
"Tutup mulut kalian, aku masih menahan diri karena ini di rumah sakit," ucap Asahi menatap dingin Hisao, Sora dan Tatsuya yang terus meledek dirinya.
Tak berselang lama dari itu Rei and Ren keluar dari ruangan Miho, mereka berdua melihat ke arah Ayahnya.
"Ekhem! Ayah, apa Ayah tidak ingin masuk dan berbicara dengan ibu?" tanya Rei mengulum senyumnya.
"Ya. Ekhem! ketika ibu bangun sepertinya Ayah belum mengatakan apa-apa pada Ibu bukan?" timpal Ren ikut berdehem.
"Apa kalian sedang mengolok Ayah juga Rei Ren," ujar Asahi menatap kedua Putranya yang terus berdehem mengkode dirinya.
"Tidak, tapi jika Ayah tidak ingin bertemu dengan ibu maka kami akan masuk kembali dan melanjutkan pembicaraan kami dengan ibu." (Rei).
Sontak Asahi langsung berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah baiklah."
Asahi mulai berjalan masuk kembali ke ruangan Miho, ketika sudah masuk ia lalu duduk di bangku tepat berada disamping bed milik Miho.
"Maafkan aku soal yang tadi, jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Miho tentang apa yang ingin disampaikan oleh Asahi sebelum kedatangan Rei and Ren tadi.
"Baiklah ini serius jadi dengarkan aku baik-baik." Asahi menatap lekat mata Miho.
"Ya."
"Awal bertemu dengan dirimu aku memang sudah tidak menyukaimu, sampai aku menikah dengan kakakmu. Aku memang menganggap mu tapi sebagai orang luar, hingga akhirnya Narumi pergi meninggalkan ku."
"Dan ia mengatakan permintaan terakhirnya hanya padamu, akhirnya kau pun datang menemuiku, mencoba menarik perhatianku sedikit demi sedikit menarik perhatian kedua putraku. Aku mengakuimu, kau berhasil membuat mereka tersenyum kembali." (Asahi)
"Tapi tidak dengan diriku, sampai kau pergi kembali keluar negeri untuk meneruskan karier mu. Terus menerus kau menarik perhatian semua orang agar mereka tak tenggelam dalam lautan kesedihan akibat kehilangan sosok Narumi."
"Aku mengakuimu. Tapi jawabanku tetap sama, kau gagal mendapatkan diriku dan tiba-tiba kau kembali disaat diriku sudah kacau. Kau datang dengan versi yang berbeda, orang yang keras kepala berani juga tak takut melawan siapapun."
"Kau berhasil menarik perhatianku untuk terus memperhatikan dirimu, aku melihat sisimu yang tak pernah kulihat sebelumnya. Hingga waktu kau tertembak, walaupun kau yang tertembak tetapi diriku lah yang merasakan sakit yang teramat sangat."
"Aku melihat dirimu yang masih tetap tersenyum sambil menahan rasa sakit yang begitu luar biasa. Aku menyadari kau sangat berbeda dari Narumi, dirimu yang sangat kuat berbeda jauh dengannya."
"Oleh sebab itu aku ingin meminta maaf padamu atas semua perilaku ku yang tak seharusnya ku perbuat pada dirimu, atas semua masalah yang ku timpakan pada dirimu dan perkataan ku yang selalu menyakiti hatimu."
Asahi menjelaskan semua yang ingin ia utarakan kepada Miho, semua kesalahan yang telah ia lakukan dengan ekspresi wajah di penuhi rasa bersalahnya ia terus meminta maaf pada Miho.
Miho tersenyum mendengar semua penjelasan Asahi sembari menangis, ia mengulurkan tangannya lalu memeluk kepala Asahi.
"Tidak apa-apa, aku tau kau sangat mencintai kakak ku dan tidak mudah untuk melepaskannya tapi aku yakin suatu hari nanti kau pasti bisa menerima keberadaan ku, dan ternyata itu sudah terbukti hari ini."
Asahi membalas pelukan Miho yang memeluk dirinya dengan kelembutan.
Ketika sudah sedikit tenang Asahi mengurai pelukannya dari Miho termasuk juga dengan Miho, ia duduk sembari memegang tangan Miho.
"Saat kau koma aku ada berjanji pada diriku." Asahi menatap Miho lembut disertai senyuman tipis.
"Berjanji apa?" tanya Miho penasaran.
"Aku akan menikahimu."
"Ha' tapi aku masih belum-"
Asahi menutup mulut Miho. "Aku yang belum mengatakannya. Miho aku mencintaimu."
