The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Kandang Singa



Ketika Asahi sudah menutup pintu kamar, ia masih berdiam diri di depan pintu kamar hotel tersebut.


"Miho perkataan ku memang menyakiti hatimu tapi jangan merasa hanya hatimu saja yang tersakiti disini, aku juga tidak ingat mengatakan itu padamu tapi aku tak punya pilihan lain selain membiarkanmu pergi." Batin Asahi.


"Lelucon apa ini? aku jatuh cinta lagi hahh … cinta yang kali ini benar-benar tidak bisa kulepaskan. Tapi keadaan mendesak ku untuk memilih." Gumamnya.


Asahi meremas baju bagian dadanya. "Rasa sakit ini aku belum pernah merasakannya lagi semenjak kepergian Narumi, dan kini aku merasakannya karna aku memaksamu untuk pergi."


Tiba-tiba Dokter yang di telpon oleh Asahi tadi sudah sampai di kamar tersebut, ia melihat Asahi yang tengah menyandarkan kepalanya di depan pintu.


"Tuan Asahi." Sapa Dokter.


"Apa?" tanya Asahi menatap datar sang Dokter.


"Anda meminta saya datang kemari, apakah anda sakit? tapi saya lihat anda baik-baik saja."


"Bukan aku, tapi Miho. Dia berada di dalam, obati dia dan pastikan dia sembuh dalam waktu dua hari jika tidak, sebaiknya kau berhenti saja menjadi seorang Dokter."


"B'Baik."


"Oh' iya, jika kau melakukan hal yang tidak tidak pada dirinya. Aku pastikan jalan hidupmu tidak berjalan sesuai yang sudah ditakdirkan."


"Baik. Saya akan melakukan yang terbaik!"


Dokter itu langsung masuk dalam keadaan ketakutan, dia mulai mengobati Miho.


Asahi yang berada di luar memutuskan untuk turun dan membelikan sesuatu untuk Miho.


"Rei, Ren ayah sudah menyelamatkan ibu kalian. Jadi ayah harap kalian baik-baik saja, kalian adalah kedua putra ayah yang tidak bisa dikalahkan oleh orang lain."


***************


Malam hari di pukul 22:00 malam Rei and Ren akhirnya tiba ketempat tujuan.


Mereka disambut oleh Yuka dan juga Kazuo.


"Eh' akhirnya kalian sudah sampai, lama sekali. Ibu sudah menunggu kalian," ucap Yuka tersenyum lembut.


"Cuih! dasar rubah. Kau menganggap dirimu sebagai seorang ibu? heh' lelucon apa ini." Tegas Ren.


"Hehh … bajuku jadi kotor, tapi tidak apa-apa. Aku tau kalau kau adalah Ren bukan?"


"Entah! kenapa kau tidak intropeksi diri saja."


Yuka tetap menahan emosinya sambil tersenyum.


"Wajahmu seperti itu, bagaikan hantu yang ingin menelan anak-anak. Tapi aku orang dewasa yang memiliki tubuh seperti anak kecil."


Yuka langsung mencengkram pipinya Ren. "Sepertinya kau tidak bisa di baikin ya anak kecil!"


"Dia tidak salah Nenek sihir dan pastikan tindakan mu kali ini, kau tidak menyesal melakukan itu padanya." Jelas Rei.


"Oi oi oi, kau. Perkataan mu yang sangat tenang dan mematikan itu, kau memang mirip dengan Asahi, terlebih lagi yang satu ini sikap yang gegabah. Tidak kusangka Asahi mempunyai kedua putra yang menarik."


"Hehh … tentu saja ayahku mempunyai kedua putra yang menarik, tapi aku bingung."


"Apa yang kau bingungkan?"


"Ayahku orang yang hebat tapi kenapa dia mempunyai musuh yang lemah sepertimu, bukankah diluar sana masih banyak musuh yang lebih lemah daripada kau."


"Jaga perkataanmu atau kau bisa kehilangan kepalamu disini."


"Perkataan mentah tidak bisa membuktikan. Kau dan anak buahmu terus mengancam untuk membunuhku, tetapi apa nihil."


"Aku tidak bermain-main ya."


"Kalau begitu ambil saja pistol yang berada di belakangmu, lalu tembakkan di kelapa ku."


"Anak ini, dia hanya seorang bocah tapi dia membuat semua orang ragu untuk membunuhnya." Batin Kazuo.


"Bawa mereka berdua! dan kurung mereka di kandang singa yang sudah tidak dipakai." Titah Kazuo pada anak buahnya.


"Baik bos!" jawab anak buahnya.


