
"Itu hal yang sangat mudah, tunggu saja nanti," ujar Ren menyeringai.
"Lalu bagaimana langkah selanjutnya?" tanya Sora pada Rei.
"Kita ikuti saja alurnya, jika dia sudah melewati batas maka aku tidak akan segan. Karna jika dia terus di diamkan, maka dia akan semakin keterlaluan." Jelas Rei.
"Sesuai perintah anda Tuan Muda." Timpal Hisao.
Saat di perjalanan Rei mengingatkan Hisao untuk memasang alat perekam suara di tempat yang sudah ia tentukan.
Hisao mengatakan kepada Rei kalau memasang alat perekam suara tersebut tidak bisa di siang hari, karena anggota Yakuza lainnya selalu mengawasi rumah keluarga besar Saito.
Jadi Hisao menyarankan kepada Rei untuk memasangnya tengah malam, disaat semua orang telah tertidur dan penjagaan di sekitar rumah berkurang.
Sesampainya di rumah mereka sudah di sambut oleh Asahi di depan pintu rumah, Rei and Ren berlari menuju arah Ayahnya dan memeluknya.
"Eh' Ren apakah kau sudah memaafkan Ayah?" tanya Asahi sembari memeluk Ren and Rei.
"Tentu saja, aku tidak bisa marah pada Ayah terlalu lama." Jawab Ren.
"Heh' tentu saja. Kau itu anak Ayah, Putra Ayah yang sangat Ayah sayangi."
"Apakah hanya Ren saja Ayah, Rei tidak?" ketus Rei.
"Tentu saja kalian berdua anak Ayah." Asahi memeluk erat kedua Putranya.
Tak berapa lama Asahi mengurai pelukannya dari Rei and Ren. "Kalau begitu pergilah ke kamar kalian dan gantilah pakaian kalian."
"Baik Ayah!!" jawab Rei and Ren serentak.
Ketika Rei and Ren sudah masuk ke dalam kamarnya, Asahi menyuruh Hisao dan Sora untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Baiklah, aku bisa berbicara dengan tenang. Kenapa kalian berhenti di gang itu?" tanya Asahi menatap tajam Hisao dan Sora.
"Apa maksud anda Tuan." Jawab Hisao tanpa keraguan.
"Mobil itu sudah ku pasang GPS jadi aku tau kalian sedang berada di mana. Sekarang jawab aku, untuk apa kalian kesana?"
"Hanya bermain tidak lebih dari itu." Timpal Sora.
"Kau hanya orang yang baru masuk, apa kau tau bagaimana caraku menyiksa seseorang."
"Untuk apa aku mengetahuinya, jika sudah ada kata menyiksa bukankah itu sama saja menyakitkan dari."
"Lancang sekali." Asahi menatap ke arah Sora dengan aura membunuh dan senyum kejamnya yang khas.
"Lancang? aku hanya mengatakan kebenaran. Lagipula untuk apa aku takut? jika sudah takdirku untuk mati di tanganmu, aku bisa apa? tapi setidaknya sebelum aku mati, aku berhak untuk mengatakan kebenaran."
"Tuan, yang di katakan Sora benar. Kami hanya bermain dan tidak lebih dari itu." Sela Hisao.
"Cih! kau kelihatan berbeda Hisao, biasanya kau akan langsung menghajar seseorang yang lancang kepadaku. Tapi kali ini berbeda, apa yang kau sembunyikan dariku?"
"Tidak ada Tuan, saya hanya mengatakan kebenaran."
"Hais … baiklah jika kalian tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, yang jelas mungkin itu adalah hal yang baik. Kalau begitu aku ingin pergi keluar."
"Apakah kau ingin bertemu dengan Yuka?" (Sora).
"Ha' terserah ku ingin bertemu dengan siapa, lagipula itu tidak ada hubungannya denganmu."
"Padahal Ren tidak menyukainya, tapi kenapa kau terus mendekatinya."
"Aku hanya ingin membuka hati dan mencarikan ibu sambung untuk mereka."
"Ha' ehh' … secepat itukah kau melupakan nona Narumi, sungguh … laki-laki yang tidak setia dan hanya mengatakan janji manis saja."
Mendengar perkataan dari Sora membuat emosi yang di tahan oleh Asahi bergejolak, ia lalu mengambil vas bunga yang terletak di atas meja tepat berada di sampingnya. Dan melayangkan vas bunga itu ke wajahnya Sora.