Seketika Miho tertegun mendengar perkataan Asahi, ia merasa tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya kalau perkataan aku mencintaimu bisa keluar dari mulut Asahi.
Tepat disaat itu Osamu dan Asami datang sambil membuka pintu dengan gegabah.
"Miho!" teriak Asami memanggil Miho.
Karna terkejut Asahi langsung melepaskan tangannya dari mulut Miho dan berdiri tegak sembari menahan rasa malu, sedangkan Miho menutup wajahnya yang memerah seperti tomat karna tak kuasa menahan rasa malu yang bergejolak dalam dirinya.
"A'Apa kami datang di waktu yang tidak tepat?" tanya Osamu sedikit gugup.
"E' Tidak. Kalau begitu Ayah Ibu tolong jagalah Miho aku ingin pergi bekerja dan Miho jagalah kesehatanmu, sebentar lagi Rui akan masuk dan memeriksa kondisimu." Jelas Asahi.
"Emm'." Miho mengangguk.
Asahi berjalan beberapa langkah dan berhenti lalu berbalik lagi ke arah Miho, ia mengulurkan tangannya membelai dengan lembut kepala Miho dan mengecup keningnya. "Aku berangkat dulu ya."
Asahi melanjutkan langkah kakinya pergi meninggalkan ruangan Miho, ketika berada diluar ruangan Miho ia mengajak semua orang diluar untuk pergi dari rumah sakit kecuali Sora, Soma, Rei and Ren.
Melihat Asahi yang sudah pergi Asami lantas bertanya kepada Miho tentang apa saja yang sudah terjadi sejak mereka berdua healing keluar negri.
Miho pun mulai menceritakan semuanya kepada Osamu dan Asami termasuk juga kejadian yang menimpa Rei and Ren, Asami dan Osamu yang mendengar penjelasan dari Miho meminta maaf dan berterima kasih kepada Miho.
Miho tidak terlalu memperdulikan permintaan maaf ataupun terimakasih dari Osamu dan Asami, karna disaat itu ia merasa kalau ia adalah orang yang paling bahagia di hari itu.
****************
Seminggu kemudian disaat Miho telah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, di pagi harinya.
"Apa! lalu untuk apa kau membawaku pulang. Asahi apa yang sedang kau pikirkan! memberi waktu satu hari untuk mencari gaun pernikahan itu tidak mudah! terlebih lagi kau harus pergi bekerja bukan!" kesal Miho memarahi Asahi.
"E' ya." Jawab Asahi gugup tanpa melihat sosok Miho yang terus memarahi dirinya di pagi hari untuk mencari gaun pernikahan.
"Lalu apa yang kau pikirkan! kau menjadwalkan hari pernikahannya esok, sedangkan gaun pernikahan ku masih belum ada. Aku tidak tau apakah otakmu ini rusak!"
"Maafkan aku … aku lalai soal yang itu."
"Hais! sudahlah."
Rei and Ren yang mendengar keributan di pagi hari dalam kamar Ayahnya pun masuk untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Ada apa Ayah Ibu? kenapa kalian bertengkar? suara kalian sampai terdengar kemana-mana di dalam rumah," tanya Rei menatap kedua orang tuanya.
"Kalian lihatlah Ayah kalian, besok adalah hari pernikahan sedangkan dia masih belum menyiapkan baju pernikahannya."
Rei and Ren menatap Ayah yang masih berada di tempat tidur, begitu pula Asahi pun juga menatap Rei and Ren sambil mengedipkan sebelah matanya tanpa diketahui oleh Miho.
"Ayah sedang capek Ibu, jadi wajar jika Ayah lupa tentang baju pernikahannya." Jelas Ren.
"Ya benar. Selama Ibu koma di rumah sakit Ayah lah yang menjaga Ibu, makannya tidak teratur begitu pula dengan tidurnya ia menjadi kurusan." Timpal Rei membela Ayahnya.
"Rei Ren saat ini siapa yang butuh pembelaan dan siapa yang harus diceramahi?" tanya Miho menatap serius Rei and Ren.
"Ibu!" Jawab mereka berdua.
"Iss! sudahlah. Kau pikirkan sendiri! aku tak akan membantumu berpikir, kau mengerti Asahi!"
Dengan rasa amarah yang membara Miho berjalan keluar dari kamar Asahi lalu menutup pintunya dengan keras, hingga membuat Asahi, Rei and Ren tersentak mendengar suara pintu tersebut.