The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Taruhan Nyawa



"Hei Ren, apakah kau masih marah dengan Ayah?" tanya Asahi pada Ren sembari tersenyum kaku.


"Entahlah aku tidak tau." Ketus Ren.


"Ayolah kalian mendesak Ayah untuk mencarikan ibu sambung untuk kalian. Dia orang yang sangat baik, kalian pasti bisa menjalin hubungan yang baik."


"Heh' baik. Itu adalah topengnya untuk masuk ke dalam keluarga ini, sedangkan licik adalah sifat aslinya. Tetapi dia tidak sadar bahwa di rumah ini ada siluman rubah, yang mempunyai banyak akal."


"Benarkah itu …" Ledek Asahi mencubit pipi Ren.


"Ayah itu sakit!"


"Kau sangat imut jika kau marah seperti itu Ren."


"Hmph!"


"Hhh' …"


"Sudahlah ayo kita sarapan." Timpal Rei mengakhiri pembicaraan Ren dan Asahi.


Mereka pun makan bersama termasuk juga dengan Hisao dan Sora.


Seusai sarapan pagi Asahi langsung pergi karena memiliki urusan yang mendesak, sedangkan Hisao dan Sora pergi mengantarkan Rei and Ren ke sekolah.


Di perjalanan menuju sekolah mereka berempat yang berada di dalam mobil berbincang-bincang selama perjalanan.


"Jadi Sora apa yang ingin kau katakan tadi sewaktu di rumah, ada apa dengan wanita itu?" tanya Rei pada Sora.


"Fujita Yuka. Dia orang yang sangat sulit untuk diselidiki, karna dia mempunyai orang yang sangat kuat dan bisa melindungi identitasnya. Identitas yang di dapatkan oleh Hisao itu adalah identitasnya saat ini." Jelas Sora.


"Jadi maksudmu identitasnya saat ini. Kau berbicara seolah-olah dia suka mengganti identitasnya." Timpal Ren.


"Ya, memang benar identitasnya selalu berubah-ubah. Tidak heran bukan, hanya orang hebat yang bisa melakukan hal seperti itu. Keluarga Fujita telah membuangnya."


"Aku tau tentang hal itu, nona Narumi waktu itu juga pernah memintaku untuk mencari tau tentang mengapa dia di buang oleh keluarganya sendiri tetapi usahaku nihil." Kata Hisao.


"Mengapa?" (Rei).


"Karna semua orang yang mengetahui tentang kejadian itu telah di bunuh, dan tak berapa lama setelah kejadian pembunuhan itu rumah keluarga besar Fujita terbakar hingga tak menyisakan siapapun." (Hisao).


"Hanya dia yang selamat, karna dia sudah di usir." (Sora).


"Itu tidak masuk akal!!" (Ren).


"Dari cerita yang kalian katakan, bukankah itu seperti rencana untuk memusnahkan keluarga besar Fujita." (Rei).


"Ya. Semua hal itu dikaitkan dengan dirinya, tetapi karena tidak ada bukti maka tuduhan itu pun di hapus dan dia tidak di nyatakan bersalah oleh publik." (Sora).


"Heh' dia bisa menipu semua orang tapi tidak untukku." (Rei).


"Tuan Muda apakah anda akan tetap bermain?" (Hisao).


"Apa yang kau katakan Hisao, sebelum dia mendapatkan ganjaran atas perbuatannya itu maka permainan ini akan tetap berlangsung." (Ren).


"Kau salah Ren, permainan ini baru saja dimulai!" (Rei).


Tak berapa lama mereka mengobrol akhirnya mereka tiba di sekolah, Rei and Ren turun dari mobil.


Sebelum Rei pergi masuk ke dalam kelas, ia sempat memberitahukan sesuatu kepada Hisao.


"Hisao tolong bantu aku memasangkan alat perekam suara di setiap sudut ini." Ucap Rei sembari memberikan selembar kertas.


Hisao mengambil selembar kertas itu dan mulai melihat apa isinya. "Bukankah ini gambar setiap sudut rumah, dari mana anda mendapatkannya Tuan Muda?"


"Pertanyaan konyol, jika punya mata maka bisa mencarinya Hisao. Kau ikuti saja perkataanku karna mungkin saja ini akan berguna nantinya."


"Baiklah Tuan Muda."