Dengan sigap Sora menghindari lemparan vas bunga yang melayang ke arahnya. "Aku tidak main kasar, jadi jangan membuatku bermain."
"Tutup mulutmu." Pupil mata Asahi mengecil menatap Sora.
"Tenanglah Tuan, Sora sebaiknya kau pergi." (Hisao).
"Baiklah baiklah, lagipula meladeni orang sepertinya tidak ada habisnya." Sora pergi ke halaman belakang.
"Baik Tuan."
"Oh' dan satu lagi, malam ini Yuka akan datang kemari. Jadi katakan kepada Emi tidak usah memasak, karna Yuka yang akan memasak nanti."
"Saya mengerti."
Setelah mengatakan hal itu, Asahi pergi meninggalkan rumah.
Disaat mobil Asahi sudah pergi jauh meninggalkan rumah Rei and Ren lalu keluar dari kamarnya dsn mendatangi Hisao, begitu juga dengan Sora yang tadinya pergi ke halaman belakang kembali lagi ke ruang tamu.
"Jadi bagaimana dengan keadaan jantung kalian?" tanya Rei pada Hisao dan Sora.
"Apa kau bercanda, dia hampir membunuhku!" tegas Sora.
"Tuan Muda bisakah lain kali tidak membuat rencana seperti ini, ini sudah mengancam nyawa kami." Pinta Hisao pada Rei.
"Aku tidak akan membuat rencana ini lagi, ini hanya sebuah percobaan."
"Wow' kalian sangat pandai dalam berakting ya, sesuai rencana yang Rei katakan sewaktu kita akan sampai ke rumah." Timpal Ren.
FLASHBACK ON*
"Hisao, Sora wajah kalian kelihatan pucat, ada apa?" (Rei).
"Karena terlalu senang ingin bermain, aku sampai lupa kalau mobil ini sudah di pasang GPS oleh tuan. Jadi karna itu saya sangat khawatir Tuan Muda." (Hisao).
"Untuk apa kau khawatir? kalian kan tidak berbuat apa-apa." (Ren).
"Benar! tapi … mobil yang ku parkir tepat berada di depan gang tersebut. Saat ini tuan pasti sudah berada di rumah, dan menunggu kami berdua." (Hisao).
"Tenanglah, aku selalu mempunyai rencana untuk itu." (Rei).
"Apa rencananya Tuan Muda?" (Sora).
"Sederhana tapi mengancam nyawa." (Rei).
"Maksud anda apa?" (Hisao).
"Bukankah kalian bersumpah akan selalu setia padaku, dan taruhannya adalah memenggal kepala kalian." (Rei).
"J'Jadi kenapa?" (Sora).
"Maka pertaruhkan lah nyawa kalian disini." (Rei).
"Ha!!!" Serentak Ren, Hisao dan Sora.
"Apa kau sudah gila Rei!" (Ren).
"Apakah ada pilihan lain selain ini? tidak ada. Jika kalian ingin selamat maka lawan saja dia, jika ingin berbicara jangan ada keraguan terlebih kau Hisao." (Rei).
"S'Saya kenapa Tuan?" (Hisao).
"Kau sangat setia kepada Ayahku sebelumnya tentunya saat ini juga sama, kau selalu memukul orang yang berkata kasar dengan Ayahku, maka hilangkan kebiasaan itu. Sesekali Hisao bela lah yang salah." (Rei).
"Ha?" (Hisao).
"Kalian akan mengerti jika berhadapan dengan ayahku nanti, untuk saat ini ikuti saja perkataan ku dan seterusnya itu adalah urusan kalian." (Rei).
"Baik Tuan Muda!"
FLASHBACK OFF*
"Haih … Tuan Muda rencana anda untuk saat ini mungkin saya terima, tapi jika untuk yang kedua kalinya lebih baik saya bunuh diri sendiri." Hisao menghela napasnya.
"Jangan terlalu cepat mati Hisao, jika tidak kau tidak akan melihat pertunjukan yang menarik." (Rei).
"Ee' sepertinya aku harus pergi. Aku baru saja dikabari ada misi untukku." (Sora).
"Emm' berhati hatilah." Rei mengangguk.
"Kalau begitu sampai jumpa."