The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Siapa Wanita Itu



"Oi Rei! apa kau tidak berpikir dua kali? orang aneh seperti dia ingin kau jadikan sebagai anak buah, hhh' sebaiknya kau berpikir lebih dulu." Saran Ren pada Rei.


"Setidaknya dia tidak bodoh sepertimu," ucap Rei.


"Hei! aku ini pintar."


"Dalam keadaan mendesak."


"Setidaknya kau jangan mengatakannya, aku masih mempunyai muka."


"Sebaiknya kau diam Ren, dengan bertambahnya orang maka rencanaku akan semakin lancar jika tidak ada orang yang masuk ke dalam rencanaku. Sora, terus awasi ayahku dan juga wanita yang kau maksud itu."


"Baiklah Tuan." Sora mengangguk.


"Dan lagi, jika kau dalam keadaan mendesak lebih baik kau pergilah. Karna kau tau, lebih baik kau mengganggu singa di kebun binatang dari pada kau mengganggu ayahku."


"Satu lagi, tuan Asahi bergerak tanpa kau ketahui. Teruslah waspadai sekitarmu, sebelum dia yang menemukanmu lebih dulu." Jelas Hisao.


"Baiklah aku mengerti, kalau begitu aku permisi."


Sora pergi meninggalkan rumah keluarga besar Saito dan pergi mencari Asahi di tempat yang telah ia katakan pada Hisao, Rei and Ren.


Sesampainya di sana Sora melihat Asahi yang tengah minum di tempat itu, ia dikelilingi oleh banyak wanita di sana tetapi Asahi sama sekali tidak menggubris wanita yang datang kepadanya.


"Mengerikan, tatapannya seperti ingin menguliti orang hidup-hidup. Seperti inikah orang yang kuhadapi sekarang." Batin Sora.


"Haih … Narumi, kau meninggalkan banyak beban untukku, aku selalu menyalahkan mu dalam berbagai hal dan aku juga mengatur cara berpakaianmu di depan orang ramai." Batin Asahi mengenang mendiang istrinya.


"Hais … lalu kenapa sekarang aku yang di atur, aku benci dengan hal ini." Gumam Asahi.


Disaat sedang asik mengobrol dengan dirinya sendiri, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menghampiri Asahi.


"Eh' Asahi ya, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu dan juga Narumi?" tanya wanita itu pada Asahi.


"Narumi sudah tiada, apa kau tidak mendengar kabarnya? teman seperti apa dirimu."


Perkataan Asahi membuat wanita itu terdiam serta terkejut mendengarnya. "Apa! kenapa aku tidak mengetahuinya."


"Beberapa hari yang lalu. Kau kemana saja? kau temannya tetapi kau tidak peduli dengannya."


"Maafkan aku tetapi aku benar-benar tidak tau."


"Sudahlah, lagipula itu sudah berlalu bagiku."


"Tenanglah Asahi, aku akan mendatangi makam Narumi dan mendoakannya."


"Terserah apa yang ingin kau lakukan."


"Hei Narumi … lihatlah, bahkan ada orang yang tidak tau kabar kematianmu, menyedihkan sekali." Batin Asahi.


"Narumi, pastikan kau melihat drama yang aku buat." Batin wanita itu.


Dari kejauhan Sora sudah sangat geram melihat itu, tetapi ia masih mencoba untuk menahan emosinya.


"Wanita ini hanya baik di depan tetapi buruk di belakang. Heh! licik sekali, kau ingin menguasai satu pohon dan tidak membiarkan ular lain mendekati pohon itu." Batin Sora.


Sora memberitahukan hal tersebut kepada Hisao, Hisao yang mendengarnya sangat curiga dan mulai khawatir. Tetapi Rei and Ren menanggapinya dengan santai.


"Wanita seperti dia ingin merebut posisi, apakah dia tidak sadar diri," ucap Rei menyeringai.


"Ingin berbuat licik, tetapi membutuhkan jasa orang lain. Kau tidak layak untuk di pakai." Remeh Ren.


Malam harinya Asahi pulang ke rumah, di dalam rumah ia sudah di tunggu oleh Rei and Ren di ruang tamu.


Ketika Asahi berjalan melewati ruang tamu Ren berteriak memanggilnya. "Ayah!! apakah sudah puas bermainnya?"