"Oh' dan juga firasat ku sangat buruk tentang keadaan bibi Miho, katakan pada Soma untuk tetap mengawasinya setiap waktu."


"Baiklah Tuan."


"Tidak juga, terkadang aku salah berpijak hingga membuatku terjerumus masuk ke dalam jurang."


Setelah mengatakan hal itu Rei berjalan pergi menuju kelasnya.


Sora dan Hisao pergi meninggalkan sekolah, saat di perjalanan Sora meminta Hisao untuk memberhentikan nya di suatu gang.


Hisao menuruti permintaan Sora dengan penuh pertanyaan di pikirannya, Sora keluar dari dalam mobil.


"Aku pikir kau akan ikut bersamaku pulang, ternyata kau berhenti di gang ini untuk apa?" tanya Hisao pada Sora.


"Ya aku tau kalau Kakak pasti akan bertanya kenapa aku memintamu untuk menurunkan ku disini, maka aku akan memberitahu Kakak alasannya." Jelas Sora.


"Apa? yang aku tau di dalam gang ini banyak anggota mafia yang sedang bermain."


"Kakak benar. Tapi Kakak tau taruhannya apa, taruhannya adalah informasi."


"Ha' kau yakin?"


"Tentu saja, aku tidak bercanda. Aku mendapatkan lokasi ini dari beberapa orang teman yang tidak sengaja kutemui."


"Kalau begitu aku akan ikut."


"Ha' Kakak ingin ikut? aku akan memberitahu sesuatu. Permainan ini adalah permainan yang di larang oleh anggota mafia, tetapi mereka masih memainkannya dengan syarat …"


"Syaratnya apa?"


"Ketika kita sudah memberitahukan informasi, maka kita harus mati. Dan aku juga ingin menguji nyali disini."


"Mereka menganggap nyawa seperti mainan, tapi tak apa aku juga suka permainan ini. Mari kita bertaruh dengan nyawa."


Hisao memarkirkan mobilnya dahulu, dan setelah itu ia dan Sora masuk ke dalam gang.


Mereka mulai bermain sampai siang hari tiba tepat di saat Rei and Ren sudah pulang dari sekolah, Hisao dan Sora baru sampai menjemput mereka berdua.


Rei and Ren saling menatap satu sama lain, pikiran mereka dipenuhi tanda tanya melihat memar di wajah Hisao dan di pinggir mata Sora.


"Apa kalian habis mencuri? perawakan kalian seperti …" ujar Ren melihat Hisao dan Sora.


"Hhh' maafkan kami berdua Tuan Muda, kami sedikit bermain karna terlalu bosan." Jelas Hisao mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya.


"Ya begitulah." Sambung Sora.


Rei and Ren masuk ke dalam mobil, mereka kembali pulang ke rumah.


Meskipun begitu mereka berdua masih penasaran kenapa wajah Hisao dan Sora menjadi seperti itu, karena rasa penasaran yang tinggi mereka lantas menanyakan nya langsung pada Hisao dan Sora.


"Kena-"


"Yap! aku dan Kak Hisao sedang bermain dengan nyawa kami sendiri." Jawab Sora memotong perkataan Rei.


"Apa maksudmu Sora?" tanya Ren bingung.


Sora tersenyum licik, sedangkan Hisao menyeringai.


"Tuan Muda, Fujita Yuka ini sangatlah licik. Dia mempunyai hubungan dengan anggota mafia, bahkan dia rela membunuh keluarganya sendiri." Jelas Hisao.


"Terlebih lagi, dia menggunakan segala cara untuk mencapai kemenangan. Sesuai yang kau katakan Rei, jika kita tidak licik maka kita tidak akan menang." (Sora).


"Ehh' … kau mengambil kata-kataku, lalu wanita itu berhubungan dengan siapa?" (Rei).


"Tidak ada yang tau, mereka semua mendapatkan perintah untuk memusnahkan keluarga besar Fujita."


"Hmm' menarik, tapi kurang memuaskan. Dia harusnya bergerak tanpa diketahui semua orang, bodoh."


"Oi! jika aku menjadi salah satu anggota mafia itu, aku tidak akan membakar rumahnya tetapi membakar mulutnya!" (Ren).


"Itu masih jika Ren, kenapa kau harus menjadi mafia itu sedangkan kau bisa menjadi dirimu sendiri untuk membakar mulutnya itu."