The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Sifat Terpendam



"Rei, Ren ibu akan menunjukkan pada ayah kalian seperti apa seorang ibu yang sebenarnya." Batin Miho melihat Rei and Ren berjalan masuk ke kelas mereka.


"Nona Miho sepertinya anda sangat bersikukuh dengan rencana anda, kalau begitu saya akan mengikuti alurnya." Batin Hisao.


Miho kembali masuk ke dalam mobil, mobil di nyalakan dan berjalan pulang.


Di perjalanan pulang Hisao mendapatkan telpon dari Sora, Hisao langsung mengangkat telpon tersebut.


📲"Ada apa Sora? kenapa kau menelpon ku. Bukankah tadi malam kita sudah membicarakan semuanya."


📲"Benar kak, hanya saja rencana yang dibuat oleh tuan muda Rei tidak berjalan sesuai alurnya."


📲"Kalau begitu kau jemput aku."


📲"Kakak berada dimana?"


📲"Tidak jauh dari sekolah Rei and Ren ada tempat pemberhentian bus, aku berada disitu."


📲"Baiklah, aku akan menjemput kakak segera!"


Sambungan telpon itu di matikan.


Hisao lalu menepikan mobil di tempat pemberhentian bus yang ia beritahukan kepada Sora tadi. Sedangkan Miho merasa bingung kenapa Hisao menepikan mobilnya di sana.


"Ada apa Hisao? kenapa kau memberhentikan mobilnya disini?" tanya Miho pada Hisao.


"Maafkan saya Nona Miho, saya mempunyai urusan di markas Yakuza jadi saya mohon maaf. Bisakah anda membawa mobilnya sendiri Nona." Jelas Hisao.


"Oh' ternyata seperti itu. Baiklah aku akan membawa mobilnya sendiri."


Hisao keluar dari mobil dan duduk di kursi tempat pemberhentian bus, sedangkan Miho menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan Hisao.


Sudah setengah jam Hisao menunggu di tempat pemberhentian bus tersebut, tetapi Sora belum juga muncul. Jalanan di tempat itu seketika menjadi hening dan sepi.


"Apa ini … tidak biasa Sora terlambat menjemput ku, dan jalanan ini kenapa begitu sepi … tidak terlihat mobil ataupun motor yang lewat, aneh."


Hisao berpikir keras, ia berpikir kenapa tempat itu sangat sepi hingga ia menemukan jawabannya sendiri.


"Heh' jangan-jangan!"


Sontak Hisao langsung berdiri dari tempat duduknya, sebelum ia melangkahkan kakinya ternyata ada seseorang yang menodongkan pistol tepat di belakang kepalanya.


"Heh' kenapa tidak dari tadi kau keluar, kau berpikir aku tidak mengetahui nya dari awal," ucap Hisao santai walaupun ia sedang di ambang maut.


"Sudah lama tidak berjumpa Hisao, aku terpaksa menangkap mu hari ini karna bos ku sudah muak dengan tingkah lakumu. Lebih baik ikut denganku atau aku akan membunuhmu disini, dan menyerahkan kepalamu pada bos ku." Jelas orang itu.


"Bukan bos mu yang bermasalah denganku melainkan ada seseorang yang geram dengan sikapku, benar bukan Kenzo?"


"Entahlah, aku hanya diperintahkan untuk membawamu dan sebaiknya kau jangan banyak bicara ikuti saja."


"Kau tau sendiri bagaimana aku bukan, aku tidak akan ikut."


"Kau yakin?"


"Apa kau berniat mengulang kembali perselisihan di area timur, kau hampir mati."


"Ohoho' … aku sangat takut padamu Hisao, tapi kali ini tidak."


Tanpa banyak bicara perkelahian sengit terjadi di tempat itu, suara tembakau terdengar di mana-mana.


★★★


Beralih ke Sora yang dalam perjalanan untuk menjemput Hisao, ternyata ada sekelompok mafia yang mengejarnya.


"Apa! disaat seperti ini. Kenapa mereka bisa tau posisiku, apa jangan-jangan … cih! ini tak bisa di elakkan." Batin Sora.


"Oi! aku tau kalian akan tetap mengejar ku meskipun aku sudah menghilang dari wajah kalian, bukan begitu? sasaran kalian bukan aku melainkan kak Hisao bukan. Aku akan mengikuti permainan kalian sebentar." Jelas Sora.


