The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Sudah Sadar



Yuichi tersenyum mendengar perkataan Rui sambil menutup matanya. "Paling tidak aku tidak mati di tangan Hisao."


"Kau tidak mati di tangannya tetapi kau mati akibat luka yang dia berikan kepadamu," ucap Rui.


"Hei Rui terimakasih kau mau menjadi adik tiriku, walaupun aku tidak bisa mengajarimu dengan benar."


"Emm' tak apa." Rui menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu selamat tinggal a-dik-ku." Yuichi menutup matanya untuk selamanya.


Rui memalingkan wajahnya dan beranjak dari tempatnya untuk pergi meninggalkan tubuh Yuichi yang sudah tak bernyawa di dalam hutan.


"Selamat tinggal juga, kakak."


Rui akhirnya pergi meninggalkan hutan itu.


★★★


Beralih ke rumah sakit dimana Miho sudah dimasukkan ke rawat inap.


Asahi tepat berada di sisi Miho untuk terus menjaganya, sedangkan Hisao, Tatsuya, Sora dan Soma diminta oleh Asahi untuk membawa Rei and Ren ke sekolah agar bisa beristirahat karna besok mereka harus pergi ke sekolah.


"Miho kapan kau sadar? kau tau aku sudah menyadari sesuatu, sesuatu yang sesali. Aku ingin bercerita denganmu."


Asahi menggenggam tangan Miho dan menciumnya. "Cepatlah bangun, jika kau sadar aku akan langsung menikahimu. Hal yang paling kusesali adalah tidak menganggapmu, jadi bangunlah maafkan diriku aku akan menjadikanmu ibu yang sebenar-benarnya untuk Rei and Ren."


Asahi meluapkan isi hatinya pada Miho yang masih belum sadar dari komanya, dengan disertai air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Akhirnya karena kelelahan Asahi tertidur di samping Miho.


****************


Keesokan harinya Asahi terbangun dari tidurnya karena suara ponselnya, ia langsung mengangkat sambungan telpon tersebut.


📲"Ada apa Hisao? kenapa kau menelpon ku sepagi ini?"


📲"Maafkan saya tuan! tapi Kazuo … dia sudah tiada karna perbuatan Tatsuya."


📲"Oh' bagus kalau seperti itu, lagipula Miho hanya melarang ku untuk membunuhnya bukan berarti kalian juga."


📲"Kenapa anda baru mengatakannya sekarang!"


📲"Aku lelah, lebih baik kalian mandiri sendiri tanpa diriku sebentar. Bagaimana Rei and Ren? apa kalian sudah mengantarkannya pergi ke sekolah?"


📲"Ya, mereka diantar oleh Sora dan Soma. Ketika sudah mengantarkan mereka ke sekolah, Sora dan Soma akan pergi ke suatu hutan dimana terdapat jasad Yuichi yang dibunuh oleh Rui tadi malam."


📲"Rui? Yuichi?oh' ternyata dia yang menembak Miho, padahal aku ingin membunuhnya sendiri dengan tanganku sudahlah."


Asahi langsung menutup sambungan telponnya dan ketika ia ingin duduk untuk melanjutkan istirahatnya kembali, tiba-tiba ponselnya berdering kembali.


Kali ini nomor asing yang menghubungi dirinya, tetapi Asahi tetap mengangkatnya dengan perasaan kesal telah mengganggu waktu istirahatnya.


📲"Siapa!"


📲"Mohon maafkan saya tuan saya adalah Produser Miho, saya ingin menanyakan kabarnya. Bagaimana dengan keadaannya?"


Asahi menatap sayu ke arah Miho yang dari semalam masih belum membuka matanya. 📲"Dia sedang tidak baik-baik saja, saat ini dia berada di rumah sakit dan masih belum sadarkan diri."


📲"Apa! ada apa dengannya?"


📲"Kau tidak perlu tau dan sebaiknya kau jangan datang kemari, jika kau datang kemari tanpa sepengetahuan ku aku tidak jamin kau pulang dalam keadaan yang sehat."


Mendapatkan ancaman serius dari Asahi, Produser yang tadinya berniat ingin pergi untuk menemui Miho mengurungkan niatnya itu.


📲"B'Baik tuan Asahi, kalau begitu saya tutup telponnya."


Produser itu segera menutup sambungan telponnya dengan Asahi.


Asahi meletakkan ponselnya lalu memegang tangan Miho dan menatap wajah Miho dengan kelembutan serta kehangatan memancar dari tatapan matanya.


"Huhh … kenapa kau berurusan dengan orang merepotkan seperti dia, sebaiknya kau meninggalkan dunia karirmu dan menikah denganku maka aku akan menjamin kehidupanmu."


****************


Tak terasa empat hari sudah berlalu Miho masih belum juga sadar dari komanya, tepat di pagi hari ketika Asahi sedang tertidur dengan nyenyak nya di sisi Miho Rui datang untuk melihat keadaan Miho.


