The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Kepergian Miho



Hisao melihat Miho yang masuk ke dalam bandara, saat sedang melihat Miho tiba-tiba ponsel Hisao berdering.


Drrtt … drrtt … drrtt …


Hisao mengangkat telpon itu. 📲"Halo!"


📲"Hisao ini aku Rei."


Sontak mendengar perkataan itu Hisao terkejut. 📲"Bagaimana bisa anda mempunyai nomor telpon saya, dan dengan apa anda menelpon saya saat ini?"


📲"Aku mengetahui nomormu dari ponsel ayahku dan aku menelpon mu saat ini menggunakan telpon rumah. Aku tau kalau bibi Miho sudah pergi."


📲"Lalu kenapa?"


📲"Bisakah kau mengirimkan seseorang untuk menjaga bibiku di sana, aku mempunyai firasat yang tidak baik."


📲"Baiklah. Silahkan anda melanjutkan tidur, sisanya serahkan pada saya."


Rei menutup sambungan telpon dan kembali ke kamarnya. Sedangkan Hisao mencari nomor seseorang di ponselnya.


Setelah menemukan nomor yang ia cari, Hisao menghubungi nomor tersebut.


Tak butuh waktu lama telpon itu langsung di angkat.


📲"Halo kakak, kenapa kau menelpon ku pagi-pagi begini. Apa kau sudah gila."


📲"Sebenarnya yang gila itu bukan aku, tapi kau yang mau mengangkatnya."


📲"Ck! katakan apa yang kakak ingin aku lakukan."


📲"Jagalah orang yang bernama Miho."


📲"Miho? siapa dia?"


📲"Aiko Miho, seorang artis terkenal yang saat ini sedang memainkan sebuah flim di Kota tempatmu berada."


📲"Apa!! Aiko Miho. Bukankah dia adik dari istrinya Asahi, apa kakak berniat membuat aku mempunyai masalah dengan anggota Yakuza!"


📲"Heh' sudah ku duga, sikapmu sama seperti putranya."


📲"Apa maksud kakak?"


📲"Kau akan mengerti jika kau bertemu langsung dengan putranya Asahi."


📲"Terserah! aku tidak peduli."


📲"Haih … pikirkan baik-baik, aku akan memberikanmu apa saja jika kau menuruti permintaanku ini."


📲"Benarkah? kalau begitu biayai aku pulang kembali ke sana."


📲"Baiklah, tapi dengan satu syarat. Kau harus menjaga Miho di sana dan ketika kau datang kemari kau harus menjadi anggota Yakuza, bagaimana?"


📲"Kau menjebak ku, tapi demi aku bisa pulang, aku akan menerima persyaratan mu itu."


📲"Kalau begitu aku akan menutup telponnya."


Telpon itupun di matikan oleh Hisao.


Setelah mematikan sambungan telpon, ia lalu masuk ke dalam mobil dan pergi.


Tepat di pukul 06:30 Asahi membangunkan Rei and Ren di kamar mereka.


Tok … tok … tok …


"Rei, Ren bangun! kalian harus pergi ke sekolah." Panggil Asahi dari luar kamar Rei and Ren.


Tetapi di ada jawaban sama sekali dari Rei and Ren.


Asahi memutuskan untuk masuk, ia membuka pintu kamar Rei and Ren.


*Kreett


Di dalam kamar Asahi melihat Rei and Ren sedang membaca sepucuk surat. Asahi mendekati mereka berdua yang tampak murung saat membaca sepucuk surat tersebut.


"Rei, Ren kenapa kalian tidak menjawab perkataan Ayah, apa yang sedang kalian baca?" tanya Asahi menatap hangat Rei and Ren.


"Ini surat dari bibi Miho, sepertinya bibi Miho sudah pergi …" Lirih Ren.


"Kita tidak bisa makan masakan bibi Miho lagi, tidak bisa belajar dengan bibi Miho, tidak bisa bermain dengan bibi Miho, dan tidak pergi ke sekolah dengan bibi Miho …" Lirih Rei yang ingin menangis.


"Hiks …hiks … kenapa bibi Miho cepat sekali pergi ke sana …" (Ren).


"Wanita itu sudah mempengaruhi kedua Putraku, haih …" Batin Asahi.


"Kuharap tidak."


"Tapi …" (Rei).


"Kalau soal yang lain Ayah bisa mengerjakannya, Ayah bisa mengajari kalian belajar, bermain, mengantar kalian ke sekolah dan memasak."


