
Disaat yang bersamaan Asahi juga keluar dari dalam mobil dan menatap kedua putranya yang pergi menjauh.
"Rencana apalagi yang ingin kalian buat haih …" Asahi menghela napasnya.
"E' Tuan." Gugup Hisao.
"Jangan banyak bicara Hisao, apa kau menyuruh seseorang untuk membuntuti ku?"
"Hee … ternyata sudah ketahuan." Batin Hisao.
"Hhh' apa yang anda katakan Tuan, saya mana berani."
"Hisao aku mengenal dirimu. Kau orang yang tak mudah tertawa, orang yang cepat bertindak saat mendengar sesuatu yang tidak beres, begitulah dirimu. Jadi, apakah kau menganggap ku melakukan sesuatu yang tidak benar?"
"Tidak Tuan. Saya mengaku kalau saya memang meminta seseorang untuk membuntuti anda, tapi saya melakukan itu ada sebabnya!"
"Apa? kenapa kau tidak memberitahukannya padaku?"
"A' sepertinya … ada seseorang yang berniat buruk pada anda."
"Siapa?"
"Emm' …"
"Jika kau tidak tau maka jangan memberitahukannya Hisao, kau membuatku kecewa. Fokus saja menjaga Rei and Ren, jangan memperdulikan tentang aku."
"Baik Tuan."
"Oh' iya, apakah Rei and Ren saat bersamamu selalu membicarakan tentang ibu sambung untuk mereka?"
"Sepertinya aku bisa menggunakan trik ini. Maaf tuan muda, aku terpaksa melakukan rencanaku dan anda harus merubah rencana anda." Batin Hisao.
"E' ya, tapi tuan muda tak pernah mengatakan siapa yang ingin mereka jadikan ibu sambung. Yang jelas mereka mengatakan kalau mereka membutuhkan seorang ibu."
"Oh' ternyata begitu. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, jagalah Rei and Ren."
"Baik Tuan."
Asahi pergi menggunakan mobil, sedangkan Hisao masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah Rei and Ren sudah menunggunya.
"Apa yang ayah katakan padamu Hisao?" tanya Ren pada Hisao.
"Tuan Muda, sepertinya tuan akan mencarikan ibu sambung untuk anda. Dan sepertinya itu bukan nona Miho." Jawab Hisao.
"Hais! hari ini sangatlah menjengkelkan bagiku. Berikan ponselmu padaku, aku ingin menelpon bibi Miho."
Tanpa berbasa-basi Hisao langsung memberikan ponselnya kepada Ren.
"Hei Rei, kau diam saja dari tadi. Jika kau ingin berbicara kepada bibi Miho, aku berada di halaman belakang."
"Hmm' ya." Jawab Rei singkat.
Ren pergi meninggalkan Rei dan Hisao berdua di ruang tamu. Di ruang tamu itu di penuhi dengan aura yang sangat tidak mengenakkan.
"Tuan Muda Rei, apa anda-"
"Apa yang kau rencanakan Hisao?"
"Apa maksud anda!"
"Katakan saja apa yang sedang kau rencanakan. Apa kau ingin aku mengubah rencana ku?"
"Hehh … apakah dia memasang perekam suara juga di tubuhku." Batin Hisao.
"Saya tidak mengerti apa yang anda katakan."
"Ketika kau menyembunyikan sesuatu dari kami, kau akan selalu memberikan apa yang kami inginkan dengan cepat."
"Aku tidak tau kepintaran mu itu sampai mana, tapi orang seperti dirimu bisa menebak ku melebihi ayahmu, hebat."
"Apa yang kau sembunyikan Hisao?"
"Heh' saya merasa kagum dengan kepintaran anda Tuan Muda, anda bahkan tidak membicarakan nya pada tuan muda Ren."
"Kau tau sendiri bagaimana Ren, dia orang yang tidak bisa disinggung. Jadi katakan saja secara inti, apa yang sedang kau rencanakan?"
"Heh! ubah rencana anda Tuan Muda, mau bagaimanapun rencana anda wanita itu tetap akan menang. Maka biarkan dia masuk dalam rumah ini."
"Wanita siapa yang kau maksud!"
Hisao berjalan melewati Rei dan pergi ke meja di ruang tamu, ia mengambil berkas di bawah meja tersebut lalu memberikannya kepada Rei.
"Apa ini?" tanya Rei bingung.
"Seseorang yang ingin mengambil posisi nyonya di rumah ini." Jawab Hisao.
Rei membuka dan membaca isi berkas tersebut :
...Nama : Fujita Yuka...
...Pekerjaan : xxx...
...Gender : Perempuan...
...(Dan seterusnya)....
