The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Bertukar



"Ren!!" tegas Asahi pada Ren.


"Tuan Muda tidak baik berbicara seperti itu," ucap Hisao menasehati Ren.


"Heh' menipu semua orang memang sangat mudah." Batin Hisao.


"Ren, tidak biasanya kau seperti ini. Apakah kau masih marah dengan Ayah?"


"Apa maksud Ayah, aku sama sekali tidak mengerti."


"Kau anakku, aku pasti tau sifatmu. Kau orang yang tak suka banyak berpikir, suka membentak dan langsung bertindak sesuai keinginanmu. Tapi kenapa? baru beberapa menit kau sudah berubah menjadi seperti ini."


"Aku bisa merubah sifatku kapan saja Ayah, lagipula siapa yang suka dengan wanita seperti dia, bibi Miho lebih layak tinggal di rumah ini ketimbang wanita rendahan seperti dia."


"Ren, sebaiknya kau jangan berkata seperti itu. Ayah sedang berusaha mencari ibu sambung … untuk kita." Timpal Rei penuh penekan.


"Heh' hanya kau yang menganggap nya sebagai ibu sambung Rei, bukan aku."


"Sudah sudah, kenapa kalian yang bertengkar. Ren, jika kau tidak suka Ayah mencarikan ibu sambung untukmu, lalu kenapa kau meminta."


"Hehh … aku memang meminta ibu sambung, tetapi bukan wanita seperti dia. Terserah kalian ingin melakukan apa aku tidak peduli, jika ingin menikah dengannya menikah saja." (Ren).


"Ren kita tidak bisa memaksa Ayah untuk memilih, biarkan Ayah bersama orang yang dia cin-tai." (Rei).


"Banyak bicara, diamlah!"


Perdebatan itupun diakhiri dengan Hisao yang menggeret Ren pergi ke kamarnya. Asahi hanya menatap tajam ke arah Ren yang di geret oleh Hisao.


"Sudahlah Asahi, mungkin Ren butuh waktu untuk menerimaku. Lagipula kita masih di tahap pendekatan." Ucap Yuka memegang lembut pundak Asahi.


"Ayah tenang saja, aku akan membujuk Ren." (Rei).


Asahi mengelus lembut kepala Rei begitupula Yuka yang ikut mengelus kepala Rei.


"Baguslah, Rei adalah anak Ayah yang paling pintar. Ingat Rei, sampai kapanpun Ayah tidak bisa menikahi bibi Miho."


"Ya, Rei mengerti. Kalau begitu Rei akan masuk ke dalam kamar dan beristirahat."


Rei berjalan pergi menuju kamarnya meninggalkan Ayahnya, Osamu, Asami dan Yuka di ruang tamu.


Sesampainya Rei di dalam kamar.


"Hufh …" Ia menghela napas lega sembari menutup pintu kamarnya.


"Kerja bagus Ren, walaupun kau masih tidak bisa menahan emosi." (Rei).


"Kau tau, aku sangat ingin mencabik cabik wajah wanita itu. Aku tidak bisa menjadi sepertimu Rei." (Ren).


"Tapi Tuan Muda Ren, anda sangat pandai dalam menahan emosi dan Tuan Muda Rei sepertinya anda harus merubah sikap anda seperti Tuan Muda Ren." Jelas Hisao.


"Haih … baiklah," ucap Ren sembari menghapus tanda lahir palsu yang mereka buat.


"Kalau begitu saya permisi keluar."


"Awasi wanita itu, sepertinya dia mempunyai rencana." (Rei).


"Jika dia melakukan sesuatu di luar batas, maka aku tidak akan segan dengan wanita itu." (Ren).


"Baiklah Tuan Muda, kalau begitu saya permisi." Hisao keluar dari kamar Rei and Ren.


Rei and Ren memutuskan untuk langsung beristirahat, sedangkan Hisao kembali ke acara pesta.


Tak berapa lama akhirnya pesta itu usai, semua pembantu di rumah itu mulai membereskan bekas acara pesta termasuk juga dengan Hisao yang ikut membantu.


Walaupun dalam kesibukan Hisao selalu mengintai Asahi dan Yuka yang sedang mengobrol berdua.


"Terlihat manis di depan pahit di belakang. Apa yang sedang kau mainkan Yuka, apa kau yakin ingin menginjakkan kaki di rumah ini. Heh' sebaiknya kau memikirkan itu berulang kali." Batin Hisao.


