
"Ayah … Ren takut hiks … Ren gak mau tidur disini," ucap Ren menatap Ayahnya disertai air mata.
Tetapi Asahi tidak mengatakan sepatah kaya apapun. "Waktu itu apa yang dikatakan oleh Narumi? kenapa aku melupakan perkataannya."
Rei and Ren turun dari tempat tidur dan menarik pelan celana Ayahnya, hal itu membuat Asahi tersadar dari lamunannya.
"A' Iya Rei, Ren ada apa? apa kalian takut?" tanya Asahi melihat kedua Putranya.
"Ha' takut? Ayah bercanda. Apakah Ayah tidak bisa membedakan siapa yang takut di antara kita semua yang ada disini." Batin Ren.
"Ayah … kami sangat takut."
"Bolehkah kami tidur di kamar Ayah." Pinta Rei menatap Ayahnya.
"Tentu." Asahi mengangguk.
"Tapi bolehkah kami membawa Ibu?" (Ren).
"Bagus Ren, kau langsung pada intinya." Batin Rei.
"Bukankah ibu Yuka ada." (Asahi).
"Dia pergi entah kemana, lagipula kau tau sandi bagaimana Rei and Ren bukan. Mereka berdua sangat tidak menyukai Yuka." Timpal Miho.
Mendengar perkataan dari Miho seketika Asahi mengingat sesuatu. "Kau lebih mementingkan wanita itu yang belum tentu anak di dalam kandungan itu adalah anakmu!!"
"Kenapa? apa kau khawatir dengan anak yang berada di dalam kandungannya?" (Miho).
"Tidak juga. Kalau begitu ayo, sekalian saja kau ikut lagipula Rei and Ren tidak bisa tidur tanpa dirimu." (Asahi).
Perkataan Asahi membuat telinga Miho memerah, Asahi, Miho, Rei and Ren pun keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju kamar Asahi.
Di perjalanan menuju kamar Asahi, Miho lah orang yang berjalan paling belakang. Sambil menahan takut dan menutup telinganya Miho berjalan di kegelapan.
Mengetahui hal itu Ren lalu menarik tangan Rei. Rei berbalik kebelakang melihat ke arah Ren.
"Apa?" tanya Rei berbisik.
"Ibu sepertinya ketakutan, bisakah kau melakukan sesuatu." Pinta Ren berbisik.
"Tentu."
Seketika Rei berteriak. "Aaa!!"
Teriakan Rei membuat Miho terkejut.
"Ada Rei? ada apa?" tanya Asahi cemas.
"Huaa! Ayah … suara petirnya begitu menakutkan …"
Tanpa berbasa-basi lagi Asahi langsung menggendong Rei dan meminta kepada Miho untuk menggendong Rei juga, mereka berjalan berdampingan hingga sampai di kamar Asahi.
Di dalam kamar Rei and Ren diletakkan di tengah-tengah kasur.
"Ibu … bisakah Ibu mengusap kepala kami agar kami tertidur." (Rei).
"Tanpa kalian katakan Ibu juga akan melakukannya." (Miho).
Miho mulai mengelus lembut kepala Rei and Ren, Asahi yang duduk di pinggir kasur hanya melihatnya saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
"Heh' aku sudah mengingatnya Narumi, aku mengingat perkataan mu semuanya." Batin Asahi tersenyum pahit.
FLASHBACK ON
Dimalam hari yang gelap di sertai hujan dan guntur di mana-mana, disaat yang bersamaan lampu padam.
"Huaa! huaa!" teriak Rei and Ren.
"Tenanglah Rei, Ren Ibu ada di sini." Narumi memeluk Rei and Ren sembari mengusap pelan kepala kedua Putranya.
"Ibu kenapa guntur nya kuat sekali … dan kenapa pula lampunya padam, Ren takut." (Ren)
"Hiks … hiks … hiks … kenapa lampunya harus padam?" (Rei).
"Hehe' … melihat kalian berdua seperti ini, Ibu jadi teringat dengan bibi kalian yang takut jika gelap, guntur dan hujan bersatu. Bibi kalian terus menangis dalam pelukan Ibu."
"Kenapa bisa begitu!" (Ren).
"Emm! padahal bibi sudah pergi keluar negri, kenapa dia menjadi sangat cengeng." (Rei).
"Begitulah bibi Miho, bermental kuat tetapi berhati lembut. Dia dan Ibu sangat berbeda jauh, dia mempunyai mental yang kuat sedangkan Ibu bukanlah orang yang kuat."
"Entahlah … tapi yang jelas suatu hari nanti dia akan berjalan berdampingan dengan kalian." Narumi melirik Asahi yang tengah tersenyum melihat nya memeluk Rei and Ren.
