The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Gaun Pernikahan



Tak selang berapa lama setelah Miho membanting pintu dan pergi, terdengarlah suara mobil dari luar rumah.


Mendengar suara mobil tersebut membuat Asahi, Rei and Ren berjalan ke arah balkon untuk melihat mobil tersebut dan terlihatlah Miho yang pergi meninggalkan rumah dengan menaiki mobil.


"Lihatlah Ayah, ini semua karna perbuatan Ayah sehingga ibu pergi dari rumah, padahal besok adalah hari pernikahan Ayah. Lalu bagaimana sekarang?" tanya Rei pada Ayahnya sembari menaikkan salah satu alisnya.


"Ahaha' maafkan Ayah. Sebenarnya itu sengaja, lagipula Ayah tidak ingin berdebat dengan ibu kalian. Hari ini gaun yang Ayah siapkan akan segera sampai." Jelas Asahi menatap kedua Putranya lekat.


"Gaun? apa jangan-jangan Ayah sudah menyiapkan gaun pernikahan nya? tetapi Ayah membohongi ibu," ujar Ren memberondong Ayahnya dengan beribu pertanyaan.


"Jadi Rei Ren tolong kerja samanya, Ayah akan pergi bekerja gaunnya akan sampai di rumah nanti. Jika gaunnya sudah sampai tolong beri penilaian kalian masing-masing."


"Tentu, kalau begitu kami akan pergi ke halaman belakang karna kami ingin latihan bersama Sora dan Soma." (Rei).


"Bagaimana dengan Tatsuya?"


"Oh' aku dengar dia bersama Hisao ingin menghapus tempat keberadaan anggota mafia, bersama dengan anggota Yakuza yang lain."


"Oh' begitu ya. Baiklah Ayah akan pergi bekerja."


Asahi, Rei and Ren keluar dari dalam kamar dan berjalan pergi ke tempat mereka masing-masing.


★★★


Beralih pada Miho yang mengendarai mobilnya menuju ke rumah Rui, saat bertemu dengan Rui Miho mulai menceritakan semuanya.


"Ohh' jadi kau melarikan diri dari masalahmu sendiri?" tanya Rui menyimpulkan semua penjelasan yang Miho katakan.


"Aku sedang malas berpikir, dia seperti anak-anak." Kesal Miho saat mengingat tingkah laku Asahi pada dirinya.


"Oh' benarkah? apakah tidak kebalikannya?"


"Tentu saja tidak! aku mengatakannya secara fakta."


Rui hanya tersenyum tipis mendengar curhatan Miho, ia diam-diam mengeluarkan ponselnya dan memberitahu pada Hisao kalau Miho berada di tempatnya.


"Jadi, kau datang kemari apa kau tidak ingin pulang? besok adalah hari pernikahanmu." Rui mencoba menenangkan Miho dari amarahnya.


"Besok pagi saja aku pulang!" ketus Miho.


"Baiklah baiklah Nona yang egois, terserah kau saja."


****************


Di siang hari, Asahi yang berada di tempat kerja merasa gelisah dengan keadaan Miho yang masih belum mengabarinya sama sekali. Suasana di dalam kantor Asahi menjadi sangat suram.


"Cih! kenapa kau tidak mengabariku? ayolah jangan egois lagipula aku hanya bercanda." Batin Asahi yang terus menatap ponselnya menunggu kabar dari Miho.


Saat Asahi tengah serius menatap ponselnya Hisao lalu menelponnya, dengan perasaan kecewa bahwa yang menelponnya bukanlah Miho Asahi mengangkat sambungan telepon Hisao.


📲"Ada apa?"


📲"Tuan gaun pernikahan nona Miho sudah tiba, apakah saya perlu mengantarkannya ke kantor anda atau saya langsung mengantarkannya ke rumah."


📲"Silahkan antar gaun itu ke rumah dan tanyakan pendapat Rei and Ren tentang gaun tersebut."


📲"Baiklah."


Sambungan telpon tersebut segera dimatikan oleh Hisao, sesuai yang telah di katakan oleh Asahi Hisao lalu mengantarkan gaun tersebut ke rumah.


Ketika ia sampai di rumah keluarga besar Saito Hisao dengan perlahan membawa masuk gaun pernikahan itu, dan tepat disaat bersamaan Rei and Ren sudah selesai latihan bersama Sora dan Soma di halaman belakang.


Disaat gaun pernikahan itu diletakkan di ruang tamu Asami dan Osamu yang melihat desain gaun tersebut merasa sangat takjub akan keindahan yang terpancar dari gaun itu.


"Gaun yang sangat indah, bahkan mataku tak ingin berpaling melihatnya. Ini adalah gaun pernikahan yang sangat luar biasa," ujar Asami memandangi gaun pernikahan dengan perasaan takjub.


Tiba-tiba Rei mulai memberikan komentarnya tentang gaun tersebut. "Aku menyebutnya Gaun Pernikahan Terakhir."


