The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Pengujian



"Sstt! diam. Izinkan aku mengambil bangku lalu mendengarkan ceritamu," ucap Rui pada Miho.


Rui mengambil bangku untuk ia duduk, disaat Rui mengambil bangku Miho sempat melihat Rei and Ren yang masih belum sadar menurut dirinya.


Rui duduk berhadapan dengan Miho. "Nah jadi apa yang ingin kau katakan Miho?"


"Kak Rui sebenarnya aku adalah ibu sambung dari mereka berdua." Jelas Miho.


"Bukankah mereka anak kakakmu Miho?"


"Ya. Kakak ku menitipkan mereka padamu dan mengatakan kalau aku harus menikah dengan Asahi, tetapi sebelum itu aku harus mendapatkan hatinya. Hatinya yang membeku setelah kepergian kakak ku."


"Kakakmu percaya pada mu Miho, dia yakin kau bisa merubah Asahi tapi kau harus sabar menghadapi masa masa sulit yang ia berikan."


"Tapi aku juga membutuhkan tempat bersandar, aku membutuhkan itu. Dia bahkan menikah dengan Yuka!"


Mendengar nama Yuka membuat pupil mata Rui mengecil. "Fujita Yuka! apa itu benar?"


"Ya. Wanita g*la itu menginjakkan kakinya ke rumah, dan membuat kedua putraku berada di rumah sakit saat ini."


"Aku baru saja membatinkannya. Kenapa kau membiarkan peliharaan mu menggigit boneka ku." Batin Rui menahan geram.


"Lalu?"


"Dia melihatku mendorong Yuka dan membuat perut Yuka sakit, padahal aku belum sempat mencengkram pundaknya dan dia sudah jatuh lebih dulu. Dia membuatku menjadi pemeran antagonis."


"Lalu kau tidak memberitahu Asahi kalau kedua putranya sakit?"


"Aku sudah memberitahunya, tapi dia lebih mementingkan anak di dalam perut Yuka yang belum tentu itu adalah anaknya!"


"Ternyata dia sudah tau tanpa mencari tau, tapi entahlah." Batin Rui.


"Rasa sakit ku bertambah parah, hatiku hancur melihat ia pergi bersama dengan Yuka."


"Kenapa kau tidak mengatakan kepada dirinya, kalau kakakmu menitipkan pesan terakhirnya padamu."


"Sebelum kejadian itu aku sudah mengatakannya, mungkin saja hatinya di penuhi kebimbangan antara iya atau tidak pesan itu dititipkan padaku."


"Haih! ternyata Asahi itu pintar hanya dalam urusan pekerjaan, tetapi dalam urusan keluarga dia sangat bodoh bahkan tidak berguna sama sekali!"


"E' Bibi Dokter ini mengatakan yang sebenarnya, aku tidak bisa memungkiri nya karna ayahku memang bodoh." Batin Rei.


"Aku sangat tidak suka Bibi Dokter ini menghina ayahku tapi yang dikatakan nya itu adalah kebenaran." Batin Ren.


"Sudahlah, lagipula saat ini aku ingin fokus untuk merawat kedua putraku."


"Hmm' bagaimana jika aku datang ke rumahmu setiap hari. Eh' tidak bisa ya, aku harus bekerja."


"Bukankah hari minggu adalah hari cuti mu Kak Rui?"


"Ah' benar! dua hari lagi adalah hari minggu, aku akan datang ke rumahmu."


"Hehe' mari kita lihat siapa yang paniknya seperti orang dilanda kebakaran, itu antara dua Hisao atau Yuka." Batin Rui.


Rei and Ren yang tadinya berpura-pura menutup mata pun mulai membuka perlahan-lahan mata mereka sembari memanggil Miho.


"Ibu …" Lirih Rei and Ren.


Mendengar suara Rei and Ren membuat Miho langsung berbalik kebelakang. "Rei, Ren kalian sudah sadar!"


Dengan cepat Miho meraih salah satu tangan Rei and Ren dan memegangi nya.


"Akhirnya kalian sudah sadar, bagaimana perasaan kalian? apakah kalian merasakan sesuatu yang tidak enak?"


"Badan Rei lemas Ibu." (Rei).


"Sama Ren juga, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kami berada di rumah sakit padahal kami baik-baik saja." (Ren).


"Kalian tiba-tiba jatuh sakit jadi Ibu membawa kalian pergi ke rumah sakit."