Sora mulai berkelahi dengan sekelompok mafia yang mengikutinya, dan tidak butuh waktu lama mereka semua roboh dengan cekatan ia menyalakan kembali motornya dan bergegas pergi ke tempat Hisao berada.


"Kak Hisao tunggu aku! aku akan segera sampai di sana, ku harap kau tidak kenapa-napa."


★★★


Beralih ke Hisao yang masih adu tembak dengan Kenzo, disaat Kenzo menembak dan sudah menetapkan bidikannya tepat di kepala Hisao, ternyata Hisao mengelak hingga membuat tembakan itu meleset ke pundaknya.


Hisao terdiam sejenak dan tidak berkutik dari tempatnya.


"Heh' kau lihat Hisao, aku bahkan bisa melukaimu. Apa yang sedang kau pikirkan? kau sedang memikirkan anak yang kau selamatkan itu? dia tidak akan datang menjemputmu karna dia sudah di habisi oleh anak buahku." Kata Kenzo.


"Aku diam karna aku tak ingin mengotori tanganku, tapi kau terus mendesak ku untuk bertarung serius denganmu. Maka dari itu kau jangan menyesal," ujar Hisao menatap dingin ke arah Kenzo.


"Oi oi oi jangan menatapku seperti itu, kau membuat hasrat membunuh ku semakin menggila."


Hisao berlari menuju ke arah Kenzo dengan tangan kosong, Kenzo lantas membidik kembali kepala Hisao tetapi bidikannya kali ini meleset, dan akhirnya Hisao tiba tepat di hadapan Kenzo.


"Skakmat!" Hisao memukul keras kepala Kenzo hingga membuatnya terjatuh dan membuatnya sempoyongan.


"Kau meminta kepalaku bukan? maka jangan salahkan aku jika yang sampai di hadapan tuanmu adalah kepalamu sendiri, selamat tinggal."


*Dorr


Hisao menembak kepala Kenzo tanpa ada rasa belas kasihan ataupun sedih di wajahnya, ia malah menyeringai dan tersenyum puas.


"Hei Kenzo, aku akan memberikan tuanmu hadiah yang besar. Jadi, kuharap kau tersenyum lebar ya."


Tepat di saat itu Sora akhirnya sampai di tempat Hisao, setelah sampai ia melihat pemandangan yang sangat mengerikan di situ.


"Kak Hisao!" panik Sora.


"Eh' kau susah sampai. Sora kau tidak melihat musuh akrab ku telah mati di tanganku, aku berharap dia cepat sembuh waktu itu dan ketika dia telah sembuh aku malah membunuhnya."


"E' gawat. Tidak ada Soma disini, bagaimana cara aku … huhh." Batin Sora.


"K'Kak Hisao, bukankah sebaiknya kita pulang dahulu. Lihatlah bahumu sudah tertembak."


"Oh' iya bahuku tertembak, kalau begitu aku akan mengeluarkan pelurunya."


Hisao mulai mengambil peluru yang menancap di pundaknya tanpa menggunakan obat bius untuk mengurangi rasa sakit itu.


Setelah mengeluarkan peluru dari dalam pundaknya sendiri, Hisao mendekati Sora dan memegang pundaknya.


Disaat pundak Sora di pegang oleh Hisao hal itu membuat bulu roma Sora berdiri.


"Dirinya seperti inilah yang tak ingin ku hadapi." Batin Sora.


"Sora jika sudah seperti ini kenapa kita tidak langsung saja mendatangi markas mafianya. Di sana akan lebih banyak orang yang akan-"


"Cukup!! sudah cukup!!" teriak Sora dengan nada suara gemetar.


"Ha? apa yang kau katakan Sora? apa kau ingin sama seperti Kenzo."


"Hhh' apa yang sudah kulakukan, hah … hah … hah … fokus tenang, aku pasti bisa."


"Ee' Kak Hisao, Kakak harus ingat tuan muda Rei dan tuan muda Ren. Saat ini mereka sedang berusaha, jadi aku mohon Kakak jangan menambahi beban untuk mereka."


"Tuan muda Rei, tuan muda Ren … oh' iya aku lupa. Ayo kita pulang, tapi sebelum itu kita harus membereskan mayat dari orang yang suka merendahkan ini."