
"Ayah juga tidak tau." Jawab Asahi menatap satu Ren.
"Jika Ayah ingin menikah dengannya, menikah saja. Aku sudah tidak peduli, dan juga Rei sudah berpihak pada Ayah," ucap Ren.
"Ren apa yang kau katakan."
"Terserah, yang jelas jika Ayah menikah dengan wanita itu. Aku tak akan pernah menganggapnya ada di rumah ini, termasuk juga dengan Ayah dan Rei."
"Ren!! Ayah masih dalam kebimbangan, kau seharusnya mengerti. Kalian berdua terus mendesak Ayah untuk mencarikan kalian ibu sambung!"
"Tapi bukan wanita itu yang aku inginkan!! sudahlah sebaiknya Ayah keluar, aku sedang tidak ingin diganggu."
"Ren!"
"Keluar!!"
"Haih … kau ini. Ayah akan keluar dan memberikan mu waktu untuk menenangkan diri."
Asahi keluar dari kamar Ren untuk membiarkannya menenangkan diri, setelah keluar dari kamar Ren ternyata ada Hisao yang sedang menunggu Asahi keluar.
"Tuan, nona Yuka mencari anda. Dia ingin mengatakan sesuatu pada anda," ujar Hisao.
"Hmm' baiklah, oh' ya tolong jaga Ren di dalam kamarnya, dia tidak ingin keluar."
"Baik Tuan."
Asahi pun kembali ke acara pesta, sedangkan Hisao masuk ke dalam kamar dan menemui Ren.
"Tuan Muda Ren."
"Berikan ponselmu, aku ingin menelpon seseorang." Ucap Ren.
Hisao memberikan ponselnya pada Ren tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Ren mulai mencari nomor telpon yang ingin ia hubungi. Setelah beberapa menit mencari akhirnya ia menemukannya, dan langsung menelpon nomor tersebut.
"Perasaan ku tidak enak, apakah sebaiknya aku memanggil Rei." Batin Hisao resah.
Hisao keluar dari kamar Ren untuk mencari keberadaan Rei, sedangkan Ren masih menunggu nomor yang ia telpon tersebut mengangkat telpon darinya.
Tidak berapa lama Ren menunggu, akhirnya sambungan telpon tersebut diangkat.
📲"Halo."
📲"Kau pasti Ren bukan? untuk apa kau menelpon ku?"
📲"Berikan telponnya pada Tatsuya."
📲"Ha' untuk apa aku memberikannya pada Tatsuya."
📲"Jangan banyak bicara, berikan saja."
📲"Jika aku tidak mau?"
📲"Maka aku juga tidak akan segan padamu."
📲"Apa yang bisa kau lakukan padaku."
Tiba-tiba saja telpon digenggaman Soma diambil oleh Tatsuya.
📲"Aku bisa membunuhmu."
📲"Hehh … benarkah? aku sampai takut mendengarnya." Kata Tatsuya.
📲"Oh' Tatsuya, akhirnya kau datang."
📲"Kenapa kau mencari ku? sepertinya kau sangat marah, apakah terjadi sesuatu padamu dan keluargamu?"
📲"Aku menginginkan sesuatu darimu."
📲"Ha' apakah seorang anak Yakuza membutuhkan bantuan dengan orang seperti ku?"
📲"Jangan banyak bicara, aku membutuhkan bantuanmu."
📲"Baiklah baiklah, apa yang bisa ku bantu?"
📲"Aku mau-"
Sebelum Ren selesai mengatakan apa yang ia inginkan pada Tatsuya, tiba-tiba Hisao dan Rei mendobrak pintu kamar.
Rei berteriak. "Berhenti Ren!! jangan katakan itu!!"
📲"Hehh … mengganggu saja."
"Kenapa? aku punya keputusan ku sendiri Rei. Jika kau bisa memilih, maka aku juga bisa memilih." Tegas Ren.
"Tapi Ren, kau tau apa yang kau katakan padanya itu akan menjadi kenyataan dalam waktu perdetik."
"Hehe … kau sangat pintar, hingga kau lupa bahwa masih ada orang yang mempunyai pilihannya disini." Batin Tatsuya mendengarkan perdebatan Rei and Ren.
"Itulah yang kuinginkan. Kau bahkan menerima wanita busuk itu kemari."
"Aku punya alasannya Ren!"
"Cukup!!" teriak Ren sembari menutup sambungan telepon.
"Ren, aku benar-benar punya alasan."
"Apa alasannya, kau selalu mengatakannya terlambat Rei. Kau tau, penyesalan selalu datang terlambat dan kau baru menyesal sekarang?"
