The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Operasi Berjalan Lancar



Rui berjalan masuk ke dalam ruang operasi.


Pintu ruang operasi ditutup dan lampu operasi mulai menyala menandakan kalau operasi sedang berlangsung.


Di dalam ruang operasi terlihatlah tangan Rui yang bergetar hebat saat ingin memulai operasi Miho, karena ia tau sedikit saja dia melakukan kesalahan maka nyawa Miho akan tiada.


"Walaupun kepercayaan diriku kembali tetapi … diriku masih dalam kebimbangan. Bagaimana ini? apa yang harus kupilih …"


FLASHBACK ON


Sewaktu Rui dan Miho masih di masa kuliah.


"Kak Rui!" sapa Miho melambaikan tangannya pada Rui.


"Ah' Miho, kau sudah datang," ucap Rui melihat Miho.


"Tentu saja. Hari ini kelulusan Kakak bukan?"


"Hee … kenapa kau yang begitu bersemangat, padahal aku yang lulus."


Miho tersenyum dan menggandeng tangan Rui dengan semangatnya. "Karna aku percaya pada Kakak dan Kakak juga percaya padaku, kita akan selalu bersama untuk selama-lamanya!"


Mendengar perkataan Miho membuat Rui tersenyum lembut."


FLASHBACK OFF


"Ya … dia percaya padaku, maka aku pasti bisa melakukan operasi ini dengan lancar."


Rui langsung memulai ritual operasinya tanpa ada rasa keraguan sedikitpun terlintas di hatinya.


Sedangkan semua orang yang berada di luar ruang operasi hanya bisa memasrahkan semuanya pada Rui.


Tak berapa lama lampu operasi mati pertanda kalau operasi telah selesai.


Ketika Rui keluar dari ruang operasi Asahi, Hisap, Sora, Soma dan Tatsuya bergegas menghampiri Rui yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana?" tanya Asahi pada Rui dengan raut wajahnya yang tampak begitu khawatir dan cemas akan keadaan Miho.


"Miho baik-baik saja, operasinya juga berjalan dengan lancar. Peluru itu tidak mengenai organ vitalnya," jelas Rui menenangkan Asahi.


"Hufh … syukurlah."


"Dia akan dipindahkan ke ruang inap, hanya satu hal yang masih belum bisa kupastikan."


"Ha' apa maksudmu Rui?" tanya Hisao bingung melihat Rui.


"Berbicaralah yang jelas." (Asahi).


Rui memalingkan wajahnya sambil menundukkan kepalanya. "Aku masih belum bisa memastikan kapan dia sadar, karna dia terlalu banyak kehilangan darah dan kondisinya juga lemah."


"Sudahlah tidak apa yang penting dia selamat."


"Daripada memikirkan itu, Rei and Ren masih … dalam tatapan mata yang kosong." Timpal Tatsuya dengan raut wajah murung.


"Sora, Soma tetaplah berada di sisi mereka dan ceritakan banyak hal hingga bisa membuat mereka berdua tersenyum kembali." Jelas Hisao.


"Baik Kak!" jawab Sora Soma serentak.


Rei and Ren yang tadinya duduk di bangku tunggu kini turun dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Rui.


"Bukankah kau mempunyai urusan Bibi Rui," ujar Rei menatap Rui dengan tatapan kosongnya sembari menyeringai.


"Apakah tidak berniat mencarinya Bibi Rui? dia sedang berada di suatu tempat yang hanya Bibi lah yang tau." Sambung Ren.


"Tanpa kalian katakan aku sudah tau dimana dia, kalau begitu aku permisi." Jawab Rui serius sambil berjalan meninggalkan Asahi, Rei and Ren serta yang lainnya di rumah sakit.


"Heh' apa yang sedang kalian bicarakan, sebaiknya kalian jangan terus menutupi kepribadian kalian yang sebenar-benarnya." Tatsuya menyeringai.


"Tuan Muda Rei, Tuan Muda Ren apa yang sedang anda sembunyikan?" tanya Sora penasaran.


"Ayah, selama ini Ayah menganggap kami sebagai anak kecil bukan? tapi mungkin sekarang tidak karna Ayah sudah mengetahui tentang diri kami bukan?" (Rei).


"Apa yang ingin kau bicarakan Rei?" tanya Asahi langsung ke intinya.


Rei menatap serius kearah Ayahnya. "Kalian semua tidak sadar Kazuo mau menembak ke arah Ibu, tapi tembakan itu meleset karna kegilaannya."


