!"
"Siapa yang asal berbicara disini, jika aku asal berbicara lalu kenapa kau memanggilku dengan panggilan Tuan Muda."
Mendengar jawaban Rei sontak membuat Hisao terdiam dan tidak berkata apa-apa.
"Hei hei Rei, bukankah kau terlalu kelewatan? tapi ini cukup menarik." (Ren).
"Dua bocah ini menggunakan segala cara agar aku mau membantu mereka."
"Hisao, sebenarnya sikapmu tidak sedingin ini, kata-katamu juga tidak pernah kasar. Kau hanya menutupi dirimu yang baik, bukan begitu Hi-sa-o." (Rei).
"E' A'apa yang kalian katakan!"
"Kenapa kau bertanya pada kami, bukankah yang ku katakan itu benar?"
"Sepertinya aku tidak bisa menolak permintaan mereka."
"Hufh … baiklah, anda menang. Tapi sebelum saya membantu anda, saya ingin bertanya dari mana kalian mengetahui diriku."
"Itu mudah, bahkan anak kecil saja mampu menjawabnya. Aku mengingat dirimu pertama kali bertemu, tepat di waktu itu kau datang hanya untuk bertemu dengan ayahku. Perkataanmu sangat sopan." (Ren).
"Ya, waktu itu kalian belum seperti ini. Heh … betapa aku merindukannya diri kalian yang dulu, yang selalu tertawa dengan wajah yang polos."
"Sedangkan dirimu yang sekarang Hisao, kau sering berkata kasar tidak sesopan dulu. Dari situ aku menyadari kalau kau menutupi dirimu." (Rei).
"Heh! tidak kusangka diriku diketahui oleh anak-anak seperti kalian, aku sangat terkejut. Tapi sudahlah, apa yang bisa saya bantu Tuan Muda?"
"Ayahku sangat membenci bibi Miho, ketika dia keluar aku dan Ren sama sekali tidak tau apa yang dia lakukan, terlebih lagi jika dia berapa di dalam markas Yakuza. Sekarang ini kau adalah asisten pribadi kami."
"Jadi karena itu, kau harus mengikuti apa yang kami katakan. Mungkin ini adalah suatu pekerjaan yang sangat mudah bagimu Hisao." (Ren).
"Apa rencananya?" tanya Hisao.
"Aku meminta mu untuk terus mengawasi ayahku sampai ada celah bagi kami untuk membuat ayah kami menikah dengan bibi Miho." (Rei).
"Apa!! ide gila apa yang kalian bicarakan. Memata-matai Tuan itu sulit."
"Tidak ada sulitnya jika kau mendengarkan arahan dari kami."
"Baiklah, jadi bagaimana?"
"Benar. Sepertinya itu masuk akal, kalian tau aku pernah mengenal orang seperti kalian tapi tidak pernah selicik kalian. Mungkin aku bisa menggunakan mereka sekarang."
"Terserah, yang jelas mereka bisa di ajak kerja sama."
"Heh' ternyata kalian selain licik juga mempunyai banyak akal untuk berbuat kotor."
"Hei' jika jalan kebenaran tidak bisa membuat orang percaya, maka kau juga pasti akan memilih jalan yang sama seperti kami." (Ren).
"Baiklah, izinkan saya menghubungi seseorang sebentar."
"Silahkan." (Rei).
Hisao mengeluarkan ponselnya, mencari nomor telpon yang ingin ia hubungi.
Setelah menemukan nomornya, Hisao langsung menghubungi nomor itu.
Tidak butuh waktu lama telpon itu langsung di angkat oleh orang tersebut.
📲"Halo kakak, ada apa kau menelpon ku. Biasanya kau tidak pernah menelpon ku melainkan kau langsung datang menemui ku."
📲"Hei' sudah lama tidak mengobrol. Dimana dia?"
📲"Oh' dia. Heh' bisakah tidak menanyakan tentang dirinya, dia meninggalkan aku sendiri di Kota ini dan memilih pergi ke luar negeri untuk mencari kesenangan baru."
📲"Hahh … sepertinya tidak bisa menggunakan dia."
📲"Memangnya ada apa? apakah kakak dalam masalah?"
📲"Hei! sepertinya aku bisa menyuruh mu untuk masuk ke dalam anggota Yakuza."
📲"Ohh' apakah itu klan Yakuza yang di pimpin oleh Asahi, si pria berwajah batu itu."
📲"Ya. Aku ingin kau terus memata-matainya dan mengirim semua hal yang dia lakukan ketika berada di luar rumah."
📲"Ini bukan diri kakak yang biasanya, siapa yang memintamu untuk melakukan ini?"
📲"Hais! kenapa diriku sekarang mudah sekali untuk ditebak!"
📲"Siapa?"
📲"Si kembar Rei and Ren putra kesayangan Asahi, yang selalu ia ceritakan saat ia berada di markas Yakuza, yang selalu ia bangga banggakan."
📲"Ha! bukankah kakak mengatakan umur mereka masih 7 tahun, aku tidak percaya. Berbicaralah yang jujur."
📲"Aku-"
Belum selesai Hisao berbicara, Rei mengambil ponselnya. "Terlalu lama, biar aku saja yang menjelaskannya."
📲"Hei, aku Rei."
📲"Kau!"
📲"Sstt! kita langsung ke intinya saja. Mohon kerja samanya, bergabunglah dalam anggota Yakuza seperti yang di katakan oleh Hisao."
📲"Bocah kau!"
📲"Ha bocah? hanya tubuh yang bocah bukan berarti pikiran juga harus ikut." Timpal Ren.
📲"Kalau begitu mohon kerja samanya, sampai jumpa!" (Rei).
Rei mengakhiri panggilan telponnya setelah selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan dan memberikan kembali ponsel tersebut kepada Hisao.
"Haih … kau dengan orang yang berada di dalam telpon itu sama. Dan Ren, kau mirip dengan satu orangnya lagi melakukan semua sesuai keinginanmu." Ucap Hisao.
"Bukankah itu bagus. Berarti dia memiliki motivasi hidup yang sangat kuat, jika keinginannya semakin besar maka semakin besar pula motivasi hidupnya." Jelas Ren.
"Hhah motivasi, jangan bercanda." Batin Hisao.
"Aku tidak mengerti, sepertinya orang yang berbicara denganku tadi sedikit membuatku penasaran." Timpal Rei.
"Heh! kurasa kalian sama-sama penasaran. Nanti kalian pasti akan bertemu."