FLASHBACK OFF
"Kau ingin mengatakan kepada ku kalau Miho berbeda denganmu, kau ingin menunjukkan padaku kalau dia adalah orang yang berbeda, selalu berjuang tapi mudah sekali menangis." Batin Asahi.
Sambil memikirkan hal tersebut Asahi terus menatap Miho yang masih mengelus ngelus kepala Rei and Ren.
"Kenapa kau menatap ku?" tanya Miho ketus.
Asahi terkejut dengan pertanyaan Miho dan langsung membuang pandangannya ke arah lain.
"Sudahlah kau lanjutkan saja mengelus kepala mereka, jangan pedulikan aku." Jawab Asahi gugup.
"Ada apa denganmu, sepertinya kau terlalu fokus menatapku sampai kau tidak sadar bahwa kedua putramu ini sudah tidur dari tadi."
Mengetahui hal itu Asahi langsung menutup wajahnya dengan satu tangannya. "Bodohnya aku."
"Sudahlah aku akan kembali ke kamar ku, karna kulihat sepertinya kau sangat tidak suka jika aku tidur di tempat tidur ini."
Ketika Miho ingin beranjak dari kasur Asahi langsung menangkap tangan Miho dan menariknya, hingga membuat Miho terduduk kembali di kasur.
"A'Apa!"
"Emm' tidak apa-apa. Sebaiknya kau di sini saja, jika seandainya Rei and Ren bangun dan mengetahui kau tidak berada di samping mereka, mereka akan menangis." Jelas Asahi.
"Ya baiklah, kalau begitu lepaskan tanganmu!"
Asahi langsung melepaskan tangannya dari Miho.
Karna tidak ingin di ketahui oleh Asahi kalau wajahnya sedang merona, ia langsung menutupi dirinya dengan selimut.
"Apa dia g*la! kenapa dia tiba-tiba menjadi aneh. Apakah petir menyambar otaknya." Batin Miho.
Disaat-saat seperti itu petir menyambar dengan kerasnya hingga membuat Miho terkejut.
*Derr
Melihat hal itu Asahi tersenyum tipis, ia menggeser Rei and Ren agar bisa lebih dekat dengan Miho lalu ia pun berbaring sambil memeluk kedua Putranya hingga kedua jarinya menyentuh tubuh Miho yang diselimuti oleh selimut.
"Hig! A'apa yang dia lakukan? apa dia sudah tidur. Hah' sudahlah sebaiknya aku tidur saja, tapi tangannya. Hahh … hahh … Asahi kau harus membayar tentang pelecehan yang telah kau lakukan." Batin Miho.
Tak berapa lama Miho akhirnya tertidur, mengetahui Miho yang sudah tertidur Asahi mendekatkan wajahnya ke wajah Rei.
"Narumi aku masih dalam kebimbangan, aku takut keliru dalam memilih jadi aku membutuhkan waktu. Maaf jika aku bersalah …" Gumam Asahi sembari menutup matanya dan tak berapa lama ia pun tertidur.
****************
Keesokan harinya Miho yang tertidur merasakan kalau tubuhnya terasa berat dan hampir tak bisa bernapas, ia perlahan-lahan membuka matanya.
Betapa terkejutnya Miho bahwa di depan matanya ada Asahi yang tengah memeluknya layaknya seperti bantal guling.
"B'Bagaimana bisa?" tanya Miho gugup dengan wajah semerah tomat.
FLASHBACK ON
Pukul 03:00 pagi Rei and Ren terbangun dari tidurnya karna mereka merasakan sesak di dada mereka hingga sulit bernapas.
"Emm' ternyata tangan Ayah, sudah tau tangannya berat masih aja di timpa nya," ujar Rei terbangun.
"Hmm' benar sekali." Jawab Ren sembari mengucek matanya.
Tiba-tiba Rei langsung menepuk pundak Ren dengan sangat keras.
*Pakk
"Aduh! apa sih Rei!"
"Eh' lihat itu tangan Ayah." Rei menunjuk tangan Asahi.
"Eh' bukankah itu Ibu?"
Mereka berdua saling bertatapan dan tertawa licik. "Hehehe' …"
Dengan sekuat tenaga Rei and Ren menyingkirkan tangan Ayahnya dan mendorong Miho agar bisa lebih dekat dengan Asahi, setelah melakukan hal tersebut mereka berdua lalu tertidur di pinggir kasur tempat Miho sebelumnya.
FLASHBACK OFF
"Selamat pagi Ayah, Ibu!!" sapa Rei and Ren dengan senyuman ruang terlihat di wajah mereka seakan-akan tak terjadi sesuatu.