Seketika Rui menaikkan alisnya dan menyeringai. "Ternyata mereka berdua benar, kedua bocah Rei and Ren ini sangat unik. Mereka pandai dalam bermain sebuah drama, Asahi kau begitu bodoh tapi kenapa kau mempunyai anak yang begitu hebat."


Pandangan Ren beralih pada Rui. "Ibu siapa Bibi Dokter itu? apakah dia yang memeriksa kami?"


"Tidak. Dia adalah teman Ibu sewaktu di masa kuliah, kalian harus memanggilnya Bibi."


"Halo nama Bibi adalah Rui, senang bertemu dengan kalian Rei, Ren." Sapa Rui.


"Hehe' aku adalah orang jahat dulunya lalu aku mendapatkan rasa sakit yang membuatku menjadi baik."


"Rasa sakit apa itu?" (Ren).


"Rahasia. Kalian akan tau jika kalian sudah besar nanti."


"Rui apakah mereka sudah bisa dibawa pulang?" tanya Miho.


"Sepertinya sudah bisa, karna kau langsung membawa mereka ke rumah sakit jadi sekarang sudah tidak apa-apa."


"Kalau begitu kami akan pulang. Apakah kau melihat dua orang kembar di luar tadi?"


"Ya."


"Apa mereka masih ada di luar?"


"Hmm' mereka masih ada diluar."


"Haih … syukurlah aku pikir mereka pergi. Kalau begitu bisakah kau menjaga kedua putraku ini, aku ingin mengurus administrasi nya."


"Tentu."


Mihi lalu pergi untuk mengurus administrasi rumah sakit, saat Miho keluar ia mencari Sora dan Soma di ruang tunggu dan meminta mereka masuk kedalam ruangan Rei and Ren untuk membawa mereka pulang.


Sora dan Soma menuruti perkataan Miho dan masuk ke dalam ruangan Rei and Ren.


Di dalam ruangan itu Rui di interogasi oleh ke empat orang yang beradab didalam ruangan tersebut.


"Haih … ternyata semenjak aku tidak ada banyak orang-orang menarik di sekeliling Miho ya. Contohnya seperti kalian berempat," ujar Rui tersenyum."


"Tuan Muda Rei dia adalah mantan mafia." Jelas Sora.


"Aku sudah menduga dirimu dari awal kalau kau bukanlah orang sembarangan. Apa tujuanmu?" tanya Rei menatap tajam Rui.


"Melindungi barang berharga ku yang sudah lama tidak kutemui."


"Alasan tidak masuk akal!" (Rei).


"Apa jangan-jangan kau ingin menyakiti ibu sambung ku!" tegas Ren.


"Justru aku ingin melindungi dia, karna dia adalah seseorang yang berarti buatku. Yang harus kalian cemaskan itu diri kalian, aku takut karna ada kalian dia akan dalam bahaya."


"Selagi ibu berada di bawah lindungan kami, dia tidak akan berada dalam bahaya." (Ren).


"Rencana yang kalian buat belum tentu berjalan dengan lancar, kalian ingat ayah kalian masih ada dan rencana yang dia buat pastinya tidak akan sama dengan rencana yang kalian buat. Bisa saja rencana itu melayangkan satu nyawa."


"Diam!!" teriak Rei.


Mendengar teriakan dari Rei membuat Sora dan Soma sontak langsung menskakmat Rui, tetapi hal itu tidak membuat Rui ketakutan ia masih duduk dengan tenang di tempat duduknya.


"Dengan satu teriakan kau bisa memanipulasi dua orang ini, tetapi apa bisa dengan suara teriakan itu kau menyelamatkan satu nyawa?"


"Bunuh dia!" (Ren).


Sora dan Soma tidak langsung menuruti perkataan Ren, mereka masih di liputi rasa bimbang.


FLASHBACK ON


Di ruang tunggu.


"Sora aku sangat penasaran pada wanita itu, kenapa kau tidak menanyakan langsung ke intinya saja pada kak Hisao?" tanya Soma bingung.


"Baiklah aku akan mengatakannya pada kak Hisao," ucap Sora.


Sora mengambil ponselnya dan mulai mengubungi Hisao.


Drrtt … drrtt … drrtt …


Tak butuh waktu lama Hisao langsung mengangkat telpon tersebut.


📲"Ada apa Sora?"


📲"Ruo, siapa dia? dia dari anggota mafia."


📲"Ha' wanita monster itu. Dari mana kau mengetahui namanya?"