"Apakah Ayah bisa memasak? kami baru tau." (Ren).


"Kalau begitu, bagaimana kalau pagi ini Ayah yang memasak sarapan untuk kami." (Rei).


"Tentu, tapi sebelum itu bersihkan diri kalian dahulu dan kita akan makan bersama-sama."


Mereka mengangguk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri bersiap-siap pergi ke sekolah.


Sedangkan Asahi pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi Rei and Ren.


Bibi Emi yang melihat Asahi di dapur langsung mendatanginya. "T'Tuan sebaiknya saya saja yang memasak, anda tidak perlu-"


Asahi memotong perkataan Bibi Emi. "Emi! hari ini aku akan memasak untuk Rei and Ren jadi jangan mengganggu."


"T'Tapi Tuan …"


"Berisik! kau cukup memberitahu ku bagaimana cara membuat nasi goreng."


"Ee' baiklah."


Bibi Emi mulai memberitahukan kepada Asahi bahan-bahan dan bumbu apa saja yang di gunakan untuk membuat nasi goreng, Asahi mendengar penjelasan Bibi Emi dengan baik.


Seusai Bibi Emi memberitahukan kepada Asahi bahan-bahan dan bumbu untuk membuat nasi goreng. Asahi pun mulai memasak dengan mengikuti perkataan Bibi Emi.


Tak berapa lama nasi goreng buatan Asahi akhirnya selesai, Bibi Emi yang melihat masakan Asahi menganggap kalau Asahi sangat pandai dalam memasak.


Tepat di saat bersamaan Rei and Ren datang ke meja makan untuk sarapan.


"Ayah apakah sarapannya sudah selesai?" tanya Ren pada Ayahnya.


"Tentu saja." Ucap Asahi sembari menghidangkan masakannya di meja makan.


"Sarapan apa pagi ini?"


"Nasi goreng, silahkan dimakan."


Tanpa meragukan masakan Ayahnya Rei and Ren lalu memakan nasi goreng buatan Asahi.


Baru sesuap mereka memakan nasi goreng itu dan mengunyah nya, seketika saja mereka langsung terdiam.


"Bagaimana, apakah enak?" tanya Asahi pada kedua Putranya.


Sambil menahan rasa yang tidak mengenakkan di dalam mulutnya, Rei menjawab pertanyaan ayahnya. "Apakah Ayah tidak mencobanya juga, ini sangat enak! benar kan Ren."


Ren hanya mengangguk tanpa berbicara apa-apa.


"Benarkah, kalau begitu biar Ayah coba." Asahi mengambil nasi goreng buatannya itu dan memakannya.


Ketika Asahi memakannya ia terdiam sembari menahan rasa yang tidak enak di mulutnya.


"Bagaimana Ayah, bukankah masakan Ayah sangat enak. Aku harap Ayah tidak mencoba untuk memasak lagi."


"Ya begitulah, masih tahap pembelajaran."


"Kenapa masakanku tidak enak dan kenapa masakan wanita itu sangat enak, padahal itu kali pertama aku melihatnya memasak. Hais … sudahlah." Batin Asahi.


Rei memanggil Bibi Emi untuk membuatkan bekal yang akan mereka bawa ke sekolah. Bibi Emi menuruti permintaan Rei sembari melirik nasi goreng yang ada di atas meja.


"Hehh … ternyata hanya dari hiasannya saja yang indah, tetapi tidak dengan rasanya." Batin Emi.


Emi mulai membuatkan bekal untuk Rei and Ren.


Setelah menerima bekal dari Bibi Emi, Asahi mengantarkan Rei and Ren ke sekolah.


Di perjalanan pergi ke sekolah Asahi berbincang-bincang dengan kedua putranya. "Rei, Ren apakah ada seseorang yang menyakiti kalian di sekolah?" tanya Asahi.


"Tidak ada yang berani menyakiti kami Ayah, selagi masih ada Ren mereka tidak akan berani." Jawab Ren.


"Benarkah, bagus kalau begitu. Jika ada yang menyakiti kalian katakan pada Ayah."


"Tidak perlu Ayah, lagipula tidak ada seseorang yang berani menyakiti kami." Timpal Rei.


"Jadi bagaimana, apakah pulang dari sekolah nanti kalian ingin jalan-jalan?"


"Tapi dari surat yang bibi Miho tinggalkan, ketika pulang sekolah kami harus belajar tidur siang, seusai tidur siang membersihkan diri, makan malam dan tidur."