The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Dimaafkan



"Rei, Ren …" Lirih Asahi.


"Heh' bukankah kau sudah dengar! Putramu tidak ingin bertemu denganmu, jadi silahkan pergi dan datanglah besok," ujar Sora pada Asahi.


"Hmph!" Asahi lalu pergi meninggalkan rumah Hisao.


Saat melihat Asahi sudah pergi jauh Sora dan Hisao masuk kembali ke dalam rumah.


Di dalam rumah mereka berkumpul dan mulai menyusun rencana.


"Kalian tau, besok adalah hari dimana bibi Miho akan kembali. Sebelum itu terjadi aku dan Ren harus ada di rumah, dan tentunya wanita g*la itu pasti akan ada di sana." Jelas Rei.


"Jadi apa rencananya Tuan Muda?" tanya Hisao.


"Kalian harus mengantarku kesana jam 05:00 pagi."


"Apa! apa kau g*la. Jam segitu aku berada di alam mimpi." Tegas Ren terkejut.


"Makanya biasakan dirimu bangun pagi."


"Tapi Tuan Muda Rei, yang di katakan Tuan Muda Ren itu benar." (Hisao)


"Aku tau tapi aku tak ingin memikirkan bagaimana wajah panik bibi Miho, ketika mengetahui kalau kami tidak ada di rumah."


"Ya benar. Emm' aku setuju dengan pendapat Rei, jika urusan soal drama kelanjutannya maka serahkan saja pada kami." Timpal Sora.


"Haih … baiklah baiklah." (Ren).


"Yosh, semuanya sudah sepakat bukan? kalau begitu kita jalankan rencananya besok pagi." (Rei).


★★★


Di malam hari Rei and Ren yang berada di ruang tamu sambil menonton siaran TV langsung di panggil oleh Hisao.


"Tuan Muda Rei! Tuan Muda Ren!" panik Hisao.


"Ada apa Hisao, kenapa kau sangat panik?" tanya Rei bingung.


"Kau hampir membuat jantung ku lepas Hisao." Ketua Ren.


"Maafkan saya Tuan Muda, tapi anda harus melihat rekaman CCTV ini." (Hisao).


"Apa? sini perlihatkan kepadaku." (Rei).


Hisao menunjukkan rekaman CCTV yang berada di rumah keluarga besar Saito.


Ketika Rei and Ren melihat rekaman CCTV itu, mata mereka dibuat terbelalak.


"Hah!!" Kaget mereka berdua.


"Apa yang sudah ayah lakukan, dan kenapa dia …" (Ren).


"Perlukah aku membunuh wanita itu, aku sangat tidak menyukainya." (Rei).


"Dengan pakaian sexy wanita itu duduk di samping ayahku sambil memegang tangannya. Apakah ayahku sudah g*la." Batin Rei.


"Wanita bejat ini tidak perlu dikasihani." Batin Ren.


"Tuan Muda tidak salah mereka melakukan ini, karna tuan Asahi sudah melakukan hal yang lebih jauh dari ini. Mereka sudah tercatat sebagai suami istri karena mereka sudah mempunyai buku nikah." (Hisao).


"Singkirkan hal menjijikkan ini dari kami!" tegas Rei dingin.


Hisao lalu menyingkirkan vidio rekaman CCTV itu dari hadapan Rei and Ren. "Maafkan saya Tuan Muda, kalau begitu saya permisi. Anda silahkan tidur karena ini sudah larut malam."


Tanpa berbasa-basi Rei and Ren langsung mematikan TV dan pergi menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Hisao untuk mereka.


****************


Keesokan harinya tepat di pukul 05:00 pagi Rei and Ren sudah bersiap untuk pulang ke rumah keluarga besar Saito, mereka lalu berangkat.


Diperjalanan Hisao memberitahukan kepada Rei and Ren kalau dia tidak bisa berada di samping mereka.


"Tuan Muda, sepertinya saya tidak akan bisa menjaga anda," ucap Hisao sembari menyetir.


"Kenapa?" tanya Rei.


"Saya akan menjemput Soma di bandara."


"Tidak perlu repot-repot Kak Hisao, serahkan mobilnya padaku dan aku yang akan menjemputnya. Karna aku ingin membicarakan sesuatu saat bertemu dengannya nanti." Jelas Sora.


"Oh' baiklah kalau begitu."


Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di rumah keluarga besar Saito, mobil itu berhenti tepat di depan gerbang dan keluarlah Hisao, Rei and Ren dari dalam mobil.


"Jemputlah Soma, ingat jangan memukulnya sampai terluka. Kau tau dia lebih berbahaya daripada dirimu." (Hisao).


