The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Rencana Si Kembar



Miho pergi ke kamarnya dengan perasaan yang sangat sakit mendengar perkataan dari Asahi. Ia membuka pintu kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan sangat kuat.


*Brakk


Miho bersandar di pintu kamarnya, perlahan-lahan ia terduduk di lantai sambil menangis.


"Kakak … aku tidak tau harus bagaimana lagi, semua yang kulakukan selalu salah di matanya. Dia selalu mengatakan kalau aku menduplikat dirimu, aku sudah tidak tahan dengan sikapnya."


****************


Beralih ke Asahi yang masih berada di ruang tamu. "Cih! wanita yang menjijikkan." Kesalnya.


"Lihatlah Narumi, betapa bersikeras nya adikmu ingin menggantikan posisimu di rumah ini dan di hatiku."


Asahi tak ingin memikirkan tentang hal itu terlalu lama, ia bangkit dari tempat duduknya dan ingin beranjak pergi ke kamarnya.


Tetapi ketika ia ingin pergi menuju kamarnya, ia melihat kalau Ayah dan Ibunya ada di penghujung atas tangga.


"Ada apa?" tanyanya pada orang tuanya.


"Apa kau bertengkar dengan Miho, Asahi?" tanya Asami pada Asahi.


"Itu bukan urusan kalian."


"Kau memang mudah mengatakannya kalau itu bukan urusan kami, tetapi apa kau tak pernah berpikir kalau urusanmu saja kau tinggalkan." Timpal Osamu.


"Apa maksud Ayah?"


"Rei and Ren, kau mengabaikan mereka. Waktumu bersama mereka hanya sedikit, berbeda dengan Miho."


"Kalian menyamakan ku dengan wanita yang menjijikkan itu, cuih!! aku lebih baik daripada dia dan jangan sama kan aku dengan dia!"


"Bagaimana kami tidak menyamakan mu dengan dirinya, sedangkan dari pagi hingga malam Miho selalu ada untuk Rei and Ren. Sementara kau hanya menampakkan dirimu di pagi hari ketika mereka pulang sekolah dan ketika mereka ingin tidur."


"Itu karena wanita menjijikkan itu menghasut kedua putraku untuk selalu bersama dengan dirinya. Wanita itu tidak tau malu ya, dia bahkan menduplikat kakaknya sendiri."


"Apa kau sudah bodoh, apakah aku melahirkan putra yang bodoh sepertimu Asahi. Jelas-jelas kaulah yang mengurung dirimu di dalam kamar dan kau menyalahkan Miho menghasut putramu." Timpal Asami.


"Terserah apa yang kalian katakan aku tidak peduli. Aku merasa sejak kepergian Narumi rumah ini semakin kacau ya, ditambah lagi wanita menjijikkan itu ada disini."


"Asahi!! kau sudah melampaui batas!" pekik Osamu.


"Aku melampaui batas? heh' kalian bercanda? justru wanita itu yang melampaui batas. Sudahlah, aku ingin keluar untuk mencari udara segar."


Ashi pun pergi dari rumah sedangkan Asami dan Osamu kembali ke kamar mereka dengan perasaan yang kesal karna putra mereka sangat berbeda dari yang dulu.


Miho yang mendengar perkelahian dari luar kamarnya, hatinya terasa tercabik-cabik dan air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


"Kakak … aku sudah tidak kuat lagi, aku ingin menyerah … aku ingin menyerah …" Batin Miho meluapkan rasa sesak di dadanya.


Perkelahian itu juga di dengar oleh Rei and Ren yang berada di dalam kamar.


Ren memukul kasurnya dengan perasaan kesal.


*Bamm


"Dasar ayah!" kesal Ren.


"Tenangkan dirimu Ren, mungkin ayah masih merasakan sakit atas kepergian ibu," ucap Rei menenangkan Ren.


"Bukan hanya ayah yang merasakan rasa sakit itu, tapi kakek, nenek dan juga bibi Miho merasakan rasa sakit yang sama. Kenapa ayah begitu egois."


"Kau benar juga, ayah bahkan tidak ingin mendengarkan penjelasan dari kita dan bibi Miho. Dia hanya percaya dengan pendapatnya saja."


"Haih … bagaimana caranya agar ayah bisa menerima bibi Miho."


