
Hisao mulai berlari ke rumah Ishikawa yang perlahan-lahan di lahap oleh api, Asahi yang panik melihat Hisao seperti itu ingin mencegahnya tetapi tidak bisa karena hisao telah melompat masuk ke dalam rumah.
Dan tak selang lama dari itu anggota Yakuza datang di tempat yang Asahi katakan dengan membawa dua mobil pemadam kebakaran yang mereka pinjam secara paksa.
Asahi lalu memerintahkan mereka untuk memadamkan api terlebih dahulu.
★★★
Di dalam rumah Hisao yang mencari keberadaan Kazuki sama sekali tidak menemukannya karena terhalang oleh api yang mulai melahap perlahan isi dalam rumah.
Hisao pun mulai berteriak memanggil nama Kazuki sambil menahan panasnya api yang ada di dalam rumah tersebut.
Ketika Hisao sedang berteriak memanggil nama Kazuki tiba-tiba terdengar suara yang menjawab teriakan Hisao.
"Tolong … tolong Hisao." Lirih seseorang meminta tolong kepada Hisao.
Mendengar suara yang keras namun lirih itu, Hisao mulai mencari di mana arah sumber suara tersebut.
Dan setelah di amati baik-baik Hisao menyadari kalau suara itu datang dari ruangan yang terkunci di sebalah kanannya dan belum di lahap oleh api sepenuhnya.
Tanpa berpikir Hisao menendang pintu tersebut hingga membuat pintu itu terlepas, dan di dalam terlihatlah Kazuki serta Ayah Ibunya tengah memeluk seseorang yang di selimuti kain hitam basah.
Melihat pemandangan di hadapannya itu Hisao bergegas ingin menyelamatkan Kazuki, tetapi Kazuki menolaknya.
"Tidak perlu. Kau membawa ku keluar pun itu tidak ada gunanya, aku tetap akan mati jadi aku mohon padamu Hisao, selamatkan adik-adik ku."
"Aku dan orang tuaku sudah rela mati disini, tetapi kami tidak mau mereka berdua senasib dengan kami." Jelas Kazuki pada Hisao.
"Apa maksudmu Kazuki, aku bisa menyelamatkan kalian semua!" tegas Hisao percaya diri.
"Tidak, kau tidak bisa. Tetapi kau bisa menyelamatkan nyawa kami yang sebenar-benarnya, selamatkan kedua adikku maka itu sama saja dengan kau telah menyelamatkan aku dan kedua orang tuaku."
"Tapi!"
"Sudah tidak ada waktu lagi, keluarlah dan didiklah adik-adik ku menjadi orang yang kuat sepertimu."
"Cih!" Hisao memalingkan wajahnya dari menatap Kazuki yang wajahnya telah separuh terbakar oleh api.
Dengan cepat Hisao lalu membawa kedua adik Kazuki yang telah diselimuti oleh kain basah, ia berlari dengan cepat sampai akhirnya ia bisa keluar dari rumah tersebut.
Disaat ia telah keluar Hisao meletakkan kedua adiknya Kazuki yang masih tertutupi oleh kain, sedangkan Hisao bersujud di tanah sambil membenturkan kepalanya dengan keras hingga berdarah.
Mengetahui Hisao yang seperti itu Asahi lalu menendang wajah Hisao yang tengah di benturkannya di tanah.
Karna hal itu membuat Hisao yang tadinya bersujud ditanah kini tertelentang di tanah, sambil menutup matanya ia menangis tersedu-sedu.
"Tidak mungkin!! aku pastikan orang yang melakukan hal ini akan mati ditanganku. AKU BERSUMPAH AKAN HAL ITU!!" teriak Hisao dengan keras hingga membuat anggota Yakuza yang sedang sibuk memadamkan api melihat kearahnya.
Hisao terus bergumam sendiri sampai api yang melahap rumah keluarga besar Ishikawa itu padam.
Tanpa membuang waktu Asahi memerintahkan anggota Yakuza untuk mencari orang yang tersisa di dalam rumah, dan setelah di cari mereka menemukan tiga orang dalam satu ruangan dengan keadaan sudah meninggal terbakar api.
Hisao tak ingin melihat ketiga orang itu lalu memerintahkan beberapa anggota Yakuza untuk membawa mereka ke rumah Asahi.