"Apa maksudmu Rei?" tanya Ren bingung dengan komentar Rei.


"Pernikahan ini diadakan di akhir tahun, jadi karna itu aku menamakannya Gaun Pernikahan Terakhir."


Rei and Ren mulai melihat gaun pernikahan tersebut secara teliti dan menyeluruh.


"Baik Tuan Muda." Hisao mengangguk lalu memberikan sebuah tas belanja kepada Rei and Ren.


"Apa ini?" tanya Ren penasaran pada isi tas belanja yang diberikan Hisao.


"Tuan meminta saya untuk membelikan ini untuk anda Tuan Muda."


Rei and Ren membuka tas belanja yang Hisao berikan kepada mereka dan melihat apa isi di dalam tas tersebut, dan ternyata isi dari tas tersebut adalah dua kotak ponsel untuk Rei and Ren menggantikan ponsel mereka yang hancur karena insiden waktu itu.


"Ini …" Rei memegang kotak ponsel itu sambil melihat Hisao.


"Ya, ini ponsel baru untuk anda Tuan Muda."


"Haih … apa yang dipikirkan oleh Asahi, kenapa dia memberikan kedua putranya sebuah ponsel diumur mereka yang masih terlalu muda untuk memiliki sebuah ponsel."


Osamu menghela napasnya melihat tingkah anaknya yang terlalu bodoh menurutnya karna memberikan kedua cucunya ponsel di usia yang masih tergolong sangat muda.


"Tuan besar, umur boleh muda tapi akal dan jalan pemikiran mereka tidak mendukung bahwa mereka masih sangat muda." Batin Hisao tersenyum ketir.


"Yosh! aku pasti akan menggunakan ini untuk sesuatu yang sangat menarik." Kata Ren dengan semangatnya mendapatkan ponsel baru.


"Kau ingin belajar sesuatu dariku? contohnya seperti mengganti nomor kartu rekening ayahmu." Timpal Tatsuya menawarkan diri untuk mengajari Ren mengubah nomor rekening Asahi.


"Tentu."


Mendengar hal itu membuat semua orang yang berada di ruang tamu pun tertawa dengan senangnya.


****************


Keesokan harinya Miho kembali pulang ke rumah keluarga besar Saito dan langsung menuju kamar Asahi.


Ketika ia membuka pintu kamar Asahi terlihatlah kalau Asahi sudah memakai jas yang sangat rapi dan terlihatlah sangat tampan juga gagah.


Ditambah dengan Rei and Ren yang berdiri di sebelah kiri dan di sebelah kanannya serta juga ikut memakai pakaian yang sama seperti ayahnya.


"Pemandangan apa ini? Ayah dan anak yang sangat luar biasa, mereka hanya kekurangan satu yaitu sosok seorang ibu." Batin Miho menatap Asahi, Rei and Ren.


Asahi yang melihat Miho berada di depan pintu sambil memandangi mereka bertiga pun lalu berjalan menghampiri Miho, dengan sedikit membungkukkan dirinya Asahi mengulurkan tangannya pada Miho.


"Selamat datang kembali, istriku." Asahi tersenyum tipis menatap Miho.


Seketika Miho tersentak matanya terbuka lebar dan berkaca-kaca melihat Asahi yang berada di hadapannya, ia lalu meletakkan tangannya di atas tangan Asahi dan berkata. "Ya."


"Ee' … habis itu apa Rei Ren? bisakah kalian membantu Ayah sampai akhir," ujar Asahi melihat kedua putranya.


"Dasar Ayah bodoh, bukankah itu sama saja dia menghancurkan suasana yang indah." Ucap Rei pelan melihat Ayahnya yang tak pandai membaca suasana.


"Dasar Ayah! merusak suasana saja." Kesal Ren.


Miho menutup mulutnya dengan tangannya sembari mengulum senyum melihat tingkah laku Ayah dan anak di hadapannya. "Hh' haha …"


"K'Kenapa kau tertawa?" tanya Asahi gugup.


"Tidak apa, hanya lucu saja."


"Ah' maafkan aku, aku tidak pandai melakukan hal seperti ini."


"Tidak apa, itu juga sudah sangat bagus."


Rei and Ren berjalan menghampiri Ayah dan Ibunya.


"Ibu Ibu, coba lihat gaun Ibu bukankah itu indah!" Rei menunjuk ke arah balkon.


Pandangan mata Miho lalu tertuju ke arah balkon kamar Asahi dan terlihatlah sebuah gaun yang begitu indah di sana, dengan perlahan-lahan ia berjalan mendekati gaun tersebut.


Miho memegang gaun pernikahan tersebut sembari menundukkan pandangannya menatap gaun itu. "Ini sangat indah."


"M'Miho! apa kau baik-baik saja?" tanya Asahi yang panik melihat Miho.


Miho menatap Asahi dengan wajahnya yang sudah di penuhi dengan air mata ia tersenyum lembut. "Terimakasih ya Asahi."