"Baiklah aku mengerti, jangan ingatkan aku soal itu. Tapi seharusnya kalian yang mengkhawatirkan diri kalian sendiri, cepat lambat boom yang berada di tangan kalian itu akan meledak." (Sora).


"Jangan terlalu percaya diri Rei. Terkadang perkataan lebih cepat dari pada tindakan." (Sora).


"Apa yang sedang kalian bicarakan, aku tidak mengerti sama sekali." Ucap Ren.


"Tidak ada, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa."


Sora lalu pergi menggunakan mobil meninggalkan Hisao, Rei and Ren.


"Aku tidak tau apa yang kalian katakan yang jelas aku merasa kalian sedang membicarakan diriku." (Ren).


"Ya, bagaimana aku menjelaskannya." (Rei).


"Ee' sudah lah Tuan Muda, lagipula itu tidak terlalu penting. Mari kita masuk." (Hisao).


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.


★★★


Di dalam rumah terlihatlah di sofa ruang tamu Asahi yang tengah tertidur bersama dengan Yuka di sebelahnya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Ren bergegas berjalan ke hadapan Ayahnya dan memukul dada Ayahnya dengan keras, tidak lupa pula ia melayangkan pukulannya itu ke wajah Yuka yang tertidur.


"Ack!!" teriak Asahi kesakitan.


"Aww!!" teriak Yuka.


"Sudah? apakah sudah selesai bermimpi indahnya?" tanya Ren tersenyum geram.


"Ren apa yang kau lakukan?" tanya Asahi menatap Ren.


"Ah' maafkan aku Ayah, ternyata tanganku lebih cepat daripada perkataanku. Maafkan aku ya." (Ren).


Hisao dan Rei yang melihat itu hanya bisa tersenyum.


"Haih … tidak apa-apa. Kapan kau datang?" (Asahi).


"Tidak perlu tau, Ayah saja tidak menyambut kami. Jadi buat apa kami memberitahukannya pada Ayah, sebaiknya bersihkan diri Ayah dulu baru kita berbicara." (Ren).


Hisao dan Rei yang masih berada di depan pintu lalu berjalan ke arah Ren.


"Bukankah Ayah ingin meminta maaf pada kami? apakah Ayah tidak ingat," ujar Rei.


"Ayah ingat. Maafkan Ayah Rei, Ren Ayah … akan melakukan apa saja demi kalian." Lirih Asahi.


"Itu tidak tulus." (Rei).


Asahi memeluk kedua Putranya itu sembari menangis. "Maafkan Ayah … Ayah berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Bisakah kalian memaafkan Ayah?" (Asahi).


"Benarkah Ayah? Ayah akan menuruti apa saja perkataan kami?" (Rei).


"Tentu saja, kalian itu Putra Ayah." (Asahi).


"Kalau begitu kita sepakat, kami berdua akan memaafkannya Ayah." (Rei).


"Bersihkanlah diri Ayah dulu." (Ren).


"Baiklah. Oh' iya Ayah akan mengatakan kepada kalian kalau mulai sekarang Bibi Yuka adalah Ibu sambung kalian, dan dia juga akan tinggal di sini." (Asahi).


"Terserah, tapi yang jelas aku mau bibi Miho tetap berada disini, bagaimana menurut Ayah?" (Ren).


"T'Tidak bisa. Itu akan-"


Sebelum Asahi selesai berbicara Ren langsung memotongnya. "Ehh … kalau begitu kami tidak jadi memaafkan Ayah."


"Ee' … R'Ren." (Asahi).


"Sudahlah Asahi, lagipula mereka suka dengan adiknya Narumi, bukankah tidak apa-apa." Timpal Yuka membujuk Asahi.


"Baiklah kalau begitu." (Asahi).


"Wanita g*la!! berani sekali kau merayu Ayahku di hadapan ku. Lihat saja, aku akan mengurus mu nanti." Batin Ren.


"Heh' jika aku menjadi anda Tuan Asahi, tentu saja sebelum dia menyelesaikan perkataannya kepalanya sudah terlepas dari tubuhnya." Batin Hisao.


"Kalau begitu Ayah akan membersihkan diri Ayah dulu." (Asahi).


"Hmm' silahkan." (Ren).


Asahi dan Yuka pun pergi untuk membersihkan diri mereka, walaupun mereka sudah menjadi suami istri mereka tidak tinggal satu kamar.


"Ternyata Ayahku masih mempunyai akal." Ucap Rei.


"Tuan Muda, anda berkata seperti itu seakan-akan Ayah anda memang tidak memiliki akal." Jawab Hisao.