Sedangkan beberapa anggota Yakuza yang lain tengah memperhatikan benda yang diselimuti kain hitam yang di bawa oleh Hisao saat keluar dari dalam rumah.
"Oi apa itu? kenapa dia bergerak." kata salah satu anggota.
Mereka lalu berniat menyentuhnya, tetapi sebelum mereka menyentuh benda dalam kain hitam tersebut salah satu anggota lain menghentikan tindakan mereka tersebut.
"Eits' berhenti!"
"Kenapa?"
"Bisa jadi ini benda berbahaya."
"Lalu bagaimana menyentuhnya?"
"Dengan kayu kecil ini."
"Tenang."
Ia mulai mengarahkan kayu kecil itu kepada benda yang diselimuti oleh kain hitam itu, setelah di tusuknya sedikit dalam benda itu bergerak dan menangis.
"Aduh, huaa!!" tangis seseorang di dalam kain hitam.
"Eh dia menangis!" kaget salah satu anggota.
"Sstt! sudah diam …" kata seseorang lagi di dalam kain hitam.
"Hei sepertinya ada dua."
"Ha' benarkah? kalau begitu mari kita buka kain ini."
Mereka lalu membuka kain tersebut dan terlihatlah dua bocah kembar yang saling berpelukan, satu nya sedang menangis dan satunya lagi tengah mendiamkan saudaranya yang sedang menangis.
"Hei lihat mereka kembar!"
Melihat semua orang yang berpakain serba hitam, membuat anaknya yang mendiamkan saudaranya tadi pun ikut menangis karna takut.
Mendengar suara berisik dari anggota Yakuza yang sedang mengerumuni adik Kazuki Hisao tidak tinggal diam, ia menyuruh anggota Yakuza untuk tidak mendekati mereka berdua.
Hisao berjalan perlahan ke arah dua bocah kembar itu. "Ssstt!"
Melihat penampilhan Hisao yang berbeda dari anggota yang lain, kedua bocah kembar itupun terdiam.
"Siapa nama kalian?" tanya Hisao kepada mereka berdua.
"Namaku Sora dan ini adalah saudara ku namanya Soma, hiks …" Jawabnya sedikit tersengal karna menahan tangis.
"Ohh kalian sangat mirip dengan Kazuki. Namaku adalah Hisao dan aku adalah teman baik kakak kalian, mulai sekarang kalian akan ku angkat sebagai adikku jadi panggil aku dengan sebutan Kakak, mengerti?"
Mereka berdua lalu mengangguk mengiyakan perkataan Hisao.
FLASHBACK OFF*
"Begitulah ceritanya." Jelas Hisao selesai menceritakan masa lalunya.
"Lalu bagaimana dengan orang yang memusnahkan keluarga Ishikawa?" tanya Rei penasaran.
"Mereka semua telah mati di tanganku. Dengan mencari informasi sedikit demi sedikit aku menemukan mereka semua, dan akhirnya mereka mati di tanganku tanpa bantuan Yakuza sedikit pun."
"Tapi kenapa kau tidak tertangkap?"
"Seorang anggota Yakuza yang sangat terpandang harus pandai menutupi sesuatu jika sudah membunuh seseorang."
"Hehh ternyata begitu."
"Lalu Sora, Soma apa pesan terakhir dari kakak dan orang tua kalian? aku sangat penasaran," ucap Ren menatap Sora dan Soma yang duduk di sampingnya.
"Mereka berkata, hiduplah dengan baik tanpa menyimpan dendam pada orang lain, teruslah bahagia mengejar impian yang kalian cari. Kami akan selalu ada mengawasi setiap gerak gerik kalian di manapun kalian berada."
"Orang yang telah tiada hanya pergi meninggalkan dunia tetapi mereka tidak akan pernah pergi meninggalkan hati kita, sampai akhir hayat nanti." Jelas Sora.
"Kata kata yang sangat menyentuh hati." (Ren).
"Sampai saat ini kalian masih hidup dengan memegang kata kata itu?" (Rei)
"Ya." Jawab Soma.
"Hebat."
"Baiklah kita akhiri ceritanya sampai disini saja, silahkan bersihkan diri kalian jika tidak tuan besar dan nyonya besar akan marah." Kata Hisao menjelaskan pada semua orang disitu.
"BAIKLAH!!" Jawab mereka semua.