
"Iya!" ujar Miho tersenyum senang menatap Asahi.
Tanpa banyak bicara Asahi berjalan pergi meninggalkan Miho yang masih berada di kamar mandi, ia berjalan menemui ayah dan juga ibunya yang berada di ruang tamu.
Dengan memperlihatkan raut wajah menangis namun tersenyum ia mulai berbicara kepada ayah dan ibunya.
"Ayah … Ibu-"
Belum sempat Asahi berbicara, Asami yang melihat raut wajah Asahi seperti itu langsung memotong perkataannya.
"Asahi ada apa denganmu! apa kau baik-baik saja?" tanya Asami khawatir melihat Asahi.
"Ayah Ibu Miho … Miho dia …" Lirih Asahi menatap sayu Ayah dan Ibunya.
"Ada apa dengan Miho?"
"Asahi bisakah kau tidak berbicara setengah-setengah, katakan saja ada apa dengan Miho jangan membuat kami panik." Timpal Osamu pada Asahi.
"Miho dia hamil." Kata Asahi melihat kedua orang tuanya dengan tatapan haru dan bahagia atas kehadiran keluarga baru dirumah mereka.
Mendengar kabar gembira itu, rasa bahagia Asami dan Osamu tidak bisa di bendung lagi.
Rei and Ren yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendengar kabar gembira itu dari Ayahnya saling menatap satu sama lain sembari tersenyum tipis.
"Sudah sekian lama aku menantikan hal ini dan akhirnya rencana kita berjalan sesuai alurnya," ucap Rei.
"Ya, aku berharap tidak ada yang mengganggu keluarga kita lagi." Sambung Ren.
"Tidak ada yang berani Ren, tidak ada yang berani."
****************
Tak terasa lima bulan telah berlalu, hari yang telah di tetapkan oleh Asahi untuk berbulan madu di batalkan karena dia memiliki urusan mendesak di luar negeri.
Ia meninggalkan Miho dengan perasaan sedih dan tak rela meninggalkan istrinya yang sedang mengandung, tapi karena keadaan mendesak ia terpaksa meninggalkan Miho dengan di temani kedua orang tuanya serta orang di rumah keluarga besar Saito.
Seminggu setelah kepergian Asahi, ia terus mengabari Miho untuk terus menjaga kesehatannya serta bayi yang ada di dalam kandungannya, Miho mendengarkan saran Asahi.
Ia terus berpura pura tersenyum di hadapan Asahi, tetapi ketika Asahi menutup telpon senyumnya menghilang.
Mengetahui Ibunya yang tengah sedih Rei and Ren mencoba untuk menghibur Ibunya.
"Apakah Ibu sedih karena tidak ada ayah di samping Ibu?" tanya Rei menatap sayu Ibunya.
"Tidak juga." Jawab Miho singkat.
"Ibu tidak pandai dalam berbohong, Ibu pasti sangat merindukan ayah." Tukas Ren memegang tangan Ibunya dengan lembut.
"Ayolah Ibu, tersenyumlah. Disini ada kedua anak Ibu yang sangat pintar dan lucu." (Rei)
"Ya benar, kepintaran yang sudah tidak bisa dimasukkan ke akal."
"Ibu!" kesal Ren karena merasa di ledek oleh Miho.
Miho dan Rei tertawa kecil melihat wajah kesal Ren, melihat Ibunya yang tertawa Ren yang tadinya kesal pun juga ikut tertawa.
Waktu pun terus berlalu hingga sore hari tiba tepat pukul 4 sore.
Sora, Soma, Hisao dan Tatsuya yang berada di halaman belakang untuk melatih Rei and Ren kini beristirahat.
"Tuan Muda Rei, Tuan Muda Ren kemari!" Hisao melambaikan tangannya kepada Rei and Ren.
Rei and Ren yang melihat lambaian tangan Hisao lalu berjalan ke arahnya.
"Ada apa Hisao?" tanya Ren pada Hisao.
"Silahkan duduk dulu Tuan Muda." Hisao mempersilahkan Rei and Ren duduk.
Rei and Ren menuruti perkataan Hisao lalu duduk di kursi yang ada disitu.
"Apakah ada yang ingin anda tanyakan Tuan Muda?" tanya Hisao memulai obrolan.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Rei balik.
"Kami tidak ingin ada yang di sembunyikan, jika anda ingin menanyakan sesuatu tanyakan saja Tuan."