"Aku punya ide, tapi sebelum ide ini dijalankan kita perlu bantuan orang dewasa yang berada di dalam anggota Yakuza, tapi siapa?"


"Aha! kalau itu aku-"


"Aku baru ingin menyebutnya tetapi kau sudah mengatakannya lebih dulu." Batin Ren.


"Kenapa Ren?"


"Oh' tidak apa. Jadi apa rencanamu?"


"Mendekat lah, aku akan membisikkan nya padamu. Seperti ini …" Rei mulai membisikkan rencananya pada Ren, Ren pun mengerti dan menyetujui rencana dari Rei.


"Rencanamu bagus Rei, tapi sebelum itu kita harus membuat bibi Miho pergi sementara."


"Ya, tapi bagaimana?"


"Bagaimana kalau kita meminta bibi Emi untuk berbelanja makanan kesukaan kita, pasti bibi Miho akan ikut. Demi kesehatan kita dia pasti akan mengecek makanan yang ingin kita makan dan barang yang kita pakai."


"Idemu bagus juga Ren walaupun itu konyol, tapi seperti biasa jika kita tidak mencoba maka kita tidak akan tau hasilnya. Yosh! mari berjuang!"


****************


Di malam harinya Miho mondar-mandir dihalaman rumah sambil memikirkan sesuatu.


"Kak, aku ingin menyerah. Tapi ketika aku melihat Rei and Ren aku memiliki usaha yang lebih besar lagi, aku tak bisa meninggalkan Rei and Ren. Aku bahkan belum mengatakan kepada kak Asahi tentang keinginan mu."


Saat pikiran dan hati Miho sedang kacau, tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Drrtt … drrtt … drrtt …


Miho mengambil ponselnya lalu mengecek siapa yang menelponnya malam-malam begini.


"Cih! ada apa lagi ini."


Miho mengangkat telponnya.📲"Halo! ada apa?"


📲"Miho kapan kau akan kembali, jika kau tidak segera kembali kami disini akan hancur tanpa dirimu." Jela Produser nya.


📲"Bukankah aku sudah mengambil cuti selama dua minggu!"


📲"Itu terlalu lama, aku tidak bisa membiarkanmu cuti selama itu. Flim yang sedang kau perankan ini sangat penting, jadi segeralah kembali."


📲"Tapi aku masih mempunyai masalah disini, bisakah kalian mengerti!"


📲"Kami mengerti Miho, tapi jika tanpa dirimu kami akan mendapatkan masalah. Paling tidak aku hanya akan membiarkanmu cuti selama satu minggu, dan itupun keadaan disini sudah sangat genting tanpamu."


Setelah mengatakan itu Produsernya Miho memutuskan sambungan telponnya.


"Hais! kenapa harus disaat-saat seperti ini. Apakah kalian pikir hanya kalian saja yang mempunyai masalah, aku juga punya! kenapa kita tidak saling mengerti saja." Gerutunya.


"Kakak bagaimana ini. Huhh … sebaiknya aku memikirkannya di kamarku saja."


Ketika Miho berbalik dan ingin masuk melewati pintu, ternyata ada Asahi yang sedang berdiri sambil menatapnya.


"Ha." Miho tidak terlalu memperdulikan Asahi, ia menunduk dan melewati Asahi.


"Jika kau mempunyai masalah, kenapa kau tidak langsung pergi saja." Kata Asahi.


"Itu masalahku bukan masalahmu, jadi kau tidak perlu ikut campur. Urusi saja urusanmu dan aku akan mengurus urusanku."


"Ternyata selain menjijikkan kau ini suka bermain ya."


"Ya. Terserah apa katamu, yang jelas jangan sampai perkataan mu itu kau makan sendiri." Miho pergi meninggalkan Asahi dan masuk ke kamarnya.


****************


Keesokan harinya, seperti pagi hari sebelumnya Miho membangunkan Rei and Ren. Menyuruh mereka memberi diri dan memakai pakaian sekolah, lalu pergi ke meja makan untuk sarapan pagi.


Tepat disaat Rei and Ren ingin sarapan pagi bersama Miho, Asahi keluar dari kamarnya dan datang ke meja makan untuk sarapan pagi.


"Rei, Ren hari ini Ayah yang akan mengantar kalian ke sekolah," ucap Asahi.