"Iya aku bodoh … aku salah, aku terlalu bodoh. Kenapa aku tidak mengatakannya padamu Ren … kenapa aku selalu menganggap diriku selalu benar sekarang aku mengerti." Batin Rei di selimuti rasa penyesalan.
"Ya … aku menyesal. Memang ini terlambat tapi aku tidak peduli, jika kau marah padaku maka kau boleh memukul ku Ren, aku tidak akan mencegah mu." Jelas Rei.
"Tuan!" panik Hisao sambil mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai.
"Heh' kau yakin? baiklah aku akan menuruti perkataan mu."
Ren berjalan mendekati Rei yang diam tak berkutik dari tempatnya berdiri. Hisao yang melihat itu bergegas mencari nomor seseorang yang menurutnya bisa melerai pertengkaran antara Rei and Ren.
Perlahan-lahan Ren mulai mendekat dan ingin melayangkan satu pukulan di wajah Rei, sebelum hal itu terjadi Hisao sempat menghentikan pukulan yang ingin Ren layangkan ke wajah Rei.
Disaat yang bersamaan orang yang Hisao telpon mengangkat sambungan telponnya.
📲"Ada apa Hisao?" tanya Miho pada Hisao.
📲"Nona Miho! Rei and Ren ingin berkelahi."
📲"Apa? Rei, Ren hentikan!!"
Sontak mendengar suara Miho membuat Ren terdiam. "Maafkan aku, aku hanya terbawa emosi."
"Maafkan aku juga karena tidak mengatakan alasanku melakukan hal seperti itu padamu." (Rei).
📲"Rei, Ren apa yang sudah terjadi? kenapa kalian berbuat sampai seperti ini?"
📲"Ada masalah disini hingga membuat kami terlibat." (Rei).
📲"Jangan sampai kalian terlibat terlalu jauh."
📲"Ya bibi, sampai jumpa." (Ren).
Rei lalu mematikan sambungan telponnya.
"Jadi, apa alasanmu?" tanya Ren pada Rei.
"Mendekatlah, aku akan membisikkan nya padamu," ucap Rei.
Ren mendekatkan kepada Rei, Rei pun mulai membisikkan alasannya melakukan hal itu kepada Ren.
Seusai Rei menjelaskan alasannya, akhirnya Ren paham dan mengerti mengapa Rei melakukan hal seperti itu kepadanya.
"Oh' ternyata seperti itu. Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku dari awal, jika tidak aku tidak akan melakukan hal seperti tadi."
"Huhh … akhirnya kau mengerti, baguslah."
"Jadi bagaimana, apakah rencananya masih ingin dilanjutkan?"
"Tentu, akan ku katakan padamu kapan rencana ini akan berhenti."
"Haih … kalian berdua membuatku panik saja." Hisao menghela napas lega.
"Maafkan kami." Jawab Rei and Ren serentak.
"Kalau begitu mari kita keluar dan melihat apakah ada sesuatu yang menarik lagi."
Mereka bertiga pun pergi kembali ke pesta perayaan Osamu dan Asami.
Ketika melihat Ren, Asahi merasa terkejut dan tidak menyangka kalau Hisao bisa membujuk Ren.
"Tidak kusangka kau bisa membujuk Ren, anak yang keras kepala," ujar Asahi pada Hisao.
"Maaf Tuan, tetapi bukan saya yang membujuknya melainkan nona Miho." Jawab Hisao.
Mendengar nama yang disebutkan oleh Hisao, membuat Asahi dan Yuka mengerutkan dahi.
"Miho … Aoki Miho adik dari Narumi, kenapa dia bisa dekat dengan kedua bocah itu. Apakah aku harus menyelidikinya, hmm' sepertinya perlu." Batin Yuka.
"Oh' ternyata dia. Baguslah kalau begitu, karna membujuk Ren tidaklah mudah. Jika dia ingin membantu, maka dia akan mempermudah segalanya." Jelas Asahi.
"Kenapa Ayah berkata seperti itu, aku juga menyayangi bibi Miho!" tegas Rei.
"Asahi jangan berbicara seperti itu di depan Ren." Timpal Yuka.
"Aku Rei bukan Ren. Apakah Bibi Yuka tidak bisa membedakan kami?"
"Oh' maafkan Bibi, Bibi sedikit keliru."
"Cih! keliru. Bilang saja kau tidak bisa membedakan kami berdua." Ketus Ren.
"Ren tidak boleh berbicara seperti itu, Bibi Yuka ini temannya ibumu." Sela Asami.
"Iya. Teman di depan musuh di belakang."