"Apa yang ingin anda tanyakan Tuan Muda Ren?"
"Tatsuya kenapa kau mempunyai dendam dengan ayahku?" (Ren)
Tatsunya memangku kepalanya sembari tesenyum melihat ke arah Ren.
"Cukup simple aku menjelaskannya,. Karna ayahmu telah membunuh kakak ku, yang sifatnya sama seperti dirimu dan Soma. Oleh karena itu aku cukup tertarik dengan kalian berdua." Jelas Tatsuya.
"Ohh begitu ya, menarik sekali." (Ren)
Rei lalu mengangkat tangannya.
"Apa yang ingin anda tanyakan Tuan Muda Rei?" tanya Hisao menatap ke arah Rei.
"Kenapa Sora dan Soma memanggilmu dengan sebutan Kakak sedangkan kalian tidak memiliki ikatan darah sama sekali." (Rei)
Mendengar pertanyaan dari Rei membuat Sora, Soma dan Hisao tertegun.
"Heh' pertanyaan yang sangat menarik. Baiklah kalau begitu, aku akan menceritakannya dari awal sampai akhir." Jawab Hisao.
"Sebelum aku bertemu dengan tuan Asahi, aku sudah berteman dekat dengan orang yang bernama Kazuki. Dia adalah kakak kandung Sora dan Soma yang telah lama meninggal sewaktu umur Sora dan Soma beranjak 8 tahun."
"Dimulai saat aku dan tuan Asahi baru saja pulang menghabisi anggota mafia yang merusuh di kota A."
FLASHBACK ON*
"Cih! aku tidak sempat menghabisi beberapa dari mereka dan mereka sudah kabur lebih dulu, dasar pengecut!" kesal Hisao.
"Hmm' sudahlah mereka tidak akan mengganggu lagi, tetapi jika mereka masing mengganggu maka aku tidak akan segan." Ucap Asahi dengan tatapan mematikan menatap orang yang berlari kabur menghindari mereka.
"Ngomong-ngomong kenapa kau tidak memanggil anggota Yakuza yang lain untuk membantu?"
"Aku hanya ingin bersenang-senang, sebab itu aku tidak memanggil mereka."
"Kau memang selalu seperti itu, selalu."
Mereka berdua terus berjalan di malam yang sunyi dan tak ada seorang pun yanh berlalu lalang.
Ketika mereka tengah santai berjalan di malam sunyi itu tiba-tiba Asahi melihat ke sebuah hutan yang cukup tenang.
"Oi Hisao, apa kau mengetahui siapa orang yang tinggal di dalam hutan ini?" tanya Asahi pada Hisao yang berjalan di sampingnya.
"Hmm' ada apa? dia adalah temanku dari keluarga Ishikawa." Jawab Hisao.
"Oh' kalau begitu tidak perlu menunggu waktu lagi, ayo kita kesana!"
"A'Apa kemana?!"
"Kerumah keluarga Ishikawa, orang yang paling terpandang di kota ini."
"Ha' untuk apa!"
"Apa kau tidak mencium bau? seperti ada yang terbakar."
Mendengar perkataan itu dari Asahi membuat pikiran Hisao di penuhi dengan begitu banyak hal-hal buruk.
Hisao lalu berlari tanpa menunggu Asahi, sebelum Asahi mengejar Hisao ia lalu menghubungi anggotanya untuk pergi kerumah keluarga besar Ishikawa.
Setelah memberitahukan hal tersebut kepada anggotanya, Asahi lalu mengejar Hisao yang telah jauh meninggalkannya.
Sesampainya Hisao di rumah keluarga besar Ishikawa matanya terbuka lebar melihat kobaran api yang begitu besar menyelimuti rumah tersebut.
Wajah Hisao terlihat pucat dan pupil matanya mengecil, tapi ia masih mempunyai firasat kalau temannya itu masih hidup, ia terus meneriaki nama Kazuki.
"Kazuki! Kazuki! Kazuki dimana kau!" teriak Hisao memanggil-manggil Kazuki.
Tetapi tidak ada respon sama sekali dari Kazuki. Tak berapa lama Asahi lalu sampai di sana.
"Bagaimana? apakah masih ada orang di dalam?" tanya Asahi pada Hisao tentang keadaan di dalam rumah.
"Aku pasti."