"Suara tembakan itu menggenggam di tempat itu sampai kita tidak bisa mendengar suara tembakan yang satunya."


"Jadi maksudmu ada satu orang lagi yang tidak diketahui keberadaannya?"


"Tapi kita semua tau kalau di sana hanya tersisa dirinya saja, dari arah mana tembakan itu meluncur?" (Tatsuya).


"Kenapa aku tidak menyadarinya!" (Hisao).


"Aku juga tidak menyadarinya, tapi … Ren lah yang menyadari kekeliruan tersebut." (Rei).


"Ha' lalu kenapa kau sok tau!" (Soma).


"Aku hanya menjelaskan."


"Ren dari mana kau mengetahui kekeliruan itu?" (Asahi).


"Bagiku pistol adalah senjata api yang bisa menembak kapan saja, tetapi pistol memiliki berbagai macam jenis." Jelas Ren.


"Jadi kenapa?" (Tatsuya).


"Peluru hasil tembakan Kazuo meleset ke salah satu anggota mafia nya sendiri, dan yang bisa menembak tepat sasaran di jantung adalah sniper."


"Jadi, ada orang tersembunyi yang jaraknya jauh dari tempat kita berada." (Asahi).


"Ya, seharusnya tembakan itu ditujukan kepada Hisao yang tepat berada di depan Sora dan Soma, tetapi tembakan nya meleset ke ibu. Jadi, jika tembakan itu tepat sasaran ke ibu tentunya itu sudah mengenai bagian vitalnya."


"Kesimpulan yang bagus, jika kuingat kembali sepertinya itu tidak salah." (Tatsuya).


"Siapa orang itu, aku tidak akan melepaskannya!" (Asahi).


"Orang yang tidak ikut bertarung di situ."


★★★


Beralih ke Rui yang sedang mencari seseorang sampai ke pelosok hutan.


"Aku pasti bisa menemukanmu, dimana dirimu."


Rui terus mencari hingga akhirnya ia menemukan sebuah perban yang berbekas darah di hutan tersebut.


"Bau darah ini masih segar, sepertinya kau sedang terluka ya. Tenang saja, jika kau bertemu denganku maka kau tidak akan terluka lagi." Kata Rui menyeringai sembari memegang perban tersebut.


Tidak berapa lama Rui terus mencari akhirnya ia menemukan orang yang telah ia cari-cari sedari tadi.


"Ahaha … haha! mati … dia tidak mati, ahaha!" tawa Yuichi yang tengah mengg*la di dalam hutan.


"Akhirnya ketemu juga kau, Yuichi!"


Tawa Yuichi seketika berhenti, ia lalu berbalik dan ingin melihat siapa orang yang telah memanggilnya.


"Ohh' … ternyata kau Rui, senang bertemu denganmu kembali." Yuichi tersenyum licik melihat keberadaan Rui dihadapannya.


Rui menundukkan kepalanya. "Heh' siapa yang senang bertemu denganmu. Kenapa … kenapa kau melukai orang terdekat ku hah!!" teriak Rui menegakkan kembali kepalanya dan menatap Yuichi dengan tatapan membunuhnya.


"Hehe' kenapa kau tidak senang? kalau begitu kemarilah, bunuh aku jika kau bisa."


Tanpa berpikir panjang Rui berlari cepat ke arah Yuichi sambil berteriak. "YUICHI!!"


"Ahaha … haha kemarilah!!"


Pertarungan antara Yuichi dan Rui tidak terelakkan lagi di dalam hutan tersebut, merek bertarung dengan g*la hingga mereka berdua sama-sama terluka.


Tapi Yuichi yang terluka akibat perkelahian nya dengan Hisao kini sangat lemah karna lukanya terbuka dan mengeluarkan darah.


Sampai akhirnya pertarungan sengit itu berakhir dan sudah tentu pemenangnya ialah Rui.


Yuichi tak berdaya di tanah dengan bergelimangan darah di sekujur tubuhnya, Rui lalu duduk disamping tubuh Yuichi yang lemas tak berdaya.


"Hei Yuichi, kenapa kau menjadi seperti ini? ketika aku masih kecil kau tidak pernah memiliki sifat yang seperti ini, perbedaan dirimu yang dulu dan sekarang sangat jauh." Rui tersenyum pahit menatap Yuichi.


"Uhuk! uhuk … huhh … huhh … aku hanya melakukan apa yang ingin ku lakukan." Jawab Yuichi terengah-engah menahan sakit di tubuhnya.


"Meskipun itu mengambil nyawamu saat ini?"