Seusai membereskan acara pesta Yuka yang tadinya mengobrol dengan Asahi memutuskan untuk pulang. Asahi pun mengantarkan Yuka sampai di depan pintu.


"Terimakasih atas undangan pestanya walaupun aku tidak di undang, dan maafkan aku atas apa yang terjadi malam ini," ujar Yuka.


"Tidak apa, seharusnya aku yang meminta maaf atas perilaku anakku kepadamu. Kau orang yang baik Yuka, menurutku kau bisa menjadi ibu sambung putraku. Tapi …" Jelas Asahi menatap Yuka.


"Aku tau Asahi salah satu dari putramu tidak menyukaiku, walaupun ayah dan ibumu merestui kita tetapi aku tidak bisa jika salah satu di dari keluarga ini tidak bisa menerimaku, yaitu putramu …"


"Ya sampai jumpa."


Yuka berbalik dan pergi meninggalkan rumah keluarga Saito.


Ketika Yuka melewati gerbang, disaat yang bersamaan Sora ingin masuk ke dalam mereka berdua pun berselisihan.


Sontak melihat keberadaan Yuka yang baru saja keluar dari rumah keluarga Saito, Sora menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Yuka.


"Cih! kemana wanita itu. Haih …" Batin Sora kembali berbalik karena tidak menemukan keberadaan Yuka dan menatap rumah keluarga besar Saito.


"Erghh … sepertinya aku merasakan firasat buruk untuk wanita itu. Semoga kau tidak di ganggu oleh kedua si kembar itu."


Sora kembali melanjutkan jalannya dan masuk ke dalam rumah keluarga Saito.


Saat di ruang tamu Hisao memanggil Sora. "Sora!"


"Iya ada apa Kak?"


"Apa kau melihat Fujita Yuka, ketika kau ingin datang kemari."


"Ya aku melihatnya, tetapi ketika aku berbalik dan ingin melihatnya lagi dia sudah menghilang seperti hantu."


"Apa! kau tidak melihat ada sebuah mobil yang menunggunya?"


"Emm' aku tidak melihat sebuah mobil, aku hanya melihat ada seorang pria yang menaiki sebuah motor dengan memakai helm. Kurasa itu jemputan nya, ada apa?"


"Ck! aku tidak bisa mengatakannya sekarang karna tuan masih berada di dalam rumah. Kenapa kau datang kemari Sora?"


"Aku hanya ingin bertemu dengan Rei."


"Mereka sedang beristirahat."


"Ehh' … padahal aku ingin bertemu dengan mereka."


"Besok pagi saja kau bertemu dengan mereka."


"Hmm' kalau begitu bagaimana jika malam ini aku tidur disini."


"Huhh … baiklah. Kau bisa tidur bersamaku, tetapi ingat kau tidur di bawah."


"Tentu tentu tentu."


Hisao dan Sora memutuskan untuk pergi ke kamar dan beristirahat malam itu.


****************


Keesokan paginya, Rei and Ren yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah di kagetkan akan keberadaan Sora di sana.


"Sora!" kaget Ren.


"Tuan Muda selamat pagi!" sapa Sora pada Rei and Ren.


"Kapan kau datang?" tanya Rei.


"Ee' … kemarin malam. Aku ingin bertemu dengan kalian tetapi Kakak mengatakan kalian sudah tidur, jadi aku memutuskan untuk menginap."


"Waw' kau sudah selesai menyelidiki itu." (Ren).


"Emm' belum. Aku tidak bisa memberitahukannya setengah-setengah, lagipula mencari tau tentang dirinya tidaklah mudah. Sepertinya dia-"


Asahi yang baru saja turun mengucapkan selamat pagi pada semua orang. "Selamat pagi! Rei, Ren hari ini Ayah yang akan me-"


"Tidak perlu Ayah, Paman Hisao bisa mengantarkan kami ke sekolah." Sela Rei.


"Tumben sekali kau menolak Rei, biasanya kau tidak menolaknya."


"Aku ingin berbicara dengan Paman Hisao dan berbicara tentang sesuatu hal."


"Apa yang ingin anak Ayah katakan pada Paman Hisao?"


"Rahasia. Benar kan Ren?"


"Tentu, lagipula ini tentang diskusi anak-anak untuk apa Ayah tau." Timpal Ren.