"Tahap yang pertama adalah mencuci otak seseorang, itu adalah aturan baru yang nantinya akan kupakai." Kata Rei.


"Bocah yang satu itu, kita jangan sampai salah mengatakan sesuatu. Dia seperti memanipulasi seseorang untuk menuruti perkataannya." Jelas Yuka.


"Tenangkan dirimu Yuka, lebih baik kau menjaga kandungan mu itu dan pergilah beristirahat." (Kazuo).


"Baiklah."


★★★


"Ren apakah wajahmu tidak sakit?" tanya Rei cemas dengan keadaan Ren.


"Huhu' … tentu saja sakit. Dasar wanita g*la itu, aku akan membalasnya nanti." Kesal Ren.


"Jadi, kita harus menunggu sampai besok tapi belum tentu besok kita sudah ditemukan."


"Kau benar, lagipula ayah belum memasang GPS di dalam ponsel kita."


"Hmm' ya tapi aku sudah mengirimkan lokasi kita kepada ayah, sewaktu aku membuang ponselku."


"Bukankah itu masih sangat jauh dari sini?"


Rei menunduk dan berpikir keras.


"Tapi ketika kita sampai disini, jalannya tidak terlalu berbelit-belit." (Ren).


"Kita serahkan saja semuanya pada ayah, lebih baik sekarang kita tidur."


****************


Keesokan harinya Rei and Ren yang sudah bangun dari tidurnya, disambut oleh Kazuo yang telah menunggu mereka bangun dari tidurnya.


"Aku baru saja bermimpi indah, tetapi ketika aku melihat wajahmu mimpi indahku berubah menjadi mimpi buruk," ucap Ren menatap Kazuo.


"Oh' terimakasih, kata-katamu itu sangat menyentuh ke hatiku." Kata Kazuo.


"Oh' iya tentu. Lain kali aku akan memujimu dengan tingkah laku buruk mu."


"Ini masih pagi, jadi bisakah kau tidak mencari ribut?"


"Siapa yang mencari ribut. Kau saja yang merasa, aku tidak."


"Sudahlah Ren jangan diladeni." Timpal Rei.


Ren mengalihkan pandangannya dari menatap wajah Kazuo.


Kazuo yang tadinya ingin memberikan sarapan pagi kepada Rei and Ren, tidak jadi memberikannya karna perkataan Ren yang menusuk hatinya.


"Ren mungkin kita tidak akan diberikan makan selama kita berada disini." Tukas Rei.


"Bisa saja makanan yang mereka berikan itu mengandung racun atau sebagainya." Kesal Ren.


"Kau benar. Haih … aku rindu ayah dan ibu."


★★★


Beralih ke Miho yang telah dibelikan sarapan oleh Asahi.


"Kenapa kau diam saja Miho? apa kau tidak suka dengan makanan yang kuberikan? kau bahkan tidak makan dari kemarin. Apa perkataan ku menyakiti hatimu?" tanya Asahi dengan berbondong pertanyaan pada Miho.


"Tidak juga. Aku hanya khawatir pada Rei and Ren, apa mereka sudah makan atau belum?" tanya Miho datar.


"Aku tau kau khawatir pada mereka, tapi khawatirkan lah dirimu dulu. Jika Rei and Ren sudah ketemu dan melihat kondisimu yang seperti ini, bukankah mereka akan sedih?"


"Kau benar, baiklah kalau begitu aku akan makan."


Asahi memperhatikan Miho yang sedang makan. "Kau masih sempat saja mengkhawatirkan mereka, mereka itu kedua putraku. Mereka tidak lemah jadi jangan remehkan kemampuan mereka."


Setelah Miho selesai makan Asahi membuang sampahnya dan duduk kembali di samping Miho.


"Bukankah esok hari minggu?" tanya Miho.


"Ya, kenapa?"


"Rui akan datang ke rumah, dan Dokter mengatakan kepadaku kalau besok kaki ku akan membaik."


"Aku tidak mengizinkan mu untuk pulang ke rumah saat ini."


"Aku tidak tau apa yang sedang kay pikirkan Asahi, yang jelas mendengar penjelasan mu kemarin aku sudah membulatkan tekad ku. Kau nikahi saja aku dan aku tidak peduli aku harus menjadi istri pertama ataupun kedua."


"Ha' tidak Miho, aku tidak bisa." Asahi memalingkan wajahnya dari Miho.


"Aku adalah orang yang suka memaksa, jika kau tidak bisa menuruti perkataan ku maka aku akan menyuruh Rei and Ren untuk melakukannya. Dan tentunya kau tidak bisa menolak permintaan mereka bukan?"


"Kau mengancam ku?"


"Tidak."