"Fujita Yuka? wanita ini bukankah dia teman ibuku?"
"Ya benar, anda tidak salah. Mereka berteman tetapi ketika nyonya Narumi sudah menikah dengan tuan Asahi, mereka sudah tidak lagi berteman akrab." Jelas Hisao.
"Ha! tapi aku melihatnya berbicara dengan ibuku saat umurku beranjak 5 tahun."
"Hhh' apa anda tidak tau. Jika seseorang ingin membuat sebuah drama, maka harus ada tokoh-tokohnya dan nyonya Narumi hanya mengikuti alurnya."
"Jadi maksudmu ibuku sudah tau kalau dia mempunyai niat yang tidak baik?"
"Ya, seperti itulah yang dimaksud dengan drama atau sandiwara."
"Lalu apakah wanita ini yang sedang mendekati ayahku, tapi kenapa?"
"Entahlah, saya juga tidak tau yang jelas bagaimanapun rencana anda wanita itu tetap akan masuk ke dalam rumah ini. Jadi, silahkan ubah rencana anda."
"Kau menyepelekan ku Hisao? aku masih mempunyai kartu As."
"Maksud anda?"
"Ren."
★★★
Beralih ke Ren yang sedang berada di halaman belakang sambil mengobrol dengan Miho lewat telpon.
📲"Ren kenapa lama sekali Rei berbicara dengan paman Hisao?" tanya Miho pada Ren.
📲"Entahlah bibi, terkadang mereka suka bermain kartu."
📲"Ha' apakah Rei bisa bermain kartu?"
📲"Entahlah, bagi Rei tidak ada yang tidak mungkin."
📲"Haih … kalau begitu bibi akan menutup telponnya. Oh' iya, kalian tidak menyusahkan orang lain di sana kan?
📲"Tentu saja tidak."
"Ya mungkin hanya paman Hisao." Batin Ren.
📲"Baguslah. Kalau begitu sampaikan salam bibi pada Rei, karna bibi akan lanjut syuting."
📲"Ya tentu saja bibi, sampai jumpa!"
Miho lalu menutup telponnya, ketika sambungan telpon itu telah dimatikan, tiba-tiba ponselnya berdering kembali.
"Bukankah bibi Miho sudah mematikannya? apakah dia menelpon lagi." Batin Ren bingung.
Saat Ren melihat siapa orang yang menelpon ia terkejut. "Soma? sepertinya tidak asing, coba ku angkat."
Ren mengangkat telpon tersebut. 📲"Halo."
📲"Heh' sudah kuduga kaulah yang akan mengangkat telponnya."
📲"Heh' kau siapa?dan kenapa kau tau kalau aku yang akan mengangkat telpon?"
📲"Berhentilah bercanda, aku Ogawa Tatsuya. Apa kau sudah melupakan ku Ren."
📲"Ogawa Tatsuya, siapa? ohh' aku masih tidak terima dengan perilaku buruk mu padaku kemarin!"
📲"Cih! dasar pelupa."
📲"Ha! apa yang baru saja kau katakan! kau pikir aku sudah tua. Seharusnya kau sadar diri, kau itu sudah tua bodoh pula lagi!"
📲"Heh' sepertinya menelpon mu sama seperti menelpon orang bodoh."
📲"Ha! kau yang bodoh dasar g*la!"
📲"Jaga perkataan mu, jika tidak aku akan membuat keluargamu bangkrut dalam beberapa menit."
📲"Menit itu terlalu lama, kenapa tidak beberapa detik saja!"
"Anak ini, aku tidak tau harus mengatakan apa. Apa sebenarnya yang dia pikirkan." Batin Tatsuya.
📲"Aku tidak bercanda, aku serius." Tegas Tatsuya.
📲"Aku juga tidak bercanda, aku serius. Ya sudah lakukanlah."
📲"Kau!"
📲"Dengar, aku orang yang tidak suka bertele-tele. Jika kau ingin bermain maka mainlah, tapi lihat dulu siapa lawanmu."
📲"Heh' kau pasti. Aku adalah seorang hacker yang ditakuti oleh semua negara, nama samaran ku adalah Kenzo. Pastinya kau tau bukan?"
📲"Oh' ternyata kau, lalu kenapa. Aku tau namamu itu terkenal, tapi aku tidak peduli. Bisa kau langsung ke intinya saja untuk apa kau menelpon."
📲"Aku hanya ingin tau kabarmu, kalau begitu aku akan menutup telponnya."
Tatsuya pun menutup sambungan telpon itu, Ren yang kesal lalu berteriak. "Dasar kau Tatsuya bodoh!! apa kau sudah g*la!!"