Disaat itu tiba-tiba jari Miho mulai bergerak dan perlahan-lahan Miho membuka matanya, ia pun mulai melihat ke arah Rui.


Melihat Miho yang telah sadar dari komanya air mata sudah tidak dapat dibendung lagi oleh Rui, ia memeluk Miho sambil memanggil nama Miho dengan keras.


"Miho!" isak Rui berteriak memanggil Miho.


Mendengar suara Rui yang terlalu keras itu membuat Asahi yang tadinya tertidur dengan pulas menjadi terbangun dari tidurnya.


"Ha' apa? ada apa ini!" kaget Asahi yang masih setengah sadar.


Melihat Asahi yang baru saja bangun Rui menelan kembali air matanya.


"Hei! kau ini mengganggu suasana saja!" kesal Rui menatap Asahi.


"Apa yang kau katakan! aku ini baru bangun gara-gara teriakan mu!" balas Asahi juga kesal karena Rui mengganggu tidurnya.


"Lihat Miho! lelaki seperti ini yang ingin kau jadikan suami, heh! kalau aku sudah tidak ku pakai lagi dia."


"Miho tidak akan mendengarkan perkataanmu, benarkan Mi-"


Tatapan Asahi seketika terpaku menatap Miho yang sedang terduduk di bed rumah sakit sambil mengulum senyum menatap dirinya.


"Haha' apa yang kalian lakukan? ini masih pagi, jadi kalian harus berbaikan," ucap Miho tertawa melihat perkelahian antara Asahi dan Rui di pagi hari.


Dengan cepat Asahi langsung memeluk Miho dengan eratnya.


"Hee … kalau begitu aku akan keluar meninggalkan kalian berdua. Oh" iya tamu kalian akan datang, jadi kalian harus ingat ya."


Setelah mengatakan hal itu Rui lalu pergi meninggalkan Asahi dan Miho berdua.


"Ada apa Asahi? sepertinya kau terlihat kurusan, apa kau tidak makan dengan teratur?" tanya Miho membalas pelukan Asahi.


Asahi semakin memeluk dengan erat tubuh Miho disertai bulir-bulir bening air mata yang lolos membasahi pipinya.


"Maaf … karna aku kau menjadi seperti ini, maafkan aku … aku tidak bisa menjagamu, maafkan aku maafkan aku …" Tangisan disertai permintaan maaf terus terucap dari mulutnya Asahi.


"Hehe' Asahi apakah aku termasuk orang yang pernah melihatmu menangis seperti ini? kau terlihat sangat tak berdaya. Apa yang kau takutkan? lagipula aku tidak kenapa-napa."


"Aku …"


Sebelum Asahi menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Rei and Ren datang dengan semangatnya menolak pintu hingga pintu tersebut terbuka lebar.


"Ibu!!" teriak Rei and Ren.


Karna hal itu sontak Asahi dan Miho mengurai pelukan mereka dengan cepat.


Rei and Ren berlari menuju ke arah Miho dan melompat untuk memeluk Miho.


"Rei, Ren!" sapa Miho memanggil nama Rei and Ren sembari memeluk mereka berdua.


"Kami sangat merindukan Ibu!!" serentak mereka berdua.


"Ibu juga sangat merindukan kalian."


"Ya … kalau begitu Ayah akan keluar dan membiarkan kalian berbicara dengan Ibu kalian."


Asahi lalu keluar dari ruangan Miho dan bertemu dengan Hisao, Sora, Soma dan Tatsuya.


Melihat wajah Asahi Hisao terkekeh dan meledek dirinya. "Ekhem! sepertinya ada yang terasingkan disini ya, entah siapa."


"Wajahnya sangat suram seperti baru disambar petir dan keluar dengan terpaksa." Ledek Tatsuya.


"Sepertinya kalian tengah meledek ku ya?" tanya Asahi menatap tajam Hisao dan Tatsuya.


"Kami kan tidak menyebut namanya, tapi jika anda merasa yaudah baguslah." (Hisao).


Sambil menahan rasa kesal yang menggebu dalam dirinya Asahi memalingkan wajahnya.


"Tidak biasanya. Biasanya satu pukulan keras sudah melayang di wajah kita ya," ujar Sora yang ikut meledek Asahi.


"Iya. Mungkin saja sang putri sudah terbangun dari tidurnya." (Tatsuya).


"Sang putri terbangun dari tidurnya dan sang pangeran pun di usir dari kamarnya." Kekeh Hisao.


Soma yang berada di sana hanya berdiam saja, ia tak ingin ikut untuk mengolok-olok Asahi karena ia sudah melihat aura Asahi yang tidak mengenakan.


"Ahaha … teruslah kalian tertawa, jika kalian sudah sampai di rumah maka aku tidak akan membantu kalian dalam masalah yang kalian buat sendiri. Bercanda kalian tidak di waktu yang tepat." Batin Soma.