"Apa yang kau katakan Ren?" tanya Asahi bingung.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya Ayah, kenapa Ayah tidak memberitahukan yang sebenarnya kepada kami?"


Asahi berjalan mendekati sofa di mana Rei and Ren duduk. "Ren, bisa kau jelaskan pada Ayah apa maksudmu berkata seperti itu?"


"Dari mana kalian mengetahui hal itu?"


"Ayah tidak perlu tau, yang jelas itu adalah kebenaran."


"Hh' Rei, Ren Ayah mempunyai banyak pikiran jadi … bisakah kalian memaafkan Ayah? Ayah melakukannya hanya kali ini saja."


"Ayah melakukan ini hanya kali ini saja, kata-kata seperti itu kami sudah bosan mendengarnya." (Ren).


"Ayah sangat menyayangi kalian."


"Heh' kami akan memaafkan Ayah tapi dengan satu syarat." (Rei).


"Apa syaratnya?"


"Carikan kami ibu sambung." (Rei).


Mendengar perkataan itu dari mulut anaknya, membuat Asahi diam ternganga.


"Tapi kami mau dia adalah orang yang baik dan bisa merawat kami, bisa membedakan kami dan tidak pernah marah jika merawat kami." (Ren).


"Hhh' Rei, Ren bisakah kalian mencari syarat yang lain, itu sangat berat bagi Ayah."


"Berat? Ayah itu sudah dewasa, syarat seperti ini bukankah sangat mudah? hanya mencari ibu sambung." (Ren).


"Ya benar. Tapi kriteria yang kalian minta itu tidak ada di dunia ini."


"Ada, hanya saja Ayah perlu waktu untuk mencarinya. Contohnya seperti bibi Miho." (Rei).


"Apa kalian setuju jika Ayah menikah dengan bibi Miho?"


Mereka berdua mengangguk pelan dan menatap Asahi dengan mata berbinar binar menandakan mereka sangat setuju jika Ayahnya menikah dengan bibi Miho.


"Tidak bisa. Ini semua pasti sudah kalian rencanakan bukan? Ayah sudah mengetahui. Tidak bisa, Ayah tidak bisa menikahi bibi Miho."


"Kenapa?" (Ren).


"Ayah tidak bisa menjelaskannya dengan detail, intinya Ayah tidak bisa menikah dengan bibi Miho. Haih … sudahlah, lebih baik kalian masuk ke kamar kalian dan tidur, ini sudah larut malam."


Dengan raut wajah yang sedih, mereka menuruti perkataan Ayahnya dan pergi ke kamar mereka untuk beristirahat.


Setelah memastikan kalau Rei and Ren sudah masuk ke kamar mereka, Asahi merebahkan diri di sofa ruang tamu.


"Haih … sekarang aku mulai benci dengan sikap putraku. Heh' Narumi … kenapa kau mempunyai adik yang sangat suka menghasut kedua putra kita? walaupun dia telah pergi tetapi aturannya masih berlaku disini." Batin Asahi sembari menutup mata.


"Aku benci mengatakannya tetapi daripada menikahi wanita itu, lebih baik aku tidak usah menikah sekalian." Gumamnya.


Perlahan-lahan Asahi mulai tertidur, sedangkan Rei and Ren yang berada di dalam kamarnya masih belum beristirahat karna memikirkan sesuatu.


"Hei Ren, apakah ayah akan mencarikan ibu sambung untuk kita nantinya?" tanya Rei pada Ren.


"Emm' kurasa ayah akan mencarikan nya untuk kita, dari usahanya kita bisa melihat kalau ayah benar-benar ingin membuat kita bahagia." Jelas Ren.


"Kau benar, ayah pasti menuruti perkataan kita. Tetapi belum tentu ibu sambung kita adalah bibi Miho."


"Jika itu bukan bibi Miho, maka itu akan menjadi sangat mudah bagiku untuk menghancurkan mentalnya sampai ia menceraikan ayah kita."


"Heh' kalau begitu aku perlu menyiapkan ide-ide baru lagi baiklah."


Setelah bernegosiasi, mereka memutuskan untuk beristirahat.


****************


Keesokan harinya Rei and Ren yang sudah di antar sekolah oleh Hisao mengatakan sesuatu padanya.


"Hisao, bisakah aku meminta bantuanmu lagi?" tanya Rei pada Hisao.


"Apa itu Tuan Muda?" tanya Hisao balik.